jump to navigation

Mandiri November 22, 2008

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Kata Paulo Coelho tentang Santiago :

“Bocah itu kenal banyak orang di kota ini. Itulah daya tarik berkelana baginya — dia selalu punya teman-teman baru, dan tidak perlu meluangkan seluruh waktunya dengan mereka.

Bila seseorang bertemu dengan orang yang sama setiap hari, seperti yang terjadi padanya di seminari, mereka berubah menjadi bagian dari kehidupan orang tadi. Kemudian mereka ingin orang itu berubah. Jika seseorang tidak seperti yang dikehendaki, yang lainnya marah. Setiap orang rupa-rupanya punya ide yang jelas tentang bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup mereka, tapi tak satu pun mengenai kehidupannya sendiri.”

————————————–

Bisa dibilang saya ini orangnya independen, tidak terikat maupun mengikat. Soalnya memang tidak paham tentang tali temali. Biasa hidup mandiri dan sendiri.

Seperti kata Om Meggy Z :
Masak-masak sendiri, makan makan sendiri..
Cuci baju sendiri, tidurpun sendiri..

Ada pengecualian, kalau masak dan cuci baju kadang tidak sendiri. Banyak warung makan didirikan kan gunanya untuk dijajanin. Para insinyur-insinyur hebat juga bikin mesin cuci kan untuk mempermudah manusia. Kalau yang ada itu tidak dimanfaatkan merupakan suatu perbuatan yang tercela. Kasian mereka-mereka yang telah mendirikan warung makan dan mendesain mesin cuci.

Tapi untuk makan dan tidur pilih sendiri. Saya tidak mau porsi makan saya harus berbagi dengan yang lain, badan sudah kurus kering tipis, setipis tripleks kalau harus membagi makanan bisa mengakibatkan busung lapar. Apalagi kalau tidur harus berbagi, maaf lah ya. Kasur saya tipenya tunggal, bukan ganda. Makannya saya sering protes kalau ada yang menginap di kamar saya, apalagi mengakuisisi hak penggunaan kasur, bantal dan guling. Terkutuklah orang itu. Merepotkan!

Akan tetapi meskipun saya biasa hidup sendiri saya tidak anti bersosialisasi. Buktinya teman saya lumayan banyak, saking banyaknya sampai ada yang harus menerima nasib namanya terpaksa terhapus dari daftar kontak di kepala saya. Seperti sudah saya bilang sebelumnya kalau saya ini punya hobi melupakan nama kenalan.

Nah, dahulu, di masa lampau, di kehidupan sebelumnya, saya punya 3 teman yang sering saya kecengi. Kebetulan lelaki semua. Bukan karena saya tidak laku (apalagi homo. Saya bukan homoseksual!), tapi semata-mata demi efektivitas dan kenyamanan berhubungan. Kami bersekutu dalam melakukan kesenangan di muka bumi dan kesenangan itulah yang menyatukan kami. Kami suka bepergian, entah itu bepergian ke luar kota ataupun masih di seputaran Jogja saja. Baik itu dalam dunia nyata maupun dunia fana. Janjian mimpi bareng ke Karimunjawa toh bukan perbuatan yang melanggar hukum.

Bukan bermaksud membedakan teman kalau cuma kami berempat yang lebih sering bepergian. Cinta dan sayang saya terbagi rata kepada seluruh teman saya, masing-masing mendapat 0.001%. Sisanya untuk saya sendiri. Kami pun sering bepergian kemana-mana bersama-sama. Namun diantara teman-teman sepermainan, bisa dibilang kami ini yang paling hiperaktif kalau dalam urusan bepergian (dan juga makan-makan). Cocok sebagai provokator.

Kenapa cuma empat? Ya karena kalau berlima nanti bisa direkrut menjadi power rangers. Apalagi kalau mesti bermain gobag sodor, kasian yang satu orang cuma bisa nonton. Kalau bertiga bisa disangka Trio Macan. Kalau berdua nanti dikira pasangan homo. Nah, kalau berempat kami ikhlas disamakan dengan F4.

Sebutlah 3 orang itu bernama Bagus, Ahmad, dan Luki. Bagus dan Ahmad merupakan kaum pendatang, menambah polusi kota Jogja sedangkan saya dan Luki adalah kaum pribumi. Karena Bagus dan Ahmad berasal dari luar kota dan hidup indekos di Jogja hubungan mereka relatif lebih dekat. Begitu pula dengan Luki. Sedangkan saya hidup berdasar prinsip simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan. Jadi selama mereka menguntungkan saya, saya pun akan berhubungan dengan mereka. Jika tidak.. Nanti dievaluasi lagi.

Kami pernah berperahu mengelilingi Semenanjung Pangandaran tanpa pelampung, menerobos hutan karet di daerah Weleri, menyisir pantai Gunungkidul sampai di ujung Timur Propinsi DIY. Bagi kami saat itu merupakan pengalaman yang teramat sangat menyenangkan dan menghabiskan uang tentunya. Membuat hidup kere dan menggembel selama beberapa hari berikutnya.

Kami pernah bolos sekolah bersama untuk sekedar mengunjungi Parangtritis dan mampir ke rumah kerabat Luki untuk numpang makan. Pernah tertangkap tertidur dan ngiler di kelas saat pelajaran kewarganegaraan karena malamnya sibuk bermain playstation di kos Ahmad. Pernah mendapat hukuman bersama karena masih bermain tenis meja saat jam pelajaran sudah dimulai. Atau sekedar leyeh-leyeh di kos Ahmad sembari memprospek dan menaksir gadis-gadis yang kebetulan lewat (sebenarnya bukan kebetulan, lha wong kos Ahmad ini nyempil di antara kos perempuan-perempuan, jadi gang depan kos Ahmad memang jalur utama keluar masuk para makhluk manis). Berbagi dalam suka maupun duka. Hubungan pertemanan kami semakin erat. Seerat kartu pos dan perangko yang ditempel dengan lem Alteco.

Berawal ketika kami sedang sibuk mengerjakan tugas dari sekolah. Kebetulan kami berempat tidak dalam satu kelompok karena sekolah mengharuskan kelompok dibentuk dengan memperhatikan kuota perempuan 30% terwakili. Ternyata tugas yang diberikan oleh sekolah itu cukup menyita waktu dan tenaga sehingga mengakibatkan kami jarang berkumpul dan bersama lagi.

Setelah tugas kelompok itu selesai ada yang berubah. Ternyata ada benih-benih cinta yang tumbuh. Bagus menyemai benihnya bersama Wulan, Ahmad merawat tunas cintanya bersama Yuli sedangkan Luki masih dalam taraf persiapan lahan untuk diolah bersama Fitri.

Olala, rupanya mereka sedang dimabuk asmara..

Saya, masih sendiri. Sampai taraf ini saya masih tidak mau dan tidak akan mengakui kalau saya ini tidak laku. SAYA MASIH LAKU! Entah bagaimana caranya.

“Eh, minggu depan ke Dieng yo!”, tanya saya pada Ahmad, Bagus dan Luki.
“Boleh, hari apa jam berapa naik apa nginep dimana makan apa?”, tanya Luki.
“Berangkat Sabtu pagi menurut orang kebanyakan bukan pagi menurut kalian, jam 8 dengan catatan keterlambatan tidak lebih dari 30 menit, naik motor boncengan aja ngirit bensin, nanti cari penginapan di sana kalo nggak bikin tenda di Kawah Sikidang kalau perlu biar anget, makan seadanya sukur-sukur ada yang mau bawa dendeng atau abon sapi kalo kepepet makan belerang juga boleh biar kulit kuning langsat”, jawab saya.
“Oke!”, jawab anak-anak.

H-3 keberangkatan.

“Eh, Sabtu malem Wulan minta ditemenin ke mall, cari kado buat temennya. Jadi aku nggak bisa ikut”, kata Bagus.
“Tapi kan kita udah janjian lebih dulu!”, kata saya.
“Yah, gimana lagi. Kalian kan bisa berangkat bertiga. Pasti tetep rame”, jawab Bagus.

Rencana ke Dieng batal. Tumben-tumbenan pula Bagus anak PA yang sering blusukan di gunung, yang ingin seperti Alexander Supertramp berkelana sampai ke Alaska, yang hidupnya terinspirasi oleh tulisan Jon Krakauer dan Thoreau Walden, yang pernah menyatakan haram hukumnya menginjak mall kini merambah pusat perbelanjaan. Hapal formasi pertokoan di mall sampai jarak terpendek menuju bioskop. Ajaran yang diikutinya sudah berubah sepertinya. Kembali ke jalan lurus. Pasti tas ranselnya yang butut itu digondol tikus.

“Besok malem minggu jadi nginep di tempat Ahmad? Nonton bola bareng?”, tanya Luki.
“Ayo aja!”

Hari berikutnya.

“Maaf, ternyata Yuli minta ditemani nonton The Lake House di rumahnya. Orangtuanya sedang pergi”, kata Ahmad saat kami sudah tiba di kosnya.
“Kan ada pembantunya?”, tanya Bagus.
“Tapi dia pengin saya nemenin”, kata Ahmad.

Dan batal lagi. Aneh juga melihat Ahmad yang biasanya tiap malam minggu duduk di depan televisi nonton pertandingan sepakbola kampung sampai eropa semalam suntuk dengan persiapan perang segelas kopi (bisa nambah sesuai dengan kebutuhan tubuh atau berkurang sesuai anggaran bulanan) dan camilan-camilan yang super heboh kini menonton film drama percintaan yang pernah dikatakannya tidak selevel dengan tontonannya. Ahmad yang hapal ukuran kaos sampai ukuran kaos kaki seluruh pemain Manchester United dari jaman Bobby Robson sampai Dimitar Berbatov kini sibuk mencari informasi tentang ukuran celana Keanu Reeves dan salon langganan Sandra Bullock. Biar nggak kuper di mata Yuli. Pasti bola sepaknya sudah kempes atau pul sepatunya patah.

“Kemping di Wediombo nyookk. Tenda, kompor, ransum makanan dan semuanya sudah siap. Tinggal berangkat aja”, ajak Bagus.
“Aduh, duitku abis, kemaren abis nonton konser jazz di JEC sama Fitri”, kata Luki.

Luki yang fans berat Led Zeppelin nonton konser jazz? Pemetik rambutan tetangga, eh pemetik senar gitar yang dengan lengkingan gitarnya mengingatkan orang pada Jimmy Page, Curt Cobain, Jimi Hendrix sampai Slash. Yang benar saja? Pasti ada yang salah dengan salah satu simpul sarafnya. Senar gitarnya pasti putus lima atau minimal tiga. Saya curiga ada kekuatan alam gaib yang mempengaruhi proses pertukaran data di otaknya. Perlu dirukyah.

Memang kadang pacar lebih penting dari teman bahkan saudara sendiri. Pacar kadang juga bisa merubah segalanya, membuat seseorang menjadi bukan dirinya.

“Wid, besok kita kumpul-kumpul yuk, kita udah jarang ngumpul bareng”, kata Ahmad diamini Bagus dan Luki.

“SAYA SEMINGGU KE DEPAN MAU KE ARGOPURO!”

Advertisements

Comments»

1. sangprabo - November 24, 2008

Bujugggg… Ajarin cara nuliiiissssssss!!!!!!!!!!!

KAMU HARUS JADI PENULIS, HARUS BIKIN BUKU!! AKU PASTI BELIII!!! SUMPAH!!!

2. pdparamitha - December 30, 2008

gyahahahaha diamnya superwid ternyata seperti ini…
sudah turun pak haji???

3. superwid - January 8, 2009

Bo,
Kalo masalah buku, daku masih mau belajar menulis dulu.. Berasa belum matang, masih harus menimba ilmu lagi.

Ta,
Alhamdulillah, di sana tambah ilmu tambah pengalaman tambah ganteng


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: