jump to navigation

Geng Gabrut November 10, 2008

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Bukan bermaksud menyamai Geng Nero di Kudus, Triad di China apalagi Mafia di Sicillia. Kami kalah ilmu dalam hal perbanditan dan pergangsteran. Kenapa kami? Ya karena geng ini terdiri atas 5 orang lelaki yang terjebak dalam permasalahan cinta yang rumit. Tidak begitu rumit, cuma hati dan nyali beberapa anggota yang kecil sekecil perabotan mereka tidak mampu mengorganisasi otak untuk memberikan perintah kepada mulut untuk mengatakan cinta.

Entah siapa yang memberi nama Gabrut, namanya sangat tidak menjual sekali. Jika saya boleh usul dan terlibat langsung dalam pembentukan geng ini mungkin akan saya usulkan nama yang lebih market-able. Niko atau Adides atau Reebek. Kalau dijadikan merek sepatu bisa mengelabui mata-mata yang tidak jeli. Pasti laku dagangan sepatu kami.

5 orang anggota geng ini – yang demi keselamatan umat, lebih baik disamarkan namanya – adalah Paijo, Sukiman, Kojrat, Joko dan Dibyo. Sedangkan saya sendiri sebenarnya ada di luar lingkaran setan itu. Orang baik-baik seperti saya yang tidak tahu menahu tetntang permasalahan gangster ini toh nantinya juga akan terseret ke dalam lingkaran penuh derita ini. Barangkali saya salah pergaulan.

Jadi begini ceritanya..

Alkisah di suatu hari yang suci di bulan Ramadhan, tepatnya sehabis sholat tarawih, 5 orang tadi termasuk saya menghabiskan waktu berkumpul di rumah Mas Joko. Mabit, Malam Bina Iman dan Takwa. Niat suci kami ingin mengadakan pengajian kecil-kecilan kalau tidak ya tadarus bersama. Akan tetapi nafsu-nafsu bejat yang diproduksi khusus oleh syahwat masing-masing anggota mengantarkan kami melakukan ritual jahat. Berhubung di bulan Ramadan setan-setan diambil visa kerjanya, jadi tidak ada intervensi dari makhluk lain. Murni dari 5 orang anggota geng, sekali lagi bukan termasuk saya.

Di saat 5 orang tadi sedang melakukan ritual jahat, bergosip, obrolan yang hanya menghasilkan lapar dan dahaga, saya memilih untuk tidur. Entah mengapa seharian itu saya merasa lelah dan kemudian menumpang tidur di kamar Mas Joko. Sedangkan yang lain berada di kamar tengah. Rumah Mas Joko tidak begitu luas, sehingga setiap obrolan yang mereka bahas sampai juga di telinga saya. Kalau mereka kentut pun niscaya akan terdengar oleh telinga saya, baunya juga. Tapi saya tidak peduli apa yang mereka perbincangkan, saya memilih tidur. Berharap Dian Sastro datang ke mimpi indah saya. Saat itu saya belum kenalan dengan Horikita Maki.

Sementara saya tidur, diruang tengah 5 orang duduk melingkar. Satu orang berkhotbah layaknya nabi yang memberikan wejangan.

Joko (J) : Wah seandainya ada gadis pasti asik ini.
Sukiman (S) : Lha jelas Mas Joko, kenapa nasib kita ini sedemikian rupa ya. Ditolak gadis, dihindari wanita.
Kojrat (K) : Ya sejak dahulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir.
J : Begini, begini. Saya yakin pasti di antara kalian ada gadis yang kalian suka kan, hayo ngaku!
S : Wah ya jelas, bujang-bujang seumuran kita ini kan sudah masuk masa puber. Kalau diumpamakan kambing, kita ini sudah poel. Sudah bisa dijadikan korban pas Idul Adha. Sudah bisa menabur benih di kebun orang. Cuma masalahnya kebun siapa yang mau ditaburi benih itu.
J : Ya, ya. Mari kita bahas kebun orang itu.
S : Itu si Dibyo dari kemaren ngincer anak baru. Paijo dengan cinta SMA-nya dan Kojrat dengan gebetan barunya adik angkatan itu.
J : Ya itu, gimana kalau forum malam ini kita ganti dengan forum curhat. Saya miris dengan Paijo, DIbyo dan Kojrat yang sampai saat ini belum pernah merasakan belaian gadis. Jadi atas nama solidaritas sesama lelaki, bagaimana kalau masing-masing dari kita menyebutkan nama gadis yang kita sukai. Setelah itu kita ungkapkan perasaan kita itu. Mulai satu bulan dari sekarang. Tidak boleh lewat 30 hari mulai hari ini.
Paijo (P) : Wah, saya tidak ikut-ikut. Saya tidak terlibat.
J : Ya tidak bisa Mas Paijo. Ini forum mengikat. Siapa yang keluar dari forum ini akan kita anggap sebagai pengkhianat. Kamu Dibyo dan Kojrat, juga harus ikut.

Joko dan Sukiman merupakan dua orang yang sangat lihai dalam hal per-buaya-an. Bisa dibilang jika Joko berada di kasta buaya, maka Sukiman berada di kasta Komodo. Dibyo, Paijo dan Kojrat masih berada di level cicak. Masih harus melewati kasta kadal dan biawak untuk menyamai kasta Sukiman. Jadi untuk Joko dan Sukiman masalah gadis bukanlah masalah serumit hitung-hitungan kalkulus. Sedangkan bagi tiga sisanya, masalah ini lebih sulit daripada mendapatkan nilai E untuk mata kuliah kalkulus.

Saya dimana? Masih tertidur lelap di tengah tumpukan bantal dan guling serta buku-buku yang berserakan. Bau apek kamar Mas Joko serasa angin surga manakala Dian Sastro datang menghampiri mimpi indah saya. Sesekali terdengar orang-orang mengobrol mengganggu saya dan Mbak Dian Sastro yang sedang in de hoi.

Lanjut ke kamar tengah.

Joko (J) : Saya mulai dari saya selaku penggagas dan pencetus ide brilian ini. Kalau saya sih ada banyak gadis, namun untuk saat ini yang saya pilih adalah Esti. Lanjut ke Mas Sukiman.
Sukiman (S) : Okeh, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa saya tetapkan pilihan saya pada Dani. Gadis yang bodinya maknyuus itu, pantatnya berisi. Giliran Mas Kojrat.
Kojrat (K) : Daku tiada mau. Emoh. Gembus!
J : Halah, kalau kamu nggak mau nanti saya bilang langsung ke Citra. Gosip-gosip yang bereedar selama ini kan kamu sama Citra.
K : Emoh! Sekali tiada tetap tiada. Itu keputusan saya dari lubuk hati yang paling dalam.
S : Tidak bisa Mas Kojrat ini keputusan kita. Jika anda tidak mau, terlaknatlah anda.

Terpojok oleh serangan dahsyat Joko dan Sukiman akhirnya Kojrat menerima usulan ajaib yang dicetuskan Joko ini. Sebelumnya Kojrat sudah sering memendam perasaan pada gadis karena pernah disakiti. Jadi wajar jika dia takut mengalami kegagalan cinta. Istilahnya Bung Oma yang dipinjam Kojrat :

Cukup sekali aku merasa..aa aa a aa aa kegagalan cinta
Takkan terulang kedua kali… di dalam hidupku

K : Ya ya, daku ikut asalkan Paijo dan Dibyo ikut juga.
J : Nah sekarang tinggal giliran Paijo dan Dibyo. Jangan mengelak atau hukum karma akan menimpa kalian.

Paijo dan Dibyo yang merasa menjadi tawanan perang juga tidak bisa berbuat apa-apa. Menyetujui perjanjian gila itu.

Obrolan yang berlangsung semalam suntuk itu akhirnya membawa lima orang itu sampai ke waktu sahur. Sudah pukul 3 pagi. Dan akhirnya, saya yang tidak tau apa-apa itu terbangun. Keluar dari kamar tidur.

Saya (W) : Ini ada apa kok dari tadi saya dengar ada ribut-ribut.
Kojrat (K) : Wah ini, ini, harus ikut juga ini.
W : Lah, ada apa?
J : Wis, pokonya kamu ikut saja. Jika tidak persahabatan kita diakhiri sampai disini saja.
W : Kapan kita bersahabat? Berteman saja tidak, Kenalan saja belum. Membaca saja sulit.
J : Woho, tidak bisa, pokonya kamu harus ikut.
S : Ayolah W, ini demi kepentingan bersama.
W : Nggak mau, sebelum semua masalah jelas dan terbuka.

Dalam forum singkat yang kembali dibentuk di sebuah warung makan sembari menyantap makan saur dijelaskanlah duduk persoalannya. Saya sih tidak setuju dengan ide “brilian” ini. Saya menolak mentah-mentah. Namanya perasaan kan tidak bisa dipaksakan. Ini pelanggaran hak asasi manusia. Saya memutuskan tidak ikut.

Tapi dengan secepat kilat disanderalah dompet dan kunci motor saya. Menggagalkan rencana pelarian saya dari konferensi mafia-mafia bau kencur ini. Apa daya. Kalau rumah saya dekat saya bisa kabur, lari. Tapi rumah saya jauh dan saya harus siap-siap menerima ide-ide gila dari anggota geng ini. Bisa saja diteriaki maling ayam, digebuk masa, mati menderita, masuk neraka. Saya tidak mau mati konyol. Apalagi dengan status sebagai maling ayam. Sangat tidak elit!

Alhasil, setelah mengalami tekanan dan paksaan lahir batin, dengan berat hati dan penuh derita, saya terpaksa (lebih tepatnya dipaksa) menjadi salah satu anggota geng. Terikat oleh kesepakatan Geng Gabrut, dalam waktu satu bulan mulai hari itu harus menyatakan perasaan pada gadis yang disukai.

Gadis yang saya sukai? Memang ada, tapi sejujurnya saya belum siap mengatakan perasaan saya. Saya ini juga mengalami sindrom takut gadis. Setelah pacaran saya yang pertama dan terakhir kali berakhir tragis dengan talak 3 dari saya, mulai saat itu saya bersumpah tidak akan pacaran lagi sampai batas waktu yang belum ditentukan. Niatan saya baik saya tidak mau menyakiti hati gadis meskipun nanti dalam perjalanan hidup saya ternyata banyak gadis yang saya sakiti dengan tidak sengaja. Bukan salah saya. Sumpah!

Joko (J) : Jika ada yang tidak memenuhi kesepakatan kita, akan kita pasang namanya dan nama gadis yang diincarnya di papan pengumuman kampus. Biar seluruh dunia tau!
Sukiman (S) : Setuju!
Saya, Paijo, Dibyo dan Kojrat : Mengangguk lemas.

Sebulan berlalu dan forum pertanggungjawaban dibuka.

Joko : Saya, GAGAL!
Sukiman : Saya, BERHASIL ditolak.
Dibyo : PILU
Kojrat : SEJAK DAHULU BEGINILAH CINTA, DERITANYA TIADA AKHIR
Saya : MENYEDIHKAN

4 orang ditolak dan satu anggota tambahan, yaitu saya mengalami nasib serupa. Paijo, dia tidak jadi menyatakan perasaannya.

Karena masing-masing dari kami larut dalam penderitaan cinta, ancaman untuk menuliskan nama yang tidak memenuhi kesepakatan di papan pengumuman kampus terlupakan sudah.

Advertisements

Comments»

1. sitampandarimipaselatan - January 29, 2009

dan akhirnya si w gila. gila karena cinta…

2. Sukiman - January 29, 2009

benar si W gila karena wanitaaaa

lebih baik gila karena cinta kepada wanita daripada gila karena cinta kepada sesama (jenis)

3. Efek Rumah Kopi: Romantisme Ndeso Ilmu Komputer UGM | The Satrianto Show: Beraksi Kembali! - March 31, 2010

[…] Mahasiswa Jurusan, sampai Badan Eksekutif Mahasiswa juga Senat Fakultas) sampai masalah personal – semacam cinta – oknum-oknumnya, semuanya pernah dikupas tuntas di situ (masalah kuliah dan akademis sebenarnya […]

4. Neng - August 3, 2010

ini efek dari pelem 30 hari mencari cinta pastinya

Ini pengaruh negatif rekan-rekan saya dan efek memimpikan Dian Sastro saat bulan puasa.

Neng - August 4, 2010

ko saya pake dimimpikan segala ? 😛

Mimpiin siapa? Perasaan saya ndak pernah memimpikan Evie Tamala 👿

Neng - August 5, 2010

haiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkk,,,,
saya kan sodara kembarnya teteh dian sastro
anda mau lihat penampakan saya?
tapi anda harus siap2 puasa makan nasi atau mengurangi makanan dan minuman yg manis
soalnya saya orangnya manis banget,
tapi tenang manisnya asli ko tanpa pemanis buatan
terus cantiknya awet tanpa bahan pengawet :p

Emang iya? Saya kok curiga kamu lebih mirip Evie Tamala daripada Dian Sastro. Kan sudah ada yang pernah bilang kamu mirip Evie Tamala.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: