jump to navigation

Aktivis February 17, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Berdasarkan KBBI, aktivis adalah orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya. Bisa berarti juga, aktivis itu adalah seseorang yang menggerakkan (demonstrasi).

Sewaktu masuk kuliah pertama kali saya punya mimpi menjadi seorang aktivis. Melihat demo besar-besaran yang dlakukan mahasiswa pada era reformasi membuat saya tertarik untuk menjadi demonstran, nampak keren kelihatannya. Pakai jins belel, pakai kupluk, slayer.. Akhirnya malah nampak seperti psikopat. Jadilah sewaktu masuk ke kampus pertama kali yang saya cari adalah sekretariat BEM Fakultas. Merintis karir sebagai aktivis dari mahasiswa, siapa tau nantinya saya bisa jadi politisi yang handal.

Selepas registrasi di fakultas selesai, saya mulai bergerilya mewujudkan impian saya. Saya mencari sekretariat BEM Fakultas yang berada di lingkungan fakultas. Sebenarnya saya bisa saja langsung ke BEM Universitas, tapi menurut saya perjuangan itu harus dimulai dari bawah, dari fakultas.


Di BEM Fakultas saya berjumpa dengan beberapa orang yang sedang stand by di sekretariat. Tiap tahun ajaran baru memang banyak mahasiswa yang stand by di sekretariat BEM, kebanyakan merupakan panitia ospek. Mulai dari ospek fakultas hingga ospek program studi. Sesuai dengan prodi yang saya ikuti saya mendaftar ospek prodi hingga ospek fakultas. Mau jadi aktivis harus aktif di kampus, itu pikir saya. Jadi tanpa keraguan sedikitpun saya menuliskan identitas saya di setiap formulir. Tidak lupa pula saya menuliskan identitas saya di formulir pendaftaran anggota BEM.

“Mas, jadi kapan wawancaranya?”, tanya saya.
“Hari minggu besok, jam 8 pagi. Dateng ya”, jawab seorang anggota BEM, lebih tepatnya salah seorang petinggi BEM, fakta yang saya ketahui setelah beberapa bulan kuliah.

Pada hari minggu yang telah ditetapkan, dengan semangat ‘98 saya datang ke sekretariat BEM. Menepati undangan wawancara tentunya. Jarang-jarang hari Minggu saya menyempatkan diri mandi pagi dan berpakaian rapi, melewatkan Doraemon yang menjadi tontonan wajib jauh sebelum era reformasi. Tapi demi mewujudkan mimpi, saya rela.

Jam 8 kurang saya sudah sampai di sekretariat. Sekretariat BEM masih nampak sepi dan gelap karena tirai jendela masih ditutup, hanya ada dua orang yang kelihatan sibuk. Nampak seperti pasangan homo di ruangan yang remang-remang.

“Mas, jadwal wawancara jam 8 kan?”, tanya saya agak behati-hati.
“Eh.. Ohh.. Ada tamu rupanya. Memangnya ada wawancara ya? Wawancara apa? Tapi kok masih sepi gini ya. Tunggu saja”, jawab salah seorang penghuni BEM.

Saya menunggu masih dengan semangat ‘98. Mewujudkan mimpi butuh pengorbanan. Menginjak pukul 9.

“Kok masih sepi aja Mas?”, tanya saya.
“Nggak tau juga ya, saya juga cuma panitia ospek. Bukan pengurus BEM. Jadi masalah wawancara anggota BEM saya juga tidak tau”, jawab si penghuni BEM.
“Ya sudah mas, tak keluar dulu cari makan. Belum sempat sarapan, nanti kalau pewawancaranya datang, tolong diijinin, jam 10 saya kembali lagi ke sini”, saya berpamitan.

Tepat jam 10 menurut waktu di jam saya, saya kembali ke sekretariat BEM. Dan yang saya dapati hanya dua orang yang sama yang masih sibuk memotong gabus untuk backdrop acara ospek.

“Nggak ada pengurus yang dateng Mas?”, tanya saya.
“Nggak ada tu”, jawab mereka.

Hancur hati saya. Jelas. Mimpi saya direnggut oleh janji-janji palsu pengurus BEM. Saya putuskan saya tidak akan masuk BEM! Pasti.

Saya ini penganut paham karena nila seiprit rusak susu segambreng, maka tindakan semena-mena pengurus BEM itu saya jadikan parameter betapa buruknya kinerja BEM saat itu. Seperti saya menilai betapa naifnya pengurus rohis di sekolah saya setelah melihat banyak lulusannya yang melanggar sendiri apa yang pernah dikampanyekannya dulu di sekolah. Saya tidak peduli, itulah yang ada di pikiran seorang pemuda yang ingin menjadi aktivis tapi dipaksa menyerah oleh keadaan.

Beberapa minggu berselang saya mendapat telepon.

“Ini yang kemaren ndaftar jadi anggota BEM ya? Hari Kamis ada wawancara. Datang ya”, kata beliau.

Negatif. Saya sudah memutuskan tidak akan menjadi anggota BEM. Itu keputusan saya. Mereka hanya akan kehilangan satu mahasiswa yang mungkin akan menjadi salah seorang aktivis, tapi saya sudah kehilangan semangat untuk mewujudkan mimpi saya.

Itu dulu sewaktu awal kuliah.

Belum lama ini saya punya kenalan, seorang anggota BEM di sebuah perguruan tinggi terkemuka di negeri ini. BEM-nya sering mengadakan demonstrasi menentang berbagai kebijakan rakyat yang dianggap menyengsarakan golongan yang mereka bela. Saya mengajak dia ngobrol iseng, ngobrol nggak niat.

“Hai anak muda, bagaimana kabarnya keadaan negri kita saat ini?”, saya menyapa.
“Ah, biasa saja. Kemaren habis demo ini itu di bundaran. Biasa lah pemerintah ini sukanya aneh-aneh saja”, jawabnya.
“Ah demo terus, capek. Memangnya dapat apa dari demo? Eh kabarnya si Mbak Biologi itu gimana ya?”, tanya saya.

Salah satu tujuan saya mengajaknya ngobrol adalah si Mbak Biologi itu. Masalah negri ini, ah sudah saya lupakan semenjak mimpi saya direnggut secara paksa dan semena-menea.

“Dasar lu, mahasiswa kampung. Gak pernah demo, sesekali ikutlah demo!”, si aktivis membentak saya.

Sebagai catatan, kenalan saya ini memang agak keras kalau urusan menentang keputusan pemerintah yang tidak sesuai dengan pandangan organisasi yang ia ikuti. Apalagi bertemu dan berdebat dengan orang-orang yang katanya tidak pernah berjuang seperti saya ini.

“Yah kampung-kampung gini kan derajat kita seimbang. Sama-sama perguruan tinggi negeri. Kemaren malah kampus saya dapet peringkat lebih tinggi dibanding kampus lain di negeri ini. Lagipula saya takut demo, takut kulit item kepanasan. Memangnya kalau demo dapet makan nggak sih?”, saya berusaha membela diri.

Kalau saya bawa nama pribadi tentunya saya kalah telak jika harus berdebat tentang kehidupan perpolitikan dari si aktivis ini, mengingat track recordnya dalam demonstrasi turun ke jalan. Belum lagi latar belakangnya sebagai mahasiswa di bidang yang sama. Kalau berdebat mengenai dunia pewayangan terutama masalah Sengkuni mungkin saya yang menang, apalagi pemandu saya kan Sengkuni. Akhirnya terpaksa saya menggunakan nama almamater. Maaf teman-teman sealmamater semua.

“Ah lu, yang lu pikirin perut aja! Pikirin kepentingan rakyat dong. Lu kagak ikut mikirin waktu harga BBM naik gila-gilaan itu ya? Bikin harga-harga pada naek. Lu sih pasti kagak mikirin”, si aktivis mulai berargumen.
“Memikirkan diri sendiri saja sulit, apalagi memikirkan orang lain”, jawab saya asal.

“Itulah gobloknya lu, lu maunya enak di lu aja. Coba pikirin nasib orang-orang kecil di bawah sana. Mereka idup susah, kalau bukan kita sebagai mahasiswa yang punya predikat sebagai seorang kaum terdidik, sebagai pembaharu dan sebagai kontrol sosial, trus yang mau ngebela mereka siapa? Lu mau terus-terusan ditindas penguasa negri ini yang bikin peraturan seenak jidatnya sendiri.

Kalo kita demo di jalan, kita bisa memaksa orang yang kita demo biar bisa melakukan kebijakan yang kita inginkan. Memeperjuangkan aspirasi rakyat, kita kan harus bertanggung jawab kepada rakyat. Di sinilah serunya, sembari memperjuangkan aspirasi rakyat itu kita bisa nyanyi-nyanyi, dorong-dorongan sama polisi, semprot-semprotan air, kejar-kejaran. Lu pasti kagak pernah ngerasain kaya’ gitu kan. Lu sih bisanya cuma ngikutin kepentingan pemerintah aja.

Lu tau Soe Hok Gie, yang dipilemin sama Mira Lesmana ma Riri Riza itu? Lu gak kampung-kampung amat kan? Masih ada bioskop? Rental pilem juga ada kan? Sosok seperti itulah yang harusnya ada di negeri ini. Kita butuh orang-orang seperti itu”, aktivis berorasi.

“Gie sih beruntung, dia mati muda. Nggak sempet tua, jadi nggak ketauan belangnya”, saya ngasal lagi.

“Salah. Di Catatan Seorang Demonstran, lu tau kagak buku pegangan wajib bagi para demonstran itu? Dia memang beruntung mati muda, tapi selama hidupnya dia memilih hidup dalam kesendirian baik dalam politik dan kehidupannya. Dan dia siap untuk itu. Saat perjuangannya berhasil menggulingkan rezim yang berkuasa beberapa aktivis ‘66 memilih menanggalkan baju idealismenya untuk mencecap kenikmatan menjadi anggota parlemen, berduyun-duyun masuk Partai Kuning itu. Gie marah dan kecewa menyaksikan teman-temannya sesama demonstran melebur dalam kekuasaan; tidak sabar menjadi penunggu gerbang idealisme yang selama ini digemborkan lewat aksi-aksi demonstrasinya. Gie menuduh mereka pengkhianat karena telah melacurkan diri untuk meneguhkan legitimasi rezim yang berkuasa saati itu. Saat menjelang kematiannya, Gie sudah mengalami rasa putus asa yang luar biasa dan merasa bersalah karena adanya faham-faham politik yang menaungi para mahasiswa. dari perasaan inilah merupakan cikal bakalnya dia mendirikan organisai pecinta alam itu, dimana dia berpikir untuk menciptakan organisasi yang benar-benar netral dari faham politik apapun. Sampai matinya pun dia masih berpikir mengenai perjuangan. Jika hidup sampai tua gue yakin dia bakal jadi pemimpin besar di negri ini”, aktivis berorasi lagi, lebih berapi-api tentunya.

“Wah hebat ya dia, setau saya dia cuma mati gara-gara Semeru. Jadi pengin ke Semeru”.

Saya memang tidak punya latar belakang masalah kegiatan perpolitikan, jadi kalau jawaban saya cenderung menghindar itu demi keselamatan saya dari cercaan dan hinaan si aktivis atas kebodohan saya.

Akhrnya memang obrolan yang awalnya cuma iseng-iseng yang awalnya bertujuan mengorek informasi tentang Mbak Biologi teman si aktivis itu menjadi ajang pembantaian si aktivis kepada saya. Saya tidak bisa berkutik saat si aktivis menjelaskan panjang lebar mengenai perjuangan mahasiswa dalam menjadi ujung tombak perjuangan mahasiswa dalam menentang berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai memberatkan masyarakat. Saya diam. Jadi aktivis memang keren.

Saya jadi teringat mimpi saya dulu. Menjadi aktivis BEM.

Kemarin-kemarin saya ngobrol iseng lagi dengan kenalan saya yang aktivis itu. Pertanyaan yang sama dan punya tujuan yang sama, Mbak Biologi.

“Hai anak muda, bagaimana kabarnya keadaan negeri kita saat ini?”, sapa saya.
“Ah entahlah, lagi putus cinta.. Persetan dengan negri ini!”

Yah, gara-gara nila seiprit rusak deh susu segambreng.

Advertisements

Comments»

1. pdparamitha - February 17, 2009

gimana kalo demo masak aja….dirimu kan hobi makan wid :p
gak bakal ada nila seiprit yang bakal merusak susu segambreng deh…

saya tiada bisa memasak, bisanya cuma makan.. Kecuali kalau kepepet

2. pdparamitha - February 17, 2009

itu pun cm masak aer bukan???hahahaha

tidak ada komentar

3. afia - February 18, 2009

dikau kn sdh jadi aktivis himakom…

penggembira tepatnya dan pencari bakat

4. joesatch yang legendaris - February 18, 2009

hooohhhhh… bambang kumbayana mulai menebar fitnah. saya, sih, tiada niat memandu dikau sebenernya. niatnya cuma memandu ayu, lebih komplitnya desti ayu kristiani, sahaja. tapi ketututan koen ya apa boleh buatlah… itung-itung ibadah.

@ afia
mas bambang ini sebenernya lebih aktif di OmahTI, fi. dia bahkan dididik langsung sama masnya, mas r(oberto?). bango, dalam masalah pengelolaan proyek, utamanya instruksi untuk buka-membuka database, hahayyy…

ah.. Kangmas Arya Suman, jangan mengelak, toh kalau diijinkan tentunya dulu saya memilih Faisal sebagai pemandu saya. Sudah menikah, punya rumah pula

5. afie - February 19, 2009

hooh kui, wes dadi aktivis himakom tur bisa demo masak (kalo kepepet) , ya…kan sudah tercapai berarti jadi aktivisnya….hahhahhahahaaa….zzzzz…
*tidurrrr…*

sekali lagi saya penggembira dan pencari bakat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: