jump to navigation

Ribet March 18, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

“Kemarin saya baru dari Jakarta”, kata saya.
“Ngapain di Jakarta?”, tanya Ucrit.

Bertanya merupakan kodrat alamiah manusia. Pertanyaan yang kadang jawabannya justru membuat suatu permasalahan yang sederhana menjadi rumit. Setiap percakapan yang dilakukan pasti melibatkan suatu pertanyaan. Jika percakapan itu tidak melibatkan pertanyaan bisa dipastikan percakapan itu terjadi antara satu atau dua orang yang patut diragukan kondisi kejiwaannya. Kalau dalam kasus di atas Ucrit malah mengatakan : “Anak kambing saya ada di pohon waru”, sudah jelas ada kesalahan.

Pertama, Ucrit, sejauh yang saya kenal tidak punya kambing. Ucrit bukan penggembala kambing, dia penggembala cinta. Hidupnya di perumahan yang lumayan elit dimana kambing dilarang berkeliaran secara bebas. Lagipula di seputaran kompleks rumahnya tidak ada pohon waru dan rasa-rasanya dia tidak tau seperti apa wujud pohon waru itu. Tapi jangan tanya kepada saya seperti apa pohon waru itu, saya juga ragu-ragu seperti apa wujudnya.

Kedua, Ucrit sejauh yang saya ketahui mempunyai kondisi kejiwaan yang normal. Jadi bisa diasumsikan dia tidak gila. Dan jangan berpikir kalau orang yang diajaknya berbicara, yaitu saya, yang mempunyai kondisi kejiwaan yang tidak normal. Jika ada yang sempat berpikir seperti itu, sebaiknya jangan berpikir seperti itu.

Saya berteman baik dengan hampir semua teman, tidak ada yang dibeda-bedakan. Saya cuma memilah-milah teman berdasarkan kategori dimana saya mengenalnya. Ahmad dan Ucrit masuk dalam kategori teman yang sama, mereka berdua teman sepermainan saya sewaktu saya masih hidup berseragam. Saya lebih mengenal Ucrit dibanding Ahmad. Ucrit seorang yang cenderung introvert dan idependen, berbeda dengan Ahmad yang lebih tebuka. Tapi dalam kenyataannya Ucrit lebih terbuka kepada saya mengenai kehidupan pribadinya sedangkan saya mengenal Ahmad karena saya, Ahmad, Luki dan Bagus sering bermain bersama. Belakangan saya lebih mengenal Ahmad dari cerita-cerita Luki daripada mendengar langsung melalui mulut Ahmad sendiri.

Saya mengenyam pendidikan di sebuah sekolah menengah atas yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dalam pergaulan sekolah. Prosentase perempuan pengguna jilbab di sekolah saya melebihi prosentase golput saat Pemilu 2004. Kegiatan kholwat dan ikhtilat diminimalkan sebisa mungkin, ditunjukkan dengan adanya kantin khusus laki-laki dan perempuan, pemisahan tempat duduk saat di kelas, pemisahan kegiatan olahraga dan pemisahan kamar mandi. Sekolah negeri berasa sekolah di sekolah Islam. Katanya kalau ada yang ketahuan mojok di lingkungan sekolah bakal kena sanksi dari pihak sekolah yang diwakili pihak Rohis. Untungnya saya belum pernah kena kasus mojok seperti itu, karena tidak ada gadis satu sekolah yang tertarik pada saya. Keuntungan yang sedih dan memilukan.

Namanya darah muda, segala tradisi dan kebiasaan yang ada di sekolah saya itu tidak bisa menghalangi gejolak kaum-kaum muda yang sedang dimabuk asmara. Ahmad dan Ucrit merupakan dua orang pelopor pembaharu di lingkungan kelas saya.

“Kawan, saya sedang dimabuk asmara”, kata Ucrit.
“Dengan siapa? Dengan siapa?”, saya bertanya. Antusias.
“Dengan seorang gadis di kelas ini. Putri kawan..”, jawab Ucrit.
“Putri Crit? Yakin? Kan banyak yang mengejarnya. Tidak salah pilih? Saingannya banyak. Kamu kan pernah bilang, lebih mudah mengejar cewek yang sudah berpacar karena saingannya cuma satu, yaitu pacarnya. Kalau Putri kan masih belum berpacar. Ibarat hutan, belum ada transmigran yang membuka lahannya. Sulit untuk mengolahnya”, jawab saya.
“Itulah serunya kawan. Persaingan itu akan membuat kita mendapatkan sensasi yang lebih saat kita berhasil mendapatkannya. Putri merupakan studi kasus yang cocok untuk mengajarkan kepadamu betapa indahnya persaingan itu kawan. Lagipula saat ini sedang tidak ada kumbang yang mendekati bunga. Jadi tidak ada saingan dalam waktu dekat ini”, jelasnya.

Ucrit adalah pejuang cinta. Setiap perjuangan cinta yang dilakukannya selalu diceritakannya pada saya. Saya bahkan tidak perlu bertanya, Ucrit pasti akan selalu menjelaskannya secara detail. Detik demi detik.

“Tapi kamu jangan dulu mengekspose ini kepada teman-teman kawan, kali ini saya berencana melakukan serangan diam-diam. Terlalu banyak saingan yang bergerak diam-diam seperti saya. Jika saya mendeklarasikan diri ikut dalam persaingan akan terlalu banyak hambatan yang bakal mengganggu kinerja saya. Nanti kalau sudah ada prospek cerah dari yang bersangkutan, saya baru akan melakukan konferensi pers”, kata Ucrit.

Saya mengiyakan saja kemauannya. Saya toh tidak ikut campur dalam perjuangannya. Saya hanya penikmat cerita. Saya di luar sistem, keterlibatan saya hanya sebagai komentator dan pengikut makan-makan jika nantinya ada ijab kabul di antara mereka.

Di waktu yang berbeda.

“Cuy, ke pantai yang ada mercusuarnya itu nyook”, ajak Luki.
“Yuukk”, kata saya, Bagus dan Ahmad.

Jadilah hari Minggu ceria ini dihabiskan dengan bermandikan sinar mentari di Pantai Pandansimo. Bagus, Luki dan Ahmad sudah siap dengan kolornya dan topless, siap mandi di Laut Selatan. Memangnya siapa yang bernafsu melihat mereka? Anak kambing Ucrit yang ada di pohon waru mungkin. Sedangkan saya lebih suka menggelar matras di bawah pohon jauh dari pantai sembari menunggu tas dan mempekerjakan otot di mulut. Saya takut air karena saya tidak bisa berenang. Menurut Darwin manusia merupakan evolusi dari monyet, bukan dari ikan. Bukan suatu kejahatan kalau monyet tidak bisa berenang. Apalagi ini Pantai Selatan yang terkenal dengan ombaknya yang cukup besar, kalau sempat ada ombak yang mengajak saya ke tengah laut, bagaimana nasib saya? Saya tidak mau menjadi tenaga cleaning servis di Kraton Laut Kidul, uang pensiunnya tidak jelas.

Angin sepoi-sepoi di Pantai membawa saya ke alam mimpi. Samar-samar saya mendengarkan percakapan Bagus, Luki dan Ahmad.

“Mad, bagaimana Putri? Prospek?”, tanya Luki.
“Santai.. Ini sedang dalam proses. Nampaknya semuanya akan lancar-lancar saja”, jawab Ahmad.
“Saya nunggu makan-makan saja”, kata Bagus.

Saya terbangun mendengar percakapan mereka dan segera mereka diam. Mencoba mengalihkan pembicaraan ke indahnya pantai.

“Indah dimananya? Tadi saya mendengar tentang Putri. Ada apa dengan Putri?”, tanya saya.
“Putri? Kenapa Putri?”, tanya Ahmad.
“Tadi sepertinya ada yang sedang mengejar Putri”, kata saya.
“Ah, mimpi paling”, jawab Ahmad.

Luki dan Bagus memilih untuk diam.

“Ah, nggak mungkin. Saya tadi sadar sesadar-sadarnya dalam keadaan sadar bahwa ada seseorang yang meminta makan-makan jika ada yang jadian dengan Putri. Jadi siapa yang mengejar Putri?”, tanya saya.

Awalnya Ahmad, Bagus dan Luki mencoba mengelak. Namun pada akhirnya setelah saya mendesak mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang mematikan Seperti ular.. Seperti ular.. Yang sangat berbisa, akhirnya mereka mengaku juga.

“Iya, saya yang sedang mengejar Putri. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia. Mumpung tidak ada yang sedang mendekati Putri saya mencoba peruntungan”, jawab Ahmad pasti.

Beberapa hari kemudian saya selalu mendengarkan cerita-cerita Ucrit tentang usahanya dalam mendekati Putri dan bertanya kepada Ahmad mengenai usahanya dalam mendekati Putri. Rasanya ada kesenangan sendiri saat mengetahu suatu rahasia yang tidak menjadi konsumsi publik. Setidaknya ada kartu mati yang bisa saya andalkan jika bersama Ucrit ataupun Ahmad. Traktiran makan siang atau minuman di kantin menjadi suatu rutinitas.

“Hai kawan, kemaren malem waktu saya ke rumah Putri kok katanya Putri lagi pergi sama cowok ya? Siapa yang sedang mendekati Putri? Kok di luar radar. Waktu saya telpon dia bilangnya pergi sama temennya. Katanya jangan nelpon, sms-an aja. Semaleman kemaren saya sms-an sama dia deh”, tanya Ucrit sumringah pada waktu jam istirahat pagi.

Saya diam.

“Tumben kamu tidak menanggapi kawan. Biasanya kamu selalu memberikan nasehat yang menyesatkan kepasa saya. Tumben-tumbenan hari ini tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutmu. Lagi sariawan?”, tanya Ucrit.

Saya tau Ahmad yang mengajak Putri pergi kemarin. Ahmad mengatakannya kepada saya saat saya bertanya kepadanya sampai sejauh mana hubungannya dengan Putri. Tapi apa yang bisa saya katakan pada Ucrit. Saya bukan tipe pemancing di air keruh. Saya juga teringat perkataan Ahmad agar merahasiakan upaya pendekatannya kepada Putri. Jadi saya tidak menanggapi pertanyaan Ucrit.

“Luk, tau nggak? Kemaren waktu aku lagi pergi sama Putri ada yang nelpon dia. Lama banget, kayaknya cowok. Tapi siapa ya? Pas tak tanyain katanya kakaknya. Trus habis itu dia sering sms-an pas jalan bareng”, tanya Ahmad pada Luki.

Saya membisu.

“Tumben nggak nanyain Ahmad pergi kemana? Lagi dapet?”, tanya Luki.

Siapa lagi yang berhubungan dengan Putri kemaren malam kalau bukan Ucrit seorang.

Sebelumnya, saat Ucrit tidak bercerita mengenai proses pendekatannya dengan Putri, saya sering bicara banyak mengenai Ucrit, Putri dan teman-teman lain saat bersama Ahmad. Saat saya tidak sering bertanya mengenai kedekatan Putri dengan Ahmad, saya sering bicara banyak mengenai Ahmad, Luki dan Bagus di depan Ucrit.

Tapi setelah saya mengetahui banyak hal mengenai Ucrit dan Ahmad, banyak yang harus dijaga.

Kadang memang lebih baik tidak mengetahui apa-apa sehingga bisa berbuat banyak daripada tau banyak tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Oh ya, akhirnya Putri menikah dengan saya.

Tapi saya bohong.

Advertisements

Comments»

1. tata - March 20, 2009

yah….baca baris pertama kirain mau cerita pas lagi di jakarta…
wiwid kejam…padahal kan saia kan mau nraktir…
enggak jadi deh…
dan kesempatan tidak datang 2x bung…

Kan ente yang sibuk :p, tak kon teko nang Plumpang dikau tiada mau sih.. Kan mau tak kenalkan dengan teman-teman saya

2. han - June 6, 2009

weakak….
“Kadang memang lebih baik tidak mengetahui apa-apa sehingga bisa berbuat banyak daripada tau banyak tapi tidak bisa berbuat apa-apa.”

lalu bagaimana dengan kasus saya dan gadis itu?

Gadis yang mana? Gadis Anda banyak. Sebanyak bintang yang bertaburan di angkasa raya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: