jump to navigation

1000 rupiah October 28, 2008

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Ada yang tau tentang filosofi uang 1000?

Alhamdulillah, setelah berbulan mengimpi-impikan mempunyai selir baru akhirnya kesempatan yang ditunggu-tunggu itu datang jua. Setelah mengurangi kunjungan kenegaraan ke beberapa lokasi di penjuru Pulau Jawa terkumpullah beberapa lembar uang, modal untuk melamar sang selir. Tapi apa dikata ternyata si empunya calon selir baru saya itu menghendaki nominal yang jauh lebih besar dari harta yang saya punya. Selirnya sih mau-mau saja saya lamar dengan nominal berapapun, tapi di negara yang tidak menganut paham liberalisme ini semuanya harus melalui prosedur yang telah ditetapkan.

Saya (A): Gimana Om, masak nggak boleh saya lamar anak gadisnya.
Bapaknya calon selir (B) : Anda kalo mau ngelamar anak saya ya harus pake modal dong. Barang bagus gini kok dilamar pake modal seiprit gitu. Duit segitu semalem abis dipake dugem anak saya.
A : Tapi anaknya kan mau sama saya Om.
B : Ya, terserah kalian kalau mau kawin lari tanpa restu saya. Tinggal saya laporkan kepada pihak berwenang. Belum lagi hubungan kalian di mata Tuhan dianggap zina. Dosa besar! Masuk neraka kalian berdua, terperosok di lembah paling nista.
A : Jangan gitu dong Om, kita kan bisa pake prinsip win-win solution
B : Kamu senang, anak saya senang, tapi saya yang tidak senang. Sudah, pulang sana jangan kembali sebelum duitmu mencapai jumlah batas minimal untuk menjadi mas kawin pernikahan kalian.
A : Ayolah Om, plis lah Om..
B : Pergi! Keluar dari teritori rumah saya! Gembel! Merepotkan!

Dan jadilah lebih dari sebulan saya meyakinkan diri saya untuk memilih sang selir baru saya ini. Apakah bibit bebet dan bobotnya sesuai dengan nominal yang dibutuhkan. Saya tidak mau membeli kucing dalam karung. Tapi harap dicatat, calon selir baru saya ini bukan seekor kucing.

Masalah bibit, sang calon selir ini berasal dari keluarga kaya yang berada. Kabarnya masih ada keturunan Eropa dan Jepang. Jadi Indo gitu lah, pokok’e mak nyuusss. Bodinya montok.. Wajah Horikita Maki dengan bodi Sora Aoi. Hot!!

Masalah bebet, orangtua sang calon selir ini memang agak diragukan. Sepertinya menganut paham kapitalis. Mata duitan, tapi wajarlah. Tidak terlalu berlebihan seperti bank plecit di kampung yang suka mengambil bunga dengan semena-mena.

Masalah bobot, harkat dan martabat sang calon selir tidak perlu diragukan. Termasuk salah satu yang paling dihormati dalam bangsanya. Bersaing ketat dengan beberapa famili lain dari Finlandia dan Korea.

Tidak kurang dari beberapa calon selir lain yang saya pertimbangkan untuk menempati posisi sebagai selir lama saya. Setelah sempat beberapa kali nge-drop kesehatannya, selir yang lama mengalami malfunction setelah mendampingi saya selama 2 tahun lebih. Kehidupannya perlu ditopang dengan alat bantu energi. Jika tidak, dia akan mati suri. Sebenarnya selir yang sakit-sakitan ini sangat bermanfaat dan tepat guna, meskipun bodinya tidak semlohai bin aduhay tapi fungsinya top markotop. Hanya saja mungkin memang sudah waktunya sang selir lama ini memasuki masa bebas tugas tanpa uang pensiun. Barangkali sudah muntab dia memenuhi nafsu liar saya. Tapi yang pasti meskipun saya mempunyai selir baru, selir yang lama tidak akan saya lupakan. Akan tetap mendapatkan nafkah lahir batin meskipun tidak sesering sebelumnya dan harus menerima nasib turun jabatan menajdi selir ke dua.

Tidak kurang dari sholat istikharoh tiap malam untuk mendapatkan petunjuk, meminta saran orang-orang bijak hingga metode undian dicoba, namun tidak memberikan suatu jawaban yang pasti. Tiap sholat yang kepikiran sang permaisuri, tiap minta pendapat yang keluar pendapat tentang permaisuri, tiap undian yang muncul nama permaisuri. Padahal saya sedang butuh selir, bukan permaisuri.

Seorang teman memberikan saran :

Pilihlah satu, yang mana saja sesuai dengan mas kawin yang isa kamu penuhi. Toh cepat atau lambat , mau tidak mau kamu akan menerima kelebihan dan kekurangannya.

Memang pada akhirnya saya memutuskan untuk meminang calon selir yang sudah sempat saya lamar tadi meskipun semapt juga ditolak mentah-mentah. Tapi tentunya kendala mas kawin masih harus saya hadapi. Entah kenapa kok rasanya kredit macet di Amerika sana berpengaruh pada kondisi perekonomian saya. Sumber-sumber dana yang biasanya mengalir dari arah yang tiada disangka-sangka menjadi macet juga. Mau menjual sapi dan kambing pemberian orangtua tidak ada nyali, takut dicap sebagai anak durhaka yang bisa berimbas pada dicabutnya saya sebagai anak dan kehilangan hak mendapatkan warisan. Bisa merana hidup saya jika kucuran dana segar tiap bulan di stop.

Kalau jodoh toh tidak akan kemana. Dengan dana hibah dari kakak tercinta, sejumlah nominal yang dibutuhkan untuk menebus calon selir baru saya itu terkumpul. Percobaan pertama yang gagal diulangi pada kesempatan kedua dan dengan disaksikan si empunya selir dan kakak saya sebagai saksi. Tanpa iring-iringan ondel-ondel dan seperangkat roti buaya. Tidak ada bleketepe ataupun janur kuning yang melengkung.

Berhubung saat itu napsu sudah memuncak tidak ada prosesi-prosesi rumit yang harus dilangsungkan sebelum ijab kabul. Tanggal dan waktunya pun dipilih dengan metode random, Mbah Kaum yang biasa menentukan waktu baik untuk melangsungkan hajatan sedang berhalangan.

B : Saya nikahkan engkau dengan anak saya dengan mas kawin uang sebesar sekian-sekian-sekian dibayar tunai.
A : Saya terima!! Boleh saya gauli dia langsung Om?
B : Sudah sana, bawa pergi! Jangan kelamaan disini, tampang ndesomu itu bisa menjatuhkan pasaran anak-anak saya yang lain. Dasar orang kampung!
A : Wah, makasih Om!!

Setelah ijab kabul diucapkan, resmilah anak si Om tadi menjadi selir baru saya. Bahagia. Bangga. Penuh sukacita.

Mas kawin berupa uang tunai sebesar sekian-sekian-sekian itu dikembalikan si Om 1000 rupiah karena memang si Om menerapkan jumlah harga yang sedang ngetrend sekarang ini. Misal 100 ribu biar tidak kelihatan 6 digit dibuat 99 ribu. Begitu pulalah si Om menghargai anaknya.

Bulan madunya di rumah saja, tidak ada anggaran ke Karibia ataupun Hawai.

Dan 1000 rupiah itulah yang menghiasi dompet saya setelah resmi meminang selir baru saya. Tapi toh tidak apa-apa yang penting saya bahagia. Seperti kancing bawah baju yang dipakai Om Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura yang selalu tersenyum.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: