jump to navigation

Dasar ayam!! August 12, 2008

Posted by superwid in Bukan Saya.
trackback

Saya jadi teringat sebuah artikel yang ditulis oleh Mbak Lia di Bandung. Judulnya “Ayam Negeri dan Ayam Kampung”. Artikel itu berisi tentang perbandingan kehidupan ayam negeri dan ayam kampung.

Ayam yang sama, sama-sama punya bulu. Perbedaannya hanya pada cara hidupnya. Perbedaan mendasar kedua ayam itu terletak dalam hal kebebasan. Ayam kampung, bebas untuk berkeliaran kesana kemari. Tidur seadanya di mana saja, tanpa harus mencari jerami yang empuk, makan seadanya tanpa harus memikirkan makanan itu penuh gizi atau bebas kuman penyakit, mengorek tumpukan sampah untuk mendapatkan makanan, kadang harus berpanas-panasan atau kedinginan terkena hujan. Bertemu ayam kampung lain, menjalin pertemanan jika dirasa menguntungkan dan pergi menjauh jika merugikan.

Sedangkan ayam negeri, disediakan sebuah kandang yang nyaman dengan tumpukan jerami yang menghangatkannya di saat malam tiba, yang melindunginya dari panas dan hujan. Makanan yang bergizi selalu tersedia setiap saat, dan kadang diberi berbagai vitamin dan suplemen untuk menambah daya tahan tubuhnya. Dan sudah sewajarnya ayam ini mempunyai suatu kelebihan di banding ayam kampung.

Kenyataannya, memang ayam negeri mempunyai kelebihan di banding ayam kampung. Ayam negeri berbulu bagus dan gemuk tapi begitu sensitif terhadap perubahan yang terjadi dan rawan terserang penyakit, berbeda dengan ayam kampung yang buluk dan kurus kering tapi tidak begitu terpengaruh dengan perubahan yang terjadi dan mempunyai daya tahan yang lebih baik.

Lebih jauh lagi, seekor ayam negeri pada akhirnya cuma dieksploitasi oleh majikannya. Ayam negeri dididik untuk hidup dalam kandang secara terpisah yang kadang menimbulkan keegoisan dan tidak peduli terhadap apa yang terjadi di kandang sebelah. Ayam negeri sudah terlanjur nyaman dengan apa yang dimilikinya tanpa pernah berpikir apa yang bisa mereka dapat di luar sana. Kenyamanan yang mengakibatkan hidup ayam negeri terpenjara dalam suatu pemikiran kemapanan. Dari berbagai kenyamanan yang didapatkan ayam negeri, pada akhirnya mereka hanya akan dijadikan mesin petelur atau dijadikan ayam pedaging tanpa pernah bisa memilih. Dan mereka baru sadar ketika semua sudah terlambat.

Ayam kampung, meskipun hidup dalam kesederhanaan dan bahkan kekurangan, mereka punya kebebasan untuk menentukan jalan hidup mereka. Meskipun kadang harus mati dalam menjalani kerasnya hidup mereka, setidaknya ayam kampung mati untuk diri mereka sendiri, bukan untuk yang lain. Dalam menghadapi hidup keras di luar sana, ayam kampung mesti hidup berkelompok untuk mempertahankan kehiduannya yang mengharuskan ayam kampung berbagi dan berkorban demi kelompoknya tanpa mengurangi tanggung jawab terhadap kehidupan keluarga dan anak-anaknya.

————–

Hidup bagai ayam negeri, berada di kandang emas, makanan yang tak habis-habis, tidur di jerami yang empuk dan hangat tapi tidak bisa berkeliaran bebas seperti ayam kampung.

Ah dasar AYAM!!

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: