jump to navigation

Serial Tawuran I : Sang Jenderal Melawan Kaum Hepa September 10, 2008

Posted by superwid in Cerita.
trackback

Rupanya kepergian Sang Pangeran ke negara tetangga bulan itu untuk melakukan sudi banding pelaksanaan Pemilihan Lurah merupakan awal dari segala pemberontakan jahat yang dilakukan oleh kaum separatis nan barbar yang tidak berperikemanusiaan. Perhatian warga dan pejabat yang tercurah pada kunjungan kenegaraan Pangeran mengakibatkan ada pihak-pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari stabilitas kerajaan yang agak goyah. Sepulang dari negara tetangga ada kabar dari Menteri Pertahanan dan Keamanan, Letkol Eritrosit, yang menyatakan bahwa ada bagian dari kerajaan yang telah diakuisisi oleh Kaum Hepa, kaum bengis, jahat, dan culas. Kaum nomaden yang masih berburu dan meramu sambil sesekali melakukan penyerangan-penyerangan untuk menjarah warga. Mereka telah melakukan kerusakan di muka bumi dan di penjuru kerajaan dengan menghancurkan instalasi pengolahan limbah di Sektor Hepar. Sang Pangeran yang masih lelah sepulang dari negara tetangga belum bisa melaksanakan rapat koordinasi dengan Menteri Pertahanan dan Keamanan Kerajaan beserta pihak-pihak terkait sehingga pasukan pemberontak mulai beranak pinak dengan cepatnya. Dari pantauan Kapten Limfosit sebagai kepala pasukan badan telik sandi alias badan intelejen kerajaan dikhawatirkan 3200 pasukan infanteri dan 1400 pasukan kavaleri telah melakukan pemberontakan dengan basis pemberontakan di Sektor Hepar. Sang Pangeran sendiri masih melakukan pemulihan kondisi tubuh di bawah bimbingan permaisuri dan belaian selir-selir di istana Keputren. Massage.

Sektor Hepar sendiri sangat bertanggung jawab terhadap daur ulang limbah dan tempat penetralisir berbagai situasi dan kondisi yang bisa mengancam kelangsungan hidup kerajaan. Di dalamnya terdapat dua instalasi penting yaitu instalasi pengolahan limbah dan instalasi penetralisir racun.

Kabar adanya pemberontakan oleh Kaum Hepa membuat Sang Pangeran segera mengadakan musyawarah agung, rapat koordinasi mendadak guna membahas pemberontakan yang terjadi. Permasalahan ini dianggap serius karena sangat berkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak, terutama dengan akuisisi pihak pemberontak terhadap instalasi pengolahan limbah telah mengakibatlkan rakyat keracunan sehingga banyak kematian di mana-mana. Belum lagi akibat dari akuisisi itu menyebabkan instalasi tidak bisa bekerja secara optimal sehingga limbah yang ada tidak bisa didaur ulang dan mengalir kembali ke masyarakat. Ini mengakibatkan kejadian luar biasa di masyarakat dimana lingkungan menjadi kuning sebagai dampak dari pencemaran limbah yang tidak ternetralisir. Status kerajaan dinaikkan menjadi SIAGA 3.

Sang Pangeran, Jenderal Leukosit selaku Panglima Perang yang sangat ahli dalam bidang strategi perang gerilya dan perang-perangan; Kapten Limfosit selaku Kepala Badan Intelejen Kerajaan yang ahli dalam bidang sadap menyadap, tipu menipu dan curi mencuri informasi; Kolonel Plasma selaku Menteri Kesejahteraan Rakyat yang bertanggungjawab terhadap perut rakyat; Letkol Eritrosit sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan yang bertanggungjawab terhadap keamanan dan keselamatan kelangsungan kerajaan; serta Letnan Trombosit selaku Kepala Staf Angkatan Kerajaan yang bertanggungjawab terhadap persiapan perwira kerajaan berkumpul di aula istana untuk membahas permasalahan pemberontakan ini.

“Jadi Pangeran, pemberontakan ini harus segera diatasi. Kaum separatis itu harus segera dienyahkan dari kerajaan ini. Jika tidak dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas ekonomi dan pemerintahan kerajaan. Inflasi meningkat, kondisi ekonomi mikro terancam”, kata Kapten Limfosit.
“Benar Pangeran, banyak keluhan dari masyarakat yang mengeluh karena kerja mereka terganggu karena pemberontak. Jalur-jalur perdagangan dan aliran makanan diblokir sehingga kondisi masyarakat mulai melemah”, sambung Kolonel Plasma.
“Baiklah, kita akan menghancurkan para pemberontak, jadi bagaimana Jenderal Leukosit?”, tanya Pangeran.
“Sebelumnya saya perlu bertanya kepada Kapten Limfosit mengenai keberadaan pasukan dan persenjataan Pasukan Hepa”, jawab Jenderal Leukosit.
“Pasukan kaum hepa berjumlah 3200 pasukan infanteri dengan 1400 pasukan kavaleri yang dipimpin oleh Mayor Hepat. Seorang mayor yang bengis, jelek, berkulit hitam bermotif polkadot kuning, gundul, kurus, bego, kelihatan teler, ileran dan hidup lagi. Badannya berhias tato macan sedang makan kerupuk. Rambutnya botak ala Jet Li di film-film Cina dengan tingkat kegimbalan yang tidak bisa ditolerir. Mereka mengakuisisi instalasi limbah di sektor hepar dan menjadikan benteng pertahanan di sektor hepar sebagai markasnya. Dari instalasi limbah ini Mayor Hepat telah menyebabkan instalasi pengolahan limbah di kerajaan menjadi terganggu dengan menyebarkan racun-racun kuning sehingga masyarakat menjadi teracuni oleh limbah  plus racun kuning yang dialirkan kembali melalui saluran kerajaan”, jelas Kapten Limfosit.
“Oke, kita susun rencana untuk menghancurkan gerombolan pantat kuning itu!”.

———————————–

Hari berikutnya pasukan pihak kerajaan yang dipimpin oleh Jenderal Leukosit telah berkumpul, berbaris dengan rapi bersiap melakukan penumpasan terhadap Kaum Hepa. Sebagian merencanakan strategi, sebagian membahas ekonomi dan sebagian lagi main monopoli. Demi kehormatan dan kemuliaan kerajaan serta kesempatan naik pangkat mereka bersiap menyusuri setiap jengkal wilayah kerajaan untuk membunuh dan mengusir Kaum Hepa. Pasukan separatis, pemberontak yang telah menginfiltrasi kesatuan kerajaan.

Genderang ditabuh bertalu-talu, trompet dari tanduk dan kerang ditiup menderu-deru, suaranya memenuhi angkasa. Gajah-gajah melengking, kuda meringkik, anjing menggonggong, kambing mengembik dan kucing mengeong. Para prajurit bersorak sorai, suara mereka gemuruh memenuhi angkasa. Perang terhadap pemberontak akan segera dimulai.

Hari pertama, pihak kerajaan mendapat bantuan pasukan dari Negara Curcuma berupa obat-obatan penawar racun dan beberapa ratus Pasukan Curcuma yang mengabdi langsung di bawah pimpinan Panglima Perang Jenderal Leukosit. Pasukan terlatih yang berani mati, siap mati demi membela negeri, sebagai garda depan pendobrak pasukan Kaum Hepa. Bantuan pasukan yang sangat berguna mengingat pasukan tradisional kerajaan yang dipimpin oleh Jenderal Lekosit turut mengalami keracunan yang disebabkan oleh kaum hepa sehingga kurang lincah dan gesit dalam menghadapi Pasukan Kaum Hepa. Hari pertama penumpasan pemberontak itu, pasukan kerajaan mulai memancing keluar Kaum Hepa dari benteng pertahanannya di Sektor Hepar. Sebab sebagaimana laporan dari badan intelejen di bawah pimpinan Kapten Limfosit setiap usaha memasuki benteng hanya akan menghancurkan kekuatan itu sendiri. Itu sebabnya pasukan kerajaan menggunakan berbagai upaya untuk memancing Kaum Hepa keluar dari persembunyiannya. Kemah-kemah berdiri di luar benteng, lampu-lampu dinyalakan sebagai penerangan di malam hari.

Di tepi kemah banyak pedagang yang menjajakan dagangannya, tukang jagung bakar, tukang kacang rebus, tukang siomay, tukang pijat refleksi, tukang tambal ban mencari pelanggan ditengah hiruk pikuk persiapan perang.

Siasat pengepungan dilakukan oleh pihak kerajaan karena sangat tidak mungkin menerobos masuk ke dalam benteng pertahanan di Sektor Hepar ini. Dengan adanya pengepungan ini diharapkan tidak ada suplai makanan dan persenjataan ke dalam benteng sehingga Kaum Hepa mau tidak mau akan membuka benteng pertahannannya dan pasukan kerajaan dapat masuk, pikir Jenderal Leukosit.

Hari kedua kedua pasukan masih bertahan di posisinya masing-masing. Hanya ada teriakan dan hasutan-hasutan dari kedua belah pihak yang berusaha untuk memancing emosi dan amarah. Akan tetapi kebijaksanaan kedua panglima berhasil menahan peperangan tidak terjadi. Siapa yang bergerak terlebih dahulu pasti akan mengalami kerugian yang besar.

“Salam Kuning”, sapa Mayor Hepat “sangat tidak mungkin jika kita terus bertahan di dalam benteng. Pigmen kuning kita membutuhkan asupan makanan sehat dan bergizi guna memenuhi makanan 4 sehat 5 sempurna”.
“Tapi makanan di dalam benteng sudah habis. Untuk memenuhi makanan 4000 lebih pasukan dibutuhkan cadangan makanan yang lebih banyak. Apalagi dengan jumlah cacing dalam masing-masing perut yang semakin tidak terkendali tentunya berakibat pada kekurangan makanan yang bisa berdampak pada wabah busung lapar”, jawab salah seorang staf ahli pangan Kaum Hepa.
“Loh, setau saya kalian melihara ayam di dalam perut. Soalnya kalau kalian lapar, bunyinya seperti ayam berkokok”, kata Mayor Hepat.
“Ya itu, ayamnya makan cacing, Jika populasi cacing berkurang ayam juga akan kelaparan sehingga berkokok meminta makanan. Sedangkan populasi cacing sangat bergantung pada ransum makanan yang masuk ke perut kita.”

Begitu hari ketiga, Kaum Hepa sudah mulai kelaparan, cacing-cacing dalam perut sudah mulai melakukan demo masal dengan menggelar aksi mogok makan sehingga mau tidak mau mereka harus membuka pintu gerbang benteng dan mengutus pasukannya untuk mencari pasokan makanan. Jika tidak, Kaum Hepa akan mati di dalam bentengnya sendiri. Tapi apa daya, setiap pasukan yang keluar dari benteng akan menghadapi tusukan tombak, sabetan pedang maupun hujan anak panah dari pasukan kerajaan yang mengepung benteng. Ranjau-ranjau darat juga dipasang di sekitar pintu gerbang. Karena keadaan yang semakin tidak menguntungkan, pasukan pemberontak di bawah pimpinan Mayor Hepat mulai membuka benteng dan menyerang pasukan kerajaan dengan membabi buta. Mereka berhamburan cepat di pintu gerbang benteng, saling susul menyusul bersiap berperang.

Ratusan anak panah dilepaskan ke angkasa dari busurnya, melesat ke angkasa bagai bintang berekor dan mulai mencari mangsa untuk ditembusnya. Para prajurit darat saling berhadapan : panah-memanah, lempar-melempar dengan batu seperti demo mahasiswa, pancung-memancung dengan menggunakan clurit, rencong, keris, mandau, saling menebas dengan pedang atau menusuk dengan tombak sampai dengan sayat-sayatan mengunakan silet, cutter, dan pisau dapur. Korban berjatuhan di mana-mana. Pasukan berkuda menghadapi pasukan berkuda dengan sesekali menebaskan pedangnya pada pasukan infanteri yang dilaluinya. Kambing-kambing berlarian mencari perlindungan, sedangkan anjing mengejar kucing. Dengan menunggang sebuah kuda putih, Mayor Hepat memacu kudanya menembus pasukan kerajaan, menebas-necaskan pedangnya sembari menghantamkan kudanya pada pasukan darat kerajaan. Sang Panglima Kerajaan, Jendral Leukosit yang melihat situasi tidak menguntungkan ini segera memacu kudanya dan bergerak mendekati Mayor Hepat. Dua pimpinan pasukan dengan kemampuan yang hampir setara saling berhadapan.

“Tunggu!!”, kata Mayor Hepat “sebelum kita bertempur ada baiknya kita berdoa dulu kepada Tuhan. Semoga kita menang”.

Pertarungan sengit antara Panglima Kerajaan dan Panglima Kaum Hepa tidak terelakkan lagi. Berbagai jenis senjata digunakan untuk saling membunuh. Pohon-pohon bertumbangan. Melihat pasukannya yang porak poranda dihancurkan pasukan kerajaan, Mayor Hepat murka. Misuh-misuh. Mayor Hepat menyerang Jenderal Leukosit habis-habisan hingga Sang Jenderal harus mengalami luka sabetan pedang di sekujur tubuhnya sedangkan Sang Mayor mengalami luka tusukan tombak. Saling menyerang, menghindar, melompat, melempar benda-benda yang ada di sekitarnya, mulai dari batu, kerikil, kayu, ranting layaknya jamaah haji yang melempar jumrah sampai saling melempar senyuman. Pertempuran yang awalnya berjalan seimbang itu pada akhirnya harus membawa korban di satu pihak. Sang Mayor yang masih kalah ilmu dari Sang Jenderal harus menerima nasibnya. Luka parah yang dialaminya menyebabkan gerakannya tidak selincah pada awalnya dan satu tebasan pedang Jenderal Leukosit menghabisi perlawanan Mayor Hepat. Pemimpin Kaum Hepa akhirnya tumbang di pedang Panglima Perang Kerajaan dengan badan berlumuran darah, dimutilasi 27 bagian. Kematian Panglima Perang Kaum Hepa meruntuhkan semangat juang Kaum Hepa. Kesempatan ini tidak disia-siakan pasukan kerajaan guna menghancurkan kekuatan kaum Hepa yang tidak berpemimpin lagi.

Pada perang hari ketiga ini Kapten Limfosit melaporkan sisa-sisa kekuatan Kaum Hepa tinggal 900 pasukan kavaleri dan 1800 pasukan infanteri yang mulai tercerai berai dan menyebar di seluruh kerajaan. Dari pengintaian badan intelejen tidak sulit untuk menghancurkan kekuatan ini hanya saja sangat sulit untuk mencari kantong-kantong persembunyian Kaum Hepa ini. Mereka menyebar di puncak gunung, di dasar lautan, di pedalaman hutan hingga di pedalaman pusat perbelanjaan. Pencitraan satelit yang dilakukan oleh badan intelejen tidak bisa memetakan markas-markas Kaum Hepa.

Penumpasan pemberontak berlangsung tiap hari hingga 40 hari sesudah pertempuran pertama dimulai. Pasukan Kaum Hepa mulai melemah. Satu per satu pasukan yang masih hidup dimusnahkan oleh pasukan kerajaan sembari memperbaiki instalasi di Sektor Hepa. Kasus keracunan yang dialami masyarakat mulai diobati oleh Pasukan Kesehatan dari Negara Curcuma. Kolonel Plasma beserta pasukannya mulai membenahi aliran-aliran pangan. Menurut laporan dari Kapten Limfosit masih ada beberapa orang Pasukan Kaum Hepa yang masih berkeliaran di kerajaan yang masih berpotensi beranak pinak dan melakukan pemberontakan lagi. Namun Jenderal Leukosit telah mengantisipasi permasalahan ini dengan menugaskan Letkol Eritrosit guna mengurus permasalahan ini hingga Pasukan Kaum Hepa benar-benar telah musnah dari kerajaan.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: