jump to navigation

Lempar Kerikil October 20, 2008

Posted by superwid in Cerita.
trackback

Alkisah di suatu negeri antah berantah, tampaklah seorang lelaki dengan wajah tampan dan badan yang tinggi besar gagah bagaikan seorang Prajurit Sparta yang siap maju ke medan perang. Tinggal bersamanya adalah seorang perempuan cantik, yang jika disandingkan dengan sang lelaki akan tampak sepasang anak Adam dan Eve yang sangat serasi.

“Jar, kok sudah lama kita nikah tapi belum dikaruniai momongan juga. Nanti beberapa bukit kebun teh, beberapa hektar kebun kurma, beribu-ribu ternak itu mau saya wariskan ke siapa?”, kata lelaki yang bernama Abra ini.
“Gimana dong Kak Abra, rahim ini belum juga dikaruniai isinya oleh Tuhan. Sabar ya Kak?” kata Hajar.
“Atau kita gunakan saja metode bayi tabung itu, toh dari penjualan harta kekayaan kita kalau untuk pergi ke Singapura atau ke Amerika nampaknya tidak akan mempengaruhi kekayaan kita. Kita jual satu bukit kebun teh dan masalah biaya beres!”, kata Abra.
“Ah, jangan Kak. Mungkin ini cobaan dari Tuhan. Mungkin kita harus lebih sering berusaha dan tentu saja berdoa meminta diberi yang terbaik dari Tuhan. Jangan lupa kita harus sering-sering mendekatkan diri kepada Tuhan. Daripada uangnya digunakan untuk membiayai program pembuatan bayi tabung lebih baik uangnya disedekahkan saja”, kata Hajar.

Kaget bukan main Abra mendengar perkataan bikjak dari istrinya dan segera dipeluknya Hajar. Bersyukur memiliki seorang istri yang bergitu bijak dan taat kepada Tuhan. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti. Kehidupan Abra dan Hajar masih seperti yang dulu, masih tetap saja kaya dengan harta yang melimpah ruah untuk tujuh keturunan beserta pembantu-pembantunya. Namun satu hal yang masih sama juga adalah mereka belum dikaruniai keturunan. Padahal selama ini tidak terhitung beratus-ratus unta, beratus-ratus lembu dan beribu-ribu kambing yang telah disedekahkan Abra dengan mengharap karunia berupa keturunan dari Tuhan.

Tidak terhitung pula pujian yang sering mampir ke keluarga Abra, tentunya berkaitan dengan sedekahnya yang tak pernah berhenti. Namun sedikitpun tidak ada pujian yang mampu membuat hati Abra tenang karena sedekah yang dilakukan oleh Abra bukan dilandasi akan kebutuhan akan pujian, tetapi kebutuhan akan keturunan. Seorang anak yang meneruskan garis keturunannya, yang menyandang nama Bin Abra di belakang namanya.

“Ya Tuhan, aku tidak berkeberatan menyedekahkan beribu-ribu ternak bahkan jika nantinya Engkau memberikanku keturunan dan Engkau menghendakinya kembali padamu akan aku serahkan dia pada-Mu”, doa Abra di satu waktu.

Tak lama berselang setelah doa sakral yang dipanjatkan Abra kepada Tuhan, lahirlah seorang bayi laki-laki tampan yang lahir dari rahim Hajar. Namanya Ma’il.

Betapa bahagia hati Abra mendapatkan seorang keturunan yang sangat tampan dan baik budi pekertinya. Dibesarkan dengan penuh kasih sayang, Ma’il tumbuh sebagai seorang lelaki yang memiliki kepedulian kepada sesama dan berbakti pada orang tua.

Suatu hari Tuhan meminta Abra memnuhi nazarnya.

“Hai Abra, ingatkah kamu akan nazarmu? Kini Aku akan menagihnya. Sedekahkanlah anakmu padaku. Semeblihlah ia”.

Bimbang hati Abra. Namun sudah selayaknya yang diminta dari-Nya pasti akan kembali kepada-Nya. Abra memenuhi nazarnya.

“Jar, itu anak kita. Lekas kamu mandikan dan pakaikanlah ia dengan pakaian yang paling bagus. Aku ingin mengajaknya berpesta”, kata Abra.

Segera setelah Hajar memandikan dan memakaikan pakaian yang paling bagus, Ma’il dibawa Abra pergi. Berbekal sebuah pisau swiss army yang telah diasah tajam dan tali rotan yang kuat, Abra mengajak Ma’il berpesta.

DI tengah jalan, mereka beristirahat. Dengan segala metode dan strategi yang dipelajarinya di dunia University of Tipu Menipu, datanglah Iblis yang berusaha meruntuhkan keyakinan Abra.

“Bra, kamu ini sudah lama berdoa, bersedekah, usaha tiap hari.. Eh begitu punya anak, Tuhan minta anakmu kembali kok malah dikasih. Apa nggak sayang? Kamu ini orangtua durhaka”, kata Iblis.
“Lha, wong anak ya anakku bukan anakmu. Kamu kan tidak ikut menanam saham. Kok ikut-ikutan ribut!”, balas Abra.
“Saya bukannya ikut campur, hanya memberi pertimbangan. Presiden saja butuh Dewan Pertimbangan Agung untuk memberikan pendapat, digaji lagi. Kamu sudah tak kasih servis gratis tanpa biaya malah menolak”, kata Iblis.
“Pendapat dan nasehatmu itu kan nggak ada yang benar. Mbah Adam itu contohnya. Hus hus, pergi sana”, usir Abra.

Dilemparlah Iblis dengan batu kerikil. Sambil mengerang kesakitan Iblis segera pergi merencanakan strategi B.

“Wah, kampret. Susah juga nipu Abra. Tapi masih ada strategi B. Kita hasut istrinya, Hajar”, pikir Iblis.

Didatangi kediaman Hajar.

“Koniciwa”, sapa Iblis.
“Oh, kangmas Iblis. Ada apa gerangan? Sebaiknya di luar saja, Kak Abra lagi pergi sama Ma’il. Nggak enak kalo berdua-duaan di dalam rumah, bisa jadi gosip”, kata Hajar.
“Ndak pa pa Mbakyu. Gini lho Mbak, tadi kok saya melihat Abra sama Ma’il pergi. Mana Abra bawa pisau sama tali lagi. Kelihatannya si Ma’il mau disembelih loh”, kata Iblis.
“Oh ya? Ah jangan bohong. Bentar tak telpun Kak Abra dulu”, kata Hajar khawatir.

Berkali-kali mencoba menghubungi Abra, yang didapat hanya pesan bahwa ponsel Abra tidak bisa dihubungi.

“Wah, ciloko iki. Kak Abra nggak bisa dihubungi”, kata Hajar.
“Kalo Mbakyu mau nyusul mari saya antar, saya tau dimana posisi mereka. Sudah saya lacak dengan GPS dan Google Tracker”, kata Iblis.
“Boleh boleh. Eh tapi kok situ tau kalau Kak Abra mau menyembelih Ma’il. Jangan-jangan cuma bohong aja. Kangmas Iblis kan terkenal sebagai penipu ulung”, tanya Hajar.
“Masaoloh, enggak lah Mbakyu. Tadi saya sempat tanya sama Abra. Dia bilangnya ini perintah Tuhan, jadi dia nggak mungkin menolak”, jawab Iblis.
“Oalah, kalau begitu ya sudah, tidak apa-apa. Kak Abra itu kan sudah besar, sudah lebih dari dewasa. Pasti dia bisa memutuskan yang terbaik bagi keluarganya. LAgipula jika ini sudah perintah Tuhan, saya juga ikhlas kok. Kangmas, ini jam kunjungan sudah habis jadi mohon segera pulang. Takut digrebek warga”, kata Hajar.
“Tapi Mbakyu…”, kata Iblis.
“Sudah pergi sana!!”, usir Hajar.

Dilempar kembali Iblis dengan kerikil.

“Wah, semprul.Suami Istri sama saja. Susah.. Repot.. Kalau begitu, giliran rencana C”, batin Iblis.

Gagal dengan yang tua, kini giliran yang muda. Ma’il jadi sasaran tembak. Anak muda kan biasanya pikirannya labil. Digoda pakai Sora Aoi jebol pertahanannya.

“Il, sebenarnya kamu mau disembelih sama bapakmu itu”, jelas Iblis.
“Eh ada Om Iblis. Disembelih? Wong mau diajak pesta kok. Om ini bisa aja”, jawab Ma’il.
“Itu, lihat bapakmu. Bawa pisau sama tali gitu. Mau pesta kok bawa kayak gituan”, kata Iblis.
“Ah itu paling bapak mau cari pelanduk buat nanti makan malam”, kata Ma’il.
“We lhadalah, Om tadi udah tanya ke bapakmu. Memang kamu itu mau disembelih. Katanya disuruh Tuhan”, kata Iblis.
“Wow, gitu? Ya kalo perintah Tuhan sih saya manut aja. Lagian bapak pasti sudah mempertimbangkan berbagai macam hal. Jadi saya tidak perlu khawatir”, kata Ma’il.
“Eh tapi Il….”, kata Iblis.
“Dah pergi sana!!”, kata Ma’il sambil melempari Iblis dengan kerikil lagi.

Abra dan Ma’il akhirnya melanjutkan perjalanan yang tertunda. Abra pun memenuhi nazarnya.

Dan gagal rencana Iblis untuk menghasut keluarga Abra.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: