jump to navigation

You’ll Never Walk Alone October 28, 2008

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Dulu saya sempat menjadi fans berat Manchester United, jaman Denis Irwin masih mengisi pos bek kiri hingga jaman Cristiano Ronaldo mulai menjadi winger bernomor punggung 7 warisan Om David Beckham. Beberapa poster pemain MU tertempel di dinding kamar, tidak lupa kostum replika bajakan yang menjadi kaos favorit kemanapun pergi. Menjadi fans dengan sepenuh hati. Maklum, euforia kehebatan MU saat itu menjadi daya tarik tersendiri. Memang rata-rata seperti itu. Saat Mas Valentino Rossi menjuarai GP semakin banyak saja orang yang menjadi fans-nya, begitu pula dengan Om Michael Schumacher yang menjadi manusia rekor di F1. Fans-fans itu, entah kagum oleh prestasi atau hanya ikut-ikutan saja.

Sejak tahun 2004 saya menyebrang dari Manchester ke kota pelabuhan Liverpool. Ke kota The Beatles, menjadi fans Liverpool. Semenjak saya tau banyak teman-teman saya yang menjadi penggila Manchester United setelah masa-masa kejayaannya di mulai dari era 90-an hingga kini. Mungkin saya beruntung karena Tuhan telah membukakan hati saya untuk menyanyikan “You’ll Never Walk Alone” bersama para Liverpudlian. Dan mungkin suatu saat Tuhan akan membukakan hati saya lagi untuk berpaling ke klub lain. Siapa tau?

Sungguh beruntung pula saya mempunyai teman seperi Mas Joe yang juga seorang penggila Liverpool. Berhubung akhir pekan kemarin ada big match antara Chelsea dan Liverpool, Mas Joe mengajak saya nonton bareng bersama Big Reds Yogyakarta, komunitas fans club Liverpool di Yogyakarta. Ajakan yang sempat saya tolak mengingat dalam beberapa hari terakhir saya harus menutup mata dan menahan kaki untuk tidak melangkah di mall ataupun toko buku.

“Akeh gadis, chick wid, chick!”, rayu Mas Joe.

Setelah disepakati pembayaran tiket masuk akan ditalangi Mas Joe, saya tinggal menunggu jemputan dari Mas Joe. Nonton barengnya di dekat rumah saya, bukan di lapangan pakai layar tancap. Tapi di cafe bung, Liquid! Kafe yang sudah berdiri di depan rumah saya (ya agak ke utara dikit lah, 100 meter) sejak beberapa tahun yang lalu namun saya belum pernah menginjakkan kaki di lantainya. Kata Mbok-ku dulu waktu awal-awal dibangun, jangan ke sana, ra ilok. Sekarang saya sudah cukup umur untuk memasukinya, sudah punya KTP, ada dua malahan. Dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. SIM juga sudah dua.

Saya bingung, mau pakai dress code seperti apa. Kalau ke masjid, tinggal pakai sarung dan kopiah beres. Nah ini kafe, jadi apa yang harus saya pakai? Setidaknya biar bisa menarik perhatian gadis-gadis dengan hotpants di sana. Begitu Mas Joe mempengaruhi saya untuk menemaninya nonton bareng di Liquid. Tidak lupa hasutan dari Destian yang mengatakan bahwa anggota Big Reds banyak gadis cantiknya, luluhlah hati dan runtuhlah tembok keimanan saya mendapatkan bujuk rayu yang sedemikian rupa.

Begitu Mas Joe datang saya mengamati kostumnya, biasa saja. Seperti kalau mau ke mall. Plus sepatu, kata Mas Joe harus pakai sepatu. Kalau ada pakai baju Liverpool.

Dengan dandanan necis mirip mau ujian kuliah kami mengunjungi Liquid setelah sebelumnya membeli serbuk soda (begitu Mas Joe menyebut extra joss dan sejenisnya). “Duit kita nggak cukup buat pesen yang aneh-aneh, jadi nanti pesan air mineral saja”, kata Mas Joe.

Begitu masuk dan membayar sejumlah uang agar kami halal berada di dalam kafe… Tidak ada gadis-gadis cantik ber-hot pants. Apa mau dikata, malam itu fokus kami menonton Chelsea versus Liverpool. Tidak ada mengumbar pandangan mata di dalam keremangan kafe. Sejauh mata memandang yang ada lautan kaum lelaki memakai baju merah Liverpool. Sepulang nonton saya akan protes dan meminta pertanggungjawaban pada orang-orang yang telah memberikan janji-janji palsu, ucapan dusta.

“Kampret, ndi gadis-e Jon”, saya bertanya penuh kekecewaan.
“Aku yo diapusi Destian kie. Wah semprul. Opo mergo sesuk do ujian yo”, kata Mas Joe.

Sepi.. Langka gadis..

“Ngene wid, kode nek arep golek wadon”, kata Mas Joe sambil mempraktekkan penggunaan bungkus rokok dan korek untuk mensimulasikan pelajaran yang didapatnya dari saudara di Jakarta.
“Lha nek ra ngrokok piye”, tanya saya.
“Goblok kon brarti”.

Pertengahan babak tiba.. Liverpool sudah memimpin 1-0 melalui gol Xabi Alonso. Cukup membuat saya dan Mas Joe sebagai Liverpudlian cukup gembira mengingat pemenang duel ini akan menjadi pemuncak klasemen Liga Inggris. Dan tanpa disangka-sangka..

Sexy Dancer keluar dari balik panggung. Empat gadis muda, bertubuh ramping, dengan bodi yang montok meskipun tampang tidak seeksotis Dian Sastro dengan pakaian normal, normal untuk ukuran kafe. Bra dan tanktop mini yang tipis menutupi payudara serta celana dalam yang dibalut hotpants yang mini dan tipis pula menutupi bagian pantat dan kemaluan. Diiringi musik khas kafe, keempatnya menari dengan gerakan yang tidak beraturan. Mata ini tidak lepas dari panggung.

Mas Joe cengar cengir, sumringah. “Wid, chick wid. Direkam ge hapemu”.

Pantas Mbok saya bilang ra ilok kalo masuk ke kafe.

“Mbok, ini proses pembelajaran kok. Tidak ada maksud lain”.

Begitu masa istirahat berakhir, semua kembali seperti semula. Semangat dan fokus menonton pertandingan sambil sesekali mendengarkan Big Reds menyanyikan lagu-lagu yang baru saya ketahui dari selembar kertas yang berisi lirik lagu. Tidak ada bedanya dengan fans klub lokal Indonesia.

Pertandingannya berjalan menarik, kedua tim silih berganti jual beli serangan.. Selanjutnya baca sendiri di tabloid olahraga atau koran setempat. Tidak ada gunanya saya tulis di sini. Dan begitu pertandingan berakhir..

Sexy Dancer lagi.. Dengan kostum yang berganti namun masih tetap dengan genre yang sama seperti kostum sebelumnya, menari dengan koreografi yang sama tidak jelasnya seperti penampilan pertama tadi. Melakukan gerakan-gerakan penari striptease, seperti di film-film yang pernah saya tonton. Belum pernah nonton striptease sih, mungkin suatu kali perlu melihat langsung jika Mas Joe berkenan membayari ongkos penari telanjangnya. Pakaian berwarna putih yang mini dan tipis memperlihatkan bentuk tubuh penarinya, full press body. Setiap lekukan dan lipatan terlihat jelas dari posisi duduk saya yang sebenarnya cukup jauh dari panggung.

Mirip seperti pertunjukan jaipongan ataupun dangdut koplo di pelosok desa. Bedanya ini di kafe dimana makanan dan minuman harganya lebih mahal. Yang ada ya tequila atau absolute vodka, bukan wedang ronde ataupun anggur cap orang tua. Kostum yang dipakai pun high class, baik penampil maupun pengunjungnya.

Semua segera berakhir setelah 10 menit sexy dancer mempertontonkan aksinya di depan pengunjung kafe dan dilanjutkan dengan live band yang lebih boros dalam berpakaian. Lagunya.. Saya tidak tau.. Yang pasti bukan “You’ll Never Walk Alone”

Advertisements

Comments»

1. joesatch yang legendaris - November 9, 2008

mana hyperlink ke blogku? jindal!

2. sangprabo - November 24, 2008

Huahahaha… Jadi inget pengalamanku di Pura Wisata http://www.prabowomurti.com/blog/2008/08/purawisata-another-excitement-for-proletariat

Masa oloh Wid, habis itu kudu mandi yang bersih, biar sialnya ilang.. Mbok mu bener Wid, mending kita ke pura wisata aja.. 😀

Oia, ndak usah masukin aku di blogrollmu, aku ndak pengen jadi terkenal. Matur nuwun. 🙂

3. Big Reds Cap Jokja | The Satrianto Show: Beraksi Kembali! - October 26, 2009

[…] diri buat berkesimpulan kalau ketiadaan gadis-gadis di situ bisa saja disebabkan gara-gara aku nontonnya ngajak si Wiwid. Mungkin gara-gara aura haji yang dimilikinya, dia dilindungi Allah dan terhindar dari dosa akibat […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: