jump to navigation

Tradisi October 9, 2008

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Lebaran, ada dua pengertian mengenai kosakata ini. Kosakata yang hanya ada di Indonesia yang berkaitan dengan Idul Fitri. Yang pertama adalah “lebar” dalam Basa Jawa yang berarti selesai. Maksudnya selesai menjalankan ibadah puasa selama satu bulan untuk kemudian dirayakan saat Idul Fitri. Yang kedua adalah “lebar” dalam Bahasa Indonesia, yang mempunyai maksud memberikan pintu maaf yang selebar-lebarnya saat perayaan Idul Fitri.

Di Indonesia, Idul Fitri dirayakan secara besar-besaran. Jauh lebh besar daripada Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban. Padahal sebenarnya justru Idul Adha yang seharusnya dirayakan jauh lebih besar daripada Idul Fitri. Jadi Idul Fitri adalah hari raya yang kecil sedangkan Idul Adha adalah hari raya yang besar. Hari raya yang kecil? Hari besar yang kecil, ya pokonya begitu lah, urutannya lebih besar Idul Adha. Jika di Indonesia bisa dianalogikan Idul Adha itu adalah Perayaan Kemerdekaan 17 Agustus sedangkan Idul Fitri adalah Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Sama-sama penting, namun lebih besar 17 Agustus. Pantas jika dalam tahun jawa, bulan dimana Idul Adha diperingati disebut bulan Besar.

Alasan Idul Adha dianggap sebagai hari raya besar karena saat itu banyak umat muslim yang berkumpul di Mekkah menjalankan ibadah haji. Jadi untuk warga muslim di Timur Tengah sana, perayaan Idul Adha berasa lebih besar daripada Idul Fitri. Sedangkan di Indonesia yang posisi geografisnya jauh dari Mekkah maka euforia Idul Adha sebagai hari raya besar menjadi berkurang dan Idul Fitri dirayakan lebih besar karena saat Idul Fitri dijadikan ajang untuk bertemu, berkumpul, silaturahmi dan bermaaf-maafan. Pemerintah pun memberikan fasilitas kepada warganya untuk merayakannya dengan memberikan libur yang cukup panjang saat Idul Fitri. Jadilah euforia Idul Fitri lebih besar daripada Idul Adha dan timbulnya tradisi mudik atau pulang kampung kaum-kaum perantau yang hanya ada di Indonesia yang mengakibatkan perayaan Idul Fitri di Indonesia jauh lebih besar daripada di Timur Tengah. terbawa oleh lingkungan dan tradisi.

Kalau sedang musim lebaran, mulai dari terbenamnya matahari pada akhir bulan ramadhan sampai terbenamnya matahari hari terakhir bulan syawal adalah hari-hari afdhol untuk mengucapkan selamat lebaran dan bermaaf-maafan (sesuai dengan mahdzab yang dianut oleh sebagian besar rakyat Indonesia, bukan mahzab Syafi’i tapi mahzab Sapei). Yang namanya sedang musim pasti ada sesuatu yang banyak, misal musim rambutan pasti banyak rambutan yang berbuah, musim hujan pasti banyak hujan, musim layangan pasti banyak anak yang main layangan jadi pada saat musim lebaran banyak orang yang mengucapkan selamat lebaran dan saling bermaaf-maafan, baik secara langsung bertemu bertatap muka saling pandang dan menjabat tangan atau secara tidak langsung dengan mengirimkan kartu lebaran, kartu pos, telegram, email, sms, mms dimana tidak ada interaksi langsung antarpribadi.

Akan tetapi di jaman komunikasi sudah maju seperti sekarang ini, cara kedua nampaknya banyak dipilih oleh masyarakat. Dengan catatatan kartu lebaran sudah dihitung jadul sejak ditemukannya Hp di saku anak-anak SD. Apalagi telegram. Tapi teknologi penulisan sms sekarang ini ternyata banyak meniru telegram, singkat dan padat tetapi kadang tidak jelas. Rupanya telegram sudah berevolusi menjadi sms. Yang kini menjadi tren adalah sms dan mms, terbawa arus modernisasi. Akan tetapi mengingat biaya mms yang relatif mahal, sms masih menjadi primadona. Dan jadilah tradisi memijit keypad Hp menjadi tradisi baru di Indonesia saat musim lebaran tiba di samping tradisi mudik yang sudah berakar bahkan sudah bertunas.

Saya tidak mau ketinggalan tren dong. Hp saya yang masih bertipe 4 digit dan layarnya cuma bisa menampilkan titik-titik hitam untuk mendeskripsikan suatu huruf ikut kebanjiran sms lebaran. Sampai-sampai ada sms yang harus diungsikan ke outbox atau terpaksa dihapus agar banjir sms-nya tidak membludak. Hp kelahiran jaman manusia masih berburu dan meramu itu ikut-ikutan step gara-gara kebanyakan sms yang masuk ke inbox. Untuk membuka inbox diperlukan waktu cukup lama, masih sempat untuk berburu nyamuk atau meramu oplosan gula dan teh. Perlu dianggap anugerah atau musibah dapat sms sebanyak itu.

Malam takbiran tahun ini, bertepatan dengan akhir bulan. Jatah bulanan pulsa saya masih sisa beberapa ribu, saya bingung menghabiskannya. Biasanya sorak-sorak bergembira begitu tahu akhir bulan jumlah tagihan belum mencapai batas bawah yang ditetapkan, tapi kali ini saya kok jadi bingung. Ya, walaupun Hp kelas bantam (banting tetap aman) yang penting pulsanya kelas berat (berat di bayar tagihan tiap bulan kalau overweight). Sempat terpikir untuk ikut dalam horoskop jawa, KETIK REG SPASI MANJUR KIRIM KE 987*. Siapa tau nanti balasannya :

Kamu tidak cocok bekerja, kamu cocoknya duduk-duduk di rumah menunggu istri pulang bekerja sambil ongkang-ongkang kaki menikmati segelas teh hangat ditemani pisang goreng. Begitu istri pulang, tinggal bilang : Nduk.. Ngamar yuk.. (maksudnya tidur, dan beneran tidur).

Tapi toh niatan itu saya kesampingkan, mengingat dari pengalaman sebelum mengakibatkan pulsa jebol sampai ngesot-ngesot kelejotan susah kalau mau UNREG. Belum lagi harga sms nya premium, coba kalau yang pertamax tanpa subsidi untuk kepentingan industri yang belinya ngecer, pasti bikin kehabisan darah percis kaya disedot vampir yang seabad nggak pernah nemu darah manusia.

Sempat terpikir mengirimkan sms lebaran akan tetapi setelah saya pertimbangkan masak-masak, saya kok jadi malas ikut-ikutan sms lebaran. Saya bukannya makhluk asosial dan bukan anti mengirimkan sms lebaran, cuma ada beberapa pertimbangan yang bisa saya jadikan alasan kalau nanti ditanya sama Malaikat Munkar atau Nakir : Pulsa yang diberikan digunakan untuk apa?

Mengurangi pendapatan operator telepon seluler
Sebelumnya, mengingat masih dalam suadana lebaran, saya perlu meminta maaf kepada segenap handai tolan yang bekerja di sektor operator telepon seluler dan antek-antek pendukungnya. Biaya komunikasi di Indonesia ini kan masih relatif mahal jika dibandingkan dengan negara tetangga. Belum lagi jumlah pengguna telepon seluler di Indonesia ini relatif besar, menurut data terakhir berjumlah 116 juta pengguna dan menempati peringkat 6 pengguna telepon selular di dunia, jadi jikalau kehilangan satu pelanggan yang tidak mengirim sms lebaran tentunya tidak akan berdampak signifikan pada pendapatan anda kan? Lagipula orang-orang yang masih menjadi duri dalam rempeyek, parasit di keluarga seperti saya ini mesti baik-baik mencatat pengeluaran, salah sedikit bisa membuat depresi ekonomi.

Mengurangi trafic
Bayangkan jika dalam jangka waktu 24 jam (terhitung jam 6 sore saat takbiran hingga 6 sore saat lebaran pertama) ada paling tidak 60 juta pelanggan (diasumsikan ada 50% pelanggan yang sadar bahwa hari itu adalah lebaran dan secara sadar pula mengirimkan sms lebaran tanpa paksaan) mengirimkan sms ke 10 nomer berbeda saja, seberapa padat trafic komunikasi yang terjadi.  Lebih padat dari jalur Nagrek saat musim lebaran yang mengakibatkan perjalanan Jogja-Bandung terlambat hingga 24 jam (ini pengalaman nyata yang dialami paman saya). Bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, hal-hal yang diinginkan tidak terjadi, hal-hal yang tidak terjadi diiinginkan maupun hal-hal yang terjadi tidak diinginkan.
Atau begini studi kasusnya :
Coba bayangkan jika Emaknya Usro lagi hamil besar mendekati melahirkan dan Bapaknya Usro pas lagi sms menghubungi Cuplis untuk meminjam mobil guna mengantarkan Emak Usro yang udah mau mbrojol itu. Kalau antrian sms Bapaknya Usro itu ada di paling belakang dan sampai pada Cuplis hari berikutnya atau paling cepat 3 jam sesudah dikirimkan, keburu kepala bayi nongol sebelum sempat mendapatkan pertolongan pertama.
Belum lagi kalau si Ucrit lagi pedekate sama Mei Lan, Ucrit sms nembak si Mei Lan dan minta jawaban segera, jika tidak si Ucrit mau lompat dari Tugu Pancoran. Niatnya Mei Lan memang mau balas sms Ucrit tapi apa daya tangan tak sampai, eh maksudnya traficnya lagi penuh. Bisa-bisa Ucrit lebih dulu meregang nyawa, sowan dateng ngarsanipun Gusti Allah.

Belum punya keluarga, calon keluarga saja juga belum
Entah mengapa, kok banyak yang sms :
Selamat Idul FItri, Minal Aidzin bla.. bla.. bla.. Cuplis & Keluarga, atau variasinya Cuplis-Cipluk. Nah saya? Niatnya mau menulis Si Ganteng dan Si Cantik tapi siapa Si Cantiknya? Mau sama Dian Sastro, tapi apa mau Dian Sastronya. Kalau cuma nyebutin nama saya seorang saja kok rasanya, rasanya pilu..

Tidak pandai berkata-kata
Nah ini, dilema setiap musim lebaran tiba. Orang-orang pada kreatif dan inovatif membuat ucapan selamat lebaran yang berbeda satu sama lain, puitis, biasanya berdasarkan latar belakang masing-masing pengirimnya. Yang sering naek gunung, dikiaskan dengan gunung; yang kuliah di kimia, dianalogikan seperti reaksi kimia; yang suka komik jepang, diungkapkan dalam bahasa jepang; dan yang suka nonton bokep, mana ingat dia kirim sms lebaran. Nah sedangkan saya, begitu mendapat sms seperti itu jawabannya : ya atau oh atau makasih. Tidak lebih dan tidak kurang. Jangankan berpuitis-puitis ria dalam puisi, mengetik saja sulit.
Bahkan saat harus sungkem sama orang tua, biasanya copy-paste, ucapannya standar : Sugeng Riyadi, sedaya kalepatan nywun pangapunten.

Jangan lupakan salam tempel
Lebaran adalah saat untuk bertemu dan bersilaturahmi. Keluarga jauh menyempatkan diri untuk antri di loket, kegencet-gencet, menghindari copet, menguras dompet demi selembar tiket untuk pulang kampung. Ada yang kurang jika tidak bertemu. Keluarga yang jauh saja menyempatkan diri bertemu, nah kalau dengan teman sepermainan yang tiap hari ngelap ingus barengan masa’ tidak sempat untuk bertemu untuk menyampaikan selamat lebaran dan bermaaf-maafan? Jika saya mengirimkan sms lebaran pada teman yang sebenarnya masih bisa diusahakan untuk ditemui saya khawatir kewajiban saya untuk bertemu dengan mereka jadi berkurang. Jadi saya memilih untuk tidak mengirimkan sms lebaran sehingga ada kewajiban yang harus saya penuhi, yaitu bertemu dan bersilaturahmi.
Di samping itu, saya lebih suka bertemu langsung dengan teman-teman saya untuk mengucapkan selamat lebaran. Itu lebih gentle. Sama seperti saat nembak cewek, kalau cuma lewat surat atau sms memang berasa romantis, tetapi tidak bisa melihat niat di balik itu semua. Saat manusia berhadapan secara langsung ada bahasa tubuh yang menunjukkan apakah perkataannya itu benar dari dalam hati atau sekedar basa-basi.
Dan yang paling penting, saat lebaran biasanya digunakan untuk mendapatkan pendapatan tambahan yang tidak diduga-duga. Jangan lupakan salam tempel. Syarat sahnya salam tempel adalah saat ada dua orang, ijab kabul, dan angpaonya. Jika tidak saling bertemu maka salam tempel tidak sah.

Mungkin untuk orang-orang yang susah ditemui karena keterbatasan ruang, waktu, dan biaya mengirimkan sms itu sah-sah saja.

Tradisi saya saat lebaran beda. Jadi kalau sampai sekarang saya tidak mengirimkan sms lebaran satu kali pun, harap dimaklumi.. Biar nanti urusan saya dengan yang menanyai saya kelak. Buat yang sudah sms saya, Saya terima permintaan maaf kalian… Ganti..

Buat mbaknya di Godean, di Sidoarjo, di Ponorogo, di Bontang dan (spesial) buat mbak yang di Prabumulih, terima kasih buat sms (yang bukan sms lebarannya)..

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: