jump to navigation

Nyasar October 8, 2008

Posted by superwid in Cerita.
trackback

Angin berembus menderu-deru. Di puncak bukit, di bawah sinar bulan, tampaklah seorang laki-laki buta tegak. Kadang-kadang terdengar helaan napasnya yang hanyut tertiup angin. Hidupnya terasa sunyi. Kawan satu-satunya hanyalah monyet kecil setia・

Tampan, dengan bibir tipis, berambut ikal sepunggung, pakaiannya terbuat dari sisik ular, tanpa kancing, hingga dada bidangnya selalu terlihat.

Seorang jantan, dengan dagu yang mengesankan bakal ditumbuhi cambang kasar, mirip para koboi. Hidup sendirian, hanya ditemani monyet setia si Kliwon, ia mengelana, menuruti ke mana kaki melangkah. Seorang pejalan yang memasuki desa-desa mati di seluruh Indonesia, karena banyak warganya terbunuh atau terserang wabah. Desa-desa dengan bau anyir darah, bangkai menyengat. Lalu melibatkan diri dalam kekacauan, tanpa imbalan.

Telinganya sensitif. Di tengah perkelahian massal, sabetan tongkatnya mampu membedakan kawan dan lawan. Ia mampu mendengar sampai risik atau kelebat terjauh. “Aku dapat mendengar detak jantung yang masih sangat lemah di dalam rahim Nona Kenanga”, katanya dalam sebuah petualangan. Bahkan, suara janin pun, ia mampu menangkap. Apalagi membedakan degup berdebar seorang yang penuh kasih tau terbakar dengki. Degup seorang yang tulus atau pengkhianat.

Suatu ketika dia sampai di suatu tempat, dimana gedung-gedung tinggi berdiri. Tidak lupa kendaraan bermotor melintas di jalanan yang ramai. Tidak ada kuda-kuda yang membawa tuannya berkeliling desa. Tidak ada gadis-gadis yang mandi di pinggir kali dengan kemben.

“Kliwon, dimana kita? Aku mendengar suara-suara asing di dekitar kita”, kata sang lelaki.
“Nguk nguk nguk”, jawab Kliwon.
“Ah, aku tidak bisa mendengar kicauan burung, yang ada hanya suara yang belum pernah kukenali”.

Sang lelaki buta melanjutkan perjalananannya, mencari kejahatan dan ketidakadilan di muka bumi untuk dihancurkannya. Mencari pejabat dan penguasa berwatak bunglon yang serakah. Menyusuri jalanan-jalanan padat di kota metropolitan. Dengan ikat kepala dan baju sisik ularnya ditempuhnya perjalanan yang tiada akhir dalam melaksanakan tugasnya, tugas yang dipilihnya sendiri dan dilaksanakannya berteman seorang monyet kecil. Tugas yang dipertanggungjawabkannya kepada Sang Pencipta, tidak kepada siapapun di muka bumi ini. Akhirnya sampailah dia di sebuah gedung bertingkat dan masuk ke dalamnya.

“Kisanak, tempat apakah ini?”, tanya lelaki buta.
“Ini namanya mall, kamu siapa? Gembel tidak boleh masuk ke sini. Atau Anda ini dukun dari kampung, kalo memang iya mbok saya didoakan. Sudah lama saya mencari jodoh namun tidak pernah ketemu. Tolong carikan yang cantik, manis, baik, kaya, pengertian, setia, baik, dan mau dipoligami”, jawab Satpam.
“Kalau begitu berusahalah, bekerja yang keras. Jangan lupa sholat tahajud tiap malam”, jawab lelaki buta.
“Terima-kasih, terima kasih mbah dukun. Semburannya mana, kata Alam di lagu Mbah DUkun kurang afdol kalo nggak pake semprotan”, kata Satpam sambil menyelipkan selembar uang 10ribuan di tangan lelaki buta.
“Aku bukan dukun. Aku Badri Mandrawata dan aku hanya ingin berbuat baik”. kata Badri sambil menepis uang pemberian satpam itu.
“Oh, jadi kamu bukan dukun. Jadi kamu dukun cabul? Dukun santet? Dukun beranak? Orang-orang seperti kamu ini bisanya cuma nyopet paling hebat ngemis lah. Harusnya orang-orang seperti kamu ini ditertibkan Satpol PP biar dibina kalau perlu dikembalikan ke kampungmu sana.”, kata Satpam.
“Oh bukan, aku tidak mau mengemis. Aku ingin melihat-lihat ke dalam. Aku mendengar detak jantung gadis-gadis cantik dengan hot pants dan tanktop di dalam. Sudah lama aku merindukan belaian mereka”, kata Badri.
“Tidak, tidak boleh”.

Didorongnya Badri dengan keras sampai badannya sempoyongan. Beruntung tongkat kayu hasil pesanan pada perajin kayu di Jepara yang dipegangnya masih bisa menopangnya. Sengaja dia tidak menunjukkan kesaktiannya yang berhasil memecahkan ilmu suara Mata Iblis, salah satu alasan kenapa matanya buta.

“Won, nampaknya kita tidak diterima di dunia ini. Lebih baik kita pergi saja”. Badri melanjutkan pencariannya. Beberapa tahun terakhir ini memang agak sulit bagi Badri untuk melaksanakan tugasnya. Semenjak republik membentuk angkatan bersenjata lengkap dengan badan kepulisiannya, Badri mengalami penurunan omset besar-besaran. Penjahat-penjahat tengik yang dulu sering dihajarnya dalam perjalanan menjadi berkurang drastis. Bahkan yang hanya maling ayam atau maling jemuran ditangkap oleh pihak yang mengaku bernama kepulisian.

“Mungkin sebaiknya kita pensiun saja Won, kita bisa jadi partner dalam usaha topeng monyet. Kamu menyediakan sumber daya monyetnya dan aku mempersiapkan sumber daya manusianya”, kata Badri kepada Kliwon “tapi tunggu, aku mendengar detak-detak jantung penguasa lalim. Tunggu, dari arah jam 9 lebih 23 menit”.

Badri dengan ilmu meringankan tubuhnya segera meloncat ke arah yang diinginkannya. Dan sukseslah dia tersangkut di sebuah pohon mangga yang sedang berbuah lebat. Disempatkannya makan sebuah mangga sebelum melakukan teleport ke tempat yang ditujunya. Kilatan-kilatan kamera dan sodoran mikrofon dirasakan Badri di sekelilingnya.

“Senjata apa yang dipakai oleh orang-orang ini”, kata Badri dalam hati.
“Heh kau, penguasa yang lalim, segera bertaubatlah dan kembalikan harta yang telah kamu ambil dengan paksa dari rakyat. Tidak sepantasnya orang bermoral rendah seperti kamu menjadi penguasa”, teriak Badri.
“Siapa kamu?”, tanya lelaki yang diketahui anggota Dewan Republik.
“Aku adalah ……., tidak penting siapa aku. Tapi kamu telah menyengsarakan rakyat. Kamu telah memakan uang rakyat. Aku dapat mendengar detak jantungmu yang berisi jeritan orang-orang kecil yang lemah teraniaya. Segeralah kembalikan hak-hak mereka dan kembalilah ke jalan yang lurus!”, kata Badri.
“Ah, ada gembel kesasar yang mau cari perhatian rupanya. Tolong lekas dibereskan”, kata anggota dewan.

Seorang petugas berpakaian safari segera membawanya keluar dari arena wawancara wartawan yang menanyakan kebijakan pemerintah tentang kegiatan pornografi dan pornoaksi. Petugas itu memberikan selembar uang 100ribuan dan kemudian mengusirnya dengan kasar. Untuk kedua kalinya hari itu ia didorong dengan kasar. Suatu tindakan yang tidak pernah dialaminya sebagai seorang pendekar. Hanya pukulan dan tendangan yang sesekali bisa membuatnya goyah dari kuda-kudanya.

“Aku tidak butuh apa ini. Kertas tidak penting”, kata Badri.
“Dasar pengemis tidak tahu diuntung, sudah diberi uang masih saja bikin masalah”, dan sebuah tinju melayang mendekati wajah Badri. Badri segera menghindar. Sebuah tinju dari orang-orang amatiran seperti petugas ini tidak bisa menyentuh Badri, bayangannya pun tidak. Sembari melompat ke samping disabetkannya tongkat kayu yang mengenai kaki petugas tersebut dan patahlah kakinya sambil keluar teriakan keras dari mulutnya. Teriakan ini mengakibatkan perhatian orang-orang beralih pada Badri.

Petugas lain segera datang dan menolong petugas yang kena sabetan Badri. Beberapa petugas berseragam keamanan segera datang dan mengepung Badri. Dengan mengeluarkan pentungan besi sekitar 15 orang berdiri mengelilingi Badri, siap tempur mempertaruhkan gengsi demi kenaikan pangkat. Sedangkan sang anggota dewan nampak khawatir dan menelepon jendral pulisi republik untuk mengirimkan bala bantuan secepatnya. Dalam hitungan detik, satu per satu petugas keamanan berhasil dilumpuhkan oleh Badri. Tidak perlu banyak tenaga bagi Badri untuk menghentikan kesombongan mereka. Kliwon dan para wartawan menyaksikan dari pinggir arena bertepuk tangan gembira. Beberapa orang bertaruh mengunggulkan Badri dan beberapa yang lein memihak pada petugas keamanan. Kurang beruntunglah pihak yang menjagokan petugas keamanan.

Dengan langkah pasti Badri berjalan mendekati anggota dewan. Bak berjalan di karpet merah perhelatan Oscar, Badri diterangi cahaya blitz kamera yang ingin mengabadikan momen langka ini. Kliwon ikut pasang aksi. Meskipun kebanyakan dari mereka tidak tau siapa orang ini namun setidaknya berita ini akan memberikan dampak positif pada kenaikan oplah surat kabar maupun rating berita yang selama ini anjlok lantaran tumbuhnya sinetron klan Punjabi yang menghiasi layar televisi setiap sebelum bedug Maghrib hingga tengah malam, tidak lupa diulang keesokan harinya.

“Kamu sebaiknya segera bertobat sebelum tongkatku ini menghancurkan kepalamu”, kata Badri sembari mengacungkan tongkatnya ke muka anggota dewan.
“Jangan-jangan sakiti aku, tolong”, kata anggota dewan.

Anggota dewan berlari meminta perlindungan petugas keamanan yang masih bisa berdiri meskipun dengan kaki gemetaran melihat kesaktian Badri yang dengan mudah melumpuhkan belasan petugas keamanan yang terlatih itu. Tidak berapa lama petugas keamanan yang bernanung di bawah badan kepulisian datang dan mengambil-alih pengamanan anggota dewan. Satu kompi pasukan menodongkan senjata laras panjang maupun laras pendek yang siap memuntahkan timah panas ke tubuh Badri.

“Segera menyerah atau kamu saya tembak”, kata pemimpin pulisi.
“Hah, peralatan apa lagi itu. Senjata kalian itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tongkatku ini. Tongkatku ini warisan dari nenek moyangku yang dulu bisa menjelma menjadi seekor ular. Sekarang, setelah diwariskan dari generasi ke generasi tongkat ini bisa berubah menjadi cacing dan akan menggerogoti tubuh kalian mulai dari perut kalian. Cacing ini mempunyai kesaktian untuk bertelepati dengan cacing-cacing di perut kalian. Jika kalian tidak sempat minum obat cacing sebelum pertarungan ini, maka mampuslah kalian”, kata Badri.

Sebutir timah panas meluncur dari pistol pimpinan pulisi dan segera memburu Badri. Dengan kejelian telinganya Badri mampu mengetahui arah peluru datang dan kapan saat yang tepat untuk menghindar. Meskipun selama ini lebih sering dia berhadapan dengan tajamnya anak panah, tajamnya peluru dianalisanya memiliki kemiripan dengan anak panah, hanya saja anak panah lebih sulit ditebak karena adanya pengaruh angin dalam luncurannya sehingga memberikan efek lengkung seperti tendangan bebas David Beckham atau tendangan pisang Roberto Carlos yang lebih sulit dipahami olehnya. Bahkan jika memang akhirnya peluru itu mengenainya, tidak akan membuat luka di tubuhnya. Jimat yang didapatnya dari semedi di kaki Gunung Ketur selama 40 hari memberikan kemampuan baginya untuk kebal dari berbagai senjata yang selama ini dihadapinya seperti pedang, parang, tongkat sakti, sampai anak panah. Tapi ini peluru, timah panas, sebuah senjata yang baru dikenalnya di dunia ini.

Mengetahui tembakan itu tidak menemui sasaran, pemimpin pulisi memerintahkan anak buahnya untuk membidik Badri. Badri tenang-tenang saja. Hanya teriakan dari para penonton yang membuat hatinya gundah. Di satu sisi ia ingin menyelesaikan urusannya dengan anggota dewan sedangkan di sisi lain dia tidak bisa membiarkan korban berjatuhan di pihak rakyat. Dilema.

“Tembak”, teriak pemimpin pulisi.

Dan berhamburanlah beberapa butir timah panas dari laras pistol gerombolan pulisi yang menembak Badri tanpa ampun bagai pemburu yang melihat celeng gemuk. Desingan peluru yang tidak habis-habis mengganggu konsentrasi Badri sehingga perhatiannya tidak bisa fokus pada peluru yang meluncur ke arahnya. Di sisi lain dia mendengar masyarakat yang terkena peluru nyasar berteriak mengerang kesakitan. Ada ibu-ibu hamil yang tiba-tiba melahirkan. Nenek-nenek yang mati karena serangan jantung. Lokasi TKP memang dekat rumah sakit swasta. Dia sadar jika dia terus menghindar akan semakin banyak korban yang berjatuhan. Oleh karena itu dia diam saja saat beberapa butir peluru ternyata sanggup menembus tubuhnya dan meninggalkan jejak lubang berdarah di sekujur tubuhnya. Badri masih diam saja. Darah mengalir di tubuhnya namun ia tidak jatuh. Dia masih hidup.

“Untuk sementara lebih baik begini, lebih baik mereka menawanku. Daripada timbul banyak korban”, kata Badri dalam hati.

Dari pendengarannya dia dapat mengetahui bahwa beberapa korban berjatuhan diakibatkan kecerobohan pulisi dalam memuntahkan timah panas dari pistolnya. Tingkat akurasi bidikan pulisi sangat jauh dari sempurna. Hanya 3 butir peluru yang bersarang di tubuh Badri, selebihnya entah mengenai masyarakat umum yang tidak sengaja lewat atau hanya numpang lewat dan akhirnya berakhir di tembok dan di pohon.

“Aku menyerah”, kata Badri.

Badri ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara, bersama Kliwon tentunya. Wanara ini tidak bisa lepas dari tuannya kecuali saat tuannya melakukan perkelahian. Biarpun berwujud monyet, Kliwon tahu kapan saat dia harus menyelamatkan nyawanya, tidak mau menjadi korban salah tembak.

Di dalam penjara, Badri hanya bisa termenung. Luka-lukanya dapat disembuhkannya sendiri. Ilmu yang dipelajarinya dari master-master kungfu china, ia menyembuhkan luka dalam di tubuh cukup dengan duduk bersilang kaki, telapak tangan di lutut dan asap keluar dari kepala. Kemudian butiran peluru yang bersarang di tubuhnya keluar dengan mudah melalui lubang yang ditinggalkannya saat menembus tubuh Badri mirip seperti dukun saat mengeluarkan santet dari tubuh korbannya.

“Won, apakah kita salah?”, tanya Badri pada Kliwon.

“Kamu tidak salah kisanak”. Suara itu mengagetkan Badri. Kliwon tidak mungkin secepat itu belajar bahasa manusia. Meskipun telah lama mengabdi pada Badri, Kliwon tidak pernah bisa mengucapkan sepatah kata pun dalam bahasa manusia.

“Suaramu, terdengar familiar. Tunggu, kau adalah Mata Iblis. Mau apa kau di sini. Aku sudah mengalahkanmu. Kau mau adu kesaktian lagi ha?”, tantang Badri sembari memasang kuda-kuda dan Kliwon berlari ke pinggir arena.
“Oh, tidak Badri. Aku sudah menyerah. Ilmumu sudah jauh melebihi kemampuanku. Semenjak kau mengalahkanku tempo dulu aku memilih untuk berkelana dan sampailah aku di kota metropolitan ini. Sebenarnya aku ingin menjadi penguasa di sini, mengumpulkan upeti dan wanita dari penjuru negeri untuk memuaskan nafsuku. Tapi apa daya, kemampuanku ternyata kalah jauh dibandingkan dengan penduduk setempat”, jawab Mata Iblis.
“Maksudmu? Dengan kemampuan tarungmu yang sangat hebat itu kau kalah dengan orang-orang gendut seperti mereka?”, kata Badri sambil menunjuk penjaga penjara.

Perbincangan pun mengalir hangat. Mata Iblis, Badri, dan Kliwon duduk bersila di tengah ruangan sempit itu. Sambil bermain ceki dan ditemani segelas teh hangat plus sepiring gorenan mereka mengenang masa lalu sekaligus membahas permasalahan yang mereka hadapi sekarang.

“Bukan begitu Badri, kemampuan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Seribu dari mereka bisa kuhadapi dalam sekejap dengan ilmuku. Dan mereka akan menggelepar layaknya ikan yang dikeluarkan dari air. Semuanya mudah bagaikan membalikkan telapak tangan. Hanya saja rupanya mereka lebih licik dan curang. Mereka menggunakan teknik dan strategi kotor untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan”, kata Mata Iblis.
“Maksudmu?”, tanya Badri lagi.
“Orang-orang dengan kemampuan seperti kita tidak akan mendapatkan apa-apa jika kita masih bertumpu pada kemampuan kita. Kita harus mengikuti cara main mereka jika mau mendapatkan yang kita inginkan. Dengan money politic”, jawab Mata Iblis.
“Mani politik? Politik air mani? Sperma? Onani? Aku tidak paham maksudmu”, tanya Badri.
“Kamu tahu, dengan uang kita bisa mendapatkan segalanya. Dengan pakaian seperti kita, dari awal kita sudah dicap sebagai gembel, sudah tidak lolos verifikasi fisik untuk menjadi orang-orang perlente. Di sini uang adalah segalanya, kemampuan yang kita miliki sebagai pendekar tidak mereka anggap. Jika ada uang maka semaunya bisa dibeli, termasuk kemampuan. Semedi 4 tahun untuk mendapatkan ilmu S1 yang pernah kita pelajari di Laut Kidul bisa dibeli dengan uang dan dalam sekejap sertifikat ilmu S1 bisa didapatkan”, kata Mata Iblis.
“Aku tidak butuh jabatan dan harta. Aku hanya ingin menjalankan tugasku yang ingin menghancurkan kejahatan dan kemunafikan di muka bumi!”, kata Badri.
“Ya aku tau itu Badri, tapi kau harus sadar. Di sini semua sudah diatur sedemikian rupa agar semua teratur dan terencana. Termasuk para pejabat dan penguasanya. Kejahatan mereka sudah terorganisir secara rapi, lebih rapi dari anyaman bambu warung Kang Paijo yang hampir tidak ada celahnya itu”, jelas Mata Iblis.

“Waitress, pesan satu loyang pizza”, kata Mata Iblis.

Sepiring pisang goreng yang tinggal menyisakan piringnya itu diganti oleh waitress dengan seloyang pizza.

“Kalau kau ingin menyadarkan penguasa-penguasa itu, kamu akan mengalami kesulitan sendiri. Kamu hanya bisa menyadarkan preman-preman kampung yang tiap hari mangkal di ujung gang, meminta uang secara paksa dari orang-orang yang bersliweran dengan terang-terangan. Sedangkan mereka yang ingin kau kejar tidak berada di ujung gang, mereka berada dikursi mewah di pemerintahan ini.Mereka tidak perlu susah-susah untuk nongkrong di bawah terik matahari dan meminta secara paksa. Mereka tinggal duduk dan menikmati dinginnya AC, kemudian secara sukarela rakyat memberikan upeti kepada mereka.
Kalau kau ingin memberantas kejahatan di muka bumi ini, semua sudah tidak ada gunanya. Maling-maling ayam dan pencopet telah ditangkap pulisi dan dipenjarakan seperti kita, kadang ada yang ditembak di tempat. Penguasanya justru mendapat perlindungan pulisi. Dan jika kamu nekat menghajranya, semua rekan-rekanmu yang akan menanggung akibatnya. Ingat kasus Mary Jane yang ditangkap Doctor Oc untuk memancing Spiderman keluar, seperti itulah yang akan terjadi. Kliwon bisa saja menjadi korban.
Di sini orang-orangnya sudah terkontaminasi paham kapitalisme. Semuanya diukur dengan uang. Semuanya dihalalkan demi mendapatkan uang, terutama jabatan. Kalau perlu tipu kanan kiri, jual selangkangan, atau pakai pesugihan.
Tempat kita bukan di sini Badri, orang-orang dengan kemampuan hebat sepertimu tidak akan mendapatkan apa-apa di sini. Orang-orang kapitalis hanya mengerti uang, bukan kemampuan”, lanjut Mata Iblis.

Di ujung malam. Di atas bukit. Di bawah sinar bulan. Seorang pendekar, dengan monyetnya, berdiri seorang diri. Ia buta, tapi tak buta jiwanya. Ia merenungi pengalamannya di kota metropolitan. Lalu menggumamkan sebuah keyakinan yang sampai kapan pun masih relevan: “Kejahatan mungkin dapat menang di sini, tapi tak dapat menguasai・”

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: