jump to navigation

Serial Tawuran II : Serangan Teroris Varicella Simplex September 15, 2008

Posted by superwid in Cerita.
trackback

Belum lagi selesai urusan kerajaan dalam mengatasi pemberontakan Kaum Hepa, ada lagi gangguan keamanan yang lain. Kali ini berdasarkan informasi dari Kapten Limfosit, dikhawatirkan kelompok teroris Varicella Simplex pimpinan Varicella bin Zoster mengambil keuntungan dari ketidakstabilan kondisi keamanan kerajaan dengan melakukan teror-teror di masyarakat. Ini ditandai dengan penemuan seperangkat alat pengeboman di salah satu kawasan padat penduduk.

Sang Pangeran bukannya tidak tahu, tetapi keamanan kerajaan telah sepenuhnya diserahkan kepada Letkol Eritrosit. Menteri Pertahanan dan Keamanan diberikan kewenangan khusus untuk melakukan segala tindakan teoritis guna memulihkan keamanan kerajaan. Khusus kepada Jenderal Leukosit, kewenangan untuk melakukan tindakan-tindakan di luar batas diberikan, terutama dalam menghadapi situasi darurat dengan kewenangan menggerakkan seluruh pasukan kerajaan. Sang Pangeran sendiri memilih kembali melakukan kunjungan kerajaan ke negara tetangga untuk mempererat tali silaturahmi dan hubungan perdagangan, baik dagang kayu, minyak sampai gas beserta tabungnya. Setelah dagangan TKW sukses, Sang Pangeran keranjingan untuk meningkatkan nilai ekspor kerajaan demi peningkatan devisa. Orientasi bisnis Pangeran sangat peka dalam membangun kerajaan ini menjadi surga investasi negara tetangga.

Akan tetapi konsentrasi kerajaan yang berlebihan dalam perbaikan kembali Sektor Hepar mengakibatkan perhatian kerajaan terhadap ancaman serangan teroris kurang diperhatikan oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan serta Menteri Kesejahteraan Rakyat. Fokus utama mereka tersedot pada upaya pemulihan kesejahteraan rakyat yang baru saja dilanda badai kuning. Potong anggaran APBN guna memperbaiki kerusakan, belum lagi mengurus administrasi BLT dan logistik armada perang kerajaan. Membayar gaji empu-empu pembuat keris. Hanya Jenderal Leukosit dan Kapten Limfosit yang membagi konsentrasinya dalam menghadapi ancaman serius ini.

Malam itu di kediaman Jenderal Leukosit diadakan pertemuan tertutup dan rahasia. Panggilan privat dikirimkan kepada Kapten Limfosit dan seorang oknum yang kehadirannya masih dinantikan. Kelambu digunakan untuk menghalau serangan pasukan nyamuk yang dikhawatirkan telah bekerjasama dengan kelompok teroris untuk mengorek informasi dari kerajaan.

“Jenderal, saya khawatir Varicella bin Zoster mengambil kesempatan dalam kesempitan ini. Dia pasti sudah merencanakan sesuatu yang mungkin saja dapat berakibat buruk pada kondisi kerajaan. SUdah lama dia tidak melakukan serangan, padahal biasanya serangannya rutin, 3 x sehari setelah makan”, kata Kapten Limfosit.

“Saya sependapat dengan anda, belum lama ini saya mendengar dari Kapten Basofil bahwa dia menemukan beberapa fakta adanya konspirasi jahat untuk mengganggu stabilitas keamanan kerajaan dengan tujuan untuk melakukan kudeta terhadap Sang Pangeran. Tujuan utama mereka menggulingkan kekuasaan Sang Pangeran karena mereka beranggapan bahwa pemerintahan kerajaan saat ini korup, pejabatnya banyak yang mata duitan. Ya kita tahu itu, tapi biarkan KPK melaksanakan tugasnya dulu. Keamanan kerajaan dan kesejahteraan rakyat di atas segalanya”, jawab Jenderal Leukosit.

Siapa pula Kapten Basofil ini? Kapten Basofil ditengarai sebagai Pimpinan Detasemen Khusus yang mengurusi masalah terorisme. Detasemen ini didirikan semenjak adanya tragedi 9/11 dimana saat itu kelompok teroris meledakkan gudang senjata yang mengakibatkan amunisi dan persenjataan kerajaan musnah. Pesawat Sukhoi, Heli Apache, M16 rifle, AK47, granat nanas, granat strawbery dan berbagai amunisi hancur lebur menyisakan besi-besi tua. Semenjak itu para empu dan tukang besi didayagunakan untuk membuat berbagai peralatan tempur tradisional dengan dibumbui jimat-jimat, santet, pelet dan racun-racun yang ternyata lebih ampuh daripada senjata modern. Racun kodok jauh lebih mematikan daripada peluru tajam AK47. Dukun-dukun disewa untuk melakukan serangan di balik layar dan serangan bawah tanah guna melumpuhkan posisi-posisi strategis musuh-musuh kerajaan. Belum lagi adanya embargo militer yang menimpa kerajaan terkait dengan kondisi keamanan dan anggapan kerajaan sebagai sarang teroris turut mempersulit kerajaan dalam memperkuat armada kerajaannya. Tank-tank kini diganti dengan gajah dan panser digantikan dengan badak. Beruntung upaya penangkaran kerajaan berhasil dan modifikasi dilakukan terhadap hewan-hewan tersebut dengan menambahkan gading dan cula tambahan. Tidak lupa dilumuri racun ramuan dukun kerajaan.

Kembali lagi ke Kapten Basofil, posisi Kapten Basofil setingkat dengan Kapten Limfosit yang bertanggung jawab langsung kepada Jendreral Leukosit. Kapten Basofil mempunyai kewenangan penuh untuk menggerakkan anggotanya dalam menyikapi masalah terorisme. Pengalamannya menimba ilmu pada Mossad, SS, KGB, CIA, dan FBI, termasuk kepada Agen 007 menambah keahliannya dalam bidang militer dan wanita. Pernah turut magang belajar strategi gerilya di bawah pimpinan Jenderal Sudirman, strategi devide et impera karya Kumpeni Belanda, dan blitzkrieg-nya Jerman. Bergelar sarjana dari Airborne School and Alengka Army Rangers, Master dari Astina Command and General Staff College. Ahli dalam teknik perakitan dan penjinakan bom sampai hewan buas.

Anggota Detasemennya merupakan prajurit-prajurit pilihan hasil seleksi tim independen. Setiap prajurit harus mempunyai keahlian dalam perang terutama keahlian dalam ilmu kebatinan. Yang mempunyai jimat lebih diutamakan karena taruhan masuk dalam pasukan khusus ini adalah nyawa. Ajian rawarontek akan sangat berguna dalam melaksanakan tugas.

“Benar Kapten”, kata Kapten Basofil yang baru saja tiba. “Ada beberapa fakta yang menunjukkan gejala terorisme. Belum lama ini anggota saya mendapatkan informasi tentang pembelian petasan dan kembang api dalam jumlah besar. Petasan kan prototype bom alias bom versi beta. Jadi ada kemungkinan karena adanya kesulitan dalam mendapatkan bahan baku pembuatan bom, teroris ini mengambil bahan-bahan dari petasan yang mereka beli dalam jumlah besar.”

“Tapi kita harus menggunakan asas praduga tak bersalah, siapa tau yang beli petasan mau nikahan. Kan tradisi betawi pakai petasan”, timpal Kapten Limfosit.

Di tempat terpisah…. Di kantor resmi teroris di sebuah gedung bertingkat di Jalan Protokol Kerajaan.

“Bagaimana bom-nya? Sudah siap atau belum? Kita butuh banyak bom untuk membuat kerusakan di muka bumi ini. Kita hancurkan kejahatan dan kemunafikan di kerajaan ini!”, kata Varicella bin Zoster.

“Santai bos, apa gunanya tiap hari saya nongkrong sama Einstein dan Stipen Hawking. Eh, tapi sebenarnya siapa yang jahat, Bos?”, tanya Krusta, ahli bom kelompok teroris Varicella Simplex. Lulusan kursus membuat bom di negara tetangga dan sempat mengenyam kejar Paket B konsentrasi Pembuatan Bom Murah dengan Bahan-Bahan Ramah Lingkungan.

“Yang jahat ya yang kemaren makan jatah makan malam saya, siapa? Jika tidak ada yang mengaku istri-istri kalian akan saya jadikan selir. Bagi yang belum beristri, adik atau kakaknya yang masih dalam rentang usia subur akan dijadikan sebagai tumbal pengganti!”, jawab Zoster.

Tidak ada yang mengaku. Toh mengaku atau tidak tetap sama saja, di kelompok teroris ini pemimpin mempunyai hak untuk memperselir semua wanita yang ada, sayangnya di kelompok teroris ini anggotanya laki-laki semua. Wanita diharamkan masuk karena akan mengganggu motivasi tempur para teroris. Sudah banyak wanita yang akhirnya menjadi sumber perpecahan, Cleopatra contohnya. Alhasil penyaluran hasrat para teroris berujung pada sabun, keperjakaan terenggut di tangan dan jin-jin ifrit berpesta pora dalam penyesalan mereka.

“Jadi kita akan melakukan pengeboman di seluruh penjuru kerajaan, tidak terkecuali. Cari sasaran-sasaran yang empuk. Yang sekiranya mudah dan tidak beresiko. Buat kerusuhan di seluruh tempat. Oleh karena itu bom dan martir harus segera disediakan secepatnya. Bagaimana Krusta dan Keropeng?”, tanya Zoster.

“Bom akan segera siap saat matahari terbit dan ayam berkokok. 1000 bom akan siap untuk diledakkan. Hanya saja untuk tingkat ledakan tidak bisa disamakan satu dengan yang lain. Tetap ada resiko bom tidak meledak dikarenakan bahan-bahan yang disediakan tidak memenuhi standar ISO. Tapi tenang, dalam bom ini saya tambahkan ramuan-ramuan jamur-jamur panu, kadas, kurap, kutu air yang mengakibatkan wabah gatal-gatal. Belum lagi campuran cat dan tinta yang akan menghasilkan hiperpegmentasi di tempat ledakan. Pastinya akan menimbulkan kerusakan yang dahsyat. Bom ini dikendalikan dengan beberapa cara, yang pertama dengan menggunakan kontrol HP, tapi berhubung sekarang pulsa mahal kita kesampingkan kontrol yang satu ini. Cara kedua dengan menggunakan Cara kedua dengan menggunakan koneksi internet, namun lagi-lagi berhubung internet di kerajaan kita masih menggunakan kecepatan bekicot yang lagi bawa karung beras jadi sangatlah tidak efektif penggunaan cara kedua ini, keburu ketahuan pihak berwenang. Cara ketiga adalah cara yang paling efektif dan efisien”, kata Krusta.

“Apa itu?”, tanya Zoster.

“Kita menggunakan sumbu kemudian kita picu secara manual, bisa dengan korek api, obat nyamuk yang masih menyala, atau dengan rokok. Cara ini telah diujicoba dan 68% sukses dengan tingkat error 69%”. jawab Krusta.

“Baik, kita pakai cara ketiga untuk melakukan pengeboman. Lalu bagaimana dengan martir-martirnya Keropeng?”, tanya Zoster.

“Martir sudah siap Bos. Tapi berhubung mencari martir yang profesional sangat sulit, jadi saya menggunakan martir amatir yang mudah untuk dicuci otaknya. Kalau yang profesional harus dimasukkan ke laundry kalau yang amatir pakai sabun colek saja sudah runtuh idealismenya. Bos kan tau, biaya laundry semakin mahal, kalau pakai sabun colek kan bisa cuci otak masal dengan biaya murah. Prinsip ekonomi Bos, dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, kita dapatkan keuntungan sebesar-besarnya”, jawab Keropeng. Keropeng menjabat sebagai perekrut martir-martir yang akan dijadikan kurir sekaligus pengeksekusi bom. Belajar ilmu hipontis dari Romi Ngepel.

“Jadi mana martir-martir itu?”, tanya Zoster.

“Itu, ada di kandang. Mulai dari batalyon kambing, kompi keledai, barisan ayam, rombongan truwelu, dan gerombolan tikus siap diberdayakan. Masing-masing martir sudah dilengkapi keahlian menggunakan korek api untuk memicu ledakan. Di samping itu pada setiap martir telah dipasang rompi bom yang ukurannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing martir. Oleh karena itu kita tidak bisa melakukan pengeboman dalam waktu yang sama dan tingkat kerusakan yang berbeda dikarenakan tiap martir punya kemampuan tersendiri”, jawab Keropeng.

“Oh ya, saya paham. Jaman susah seperti ini. Buat beli beras saja kemaren saya perlu menggadaikan hati, cinta dan perasaan saya. Ya sudah, segeralah kalian siapkan bom dan martir-martirnya. Besok pagi kita mulai serangan saat fajar mulai menyingsing, saat matahari terbit dari peraduannya, saat saya  bangun tidur. Sudah, saya mau tidur. Deeee.. Have a nice dream!!”, pamit Zoster.

Malam itu kelompok teroris Varicella Simplex lembur. Kerja rodi membuat bom yang akan digunakan keesokan harinya. 1000 bom adalah target yang dikejar malam itu.

“Ada yang bisa saya bantu Bos Krusta?”, tanya seorang anggota kelompok.

“Bisa.. Bisa.. Campurkan bahan-bahan ini menjadi satu. Satu sendok gula pasir, setengah sendok kopi, dan dua sendok susu. Larutkan dalam gelas ukur dengan H20 yang dididihkan sampai 100 derajad celcius”, jawab Krusta.

“Siap Bos”, jawab anggota kelompok. Dia segera melakukan eksperimen yang baru saja diajarkan padanya. Dan setelah jadi diberikannya pada Krusta. “Bom nya sudah jadi Bos”.

Krusta meminum larutan tersebut.
“Bos, tapi itu larutan bom”, kata anggota teroris.
“Ah, kata siapa, ini larutan kopi susu, biar tidak ngantuk”. Krusta melanjutkan pekerjaannya.

Keesokan harinya….

Kelompok teroris mulai mempersiapkan bom dan martirnya. Akan tetapi sayangnya jumlah bom gagal memenuhi target. Krusta hanya mampu membuat 999 bom saat ayam berkokok. Kurang satu bom dan membuat Zoster sangat murka, ditendangnyalah Krusta dan jadilah sebuah gunung kemudian meledak di dekat markas teroris. Gunung inilah yang sekarang dikenal sebagai Gunung Krusta. Ledakan yang terjadi mengagetkan penduduk setempat yang langsung menghubungi pihak berwenang mengenai ledakan ini.

Zoster yang bingung segera menggerakkan martir-martir yang sudah dipasangi bom, termasuk dirinya sendiri. Mulai dari garis start di markas teroris dengan garis finish yang ditentukan oleh masing-masing martir berdasarkan kemauan dan kemampuan. Serangan kamikaze dan bersiap untuk harakiri apabila ketahuan. Tanpa strategi dan target yang jelas dikarenakan waktu yang semakin mendesak, apalagi kasus ledakan Krusta tadi yang membuat pihak keamanan mulai bergerak cepat untuk menghentikan kasus terorisme ini.

“Baik teman-teman senasib seperjuangan. Sebelum kita menuntaskan misi kita ini, ijinkanlah saya sebagai panglima tertinggi kelompok Varicella Simplex melakukan pidato pelepasan jemaah calon martir. Tidak perlu panjang lebar, silakan berjuang, silakan bertempur, jikalau Tuhan berkenan kita akan berkumpul kembali!! Adios, Ciao, Wassalam, Asta la Vista, Gudbay”.

Serangan teroris dimulai.

Pihak keamanan kerajaan yang telah mendengar berita serangan terorisme segera mengutus Jenderal Leukosit untuk mengatasi keadaan ini. Ditetapkan keadaan darurat sampai batas waktu yang belum ditentukan dengan level awas di ibukota kerajaan dan level siaga 3 di seluruh kerajaan. Dari informasi Kapten Limfosit diketahui bahwa ada lebih dari 900 martir yang bersiap-siap melakukan serangan. Dengan jumlah serangan sebanyak itu Jenderal Leukosit memerintahkan Kapten Limfosit dan pasukannya serta Kapten Basofil dengan Detasemen khususnya melakukan tindakan-tindakan yang dirasa penting untuk menghentikan serangan teroris ini. Rupanya serangan tanpa strategi ini justru menyulitkan pasukan keamanan kerajaan yang bingung untuk melindungi sektor mana. Jika pada kasus Kaum Hepa, bisa diidentifikasi Sektor Hepar yang menjadi target utama serangan, untuk kali ini serangan teroris Varicella Simplex yang acak membuat banyak serangan yang tidak bisa diprediksi. Dari pusat perbelanjaan hingga pedagang kaki lima menjadi target.

Hari itu serangan martir membuat beberapa kerusakan besar di ibukota kerajaan. Sekitar 50 ledakan sukses membuat keadaan ibukota kerajaan menjadi kacau. Namun hari itu pula Detasemen Khusus yang kali ini menggunakan kode Asiklovir berhasil menjinakkan lebih dari 100 bom di ibukota kerajaan. Dari 50 ledakan itu kebanyakan merupakan ledakan besar hasil bom yang dibawa oleh martir-martir besar seperti kambing dan keledai, menghasilkan beberapa lubang besar di ibukota kerajaan dan kebakaran di mana-mana. Jamur-jamur yang turut meledak juga membuat wabah gatal-gatal merajalela di lingkungan ibukota kerajaan. Untungnya hari itu juga keadaan ibukota mulai bisa dikuasai Detasemen Asiklovir. Serangan teroris yang masuk ke lingkungan ibukota isa dilumpuhkan oleh Detasemen Asiklovir sehingga pada malam hari keadaan ibukota mulai aman. Setiap bertemu dengan pihak yang dicurigai sebaai teroris langsung diinterogasi, jika ketahuan anggota sindikat teroris langsung diitik-itik pakai tombak atau dikeroki pakai keris.

Keadaan aman di ibukota berbanding terbalik dengan keamanan di luar ibukota. Daerah kekuasaan yang sangat luas dan jumlah pasukan yang tidak sebanding dengan jumlah serangan terorois memberikan kesulitan tersendiri bagi Kapten Basofil yang menjadi pimpinan penanggulangan serangan teroris. Ledakan-ledakan banyak terjadi di luar ibukota kerajaan. Mulai dari ledakan besar samapi ledakan kecil menghiasi penjuru kerajaan. Sampai hari ketiga setelah serangan pertama masih terjadi ledakan-ledakan di kerajaan. Saat detasemen mulai menguasai bagian timur kerajaan, bagian selatan diserang dengan membabi buta, dan saat selatan mulai diamankan daerah barat diserang. Beruntung di bagian utara kerajaan yang masih banyak terdapat hutan-hutan lebat membuat bom banyak yang tidak meledak dikarenakan kelembaban hutan yang mengakibatkan sumbu-sumbu bom menjadi basah dan sulit untuk dinyalakan. Tercatat kurang lebih 300 bom meledak di kerajaan dengan tingkat ledakan dari ringan sampai berat. Memang ledakan berat hanya beberapa saja sedangkan ledakan menengah dan kecil mendominasi serangan teroris ini mengakibatkan banyak lubang dan kebakaran di mana-mana. Wabah gatal-gatal juga merajalela.

Pada hari ke lima dimana situasi sudah bisa dikendalikan oleh Detasemen Asiklovir dan serangan teroris dipastikan telah berakhir, mulai dilakukan perbaikan di lingkungan kerajaan. Kali ini Letnan Trombosit yang bertugas untuk melakukan perbaikan kerusakan yang disebabkan oleh serangan teroris, sedangkan Kolonel Plasma dan Letkol Eritrosit tetap fokus pada perbaikan Sektor Hepar dengan sesekali melakukan koordinasi dengan Letnan Trombosit untuk membantu korban serangan teroris. Letnan Trombosit dan pasukannya mengurug lubang yang terjadi akibat ledakan sekaligus meratakannya, jalan-jalan yang berlubang diaspal. Bangunan-bangunan yang rusak diperbaiki dan dicat ulang. Wabah gatal dinetralisir dengan talk salycil dan PK.

Pada hari ke 10 setelah serangan teroris, keadaan darurat dicabut dan keadaan mulai membaik. Namun tidak menutup kemungkinan adanya serangan kaum separatis atau teroris lain yang berupaya melakukan tindakan makar terhadap kerajaan. Varicella bin Zoster, Sang Pemimpin Teroris Varicella Simplex dan Keropeng Staf Perekrut Martir hilang dalam aksi serangan teroris kali ini, menurut informasi intelejen mereka turut menjadi martir bersama seluruh anggota teroris yang menyebabkan kerusakan dahsyat di ibukota kerajaan.

(Entah varicella atau variola, pokoknya itulah)

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: