jump to navigation

BALADA CINTA PENDAKI II : MENUNGGU KEPASTIAN September 30, 2008

Posted by superwid in Cerita.
trackback

Masih tentang orang yang sama :D.. Kehidupan cintanya begitu inovatif dan kreatif. Saya tidak bisa menuliskannya dengan lebih baik, pengalaman saya dangkal mengenai masalah cinta :p. Yang tidak suka kisah cinta jangan dibaca, saya sendiri malas membacanya.

“Aku dididik untuk berkata YA atau TIDAK, tidak pernah ada kata AKU COBA, karena aku lebih suka hidup dalam kepastian dan kejujuran.”

Sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiranku jika aku melakukan ini semua. Apa yang sudah terjadi tidak bisa ditarik kembali bukan? Aku hanya bisa merubah apa yang selanjutnya akan terjadi dan aku sadar akan konsekuensi yang harus aku hadapi. Meskipun itu berat, tapi aku harus bertanggung jawab atas segala tindakanku. Aku bukan orang hebat, aku hanya ingin menyelesaikan apa yang telah aku mulai, aku hanya ingin mencapai apa yang aku inginkan, dan kebahagiaan yang aku dapatkan bukan dari apa yang aku dapatkan tapi dari proses untuk mendapatkannya. Jadi aku tidak akan berhenti sebelum tujuanku tercapai. Tujuanku hanya ingin mendapatkan kepastian.

6 bulan yang lalu, di puncak ini, kami pertama kali bertemu dan bertegur sapa, berkenalan dan saling berbagi cerita, khas para pendaki pada umunya. Perkenalan itu terjadi dan dan mengalir sebagaimana air dari gunung itu akhirnya sampai di lautan, meskipun ada halangan-halangan kecil yang mengganggu pada akhirnya semua akan sampai pada tujuannya. Kami terpisah jarak. Tetapi waktu-waktu seperti sekarang ini sudah tidak sulit lagi untuk berkomunikasi meskipun kami terpisah jarak. Komunikasi itu yang membawa kami menjadi semakin dekat dari waktu ke waktu. Sebelumnya tidak pernah ada sedikitpun bagian dari diriku yang menginginkannya untuk menjadi sedekat ini, tapi itu terjadi begitu saja.

Berawal dari sapaan-sapaan biasa kemudian berlanjut pada cerita-cerita pribadi yang menyebabkan aku merasa dekat dengannya, merasa ingin selalu bersamanya dan tidak ingin kehilangannya. Aku merasa dia menjadi sosok yang sempurna bagi diriku hingga aku takut dia hilang dari hidupku. Atas dasar itu aku melakukan sesuatu yang memang seharusnya aku lakukan. Menurutku.

“Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan kata-kata manis, tapi saya tahu bahwa saya mencintaimu. Jika kamu setuju, saya ingin menjagamu seumur hidupmu. Maukah kamu menikah denganku?”

Dia terkejut mendengar apa yang aku sampaikan. Suatu hal yang wajar mengingat perkenalan kami yang baru berlangsung selama 6 bulan dan hanya beberapa kali saja kami sempat bertatap muka langsung saat aku bekunjung ke kotanya, tentunya sengaja memang ingin bertemu dengannya. Tidak ada kata pacaran karena menurutku pacaran hanyalah keberuntungan yang menyita waktu, mengganti waktu berteman dengan waktu pacaran, mengganti waktu bermain dengan waktu pacaran. Aku tidak membutuhkan itu, yang kubutuhkan adalah perkenalan dan pemahaman yang sudah cukup selama 6 bulan itu. Sekarang, aku hanya ingin jawaban yang jujur entah itu akan membuatku senang atau sedih karena aku belajar untuk tidak pernah berada dalam situasi senang yang berlebihan ataupun terlarut dalam sedih yang berkepanjangan.

Jawaban itu pernah datang, sekali waktu dia berkata ya namun tidak lama berselang dia berkata sebaiknya kita jalani dulu semua. Namun semuanya kembali terasa tidak jelas saat aku berharap kepastian darinya. Suatu saat aku akan pergi jika memang aku merasa kepastian itu hanya menjadi impian yang tidak akan pernah jadi nyata.

“Jika kamu tidak memberikan kepastian itu padaku, aku akan menganggapnya sebagai jawaban tidak dan semuanya akan berakhir, tetapi tidak pada pertemanan kita. Itu harapanku.”

Aku bingung dengan yang makhluk yang namanya perempuan, saat mereka berkata YA itu bisa berarti YA, TIDAK atau YA dan TIDAK. Mereka sering berada di wilayah dimana aku tidak pernah suka berada di dalamnya. Aku tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya perasaan mereka ketika mereka membisu padaku, aku tidak pernah tahu mengapa mereka menangis, aku tidak pernah tahu apa yang mereka inginkan ketika mereka tidak memberitahu aku apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Seperti kali ini, aku berada dalam posisi dimana ketidakpastian itu harus kuhadapi. Dan berada di sini, di puncak ini aku menunggu kepastian darinya. Kepastian yang seharusnya ia berikan padaku sejak kemarin, namun aku baru sempat menyalakan handphoneku sekarang. Ya di puncak ini, puncak yang sama ketika pertama kali aku pertama bertemu dengannya, bertatapan dengannya. Sungguh tidak nyaman hidup dalam ketidakpastian, hidup dalam harapan yang digantungkan pada orang lain. Aku telah menyelesaikan apa yang harus aku lakukan, sekarang tinggal menunggu apa yang akan dia lakukan dengan sedikit bantuan dari Tuhan. Aku hanya ingin kepastian dan kejujuran sebagaimana kami selalu dididik untuk mengatakan itu. Ya atau Tidak.

Dan aku tau di sini tidak ada sinyal handphone. Lalu apa yang harus aku tunggu?

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: