jump to navigation

Antasena February 11, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Antasena adalah putra bungsu Bima dengan Dewi Urangayu, putri Hyang Mintuna di Kisiknarmada. Antasena dapat hidup di darat dan di dalam air. Kalau Antareja bisa ambles ke tanah dan Gatotkaca bisa terbang, Antasena bisa keduanya. Seluruh badannya berkulit sisik udang hingga kebal terhadap senjata. Kesaktiannya pun setara dengan Wisanggeni, putra Arjuna, yang bahkan para dewa pun tidak sanggup menandinginya. Ia juga mempunyai kesaktian berupa sungut sakti, makhluk apapun yang tersentuh dan terkena bisa-nya akan menemui kematian. Antasena juga memiliki pusaka Cupu Madusena, yang dapat mengembalikan kematian di luar takdir. Ia juga tidak dapat mati selama masih bersinggungan dengan air atau uap air. Antasena berwatak jujur, terus terang, bersahaja, berani kerena membela kebenaran, tidak pernah berdusta. Seperti ayahnya, ia hanya bisa menggunakan bahasa jawa ngoko, tapi disinilah letak kelebihannya. Dari sini kita bisa melihat kejujuran dan sederhananya ia menjalani hidup ini. Oleh para dalang ia digolongkan dalam tokoh berdarah putih dalam pewayangan bersama Begawan Bagaspati, Puntadewa, dan Resi Subali sebagai perlambang kesucian hati dan dapat membunuh nafsu-nafsu buruknya.

Antasena itu anak kesayangan para dewa tetapi Antasena tidak pernah mau hormat dan menyembah pada Batara Guru, seorang raja penguasa jagat raya. Sedangkan ia hanya hamba biasa. Walaupun Antasena itu tidak sopan dan tidak pernah memperlihatkan rasa hormat, tapi sebenarnya ia baik. Antasena mempunyai jiwa jujur dan suci. Antasena bukan tipe yang di permukaannya manis tapi di dalam busuk. Selain itu, ia pun suka menolong sesamanya tanpa pamrih. Dan bahkan, ia disukai oleh banyak orang yang telah mengenal sifat baiknya itu. Antasena itu sebenarnya hormat pada para dewa. Tapi cara Antasena hormat dan menyembah dewa adalah dengan tindakkannya, bukan cuma pakai omongan saja. Antasena menyembah para dewa bukan dengan cara diperlihatkan ke orang-orang, supaya orang-orang tahu kalau dirinya suci.

Itu kata teman saya yang mengidolakan Antasena, namanya Panjalu. Ia sering membayangkan dirinya sebagai Antasena, seorang kesatria hebat yang selalu berbicara jujur dan apa adanya. Saya biasa memanggilnya Panjul.

Panjul ini masih tetangga dekat saya meskipun kampung kami berbeda. Di samping itu kami satu sekolah. Jadi intensitas kunjungan saya ke rumahnya pun terhitung sering, baik untuk urusan sekolah dan lebih seringnya untuk bermain. Selain karena rumahnya yang terhitung luas dan nyaman untuk dikunjungi, fasilitasnya pun tergolong jempolan. Mau main bola, ada halaman depan yang luas yang bisa dimanfaatkan. Mau main PS atau komputer ada, permainan PS-nya lengkap dan spek komputernya mengagumkan. Mau makan, selalu ada camilan dan minuman ringan di kulkas. Mau berenang, ada kolam ikan. Di belakang rumahnya terdapat taman luas dimana banyak burung dipelihara, terutama perkutut dan berbagai jenis ayam-ayaman. Hunian berkelas hotel bintang.

Kalau dalam seminggu saya tidak menunjukkan batang hidung saya di rumahnya pastilah Panjul yang bertandang ke kediaman saya. Sekedar menanyakan kabar. Maklumlah, saya sudah dianggap sebagai tamu rutin mingguan. Seminggu saja tidak merepotkan pasti Panjul merindukan.

Satu hal yang membuat saya sering berkunjung ke rumahnya adalah seperangkat gamelan dan sekotak wayang yang ditata rapi di ruangan di bagian belakang rumahnya. Suatu hal yang saya anggap aneh, unik sekaligus kampungan dan jadul. Kalau sudah bosan main bola atau main PS, Panjul biasanya mengajak saya ke sebuah ruangan kecil di belakang rumahnya. Di ruangan itu ada sebuah kelir kecil berukuran 1.5 x 3 meter yang ditempel di dinding lengkap dengan blencong dan debog dimana Panjul sering beraksi dengan wayang Antasenanya. Kedua tangannya sangat mahir memainkan wayang berikut cempala dan kepraknya. Saya yang melihatnya kadang merasa bosan karena Panjul sering menggunakan Bahasa Jawa Kromo Inggil dalam memainkan wayangnya. Beberapa kali saya mesti meminta Panjul menjelaskan apa yang dikatakannya dalam Bahasa Jawa yang kasar. Bakat mendalang didapat dari garis ayahnya yang memang seorang dalang. Jadi wajar kalau di rumah Panjul ini tersedia perlengkapan pentas wayang.

Suatu ketika saat saya bertandang ke rumah Panjul.

“Njul, Panjul..Temanmu datang”, saya mengetok jendela kamarnya sambil mengintip kamar Panjul. Mirip maling.

Memang kebiasaan saya saat bertamu ke rumah Panjul selalu seperti itu. Tidak lewat pintu depan seperti kebanyakan tamu pada umumnya. Saya kan tamu spesial.

Beberapa kali ketokan di jendela dan panggilan kepada Panjul saya teriakkan namun tidak ada sahutan dari tuan rumah. Tidak biasanya saya harus mengulangi kode ketukan di jendela kamar Panjul untuk membuatnya keluar dari rumah dan menyambut kehadiran saya. Tiba-tiba.

“Oh temennya Panjalu ya? Panjalunya Romo suruh mengantar ibu pengajian di kampung sebelah, sebentar lagi paling sudah pulang wong berangkatnya sudah agak lama. Sini masuk dulu saja, tunggu di dalam”, kata Pak Dalang.

Saya biasa memanggil bapak Panjul dengan sebutan Pak Dalang sesuai dengan pekerjaan yang digelutinya.

“Oh iya, Pak. Terima kasih. Saya nunggu di teras saja”, jawab saya.

Pak Dalang bukannya masuk ke dalam rumah justru menemani saya di teras.

“Gimana sekolahnya Nak?”, tanya Pak Dalang.
“Ya begini-begini saja Pak, belum ada peningkatan. Masih standar-standar mengikuti perkembangan anak sekolah pada umumnya. Tidak ada yang spesial”, jawab saya.
“Ya baguslah, itu Panjalu jangan ditiru, kerjanya main terus”, kata Pak Dalang.
“Apa iya Pak, di sekolah dia rajin kok. Pinter juga”, sanggah saya.
“Ya itu kalau di rumah kerjanya main wayang terus, nggak pernah belajar. Mungkin dulu salah Romo yang sejak kecil ngajari dia main wayang. Keahlian Romo cuma bisa mendalang, nggak bisa yang lain. Makannya dari dulu Romo juga cuma bisa mengajarkan Panjalu masalah wayang. Diajarin ndalang, main gamelan. Lumayan daripada wayang dan gamelan Romo nganggur ada Panjalu yang bisa disuruh ngurusin wayang sama gamelan Romo itu. Sukur-sukur besok Panjalu mau nerusin profesi Romo sebagai dalang. Kalau Romo disuruh ngajarin Panjul masalah pelajaran ya mentok-mentoknya ngajarin nulis dan ngitung. Kalau seperti sekarang ini Romo bisanya cuma ngasih dukungan doa saja biar Panjalu besok bisa jadi orang”, lanjut Pak Dalang.

Tidak berapa lama kemudian Panjul sudah pulang berikut seplastik gorengan. Gorengan yang tadinya diperuntukkan bagi Pak Dalang terpaksa dibagi dua, untuk tamu mingguan, saya.

“Sudah lama?”, tanya Panjul.
“Belum, baru dateng. Baru nggosip sama bapakmu”, jawab saya.
“Heh, jangan-jangan kamu membuka kedok saya di sekolah?”, tanya Panjul.
“Iya, jelas!”, jawab saya.
“Ah..”, Panjul protes.

Sebagai seorang teman main dan teman sekolah tentunya berbagai kejahatan Panjul sudah saya ketahui luar dalam. Begitu pula sebaliknya.

“Njul, tadi bapakmu cerita tentang kamu waktu masih kecil. Beliau bilang kamu dari kecil sudah diajari main wayang ya?”, tanya saya.
“Iya, dari umur 3 tahun, kata ibuku Romo sudah ngajarin saya main wayang. Kalau anak-anak lain dikasih mainan mobil-mobilan, saya mainannya wayang”, jawab Panjul.
“Nggak bosen Njul? Mainan wayang dari kecil?”, tanya saya.
“Bosen sih pernah sesekali. Makannya waktu udah agak besar ibu sering membelikan saya mainan mobil-mobilan, robot-robotan. Tapi Romo tetap memberi wayang sebagai mainan. Awalnya sih ya saya malas juga tiap hari dipaksa main wayang sama Romo. Mana tiap hari Romo sering nembang Jawa. Kalau nggak ya muter kaset rekaman wayang. Kuping ini rasanya sakit. Tapi lama kelamaan saya suka wayang juga, malah kalau sehari saja nggak main wayang rasanya ada yang kurang. Awalnya memang karena keterpaksaan, tapi akhirnya saya tau nikmatnya bermain wayang. Ada banyak pelajaran di dalamnya”, jawab Panjul.

“Wayang itu mempunyai certa yang menarik, benar-benar menggambarkan kehidupan manusia di dunia ini. Di dalamnya terkandung banyak nilai serta ajaran-ajaran hidup yang sangat berguna. Semua yang ditampilkan baik berupa tokoh dan yang berupa medium yang lain di dalamnya banyak mengandung nilai filosofi.Tidak ada yang absolut di dunia wayang. Seorang tokoh yang baik pasti mempunyai sesuatu yang kelam di hidupnya begitu pula sebaliknya.

Puntadewa yang merupakan Raja Amarta yang sering dianggap sebagai perlambang kejujuran pernah mempertaruhkan kehormatan Drupadi, istrinya, saat bermain judi hingga akhirnya Puntadewa kalah sehingga Drupadi mesti menanggung malu hingga akhir hidupnya karena dipermalukan Dursasana di depan umum. Kekalahan ini juga membawa Pandawa mesti menjalani hukuman dibuang di tengah hutan selama 12 tahun dan melakukan penyamaran selama satu tahun.

Bima yang dianggap satria gagah perkasa pernah berbuat curang saat melawan Duryudana dengan menghantam paha kanannya dengan gada, suatu tindakan yang tidak dibenarkan menyerang bagian bawah perut. Anehnya lagi Kresna yang titisan Wisnu itu tidak mencegah perbuatan Bima, malahan justru Kresna sengaja memerintahkan Bima untuk melakukannya.

Begitu pula sebaliknya, Rahwana yang dianggap sebagai raja lalim ternyata justru dihormati rakyatnya. Meskipun ia menculik Shinta ia menempatkannya sebagai putri terhormat, sama sekali tidak disentuhnya. Saat Rama berhasil menyelamatkan Shinta, apa yang diperoleh Shinta? Kesetiannya justru diragukan hingga Shinta lebih memilih untuk ditelan bumi.

Dari Bisma dan Kumbakarna kita bisa belajar arti kesetiaan pada tanah air”, jelas Panjul.

Saya hanya bisa terbengong-bengong mendengar penjelasan Panjul. Dia berbohong atau tidak pun saya juga tidak tahu. Saya lebih paham mengenai cerita Superman dan Lex Luthor, Batman dan Joker, Spiderman dan Green goblin ketimbang cerita Arjunasasrabahu dan Rahwana, Rama dan Shinta, Pandawa dan Kurawa.

“Selain itu, kita sebagai orang Jawa kan harus melestarikan kebudayaan kita sendiri. Bukannya justru lebih tertarik pada budaya asing. Kalau orang-orang muda seperti kita ini melupakan kebudayaan kita sendiri mau jadi apa kita. Kehilangan identitas”, terang Panjul lagi.

Jadilah hari itu saya mendapat ceramah dari Panjul tentang wayang dan setelah itu saya jadi lebih sering mendengar cerita tentang wayang dari Panjul. Saya lebih sering menghabiskan waktu bersama Panjul di ruang belakang rumah, melihat Panjul memainkan wayang daripada bermain PS dan komputer. Saya belajar banyak hal dari wayang yang diceritakan oleh Panjul.

Beberapa bulan berselang saya mendengar kabar bahwa Pak Dalang, bapak Panjul meninggal. Sudah lama memang Pak Dalang ini menderita penyakit diabetes, sudah seharusnya ia lebih sering beristirahat di masa tuanya. Tapi yang terjadi justru Pak Dalang giat menggerakkan kelompok kesenian karawitan Jawa di kampungnya tanpa dipungut biaya. Lebih sering Pak Dalang yang mengeluarkan biaya untuk konsumsi.

“Njul, turut berduka cita”, kata saya.
“Iya, terima kasih”, jawab Panjul.

Beberapa minggu berselang setelah Panjul nampak ceria lagi saya kembali ke rumah Panjul, main, seperti biasa.

Saya terkejut.

“Njul, kemana gamelannya? Kok sudah tidak ada lagi?”, tanya saya.
“Sudah dijual, berikut koleksi wayang Romo. Semenjak Romo meninggal pemasukan keluarga berkurang. Apalagi biaya untuk merawat wayang relatif besar. Panggilan untuk pentas juga semakin berkurang. Lagipula siapa yang menjadi dalangnya?”, jawab Panjul.
“Kamu kan bisa mendalang Njul?”, tanya saya.
“Ah dalang muda seperti saya ini bisanya apa. Belum punya nama. Pesinden dan niyaga yang sering tampil bersama Romo satu per satu juga mulai meningal dimakan usia. Penerusnya pun tidak ada. Tidak ada yang bisa menjadi pemimpin, menjadi sesepuh semenjak Romo meninggal. Akibatnya kelompok wayang Romo bubar. Tabungan yang ditinggalkan Romo semakin tipis untuk biaya hidup kami sehari-hari”, kata Panjul.
“Loh, kan ada kakak-kakakmu yang sudah bekerja?”, tanya saya.
“Berapa sih gaji mereka? Lagian yang bekerja kan cuma kakak pertama saya yang gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sekeluarga, kakak kedua lebih memilih beternak perkutut di belakang rumah. Pendapatannya pun tidak jelas. Kalau burung perkututnya ada yang menawar dengan harga yang diinginkan baru dilepas, kalau tidak sesuai ya tidak ada pemasukan. Kakak-kakak lebih memilih menjual wayang dan gamelannya daripada menjual burung perkutut dan ayam-ayam di belakang rumah. Lagipula satu-satunya anak Romo yang menyukai wayang cuma saya. Sebagai istri kedua, ibu juga tidak bisa berbuat banyak. Adik juga butuh biaya banyak. Akibatnya wayang dan gamelan itu dijual demi memenuhi kebutuhan hidup kami.”, jawab Panjul.

Ibu Panjul adalah istri kedua dari Pak Dalang. Istri pertama pak Dalang meninggal sebelum Pak Dalang menikah dengan Ibu Panjul. Dari istri pertama, Pak Dalang mempunyai dua orang anak yang umurnya terpaut jauh dengan Panjul. Kedua kakak tiri Panjul sudah berkeluarga dan mempunyai anak sedangkan adik Panjul mengalami keterbelakangan mental sehingga untuk membiayai pendidikannya dibutuhkan dana yang tidak sedikit.

Saya tidak bisa berkata apa-apa mengenai kondisi yang dialami Panjul kali ini. Saya hanya bisa prihatin melihat Panjul yang kehilangan semangat hidupnya karena wayang-wayang yang selama ini menjadi temannya sudah tidak ada lagi.

“Tadinya saya ingin menyimpan wayang Antasena, tapi tidak bisa. Pembelinya tidak mau kalau wayangnya kurang satu”, tambah Panjul.

Hari itu saya pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak karuan.

Beberapa minggu berikutnya Panjul ganti bertamu ke rumah saya. Ia berpamitan karena akan meninggalkan Jogja untuk pindah ke Kudus, ke tempat orangtua dari ibunya tinggal. Rumah yang sekarang ditinggalinya, peninggalan Pak Dalang akan dijual dan hasilnya akan dibagi.

Saya hanya bisa mengucapkan selamat jalan kepada Panjul.

Tidak ada lagi yang akan menceritakan kisah Mahabarata dan Ramayana pada saya.

Saya mau melengkapi cerita tentang Antasena yang belum selesai diceritakan Panjul.

Pada waktu perang Bharatayudha hampir terjadi, Antasena menghadap Sanghyang Wenang di kahyangan. Ia menanyakan tentang dirinya, bagaimana sikapnya menghadapi perang Bharatayudha. Sanghyang Wenang menjelaskan bahwa Antasena tidak terdaftar di dalam kitab Jitapsara, bahakan oleh Sanghyang Wenang, ia dilarang terjun ke medan tempur. Apabila Antasena terjun, Pandawa justru akan mengalami kekalahan. Antasena dianjurkan menjadi tawur keluarga demi kejayaan Pandawa, akhirnya putra Bima itupun menurut. Sanghyang Wenang lalu memandang tubuh Antasena, yang semakin lama semakin kecil lalu hilang muksa ke alam nirwana.

Advertisements

Comments»

1. afia - February 11, 2009

o0o gitu to ceritane Antasena, bisa dipercaya g nih ceritanya nih??? he..he..
LIfe is choice..
maw baik maw buruk, maw kaya maw miskin….semua tetep harus usaha dan ada konsekuensinya walah filosof mode on he..he.. ;p

tentu saja bisa, kenapa tidak bisa, bukankah saya tidak pernah berbohong? aku yo ra mudeng kowe berfilosofi apa..

2. sitampandarimipaselatan - February 11, 2009

@ afia
tergantung kamu megangnya gagrag mana, fi. kalo kamu megang gagrag jokja, bisa dipercaya. tapi kalo megang gagrag surakarta, maaf, kami tidak mengenal antasena sebagai putra werkudara selain antareja dan gatutkaca. buat kami antasena dan antareja adalah 1 orang yang sama seperti halnya gatutkaca dengan purbaya, arimbiputra, kancingjaya, atau tutuka, hahayyy…

yak tepat sekali apa yang dikatakan oleh sengkuni, anda boleh bertanya padanya untuk gaya solo

3. afia - February 12, 2009

@2.
o0o gitu toh,…wayang da alirannya ya, da mazhabny he..he.., yogya, solo,..

makannya jangan sering-sering koding, bikin mata juling

4. setanmipaselatan - February 12, 2009

@ afia
begitulah, fi. dorna itu juga dikenal, kok, di gagrag jokja. begawan tapi hobi nipu; mirip-miriplah dengan HTS, haji tanpa solusi, mengatasi masalah tambah masalah :mrgreen:

jangan pernah percaya apa yang dikatakan Sengkuni, ingat, kehancuran kurawa sedikit banyak juga karena mulut Sengkuni :p

5. afia - February 12, 2009

@wiwid durna
emang klo sering koding bikin mata juling ya….bisa dibuktiin g??

lha matamu juling apa tidak Fi?

6. afia - February 12, 2009

@wiwid durna
mata saya jelas tidak juling….bisa dibuktikan secara medis….
berarti sengkuni sama durna tuh sama aja..setali tiga uang.. :p
yang baik tetep pandawa…

siapa yang durna? sengkuni dan durna tidak setali tiga uang, durna masih punya darah begawan sedangkan sengkuni berdarah kelicikan dan keculasan, ahaii..

7. afiemaniez - February 13, 2009

ho-ho-ho..saya baru tau juga…..pantesan anda ahli dalam bidang pewayangan, paling tidak dibandingkan dengan saya… 😀
menarik-menarik…
hidup ini pada intinya adalah bagaimana mensyukuri setiap langkah yang telah diambil dan terlewati…

saya tau keahlian Anda di bidang bertahan hidup dan menggunakan kode asap

8. pdparamitha - February 16, 2009

yang dibeli pas KKN kae opo wid???
wah kowe ki dari dulu sampe sekarang bertandang cuma mau minta makan ckckckck tapi koq tetep kuru to huaaaaaa…
ngiri mode on 😀

itu namanya Antasena mbak, demi mengingatkanku padanya.. bakat saya : kurus :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: