jump to navigation

Warung Burjo September 30, 2008

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Saya dan teman-teman saya sangat tergila-gila dengan yang namanya warung. Dari wartel, tempat dimana kami bisa menggoda gadis-gadis cantik melalui telepon dengan mengesampingkan kemungkinan diketahuinya dan disadapnya pembicaraan kami; warnet, tempat kami mencari literatur mengenai JAV, filem-filem 17++, cerita-cerita stensil; termasuk warung burjo alias warung bubur kacang ijo.

Setiap kegiatan yang kami lakukan biasanya berakhir di warung burjo. Status kami sebagai orang-orang kasta sudra dengan daya beli menengah ke bawah yang selalu dibelit masalah ekonomi mikro setidaknya turut andil akan kebiasaan kami yang betah berlama-lama di warung burjo, entah pesan bubur kacang ijo atau sekedar pesan es teh manis yang bisa kami jadikan alasan untuk duduk sampai berjam-jam di warung burjo tanpa merasa bersalah. Dengan kondisi perekonomian kami yang sering tidak stabil, sangatlah tidak mungkin untuk memaksakan hawa nafsu untuk berglamor-glamor ria nongkrong di Warung Tenda Merah (Baca : Pizza Hut) atau Kantin Mbah Jenggot (Baca : KFC). Kami pecinta produk dalam negeri, warung burjo dan angkringan, karena tersandung masalah klasik, uang.

Begitu pula yang terjadi sore itu, kami baru saja bersepakbola ria, berusaha mengeluarkan larutan sodium klorida dari pori-pori tubuh kami, berusaha membuat tubuh kami sehat dan kuat dengan metode yang murah meriah. Pelajaran mensana in corpore sano yang diajarkan saat kami masih berseragam masih tertanam kuat di benak kami. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Tetapi di dalam tubuh dan jiwa yang kuat jika tidak disertai dengan pembiayaan yang kuat akhirnya juga sama saja. Lapangan-lapangan tempat kami menyalurkan hasrat menendang bola dengan bebas lama kelamaan semakin susut saja, diganti dengan lapangan-lapangan yang dikomersialkan seiring dengan berjangkitnya olahraga baru, futsal. Jadi atas setiap tetes keringat yang kami berikan kami harus membayar, lalu prinsip memberi sebanyak-banyaknya terpaksa dihapuskan dari pelajaran moral kami. Memang susah hidup di lingkungan republik yang menganut paham sosialis, banyak monopoli.

Seperti biasanya, setelah sesi olahraga sore berakhir kami menyempatkan diri melanjutkan gosip-gosip yang belum terselesaikan saat bermain sepakbola di warung burjo. Kali ini warung burjo yang menjadi korban kami berada di sebelah utara kampus. Pemilihan tempat nongkrong ini biasanya sudah dijadwal sehingga tidak menyebabkan pemilik warung mengecap kami sebagai hama-hama pengganggu yang harus diberantas. Biasanya setelah olahraga sore di warung burjo utara kampus, setelah kuliah warung burjo barat kampus, setelah maen ke rumah teman disesuaikan dengan posisi rumah teman tersebut. Begitulah strateginya. Segelas es teh, es susu, atau air es, bergantung pada gross domestic product masing-masing penggosip menemani kami membicarakan hal-hal penting berkaitan dengan kejadian yang kami alami, mulai dari anak kucing yang beranak kemudian ditelantarkan oleh induknya hingga permasalahan integral dan aljabar (yang ini sangat jarang sekali, kecuali ada momen-momen khusus yang mengharuskan kami terlibat masalah dengan keduanya; ini hal sensitif yang sangat dihindari karena menyangkut dengan hal-hal yang sangat pribadi kami sebagai orang-orang yang tiap semester masih wajib setor SPP ke kampus tercinta, dan nampaknya rutinitas ini masih akan berlanjut hingga beberapa semester ke depan.. SEMOGA TIDAK).

Begitu pembicaraan tidak penting itu berakhir, maka kehidupan hari itu berakhir pula bagi kami. Kembali ke habitat masing-masing, melakukan hibernasi untuk melanjutkan hidup di keesokan harinya jika masih sempat melihat matahari terbit, namun kebanyakan tidak dapat melihat matahari itu terbit. Lha wong kami biasanya bangun begitu ayam jantan sudah mengejar-ngejar betina untuk dikawini.

Sore itu, setelah konferensi di warung burjo selesai kami kembali dengan kehidupan kami masing-masing. Yang jadi mafia kembali dengan transaksi ganja, yang germo kembali dengan transaksi wanita, untungnya tidak ada keduanya di antara kami. Kebanyakan kembali ke rumah masing-masing namun saat itu saya, Usep, dan Simpe masih bersama-sama berhubung motor Usep masih dititipkan di parkiran kampus. Sebagai teman yang baik kami mengantarkannya untuk mengambilnya meskipun ada ekspektasi lebih, mungkin saja dia berbaik hati mentraktir kami makan malam. Sungguh suatu hal yang tidak bijak, kami tahu itu, tapi tetap saja kami berusaha. Tampang-tampang melas kami mungkin akan membuatnya iba dan menggelontorkan lembaran puluhan ribu untuk memperbaiki asupan gizi kami yang telah beberapa hari dipaksa menelan cacing-cacing berbumbu karya Indofood. Saya berboncengan dengan Usep sedangkan Simpe sendiri, mengingat postur tubuh Simpe yang cenderung melebar ke samping kanan, kiri, depan dan belakang, motor itu jadi terlihat nampak kecil :D.

Malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak. Dalam perjalanan kami, secara tidak disengaja motor yang ditumpangi oleh seorang lelaki tampan (ini saya) dan lelaki yang biasa saja menabrak atau ditabrak (kejadian lebih detailnya akan diceritakan nanti) oleh seorang perempuan yang nampak seksi dalam balutan pakaian senam. Motor perempuan tadi terjatuh dengan sukses sedangkan kami sukses untuk bertahan tidak terjatuh. Sang perempuan terjerembab mencium kanvas yang terbuat dari susunan conblock. Dengan demikian sukses pula kami men-KO sang perempuan tadi.

Sebagai orang-orang yang bertanggungjawab sebagaimana diajarkan oleh pak ustadz, kami menghentikan motor kami dan membantu sang perempuan tadi. Sedikit banyak kami terlibat dalam kecelakaan ini. Terjadi percakapan singkat antara korban dan pelaku yang ditengarai bernama Usep.

Pelaku (P): Bagaimana mbak, tidak apa-apa kan?
Korban (K): Tidak apa-apa gimana, masnya ini punya mata apa tidak? Sudah tau jalan sepi malah nabrak saya.

Begitu helm sang perempuan tadi dibuka, kami meralat perkataan tadi. Panggilan mbak diganti dengan ibu dan perkataan seksi tadi dianggap tidak ada, saat mengatakan seksi kami khilaf. Semoga kekhilafan kami tidak dicatat sebagai amalan buruk. Justru kejujuran kami yang dicatat sebagai amal baik.

P : Ya maaf Bu, menurut saya tadi saya sudah menerapkan aturan lalu-lintas dengan baik dan benar.
K : Lain kali pake mata ya. Aduh.. Aduh.. Kepala saya sakit.. Kaki saya sakit.. Tangan saya sakit.. Ada yang punya handphone, saya mau ngabari keluarga dan teman-teman kalau saya kecelakaan. Kalian yang nabrak harus tanggung jawab. Pokoknya saya nggak mau tau. Kalo ada apa-apa sama saya kalian harus minta maaf sama orangtua saya.

Nah, sekarang apa hubungannya dengan bertanggung jawab pada orangtuanya? Tidak ada satupun dari kami yang menghamili beliau, kok harus bertanggung jawab. Sungguh kejam. Kami dimanfaatkan.

Mendengar perkataan beliau yang ingin meminjam handphone, saya dan Simpe sama sekali tidak berinisiatif meminjamkan handphone. Alasan saya baterai mau habis dan alasan Simpe tidak berpulsa. Suatu kombinasi yang sangat brilian yang menyelamatkan properti kami disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Untungnya kami tidak meminjamkan, ternyata sang ibu punya handphone sendiri dan dihubunginya beberapa temannya untuk mengabarkan kejadian kecelakaan ini yang sengaja dilebih-lebihkan agar terlihat fantastis dan dramatis, bagaikan kecelakaan yang dialami Nelsinho saat seri pertama F1 Singapura, padahal sama sekali tidak terlihat luka serius di tubuhnya.

P : Ya sudah, sekarang biar ibu kami bawa ke rumah sakit.

Kami pun membawa sang ibu beserta motornya ke rumah sakit terdekat dan beliau segera mendapatkan pertolongan di unit gawat darurat dengan ditemani Simpe sementara saya dan Usep mengurus administrasi. Setelah selesai kami turut menemani sang ibu ini di unit gawat darurat. Kami menanyakan kronologi kecelakaan menurutnya.

Saya (S) : Jadi tadi bagaimana Bu kok bisa kejadian seperti ini?
Ibu (I) : Loh, kalian ini jangan main-main sama saya, kalian bisa saya laporkan polisi. Kelakuan kalian bisa saya laporkan ke rektor kalian, kalian bisa mendapat peringatan. Saya kenal dengan pejabat-pejabat tinggi di kampus kalian. Kalau mau kalian bisa saya laporkan.
S : saya mengumpat (tapi ini dengan volume yang diperkecil agar tidak kedengaran)

Begitu mendengar kata-kata itu saya sudah tidak peduli dengan kondisi ibu tadi. Kebencian saya mulai tumbuh, level 2. Tidak sulit bagi saya untuk pulang dan melupakan semua yang terjadi. Namun Usep sebagai pengendara motor, tipikal jawa tulen merasa tidak enak dan mengurus pengobatan sang ibu. Sedangkan Simpe dan saya lebih memilih untuk mengutuk sang ibu. Malam itu jin-jin jahat sukses membuat kami terjerembab dalam jurang kenistaan. Mungkin seperti ini nasib orang-orang kecil yang diperlakukan secara tidak adil oleh orang-orang yang merasa punya tingkat yang lebih tinggi dan punya koneksi kepada pejabat-pejabat tinggi. Sunggu pilu..

Menurut versi kami begini kronologi kecelakaannya (adengan berbahaya, jangan ditiru tanpa bimbingan orangtua) :

Jalanan di depan bangunan pasca sarjana itu memang sepi, tidak ada lampu penerangan jalan sama sekali sehingga keadaan cenderung gelap. Usep yang memboncengkan saya berada pada jalur yang benar dengan sudut elevasi 2.343 derajat dengan kecepatan 30 km/jam, jadi tidak melenceng jauh dari jalur edar yang seharusnya. Tiba-tiba dari sebelah kiri terdapat benda asing yang melaju dengan tingkat kemiringan 30-45 derajat menuju orbit kami. Dan akhirnya stang benda asing tersebut masuk ke celah antara posisi duduk Usep sebagai sopir dan saya sebagai penumpang. Hampir saja benda jahat itu menghujam ke bagian terpenting dalam hidup saya. Beruntung tubrukan itu melenceng sekitar 10 cm dari pusat kehidupan itu. Tapi tetap saja meninggalkan bekas memar di kulit mulus saya.

Dan kemudian dari fakta yang diceritakan sang pengendara benda asing gila itu kepada temannya, sebenarnya saat dia keluar dari orbitnya dia sedang memperhatikan salah satu ruangan di kampusnya (yaitu kampus pasca sarjana) yang lampunya masih menyala. Jadi saat itu dia tidak melihat ke jalan.

Kembali lagi ke dalam ruangan unit gawat darurat. Ibu ini akhirnya mendapat perawatan dari dokter. Beliau masuk ke dalam ruang periksa dan kami tidak tahu apa yang terjadi. Yang kami tau Ibu ini meminta kami untukmembelikan air minum dengan lagaknya yang bak seorang ratu. Semakin menambah kebencian saya padanya, sekarang menjadi level 5.

Tidak berapa lama, datang beberapa teman sang ibu tadi, menjenguknya. Sedangakan saya, Usep dan Simpe menunggu di ruang tunggu sambil bermain tebak-tebakan klasik, lebih dahulu ayam atau telur.

Teman sang Ibu ini datang bersama seorang gadis. Sayang kalau ada gadis cantik kok dibiarkan tidak ada yang mengajak ngobrol. Kali ini niat baik saya keluar meskipun sedikit ternoda dengan niat jahat meninggalkan Usep dan Simpe mengobrol berdua, seperti pasangan homo yang sukses mendapatkan legitimasi hukum di  negeri kincir angin sana. Saya mengajak gadis itu mengobrol dan melupakan keberadaan ayam dan telur tadi. Setidaknya ada hiburan di tengah penderitaan kami.

Teman Ibu tadi keluar dari ruang periksa dan mengajak mengobrol kami. Dari keterangan yang disampaikan teman Ibu itu, kami tahu bahwa sang Ibu ini ternyata seorang pembalap motor yang beringasan, bakatnya sebagai pembalap amatiran di lingkungan kampungnya tidak tersalurkan sehingga dilampiaskannya di lingkungan kampus ini. Cara mengendarai motornya sangat atraktif, cenderung membahayakan semua pihak sehingga tidak kali ini saja beliau terlibat kecelakaan. Dan Ibu ini di black list sebagai pembonceng yang baik dan tidak mendapatkan lisensi sebagai pengendara motor yang sopan.

“Jadi, kalian ini salah tabrak”

Dari point ini mari kita ubah pandangan Anda semua kepada kami, jadi kali ini kami yang menjadi korban dan Ibu tadi adalah pelakunya. Kami hanyalah korban ketidakadilan yang dilakukan oleh pihak merasa dirinya berada di tingkat yang lebih tinggi daripada kami dan punya koneksi terhadap pejabat tinggi di kampus ini kepada orang-orang kecil seperti kami. Kami ini korban eksploitasi.

Rupanya penderitaan kami tidak sampai di sini. Ibu penabrak tadi meminta dilakukan tindakan penunjang radio diagnostik : CT Scan. Sepertinya ia ingin melihat apakah isi otaknya masih ada atau tidak sekaligus melihat seberapa dalam kami bisa merogoh kantong. Kali ya?

“Mungkin perlu CT Scan. Tapi sepertinya tidak, tidak ada gejala-gejala yang menyebabkan anda harus melakukan CT Scan. Luka-luka anda tidak parah, hanya lecet-lecet sedikt, 3 hari paling sudah sembuh”, begitu dokter berkata. Tapi Ibu ini memaksa untuk melakukan CT Scan. Gila, memang. Berlangsunglah CT Scan sialan itu menambah pundi-pundi keuangan rumah sakit dan memperparah penderitaan kami.

Setelah CT Scan menunjukkan tidak ada kerusakan otak permanen pada sang Ibu, beliau diperbolehkan pulang, tentunya setelah menebus obat dan biaya rumah sakit. Usep menunjukkan jumlah tagihan dan sang Ibu berkata
“Kalian yang harus membayar, kan kalian yang menabrak saya! Jadi saya tidak mau tau!!!”

Bertambah satu level lagi kebencian saya padanya, level 9.5 dari 10. Beliau membebankan semua biaya rumah sakit pada kami. Jumlah tagihan Rp 577.650 belum termasuk obat dan setelah dipotong ASKES biayanya menjadi Rp 207.650 tanpa obat, dibagi kami bertiga. Cukup membuat kami harus kembali makan cacing berbumbu unutuk beberapa hari ke depan dan bahagialah cacing-cacing di perut kami yang mendapatkan teman sepermainan.

Urusan di rumah sakit belum selesai sampai di situ. Sang Ibu meminta kursi roda untuk membawanya ke parkiran rumah sakit. Padahal lukanya sama sekali tidak parah. Tidak ada perban, tidak ada bengkak, tidak ada pendarahan dan jarak antara ruang periksa dan tempat parkir tidak lebih dari beberapa tombak saja.

Sampai di sini saya sudah menjadi orang yang tidak bertanggung jawab, hanya kesetiakawanan yang membawa saya menemani Usep dan Simpe mengantarkan sang Ibu kembali ke rumahnya. Sampai di rumahnya pun saya memilih untuk menemani gadis yang tadi bersama teman Ibu tadi di luar rumah, di bawah sinar rembulan, begitu romantis dan mesra. Meneruskan obrolan yang terputus karena harus merawat bayi yang terperangkap dalam tubuh seorang Ibu yang akhirnya kami tahu bergelar S2 dan mengambil program S3-nya di kampus yang sama dengan kampus kami. Di rumahnya beliau masih meminta pertanggungjawaban kami jikalau dalam beberapa hari ke depan badannya masih merasa sakit, belum lagi perbaikan motornya. Namun keberuntungan masih berpihak pada kami, motor sang Ibu tidak apa-apa, hanya lecet sedikit. Kami menolak untuk memperbaikinya, perbaikan bodi sang ibu sudah cukup menguras keuangan kami.

Sampai kami akan kembali, beliau masih merasa yang paling benar dan kami yang salah. Dengan berlandaskan fakta bahwa kami masih muda dan kurang pengalaman serta mengenyampingkan bahwa saat terjadi tabrakan matanya sedang memandang ke arah yang tidak seharusnya beliau pandang, kami tetap dianggap menjadi pesakitan.
Kebencian level 13.

Dan akhirnya kejadian hari itu berakhir di warung, kali ini warung pecel lele. Mengingat kami baru saja mengalami kerugian yang diakibatkan kesewenang-wenangan pihak penguasa, makan malam kali itu ditraktir oleh seorang teman yang prihatin dengan apa yang telah kami alami. Tapi apa setimpal Rp 207.650 dengan sepiring pecel lele?

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: