jump to navigation

Idealisme Kampret November 13, 2008

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Dulu kampret dijelaskan kepada saya sebagai perwujudan sesosok makhluk hidup yang bisa terbang, dengan muka jelek dan gigi tonggos. Badannya hitam kecuali untuk yang albino, yang telah mengalami mutasi genetika atau yang terkena penyakit panu dan cacar air. Kulitnya pasti bintik-bintik bermotif dalmation, sukur-sukur kalau berpola indah. Biasanya beroperasi waktu malam, tinggalnya kebanyakan di gua-gua dan suka istirahat sambil bergelantungan. Sering dijadikan tumbal perwujudan vampir oleh manusia. Kalau masih nggak tau, Anda layak mendaftarkan diri Anda ke SLB tipe KBP, Sekolah Luar Biasa tipe KeBodohan Permanen.

Saya juga tidak tau asal muasal yang namanya Kampret bisa menjadi nama beken Kalong alias Kelelawar. Mungkin hanya di daerah saya saja. Buat yang masih tidak tau, Kampret itu Bat. Tau Batman? Itulah Kampret dalam wujud manusia. Sukanya keluar tiba-tiba.

Entah mengapa sewaktu saya naik gunung, kampret-kampret itu tidak kelihatan. Memangnya ada kampret di gunung?

Saya punya hobi kenalan yang beriringan dengan hobi lupa dengan nama orang yang diajak kenalan. Semacam hape yang punya keterbatasan memori saat menampung inbox. Jika ada pesan baru masuk, pasti ada peringatan : TIDAK ADA TEMPAT UNTUK PESAN BARU. Jadilah tiap bertambah satu kenalan baru, berkurang pula kenalan lama. Lain kali hape saya mesti ganti! Ganti yang memorinya 1 giga, biar selalu ada tempat untuk pesan baru.

Kunjungan saya ke gunung itu pun bersama kenalan baru, semuanya baru. Belum pernah bertemu, bertatap muka apalagi menjalin cinta. Tidak perlu saya sebutkan siapa saja nama-nama teman kunjungan saya ke gunung, ada beberapa yang sudah lupa.

Ke gunung bekal dan logistik yang dibawa sebesar menhir dan dolmen. Kalau yang berkunjung ke sana banyak, bisa bikin candi di puncaknya. Begitu pun ransel yang saya bawa, cukup kalau untuk bawa dua bantal dan dua guling plus batu 20 kilo. Berhubung perawakan saya tidaklah setegap Fauzi Baadila, gempor juga membawa beban seberat itu. Konstruksi tubuh saya didesain untuk membawa barang bawaan dalam koper, kopernya diseret pakai troli. Bukan angkat ransel. Penyiksaan lahir. Tapi kan aneh juga kalau naik gunung bawaannya koper yang diseret. Malu.

Demi menutupi kepayahan saya dalam membawa beban seberat itu, saya memilih menjadi tim penyapu. Paling belakang dalam rombongan. Untungnya ada gadis di rombongan, Sesuai kodrat, dalam kasus umum, kemampuan fisik laki-laki kan memang di atas perempuan. Jadi kepayahan saya membawa ransel sebesar dolmen itu bisa tersamar oleh kelelahan gadis yang kecapekan dan butuh istirahat. Sebagai lelaki yang bertanggung jawab sebagai tim penyapu, saya menemani golongan terbelakang ini.

“Gimana? Masih kuat nggak? Kalo mau istirahat ya istirahat dulu”, kata saya.
“Masih kok, cuma butuh istirahat bentar”, jawab si mbak.

Saya cuma sok-sokan, kalau disuruh jalan lagi. Saya memilih untuk duduk, membongkar ransel. Mengisi perut, mengurangi beban.

Dan begitulah nantinya sepanjang perjalanan kurang lebih 4 hari saya menjadi tim penyapu dan kebetulan si mbaknya ini selalu menjadi yang terbelakang. Berdua. Saya selalu ingat perkataan teman saya, “Kodok aja kalau diliatin terus menerus bisa keliatan cantik”. Prinsipnya, jangan menilai gadis tanpa perbandingan yang lain dalam waktu yang lama kemudian memutuskan dia yang terbaik. Prinsip yang lebih penting, jangan melihat kodok dalam waktu yang lama. Bisa disangka orang gila.

Begitu hari pertama berakhir.

“Wid, tidur di tenda ini saja. Masih kosong, itu mbaknya diajak sekalian”, kata ketua rombongan.
“Wah, nggak ah. Saya tidur sama mas ganteng yang satu ini. Saya agak risih kalau tidur sama cewek. Mending berdua-duaan dengan masnya aja di tenda belakang itu”, jawab saya sambil masuk ke tenda teman saya yang mini. Tipe TSS, tenda senggol-senggolan, gerak dikit kesenggol. Ngapa-ngapain dikit kesenggol. Ngapain dikit-dikit kesenggol. Ngapain dikit kesenggol-senggol.

Idealisme saya keluar. Pantang bagi saya untuk tidur dekat-dekat gadis. Alesan saya, malu bin risih. Mau jual mahal. Saya ini kan produksi terbatas, jadi tidak boleh dijual dengan harga grosiran.

Padahal sebenarnya saya mau-mau saja tidur berdekatan dengan mbaknya. Bisa ngobrol semalaman. Berbagi cerita dan romantisme cinta, gaya anak muda lah. Penuh dengan gejolak asmara. Kan lumayan, siapa tau bisa dapet bonus. Ah, menyesal tiada berguna.

Hari kedua.

Posisi masih sama. Saya menjadi tim penyapu seharian sebelum akhirnya malam tiba. Berhubung ada shelter yang dibangun di pos, maka tidak perlu mendirikan tenda.

“Wid, ayo tidur. Kamu maunya dimana?”, tanya ketua rombongan.
“Saya pilih pojok saja”, jawab saya setelah melihat formasi tidur anggita rombongan. Sengaja menjauh dari yang gadis-gadis.
“Dingin Wid, sini saja. Tengah”, rayu ketua rombongan.
“Nggak ah”, tegas saya.

Sumpah, saya takut tergoda nafsu. Setan-setan suah memanaskan dapur nafsu dan syahwat saya. Jika tidak segera dimatikan, saya takut bisa berujung pada kehamilan dan gangguan janin. Belum siap harta dan tahta untuk memadu biduk rumah tangga.

Hari ketiga.

“Wid, pinjem mp3 playermu”, kata mbaknya.

Saya ikhlaskan mp3 player pinjaman dari seorang teman itu berpindah tangan ke mbaknya. Mp3 player pinjaman yang kemudian dihibahkan kepada saya karena sudah bulukan, kelamaan berada di tangan yang salah.

“Lagunya Indo semua, jadul-jadul lagi. Anak muda kok lagunya kayak gini. Seleramu payah Wid!”, kata mbaknya.
“Ya, namanya juga manusia. Kan beda-beda. Kalau nggak suka ya balikin saja”, jawab saya.
“Mbok ya pasang lagunya Avenged Sevenfold atau Linkin Park. Yang lagi ngtrend gitu. Ini lagunya Rhoma Irama, Didi Kempot juga”, kata mbaknya.

“Mp3 player punya saya, eh punya teman saya yang saya pinjam, terserah mau diisi apa”, begitu batin saya. Saya diam. Menunggu komentar selanjutnya yang segera saya tanggapi.

“Saya orang Indonesia, wajar kalau saya muter lagu Indonesia. Saya lahir di Jawa, suku saya Jawa, memangnya kenapa kalau saya muter lagu Didi Kempot. Didi Kempot saja tidak protes saya muter lagunya.”

Sampai berbusa-busa saya menjelaskan. Kalau tidak dihentikan bisa dikira orang kena epilepsi.

Mbaknya diam. Tidak komentar. Entah karena sadar atau takut tertular ayan. Lihat bagaimana idealisme saya yang tiba-tiba keluar dari mulut saya bekerja.

Hari keempat.. Pulang

Hujan deras dan matahari sudah kembali ke peraduannya. Malam tiba dan gerimis mengundang. Tugas saya sebagai tim penyapu masih berlangsung dan berjalan paling belakang dengan orang yang sama.

Berjalan di tengah rintik hujan. Sesekali mbaknya terjatuh.

“Sini tasmu tak bawain”, saya menawarkan diri menjadi sukarelawan. Ransel-ransel beratnya sudah berkurang. Yang tadi segede menhir sekarang menyusut segede lumpang. Awalnya mbaknya tidak mau saya bawakan tasnya. Tapi berhubung frekuensi jatuhnya kelewat sering saya memaksa untuk membawakan tasnya. Ceritanya jadi pahlawan. Dia jalan duluan dan saya terakhir.

“Wid, kamu jalan di sampingku aja”, pinta mbaknya.
“Ya”, jawab saya.

Digandenganya tangan saya. Saya tidak keberatan, tapi berhubung langkah kami berbeda jarak jadi saya terpaksa menyesuaikan diri dengan mbaknya alhasil saya yang sering terjatuh dalam guyuran hujan yang sesekali menjadi deras itu. Romantis!

“Kamu jalan duluan saja. Saya tidak bisa jalan bareng kamu. Langkahmu pelan, pendek. Bikin saya jatuh terus”, terang saya. Penjelasan yang terlalu terbuka dan frontal. Sempat bikin mbaknya ngambek dan tidak mengajak ngobrol untuk beberapa menit. Saya? Cuek. Itu perkataan jujur dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Belakangan saya tau si mbak itu suka sama saya. Dia mengaku kepada temannya yang kemudian mengirimkan sms curhatannya ke saya. Tanggapan saya :

“Saya lagi nggak pengen pacaran, lagi pengen sendiri aja”.

Idealisme saya keluar lagi, idealisme kampret. Idealisme yang suka keluar tiba-tiba. Padahal seandainya dia tau yang sebenarnya..

Advertisements

Comments»

1. pdparamitha - December 30, 2008

cieeee….so suiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit…
jadi terharu superwid bisa nulis kaya’ gini hiks…

2. muhammadilham - February 2, 2009

wah.. uda 2 cewek aja nieh…
ajarin mas triknya hehehe

triknya ada di post “Mancing”, saya berguru dari orang itu juga


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: