jump to navigation

Impian February 5, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Setiap orang mempunyai impian.

Ada beberapa orang yang sengaja tidak mewujudkan impiannya karena mereka berpikir jika impiannya sudah terpenuhi maka dia tidak lagi mempunyai semangat untuk hidup karena tujuan hidupnya telah tercapai.

Beberapa orang yang lain berusaha dengan berbagai cara dan usaha untuk mewujudkan impiannya meskipun pada akhirnya karena keterbatasan yang mereka miliki impian itu hanyalah tetap impian yang tidak mungkin diwujudkan.

Sisanya adalah orang-orang yang berusaha dan berhasil mewujudkan impiannya untuk kemudian mempunyai impian-impian lain yang lebih tinggi lagi.

————————–

Salahkan Paijo kalau sekarang saya suka jalan-jalan ke gunung karena Paijo lah yang pertama kali mengajak saya naik gunung. Salahkan juga Paijo kalau sampai sekarang saya masih menyendiri karena Paijo tidak pernah mencarikan saya pasangan. Salahkan Paijo atas segala kelalaian yang saya lakukan. Jangan sekalipun ragu untuk menyalahkan Paijo karena Paijo adalah tempat salah dan dosa.

Ketika saya masih sering memakai seragam abu-abu, bersama Bagus, Ahmad dan Luki, saya sering jalan-jalan. Ruang lingkupnya tidak jauh, masih di seputaran Jogja dan sekitarnya. Kalau lebih-lebih dikit paling ya ke Solo, Magelang, Kendal, Pangandaran, San Fransisco, Paris, Mogadishu, Paramaribo dan sekitarnya. Saat itu bepergian di kawasan Jogja sudah merupakan sesuatu yang mewah dan menyenangkan. Maklumlah pertama kali saya diijinkan membawa motor adalah waktu masih berseragam abu-abu itu. Tentunya setelah mendapatkan SIM sesuai dengan peraturan yang berlaku, tidak seperti sekarang yang banyak melalui jalur khusus. Eh, dulu saya lewat jalur khusus juga. Dapat bonus umur satu tahun. Untunglah sekarang sudah diperbaiki dan kembali ke jalan yang benar. Sebelumnya sewaktu jaman pakai seragam biru daya jelajah saya masih amatlah terbatas, sebatas rute dan jam beroperasi bis kota serta sejauh mana kaki sanggup melangkah.

Suatu saat terpikirlah oleh kami untuk jalan-jalan setelah melakukan rutinitas tiap caturwulan, ujian. Ujian telah membuat seluruh jiwa raga kami mengalami kelelahan baik mental maupun spiritual. Jika tidak dilakukan penyegaran kembali dikhawatirkan sel-sel di RSJ Pakem atau Magelang akan terisi empat pasien baru dari Jogja.

Motor sudah siap, dana tersedia, waktu amat luang cuma tujuan belum ditentukan. Masalah tujuan biasanya merupakan hal yang rumit, serumit jalinan rambut Luki yang keriting, dipadu ikal bahkan cenderung gimbal.

“Jadi kemanakah kita akan berlabuh besok?”, Bagus memulai pembicaraan.
“Bagaimana kalau ke pantai saja?”, tanya saya.
“Hus jangan-jangan.. Kulit saya sudah hitam, mau jadi apalagi kulit saya nanti jika sering-sering terbakar sinar matahari”, protes Luki.
“Ya sudah, kita ke laut saja”, saya melanjutkan.
“Oke.. Oke.. Saya setuju”, kata Luki.

Begitu disadarkan Ahmad, Luki mencak-mencak. Minta dilakukan pergantian tujuan. Saya dan Bagus meminta untuk ke pantai sedangkan Ahmad dan Luki menolak usulan tersebut.

“Daripada ke pantai lebih baik nggak ke pantai. Juga berlaku untuk penggantian kata pantai dengan laut”.

Setelah melalui perdebatan sengit diselingi beberapa interupsi dan argumen yang meyakinkan dari kedua belah pihak yang bersengketa, cara lama yang paling efektif dan efisien dilaksanakan, hom pim pa. Akhirnya yang berhak menentukan tujuan perjalanan kami adalah Luki. Bukan karena punggung tangannya yang memang dari sananya hitam, tapi memang kebetulan dialah yang beruntung. Kami tidak menganut paham rasisme. Inilah tidak enaknya bepergian berempat, jika harus memutuskan sesuatu melalui pemungutan suara ada kemungkinan kedudukan berimbang. Meskipun dilakukan perpanjangan waktu hingga adu penalti tetap saja masih ada kemungkinan hasil imbang. Akhirnya ya dengan tos-tosan koin.

Pastinya kali ini kami tidak ke pantai.

Esok harinya sesuai dengan yang tercantum dalam traktat perjanjian yang disetujui oleh kami berempat perjalanan dilaksanakan pagi hari. Luki yang berhak menentukan tempat tujuan memutuskan untuk pergi ke barat, mengambil kitab suci. Eh bukan, maksudnya ke utara mengambil kitab suci. Eh bukan, ke utara, ke Ketep. Kebetulan kami belum pernah ke sana karena saat itu tempat ini baru selesai dibuat dan diresmikan oleh Ibu Presiden kita.

Ketep berada di kaki Gunung Merbabu, terletak di Selo. Berada di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu sehingga dari sini nampak jelas keindahan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Agak jauh di sebelah barat nampak Gunung Sindoro dan Sumbing. Jika cuaca sangat cerah, Gunung Slamet di Purwokerto kadang nampak. Di sini terdapat sebuah teater untuk menyaksikan keindahan sekaligus keganasan Gunung Merapi saat meletus. Selain itu terdapat foto-foto dan maket Gunung Merapi. Di halaman teater banyak penyewaan teropong untuk menyaksikan puncak Gunung Merapi. Entah mengapa di Ketep yang notabene merupakan kawasan Gunung Merbabu lebih mengekspose keindahan Gunung Merapi.

Karena berada di dataran rendah yang diapit oleh dua gunung sudah pasti di Ketep hawanya dingin menusuk ke tulang. Angin dari dua gunung berkolaborasi untuk menciptakan kondisi seperti ini. Kami berempat sangat tidak suka dingin. Tidak punya bakat jadi orang kaya yang tiap hari kena AC.

Sesudah puas kedinginan di Ketep, perjalanan dilanjutkan. Dilanjutkan ke parkiran untuk mengambil motor. Tujuan berikutnya belum diputuskan.

“Roger.. Roger.. Roger Federrer.. Luk, masuk Luk. Kemana tujuan kita berikutnya? Ganti..”, tanya Ahmad.
“Kemana ya.. Kalau pulang hari masih pagi, belum juga masuk waktu sholat Dzuhur. Lagipula ini baru 50an kilometer dari Jogja. Kita belum bisa memanfaatkan kemusafiran kita untuk sholat jama’ qasar. Jadi kemanakah kita akan melangkahkan kaki kita?”, Luki bertanya balik.
“Bagaimana kalau kita..”, jawab Bagus.
“Apa Gus?”, tanya saya.
“Kalau kita bertanya pada rumput yang bergoyang”, jawab Bagus.

Sesuai hukum yang berlaku diadakanlah hom pim pa sesi ke dua. Untuk yang kedua kalinya Luki beruntung mendapatkan kesempatan memilih tujuan berikutnya. Namun kali ini agak berbau rasisme karena Luki yang telah membawa kami sampai ke sini harus bertanggung jawab atas keselamatan kami sekaligus keselamatan cacing-cacing di perut kami.

“Kau yang memulai kau yang mengakhiri”. Itu prinsip saya, Bagus dan Ahmad.

“Ya sudahlah, kalau kita pulang saya rasa tidak ada gunanya, hanya menghasilkan lapar dan dahaga. Kita lanjutkan saja jalan aspal ke arah Timur”, usul Luki.
“Memangnya tau jalan?”, tanya Ahmad.
“Entah”.

Keputusan Luki tidak bisa diganggu gugat. Keputusan hanya bisa dibataskan jika penolakan lebih dari 2/3 anggota kuorum. Bagus dan Ahmad memilih golput. Dari Ketep jadilah kami menyusuri jalanan aspal menuju ke arah timur. Entah kemana.

Baru kami tahu jalan aspal yang menuju ke timur itu membelah Gunung Merapi dan Merbabu. Jika terus dilanjutkan ke timur, jalanan ini akan menuju Kota Boyolali. Mungkin. Di tengah perjalanan kami melihat sebuah tulisan di arah kanan kami, kurang begiitu jelas. Kami berpikir jika itu adalah salah satu tempat wisata. Tanpa pikir panjang, motor dipacu ke tempat itu meskipun jalan yang harus ditempuh tidaklah mudah. Sesekali para pembonceng seperti saya dan Luki mesti turun dari jok motor karena tenaga mesin 100cc tidak cukup kuat untuk membawa dua orang. Semakin dekat dengan tempat yang kami tuju, semakin jelas pula tulisannya. NEWSELO, dengan arsitektur mirip dengan tulisan HOLYWOOD di Amerika.

Tempat ini hanya berupa tanah datar dengan sebuah bangunan kecil semi permanen berbentuk joglo. Di sebelah selatannya ada susunan huruf NEWSELO yang belum selesai dicat. Selebihnya hanya tampak ladang tembakau penduduk dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Tidak nampak tanda-tanda kehidupan manusia di sini. Dari tempat ini Gunung Merbabu nampak di arah Utara sedangkan Gunung Merapi tidak nampak karena lokasi tempat ini ada di kaki Gunung Merapi.

“Ini tempat apa Luk?”, tanya saya.
“Nggak tahu, jadi mari kita cari tahu”, kata Luki.

Beberapa saat kemudian datang sebuah mobil, plat merah AA. Turun seorang bapak-bapak berpakaian dinas. Setelah clingak clinguk kanan kiri kemudian si Bapak menghampiri kami.

“Adik-adik ini dari mana?”, tanya si Bapak.
“Jogja Pak”, jawab Bagus.
“Ni ada acara apa ke sini?”, tanya si Bapak lagi.
“Nggak ada Pak, maen-maen aja. Kebetulan tadi dari Ketep trus pengen lanjut jalan-jalan, sampailah kami di sini”, jawab Bagus lagi.

Bagus ini memang cocok jadi juru bicara. Sepertinya dia punya bakat menjadi politisi ulung, separah-parahnya pekerjaan sebagai sales marketing panci yang sering beredar di arisan ibu-ibu Dasawisma RT cocok untuknya. Kalau kami ikut lomba cerdas cermat pastilah kami jadikan dia sebagai juru bicara.

Saya Bagus, sebagai juru bicara. Di sebelah kanan saya Malaikat Raqib pencatat segala amal baik dan sebelah kiri saya Malaikat Atid pencatat segala amal buruk.

“Oh tak kira kalian mau naik ke Merapi. Dulu Bapak juga sering naik Merapi waktu masih muda. Kalau sekarang ya sudah punya buntut jadi agak susah mau kemana-mana. Tiap mau pergi buntut-buntut pada mau ngikut, kalau enggak ya ngasih daftar oleh-oleh yang wajib dipenuhi. Setiap ngapain dikit sudah dipetentengin sama istri. Anak-anak muda seperti kalian ini masih enak, masih bebas. Kemana-mana nggak ada tanggungan, belum banyak yang dipikirkan. Besok kalau kalian sucah berumur seperti Bapak ini sudah banyak yang harus dipikirkan. Kalian pasti akan kangen saat-saat muda. Jadi mumpung masih muda kalian harus banyak-banyak cari pengalaman, kalau bisa jangan hidup lurus-lurus aja, sesekali nyasar atau keluar jalur nggak apa-apa asal jangan keterusan aja”, si Bapak bercerita panjang lebar.

Saya tidak begitu memperhatikan omongan si Bapak. Bagus yang kebetulan menjadi juru bicara kami juga harus menjadi pendengar yang budiman mendengarkan nasehat si Bapak.

Tapi ada kata-kata yang saya ingat dari si Bapak : “.. naik ke Merapi..”

“Kemana lagi Luk?”, tanya Ahmad begitu melihat mentari mulai ganti shift untuk menyinari bagian bumi yang lain.
“Ke Solo!! Ada sodara di sana, kita nginep semalem baru besok pulang ke Jogja!”.

Sebulan yang lalu, saya kembali ke suatu tempat di kaki gunung Merapi, tepat di bawah tulisan NEWSELO yang berdiri tegak di atas gundukan tanah setinggi 3 meter. Cat putihnya mulai kusam. Di depannya berjejer toko-toko makanan dan minuman. Di ujung barat terdapat bangunan joglo yang disambung dengan sebuah gardu pandang. Semuanya bangunan permanen.

Saya telah menghabiskan lima tahun untuk sekedar kembali lagi ke tempat dimana dulu saya, Bagus, Luki dan Ahmad pernah tidak sengaja mendatanginya. Lima tahun untuk mempersiapkan berbagai macam hal untuk mewujudkan impian saya.

Saya baru saja turun dari Merapi.

Advertisements

Comments»

1. tata - February 10, 2009

huuuu…mlaku2 wae
kapan dirimu sesekali mengajakku naek gunung bro???

akh.. tidak berminat mengajakmu, pastinya hanya disuruh membawa tas, dadi porter… sori ya!

2. sangprabo - February 11, 2009

> Saya Bagus, sebagai juru bicara. Di sebelah kanan saya Malaikat Raqib
> pencatat segala amal baik dan sebelah kiri saya Malaikat Atid pencatat
> segala amal buruk

Ini dari kolempencapir mana nih?

Btw, Wid.. Ntar klo ada waktu yu maen2 lah ke kampung akyu, akyu ajarin nyebrangin sungai tanpa dikejar buaya.. Hehehe

Kelompencapir Bo, kelompok penghina, pencela dan pencibir (pernah baca di Vanya buku apa gitu). Siap, insyaalloh saya akan menuju ke sana, tapi entah kapan.. mau ke merapi saja butuh 5 taun je, kapan saya ke kilimanjaro kalo gitu?

3. afiemaniez - February 13, 2009

mmm..inspiring….
🙂

seperti impianmu dari benua tetangga bisa ke Indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: