jump to navigation

Coklat Cap Jago January 11, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

“Jadi besok mau tidak mau kamu harus menemani saya, sudah tergariskan dalam suratan takdir, nanti kalau kenalan saya itu orangnya cantik biarkan saya yang berkorban menjadi tumbal. Akan tetapi jika tidak, saya sudah ikhlas dia untukmu”, Ucrit merayu saya dengan iming-iming coklat cap jago.

Jika bukan atas dasar kesetiakawanan sosial dan pertemanan kami yang sudah seumur duren pastilah saya menolak ajakan teman tersayang saya ini yang sering menjerumuskan saya ke dalam berbagai kegiatan yang menyesatkan. Jika kelak setelah hisab saya tidak bisa masuk surga maka saya akan menyalahkan Ucrit, dia harus ditimpakan kesalahan lebih besar daripada saya.

Ucrit ini tipe-tipe lelaki yang patut dijauhi karena di dahinya, di antara kedua matanya tertulis huruf latin B-U-A-Y-A, jadi bagi Anda sekalian yang mengaku berjenis kelamin perempuan apabila menemukan sesosok makhluk dengan ciri-ciri seperti saya sebutkan di atas harap lapor kepada pihak yang berwenang atau setidaknya jangan sekali-kali mencoba berhubungan dengannya. Sekali lagi saya tekankan agar rekan-rekan baik yang lelaki ataupun perempuan, manusia maupun tumbuhan tidak ikut arus dan masuk ke dalam daftar korban Ucrit berikutnya.

Meskipun patut dijauhi oleh orang kebanyakan, pertemanan saya dan Ucrit sudah bagaikan Fachry Husaini dan Bimasakti dalam menggalang lini tengah Tim Nasional Indonesia. Saat Bimasakti mulai maju menyerang, Fachry Husaini akan menjadi penyeimbang di lini tengah dalam hal pertahanan apabila terjadi serangan balik dan begitu pula sebaliknya. Kami saling melengkapi. Saat motor saya bensinnya habis, Ucrit melengkapi membelikan bensin dan saat Ucrit haus saya melengkapi membelikan segelas es teh untuknya.

“Ya, ya. Tapi saya tidak mau terlibat. Meskipun kamu memberikan gadis kenalanmu itu sebagai persembahan tidak akan saya terima persembahanmu itu. Saya hanya bertugas menemani. Jika terjadi pertumpahan darah, saya lari duluan”, jawab saya.
“Tidak bisa begitu kawan, kita ditakdirkan untuk menjalani hidup ini bersama. Jika terjadi apa-apa harus kita hadapi bersama-sama. Meskipun hujan batu, sabetan pedang, tusukan tombak menghampiri, kita mesti berjuang bersama-sama. Tidak boleh ada satupun dari kita yang mundur lebih dulu”, jawab Ucrit.
“Emang kita mau tawuran apa, cuma mau ketemuan sama kenalanmu aja”.

Ucrit ini memang hobi sekali mengirim sms ke nomor-nomor tidak jelas. Katanya dalam rangka menjalin tali silaturahmi. Bukankah kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal? Itu alasannya. Saya tidak peduli selama perbuatan yang dilakukannya tidak melibatkan saya, tapi untuk kali ini saya dipaksanya terlibat dan hanya coklat cap jago yang dijadikannya pengganti uang lelah.

Jadilah sore itu sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui kedua belah pihak (Ucrit dan kenalan gadisnya yang kemudian saya ketahui bernama Umi, 18 thn) dengan beberapa saksi berupa rumput-rumput yang bergoyang (begitu kata Ucrit), saya dijemput Ucrit. Ucrit sudah dandan dengan necis bersiap menemui pujaan hatinya sedangkan saya berpakaian ala kadarnya. Ala kadar di sini bukan kostum tarzan, tapi pakaian yang menutupi aurat dan memenuhi norma-norma yang berlaku di masyarakat.

“Wah kawan, kamu tidak menghargai saya. Saya sudah berpakaian ala Andrea Bocelli pas manggung eh kamu cuma pakai kostum Andrea Bocelli pas main bola. Primitif! Kampung! Ganti! Yang rapian dikit, pakai kemeja apa gimana”, si Ucrit protes.
“Salah siapa tidak memberikan anggaran yang memadai guna membeli keperluan pentas. Ini kebetulan baju kotor, sekalian dipakai biar ngirit baju. Dalam rangka “pemanasan global” kita harus berhemat banyak air”, saya memberikan alasan.
“Jangan-jangan kamu nggak mandi?”, Ucrit protes lagi.
“Makannya diem aja, nanti saya jauh-jauh dari kamu”.

Berhubung waktu hampir menunjukkan setengah tujuh malam dan janji ketemu adalah pukul tujuh di kost Umi, Ucrit tidak memperdebatkan masalah ini lagi. Mungkin sudah putus asa. Lagipula kami belum tahu dimana lokasi persis kostnya. Cek di Google Earth rupanya kostnya belum terdaftar. Menurut catatan yang diberikan Umi :

RT 05 RW 03, 10 Nomor rumahku. Jalannya jalan Cinta.

Biarlah Ucrit sedikit ngambek, yang penting saya menemaninya. Toh tidak ada perjanjian yang mengharuskan saya untuk menemaninya dalam radius sekian meter. Jadi kalau saya belum mandi saya ada alasan untuk jauh-jauh dari masalah yang mungkin timbul diakibatkan oleh ulah Ucrit. Yang penting saya ikut. Sekali lagi upah saya untuk pekerjaan berat ini hanyalah coklat cap jago.

Sesampainya di kost Umi (menurut alamat yang diberikan Umi kepada Ucrit), tidak disangka dari jauh mata memandang nampak segerombolan gadis-gadis sedang duduk di depan kost, entah apa yang dibicarakan. Ucrit keder. Mentalnya yang sudah dipondasi dengan Holcim diperkuat dengan konstruksi cakar ayam runtuh seketika, apalagi saya. Seumur-umur saya ini paling takut ketemu dengan yang namanya gadis, kecuali gadis itu sudah menikah atau gadis itu belum akil baligh.

“Crit, kalo begini mending saya ikut tawuran aja. Itu mana yang Umi, Crit? Kamu diberitahu bagaimana ciri-cirinya. Wujudnya? Matanya berapa? Hidungnya berapa? Pakai daleman warna apa?”, saya bertanya sekaligus meminta Ucrit untuk membatalkan niatnya.
“Tidak kawan”, jawab Ucrit.
“Trus yang mana Crit?”, tanya saya.
“Itulah gunanya saya mengajakmu kawan, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini kamu akan sangat berguna”, jawab Ucrit.
“Nggak Crit,pulang aja. Pulang! Terkutuk kamu Crit”, saya memaksa.

Ucrit menghentikan motornya tepat di depan gerombolan gadis itu. Kemudian..

“Crit, mana yang namanya Umi”, Ucrit bertanya pada saya sambil mengedipkan matanya. Sungguh menijikkan.
“Eh, siapa yang namanya Ucrit”, balas saya.

Gerombolan gadis mulai bertindak. Kami digiring masuk dan dipersilakan, lebih tepatnya dipaksa duduk dan diinterogasi.

“Yang namanya Ucrit, ngaku!”.
“Crit, ngaku Crit. Dah jauh-jauh dianterin nggak mau ngaku. Sia-sia pengorbanan saya padamu Crit”, kata Ucrit.
“Siapa yang namanya Ucrit. Jangan nunjuk-nunjuk ke orang yang tidak bersalah dong. Demi yang namanya Ucrit beneran nggak bisa ke WC seumur hidup sampai tujuh turunan, saya bukan Ucrit”, jawab saya.
“Jangan malu-malu Crit”, Ucrit memaksa. Ucrit memang kejam dan tidak berperasaan. Sadis. Psikopat.
“Keluarin aja dompetnya”, kata seorang gadis preman di gerombolan itu.

Apa daya dalam intimidasi dan tekanan lahir batin seperti ini saya dan Ucrit hanya bisa pasrah. Sesekali mata saya menatap Ucrit dengan tatapan induk elang yang melihat makanan, hendak mencabik-cabiknya jika bisa dan beralih menjadi tatapan anak elang yang menunggu induknya karena kelaparan, tatapan melas saat mata saya bersinggungan dengan gadis preman.

Gadis preman mengecek KTP kami dan berkata.

“Nggak ada yang namanya Ucrit. Kalau dari sudut pandang nama yang patut dicurigai sebagai Ucrit adalah yang mempunyai nama Mursyid di KTP tapi untuk lebih jelasnya saya akan menelepon nomor Ucrit. Barangsiapa yang hapenya berdering itulah Ucrit”.

Dan Tuhan memang berpihak pada orang-orang yang didzolimi. Jelas bukan hape saya yang berbunyi.

“Nah kamu Ucrit, itu Umi sudah menunggu di dalam. Silakan ditemui dan diperlakukan dengan layak dan sebagaimana mestinya. Kami tidak sejahat itu. Bagi yang tidak berkepentingan harap menunggu di tempat yang telah disediakan”, kata gadis preman pada Ucrit.

Umi, namapk sekilas dari balik pintu, cantik. Cocok dengan impian Ucrit. Semoga saja Umi diberikan petunjuk oleh Yang Maha Kuasa agar tidak terjebakdalambujuk rayu Ucrit. Setelah Ucrit masuk ke dalam dan bertemu Umi segalanya sudah di luar radar saya. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Lebih tepatnya tidak peduli. Sudah cukup malam itu Ucrit menyesatkan saya dan Ucrit harus membayar mahal untuk itu. Satu loyang pizza mungkin cukup untuk membayar tindakan lalimnya. Saya sendiri memilih untuk menunggu di motor, semoga saja teman saya yang paling baik itu tidak lupa bahwa ada seorang teman yang menunggunya di dingin dan gelapnya malam.

“Kok di luar aja, ke dalem yuk”, ada seorang gadis menghampiri. Manis.
“Nggak, takut mengganggu stabilitas pertahanan dan keamanan nasional. Salah-salah bisa memicu pertumpahan darah antara sesama teman”, jawab saya.
“Nggak apa-apa. Di luar aja, di teras, nggak bakal ngganggu Umi”, katanya lagi.
“Ah, nggak. Sesuai kesepakatan dan nota gencatan senjata di antara kami, tugas saya hanya sebagai kurir untuk mengantarkan Ucrit. Begitu Ucrit sudah sampai tanpa kurang suatu apapun tugas saya selesai. Setelah itu saya tidak berkepentingan dan tidak bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan Ucrit”, jelas saya.
“Kalau begitu, tak temenin di sini ya”, kata si gadis.

Setega-teganya saya pada Ucrit, tapi kalau dengan gadis hati saya luluh juga. Tidak tega.

Jadilah malam itu saya tidak sendiri menunggu Ucrit yang sedang melakukan serangan kepada Umi. Saya bersama si gadis (yang kemudian demi kepentingan cerita kita sebut saja namanya Gadis) dan gadis preman juga melakukan konferensi bertiga. Pembicaraannya, standar-standar saja. Obrolan ringan, mulai dari kasus pemberontakan Muslim Moro yang semakin meluas di Filipina Selatan hingga perkembangan inti prosesor pentium dari prosesor tipe 486 hingga yang dual core dengan hyper threadingnya.

Malam itu berakhir dan semuanya kembali seperti semula, kecuali Ucrit yang sepanjang jalan membahas Umi.

Beberapa minggu berikutnya..

“Ngikut yuuk”, ajak Ucrit.
“Kemana Crit? Gali sumur atau macul sawah?”, jawab saya.
“Emang berapa gajinya? Kalau cucok boleh deh. Kebetulan lagi butuh modal buat pengembangan bakat”, tanya Ucrit.
“Bakat jadi buaya?”, tanya saya.
“Aduhai kawan, temani saya ke tempat Umi malam ini. Nanti ada secuil coklat cap jago buatmu”, ajak Ucrit.

Jika dulu dengan coklat cap jago Ucrit telah berbuat tindak kejahatan dengan menjerumuskan saya pada tindakan penipuan masyarakat, maka kali ini saya berpikir lagi untuk menemaninya. Mungkin saja kali ini Ucrit menjerumuskan saya pada tindakan pencurian ayam? Siapa tahu.

“Nggak Crit, saya trauma dengan coklat cap jago-mu itu”, jawab saya.
“Yah, saya naikkan tawarannya. Cadbury?”, kata Ucrit.
“Nggak!! Trauma!!”.

Rupanya Ucrit tidak patah arang. Dengan segala lobi-lobi diplomatis dan bujuk rayunya, saya dengan berat hati terpaksa menemaninya tentunya dengan catatan, antara lain : motor saya yang bawa karena jika terjadi kasus digebuki massa saya bisa kabur duluan; jatah Cadbury diganti dengan yang lebih murah, Silverqueen, Ucrit memang patut dilaknat! Dirajam bila perlu. Kalau perlu bisa dipesankan tempat di Masjid Qishas.

Dan sesampainya di kost Umi, saya baru tahu ternyata ada persekongkolan, konspirasi jahat antara Ucrit, Umi dan gadis preman. Setelah Ucrit dan Umi mojok dengan suksesnya di teras, gadis preman menggiring saya ke ruang tamu dengan tindakan semena-mena dan tidak dapat diterima, karena saya bukan bebek, tidak patut untuk digiring. Di sana ada Gadis. Walah Mbok, saya dijodohkan dengan Gadis.

Singkat cerita, akhirnya memang saya dan Gadis menjadi dekat sedangkan Umi dan Ucrit akan dibahas di lain waktu jika memang diperlukan. Namanya juga darah muda, darahnya para remaja, maka saat itu kemana-mana saya selalu berdua. Pelajaran dari Pak Ustadz, guru ngaji di kampung, yang katanya tidak boleh berdua-duaan untuk sementara disimpan rapi-rapi. Dosa? Gampang nanti bisa tobat. Masyaalloh, betapa bejatnya saya waktu itu.

Dasar memang saya tidak punya bakat menjadi cassanova ya hubungan saya dengan Gadis berlalu tanpa ada riak-riak yang begitu berarti. Tidak pernah menelepon dan tidak pernah sms. Datang ke kostnya pun kalau disuruh, kalau tidak ya di rumah. Tidur, kegiatan yang paling baik dalam masa pertumbuhan.

– Januari –

“Heh, itu gadis uring-uringan. Kamu apain”, tanya gadis preman pada saya.
“Nah loh, bukan salah bunda mengandung. Saya kan tidak tahu apa-apa. Saya ini masih polos, belum tahu masalah kandungan”, jawab saya.
“Kamu nggak inget sekarang hari apa?”, tanya gadis preman.
“Menurut penanggalan masehi, sekarang hari Minggu. Hari libur sedunia, hari pantang bekerja, hari bermalas-malasan”, jawab saya.
“Itu Gadis lagi ulang tahun. Kamu lupa? Nggak bilang apa-apa ke dia hari ini?”, kata gadis preman.
“Hah? Emang iya ya? Waduh lupa. Kan sudah menjadi rutinitas mingguan saya bahwa setiap minggu haram hukumnya bangun sebelum mentari bersinar dengan teriknya. Kalau pas musim hujan bisa ada perpanjangan waktu. Apa yang harus saya lakukan?”, jawab saya.
“Ke sini, ajakin kemana gitu, tu dari tadi dia diem aja di kamar. Ngilang dari peredaran”, gadis preman memberikan saran.

Mengingat ini adalah tanggal-tanggal muda pada bulan-bulan yang muda pula, bukan suatu kesalahan jika di dompet saya tidak tersedia banyak lembaran rupiah. Bermodal cinta dan selembar uang 100 ribu rupaih, meluncurlah saya menjemput Gadis dan kemudian makan di sebuah tempat makan di kawasan utara kota. Sembari berharap, semoga hari ini tidak berharga lebih dari 50 ribu rupiah. Gengsi dong kalau bilang cuma punya uang 50 ribu.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. KTP dan SIM tidak perlu digadaikan. Uang saya masih tersisa. Setidaknya cukup untuk bertahan hidup beberapa tarikan nafas lagi, yang penting Gadis bahagia. Memang hari itu Gadis bahagia, saya tidak pernah melihatnya sebahagia itu semenjak kami sering bersama.

Saya tidak mengatakan Gadis cantik, tapi dia sungguh memenuhi kriteria saya.

Gadis manis. Dia tidak cantik, tapi dia tidak membosankan untuk dipandang. Karena ada beberapa gadis cantik yang setelah sekian lama saya pandang lama-lama semakin membosankan untuk dipandang. Kalau boleh diumpamakan, Gadis ini bagaikan pohon kaktus di tengah padang pasir. Setiap orang yang melihatnya pasti akan bahagia karena menemukan sebuah kehidupan di tengah bayangan kematian di padang pasir.

Gadis sholehah. Dia rajin puasa Senin-Kamis. Rajin sholat malam, tiap malam selalu membangukan saya untuk sholat malam. Memang yang dibangunkan bisa terbangun tapi untuk tidur lagi. Eh, tapi kok dia mau-maunya berduaan dengan saya ya? Kelihatannya itu murni dari kejahatan saya. Lagipula kami tidak pernah berdua-duaan di tempat sepi, pasti ada pengganggu. Kalau tidak gadis preman ya Umi dan Ucrit selalu hadir sebagai setan yang setia.

Gadis pengertian. Dia tidak pernah protes kalau tidak pernah saya telepon, sms. Kalaupun tiap malam minggu saya memilih menghabiskan waktu dengan teman-teman pun dia tidak pernah melarang. Tidak pernah meminta perhatian yang berlebihan, malahan jarang saya perhatikan. Dia sudah besar, sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Begitu pikir saya dan semoga dia memahaminya.

Semua yang baik-baik ada padanya kecuali yang jelek-jelek.

– Oktober –

“Hari ini kayaknya ada sesuatu. Ngira Gadis lupa yah? Sebenernya dari jam 12 malem tadi Gadis dah pengen ngucapin sesuatu tapi karena satu dan lain hal.. Gadis bingung.

Ni Gadis cuma bisa kasih Onyit. Ni boneka monyet yang paling lucu biar kalo kamu inget Gadis kamu liat foto Gadis, kalo kamu pengen liat kamu sendiri baru liatin tu Onyit. Wek!!

Gadis nggak bisa bilang apa-apa lagi, semoga semua yang terbaik buat kamu.”

Gadis datang ke rumah saya hanya ingin memberikan boneka itu pada saya. Sebenarnya rumah saya dan kost Gadis lumayan jauh, maka dari itu saya sering bilang kepadanya tidak usah ke rumah, jauh. Tapi rupanya demi saya, malam itu Gadis datang sendiri, padahal dia juga belum tahu rumah saya.

– Desember –

“Crit, kenapa saya bisa bilang kaya gitu sama Gadis ya?”, tanya saya.
“Sudahlah, hidup ini memang kejam. Kalau tidak kejam kita tidak hidup, dengan kata lain kamu memang kejam. Tapi biarlah, ini semua pasti ada hikmahnya buatmu kawan. Saya tahu kenapa kamu melakukan itu dan saya juga paham benar kenapa kamu melakukannya. Saya tidak menyalahkanmu tapi kamu memang salah. Barangkali dia bukan untukmu dan kamu bukan untuknya”, jawab Ucrit.
“Seandainya saya nggak bilang seperti itu ya Crit. Sejujurnya hati ini tidak bisa berpaling darinya, tapi yah..”, kata saya.
“Hus, jauhi kata-kata seandainya. Kata-kata itu membuka perbuatan setan. Mengandung sikap protes kepada takdir. Hindarilah kata-kata seandainya tapi katakanlah Allah telah mentakdirkan dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Ambillah pelajaran daripadanya. Lagipula jika dia memang jodohmu dia akan kembali padamu. Berusaha memiliki sesuatu yang tidak ditakdirkan menjadi milik kita justru akan membuat kita kehilangan orientasi hidup. Semakin kita menaruh harapan pada sesuatu maka ketika harapan itu tidak menjadi kenyataan maka yang terjadi adalah sakit yang teramat sangat. Sudah kawan, jangan kau sesali semua ini”, Ucrit berceramah. Sudahkah dia bertobat?

Sungguh saya tidak pernah bermaksud untuk menyakiti hati Gadis. Akan tetapi saya pikir itu yang terbaik baginya, kehadiran saya di dekatnya bagaikan khamr. Memabukkan. Lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Membuat terlena.

Hubungan saya dan Gadis berhenti di situ. Pemutusan hubungan kerja yang saya lakukan secara sepihak tanpa surat peringatan mengakibatkan Gadis mengecap saya sebagai lelaki yang patut dicatat dalam buku hitam orang-orang yang patut dihindari, itu yang dikatakan gadis preman pada saya saat saya berusaha memperbaiki hubungan saya dengan Gadis, setidaknya sebagai teman.

“Saya trauma Crit berhubungan sama cewek”, kata saya.
“Nyakitin cewek kok trauma. Disakitin cewek baru kamu pantes trauma”.

Satu tahun kemudian saya bertemu Gadis dan satu tahun yang lalu gadis preman memberi kabar bahwa Gadis sudah menikah.

“Mau coklat cap jago kawan?”, kata Ucrit pada saya.

Ucrit belum tobat!!

Advertisements

Comments»

1. tata - January 12, 2009

kau yang mulai kau yang mengakhiri…
kau yang berjanji kau yang mengingkari…

walah…walah…renkarnasi patkai ki…wahahahaha

ahaaiii hatiku rasa pilu.. aduhai terasa pilu

2. muhammadilham - February 2, 2009

nice story mas..
salam kenal…

ya sama-sama.. tapi bukan nice story sepertinya.. cerita pilu yang menyedihkan.. hahayy

3. afiemaniez - February 13, 2009

hahahaahaha…
dibikin pelem aja neh
btw, kok ada cut-story… ada mata rantai yang hilang, piye ceritane kowe dadi wegah wid?

*penasaran*

ceritanya…. bersambung ke cerita berikutnya yang entah kapan akan ditulis


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: