jump to navigation

Casey Stoner January 27, 2009

Posted by superwid in Jalan.
trackback

Jalan dari New Selo (Base camp pendakian Merapi dari arah utara) menuju Ketep merupakan jalan yang indah dan asyik jika dilalui siang hari, apalagi kalau bersama pasangan normal. Jaraknya sekitar 10 kilometer. Jauh lebih indah daripada Kledung Pass yang berada diantara Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Jalan yang melewati lembah di antara Gunung Merapi dan Merbabu ini jauh lebih eksotik. Jalan yang berkelok-kelok, naik turun dengan pemandangan Gunung Merapi di sebelah selatan dan Gunung Merbabu di sebelah utara tidak ada duanya. Dingin sudah pasti. Kendaraan yang melintasi jalanan ini pun tidak begitu padat. Walaupun jalur ini merupakan jalur alternatif dari Magelang ke Solo tetapi karena kondisi jalannya yang naik turun dan berkelok-kelok maka jarang kendaraan yang melalui jalan ini. Jalannya halus, aspal baru meskipun di beberapa tempat (terutama di jembatan) ada yang berlubang namun secara umum kondisi jalanan di sini bagus. Rumah-rumah penduduk pun masih jarang, kebanyakan berupa ladang, sawah, bukit dan jurang. Jadi dibutuhkan SIM C yang didapatkan dengan benar untuk melaluinya, bukan SIM tembakan.

Tapi pada malam hari suasananya jauh berbeda. Gelap, sepi, dan sunyi. Jarak 10 kilometer itu tidak dilengkapi dengan penerangan yang cukup. Kalaupun ada lampu jalan hanya ada di beberapa titik perkampungan penduduk yang letaknya berjauhan. Belum lagi, jalanan ini setelah pukul 8 malam sudah sangat sepi. Kendaraan yang melintas bisa dihitung dengan jari. Pintu dan jendela rumah-rumah sudah tertutup. Sepanjang jalan kebanyakan yang didapati hanya suara gemerisik angin dan binatang-binatang malam. Tidak nampak kehidupan manusia.

Dan malam itu, tepatnya jam 9 malam selepas turun dari New Selo saya memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Padahal tidak biasanya saya ingin segera pulang ke rumah setelah bepergian, tapi kali ini rasanya berbeda. Selain ijin cuma berlaku 1×24 jam, rasanya jika harus menginap semalam di Base Camp rasanya malas. Badan yang berkeringat dan baju yang basah pastilah membuat tidur tidak nyenyak. Mau mandi airnya dingin tidak berperasaan. Kantong tidur saya juga sudah lembab akibat kehujanan sewaktu perjalanan turun. Lama-lama bisa tumbuh jamur dan sebangsanya di tubuh saya. Parkir motor dihitung dua malam pula, menambah pengeluaran.

“Pamit ya”, kata saya pada teman-teman yang akan melanjutkan ke Merbabu keesokan harinya.
“Nggak nginep aja? Sudah malam. Sepi”, kata mereka.
“Sudah kangen rumah”, jawab saya.
“Yoi, hati-hati. Semoga tidak terjadi apa-apa. Dah kangen netek ya?”, tanya mereka.
“Yoi”.

Berhubung malam itu gelap dan agak gerimis, maka saya memutuskan tetap memakai baju saya yang basah, rangkep jaket kering dan terakhir raincoat basah. Sepatu dan kaos kaki juga basah (akibatnya setelah sampai di rumah telapak kaki saya membentuk peta kontur). Sarung tangan dan kupluk kering sedangkan slayer agak lembab. Helm sudah pasti. Mau pakai sarung kok nampak tidak fotogenik. Ponco disimpan di dalam cover kerir jika sewaktu-waktu hujan turun bisa langsung dipakai tanpa perlu bongkar kerir atau buka jok.

Untuk mengatasi kesepian, mp3 player pinjaman yang selalu setia menemani perjalanan dipasang dengan volume yang sepantasnya.

Sebelum berangkat tidak lupa berdoa, semoga selamat sampai tujuan. Semoga di tengah perjalanan tidak ada yang mencegat, tidak ada setan lewat dan motor sehat wal afiat.

Kalau mau jujur saat itu saya takut. Tapi demi sampai pulang di rumah sebelum hari Minggu tiba saya nekat. Niatnya mencari teman untuk konvoi di jalanan Selo, tapi setelah menunggu sebentar tidak ada yang lewat.

Bismillah.. Berangkat.

Atas dasar ketakutan, kenekatan, sedikit keberanian dan ingin segera pulang maka motor dipacu hingga 60 km per jam melalui jalanan aspal yang licin karena gerimis, ditambah kabut yang membuat jarak pandang hanya 10 meter. Penerangan minim, hanya ada satu lampu motor yang menerangi, lampu motor saya. Sesekali berpapasan dengan kendaraan yang menuju arah berlawanan dengan lampu sorot yang menyilaukan mata. Belum lagi hewan-hewan malam yang mengganggu pandangan. Suasana yang menguji adrenalin.

Saat melewati jalan turunan yang kemudian berbelok menanjak yang mengharuskan saya menginjak pedal rem sempat beberapa kali ban belakang motor slip dalam batas kewajaran. Masih bisa dikendalikan. Mungkin kalau jalanan kering, ban tidak akan slip.

Kira-kira 2 kilometer menjelang Ketep (tepatnya jalan turunan kedua jika dari arah Ketep akan ke Selo, kalau uang tinggal menggoreng akan saya bangun tugu peringatan di sana), karena ada kabut maka jalan tidak begitu kelihatan. Hanya nampak marka putih di tengah jalan yang tidak begitu jelas. Ternyata jalan menurun itu disambung dengan jalan belok yang menanjak ke kanan sedikit kemudian menanjak ke arah kiri dan ada tanah berpasir tepat di belokan. Jika tidak mengerem ada kemungkinan ban akan slip karena tanah berpasir yang ada di jalan itu.

Saat terpikir untuk mengerem, semua sudah terlambat. Motor sudah melaju kencang sekitar 60 km per jam dan jarak mengerem hanya 10 meter. Dua meter pertama pengereman berlangsung dengan sukses dan sisanya mengakibatkan ban motor belakang slip karena jalanan yang licin. Ban tidak bisa mendapatkan grip maksimal. Sengaja saya menggunakan rem belakang lebih banyak daripada rem depan, kalau memaksakan dengan rem depan takutnya justru saya akan terpelanting ke depan. Motor mulai bergerak liar. Mirip Casey Stoner yang sedang membalap di sirkuit, bedanya Casey Stoner sukses mengendalikan motornya sedangkan saya tidak.

Saat itu di sebelah kanan saya bukit sedangkan di kiri tanah (saya tidak menyangka kalau di sebelah kiri itu tanah datar hanya selebar 1.5 meter, kemudian lereng sungai yang miring 45 derajat). Saya tidak berpikir akan membanting motor ke kanan atau kiri, yang penting saya tetap bersama motor kesayangan saya.

Delapan meter, tiga detik..

“Ya Tuhan, kalau memang sudah saatnya saya relakan semuanya.. Tapi kalau bisa jangan. Saya belum nikah. Apa yang harus saya katakan pada bapak ibu saya?”

Untungnya setelah ngesot-ngesot di jalanan aspal, motor nyungsep, tertahan di rerumputan di sebelah kiri jalan dan kaki kiri saya tertindih motor. Ada gunanya saya menginjak pedal rem. Saya masih hidup. Jika Tuhan menghendaki saya bisa nikah! Saya tidak jadi nyemplung ke jurang. Tidak perlu ada pengumuman yang beredar :

“SEORANG TEMAN KITA MENGALAMI MUSIBAH KECELAKAAN DI JALAN SELO-KETEP. KONDISINYA MASIH BELUM JELAS. MOHON DOANYA”

Untungnya lagi pakaian yang saya gunakan berlapis, jadi tidak begitu banyak kerusakan yang terjadi. Hanya sebuah luka kecil di lutut kanan dan agak nyeri di pergelangan kaki kiri. Motor lecet sedikit dan spion kanan berubah posisi. Tidak begitu parah dibanding kecelakaan di jalan raya.

Dari mengerem sampai terjatuh saya sadar. Benar-benar sadar. Merasakan sensasi menaiki motor yang bergerak liar. Sesekali meniru pembalap motogp kan tidak dilarang.

Setelah motor tersangkut di rerumputan dan saya tergantung dengan kaki saya tertindih motor saya berpikir bagaimana caranya saya bisa bangun tapi jangan sampai terjatuh ke lereng yang curam. Belum lagi di punggung tergendong sebuah kerir ukuran 60 liter, isinya cuma tinggal separuh tapi cukup membuat repot.

Jam 10 malam di jalanan yang sepi dan gelap. Bantuan tidak bisa diharapkan. Berbagai manuver mulai dilakukan untuk bisa menyelamatkan badan, kerir dan motor. Berbagai kuda-kuda dicoba sedemikian rupa hingga akhirnya semua bisa diselamatkan.

Motor distarter. Tidak mau menyala! Cek aki : Beres. Bensin : Masih. Berarti ada kesalahan di busi. Asumsi orang yang pengetahuan tentang motor minim. Otak-atik dalam kegelapan malam tetap tidak bisa. Sinyal Hape : Nol. Bingung. Panik sudah pasti. Ya Tuhan cobaan apalagi ini?

Ada beberapa alternatif tindakan yang terlintas dalam pikiran saya yang bisa dilakukan saat itu.

  1. Menelepon seseorang yang saya kenal lalu meminta dijemput. Tapi di TKP saat itu tidak ada sinyal, lagipula untuk sampai ke posisi saya sekarang paling tidak butuh waktu 1 jam dari Jogja. Ya kalau dalam 1 jam itu saya masih berada di tempat, kalau sudah digondol wewe?
  2. Menuntun motor sambil mencari rumah penduduk kemudian memperbaiki motor. Kalau tidak bisa hidup ya numpang menginap semalam. Itu dengan catatan ada rumah penduduk yang bisa disinggahi. Padahal perkampungan penduduk yang baru saya lewati sudah agak jauh sementara di TKP dan sekitarnya tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia. Yang terdengar hanyalah suara rumput yang bergoyang.
  3. Mencari tumpangan pick up sampai ke Blabak. Tapi jam 10 malam sudah jarang kendaraan.
  4. Menginap di TKP, masih ada air setengah botol 600 ml, 2 coklat Gery Salut dan 5 lolipop. Diperkirakan cukup untuk hidup semalam. Pop mie dan Aqua 1.5 liter ditinggal di Base Camp. Itung-itung praktek bertahan hidup.

Akhirnya saya putuskan, motor dituntun sampai batas tempat dan waktu yang belum ditentukan. Semoga ada rumah penduduk yang masih bisa dimintai tolong atau ada mobil pick up yang lewat atau ada sinyal hape.

Baru seperempat tanjakan, nafas sudah Senin-Kamis, kebanyakan tar dan nikotin sebagai akibat berteman dengan perokok. Belum lagi tidak ada tenaga karena perut seharian belum kemasukan nasi. Percobaan kedua menyalakan mesin. Tetap tidak mau hidup.

Perjuangan berlanjut, tapi begitu sampai pertengahan tanjakan, nafas sudah tinggal sebisanya saja. Setengah mutung, motor distandar di tepi jalan. Mau nangis kok ya ingat umur, jadi malu. Hape masih tidak ada sinyal. Duduk, bingung lagi.

Ada motor lewat dari arah berlawanan, Tiger yang dinaiki oleh tiga orang melintas kemudian berbalik menuju ke arah saya. Tiga orang pemuda seumuran. Saya sudah menyiapkan diri baik jasmani maupun rohani, mental dan spiritual. Jika mereka orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada saya, saya ada pisau di dalam kerir di dalam tupperware. Mengambilnya membutuhkan waktu, jadi siap-siap batu saja. Jika mereka adalah arwah-arwah gentayangan sudah saya siapkan bacaan-bacaan yang saya hapal, Al Fatihah, ayat kursi dan berbagai ayat-ayatan lain.

“Kenapa Mas?”, tanya salah seorang pemuda yang mengaku sebagai penduduk setempat.
“Anu, ini motor nggak mau nyala. Mungkin businya”, jawab saya.
“Waduh, kami nggak bawa kunci busi. Apa masnya nginep aja. Di sini rawan soalnya. Lagian malem-malem gini kok lewat sini sendirian?”, tanya seorang pemuda.
“Motornya gimana?”, tanya pemuda yang lain.
“Bisa ditarik kan?”, jawab pemuda pertama.
“Mau pulang, soalnya udah janji pulang malem ini. Kalau rumah penduduk jauh ya Mas?”, tanya saya.
“Wah jauh Mas, apalagi jalannya naik turun. Businya dicek lagi aja. Biar diterangin pake lampu motor”, jawab si pemuda.
“Ya”, jawab saya.

Saya mengeluarkan peralatan yang bisa dimanfaatkan dari jok, pegang-pegang busi, doa secukupnya.

“Tak coba dulu”, kata saya.

Dan Tuhan memang menilai semua dari niatnya, mesin motor sukses menyala. Perjalanan bisa dilanjutkan!

“Mas, kalau mau cepet lewat pertigaan Sawangan aja. Sehabis Ketep ambil kiri”, nasehat si pemuda.
“Oke Mas, makasih ya! Semoga amal kebajikan saudara sekalian diterima di sisi-Nya! Pamit dulu”.

Perjalanan berlanjut. Masih ada 40-an kilometer lagi dan waktu sudah menunjukkan jam setengah 11 malam. Ada telepon dan sms tidak dipedulikan. Rasa perih di lutut kanan dan kiri tidak dirasakan. Perut yang seharian tidak terisi pun dipaksa bersabar. Keluarga tidak perlu tahu, bisa-bisa lisensi bepergian saya dicabut.

Saya ingin segera sampai di Jogja! Apapun yang terjadi!

Advertisements

Comments»

1. pdparamitha - January 27, 2009

bocah koq ra nduwe udel…..hahahahaha

ada.. mau lihat, nanti gantian liat2an

2. afia - January 27, 2009

ngeri banget…..

3. sangprabo - January 27, 2009

>> Mau nangis kok ya ingat umur, jadi malu
hehehe.. Bukan inget umur kali Wid, tapi inget bulu.

Wid, coba dicek ke TKP lagi, mungkin mayatmu jatoh ke jurang, tapi kamu gak nyadar en gak ada orang yang nyadar, jadinya seolah-olah kamu ngerasa masih idup. *kebanyakan nonton pelem*

males, jauh.. takutnya malah nyungsep beneran. belum siap pakai gelar alm

4. afiemaniez - February 13, 2009

hahahahaaa…..isih enom, ra po2….ben wae..ben ngrasakke…
😛

cukup sekali dan semoga tidak terulang lagi

5. intan - February 9, 2010

wah..tu jalan q banget..sngt bs q byangkan..btw blum pernah yg jm 1 dr boyolali ke arah keteb?tu mlh rame lho..asyik ga da 2 deh!

Cukup sekali aku merasa aaaa..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: