jump to navigation

Akreditasi August 14, 2009

Posted by superwid in Bukan Saya.
8 comments

Para pembaca yang budiman, sesekali bolehlah saya menulis yang ada di otak saya, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hidup saya. Ini semua murni pemikiran pribadi, kalau ada yang kurang setuju dan sependapat mohon jangan diambil hati.

(*Saya juga tidak menerima kritik dan saran. Tapi kalau ada yang mau kirim makanan boleh juga. Jangan protes, blog ini punya saya, kalau hosting dan domainnya masih gratisan ya itu keterbatasan saya sebagai orang-orang yang belum dikaruniai rejeki untuk menyewa domain dan hostingan. Semoga dalam beberapa purnama ke depan ada dermawan yang rela memberikan donasi untuk keperluan penyewaan domain dan hosting. Amin.. Amin ya Robbal Alamin).

Jika memang mau protes, silakan saja langsung ke Mahkamah Konstitusi. Dijamin protes anda akan ditolak karena buktinya tidak memenuhi aspek kualitatif dan kuantitatif.

Masuk ke inti cerita.

Jadi, beberapa minggu yang lalu saya sempat diminta oleh Sukiman, yang notabene merupakan ketua angkatan saya untuk menyemarakkan akreditasi program studi yang saya ikuti. Mahasiswa bangkotan kok masih saja ikut kegiatan kampus? Ah biarkan saja, mumpung masih jadi mahasiswa gitu.

(more…)

Rehat August 1, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
5 comments

Saya hanya ingin menjaga idealisme dan konsistensi. Tanpa keduanya mungkin hidup saya akan datar-datar saja. Mengikuti trend, menjadi buih di laut biru yang tersapu ombak terhempas badai. Itu kata Sang Maestro: Ahmad Dhani.

Kata saya : Tidak punya identitas dan ciri khas.

Itulah alasan kenapa saya jarang sekali ber-pesbuk ria seperti yang banyak dilakukan pengguna internet di Indonesia. Punya akun yang dibuatkan oleh teman. Jarang sekali update status, jarang (bahkan hampir tidak pernah) komen, apalagi upload photo. Begitu pula dengan twitter dan plurk dengan kelebihan microbloggingnya yang menurut saya hanya akan mengalihkan perhatian saya untuk berkonsentrasi penuh pada blog ini.

(more…)

Kabur July 31, 2009

Posted by superwid in Jalan.
6 comments

Siapa bilang naik gunung itu enak?

Yang pasti naik gunung itu harus bawa tas besar yang sering disebut dengan kerir. Tas besar itu entah bagaimana caranya harus diisi dengan perlengkapan yang dibutuhkan selama naik gunung : tenda, sleeping bag, nesting, pakaian cadangan, raincoat serta tidak lupa makanan secukupnya dan minuman yang banyak. Ini penting karena tidak akan ada penjual bakso di gunung.

Tidak sedikit uang untuk transportasi dan bekal selama perjalanan. Kecuali kalau mau survival di gunung dan mengandalkan tumpangan untuk sampai ke basecamp.

Belum lagi selama naik gunung, jalan yang dilalui tidaklah mudah. Namanya naik gunung pasti melalui jalanan yang mayoritas berupa tanjakan. Udara dingin, angin yang bertiup kencang serta kalau beruntung bisa mendapatkan badai cukup untuk membuat AC di kota berasa tidak ada apa-apanya. Gelapnya malam dan teriknya siang juga turut melelahkan fisik dan batin.

Tidak cukup di situ ketidak-enakan naik gunung. Sepulang dari gunung sudah tersedia kerir, tenda, sleeping bag, pakaian, sepatu dan kawan-kawannya yang menanti untuk segera dicuci. Kalau ada uang berlebih atau pemabantu yang bisa dipekerjakan itu bukanlah masalah gawat. Tapi bagi saya yang tidak punya uang berlebih dan pembantu yang bisa dimintai tolong, pekerjaan cuci-mencuci itu merupakan siksaan tambahan.

Tapi saya kemaren malah naik gunung.

(more…)

PRIMBON July 12, 2009

Posted by superwid in Bukan Saya.
5 comments

Punya teman yang berkecimpung di dunia dakwah ternyata cukup menyenangkan. Tadi pagi dia baru SMS.

Joyoboyo nate kondo, lek donyo iki wis ciloko. Contone akeh joko dadi dudo, akeh rondo sik lahirno putro, akeh putro sing wani karo wong tuwo, enek mesjid ra tau disabani (malah sing disobo omahe germo), dijak ibadah mesti semoyo. Iku cuma crito. Sik meneng brarti rumongso, sik ngguyu brarti kulino.

Terjemahan bebas sesuka hati :

Jayabaya pernah bicara, jika dunia ini sudah celaka. Contohnya banyak perjaka yang jadi duda, banyak janda yang melahirkan anak, banyak anak berani dengan orangtua, ada masjid tidak pernah didatangi (yang didatangi justru rumah germo), diajak beribadah pasti semoyo. Itu cuma cerita. Yang diam berarti merasa, yang tertawa berarti biasa.

*semoyo : disanggupi tapi tidak dilaksanakan.

Saya, Sukiman dan Ucup cuma bisa tertawa bergembira. Terutama di bagian : “malah sing disobo omahe germo”.

Janji July 8, 2009

Posted by superwid in Jalan.
12 comments

Tadi saya baru menjemput Bapak Simbok saya di stasiun, baru pada pulang dari Bandung. Kan saya sudah janji mau menjemput, jadi meskipun pagi-pagi buta saya musti bangun.

Saya pernah naik pesawat meskipun hanya beberapa jam. Saya juga pernah naik kapal laut meskipun hanya beberapa puluh kilometer. Saya sering naik bus, apalagi untuk perjalanan antar kota antar propinsi. Akan tetapi di antara ketiga alat transportasi tadi, saya lebih menyukai kereta api. Saya posisikan kereta api sedikit di atas bus jika diantara keempatnya harus dibandingkan.

Kereta api eksekutif selayaknya dibandingkan dengan bus eksekutif. Sama-sama nyaman dengan fasilitas kursi yang empuk, full AC, selimut dan makanan gratis. Satu hal yang membedakan keduanya terletak pada jalur yang dilalui. Kereta api melaju di atas rel sedangkan bus di atas jalan.

(more…)