jump to navigation

Dilema (KJ 1) April 8, 2009

Posted by superwid in Jalan.
trackback

Perjalanan adalah sebuah petualangan. Henry Miller (penulis Amerika yang buku erotisnya sempat dilarang di Amerika, Tropic of Cancer dan Tropic of Capricorn) pernah berkata bahwa lebih baik menemukan sebuah gereja yang tak pernah dikunjungi orang daripada pergi ke Roma dan merasa harus mengunjungi Sistine Chappel bersama dengan dua ratus ribu turis yang berkerumun di sana. Bagaimanapun kunjungilah Sistine Chappel, namun jelajahilah juga gang-gang, rasakanlah kebebasan untuk mencari sesuatu yang baru, yang Anda tidak tahu, jika Anda menemukannya, percayalah bahwa hidup Anda akan berubah.

Dan menggelandang itu menyenangkan! Karena tidak terpatok pada jadwal dan keterbatasan waktu untuk berada di satu tempat, tidak terikat pada tata tertib bila pergi berombongan dan bila pergi dengan sesama penggelandang pun selalu menyenangkan, karena sudah sejiwa.

Senin malam selepas membeli beberapa perlengkapan yang mungkin dibutuhkan, saya ngobrol dengan Mardi. Bukan untuk membahas rencana perjalanan yang akan dimulai esok hari, tetapi meratapi kesedihan pemuda-pemuda lajang yang jarang mendapat belaian gadis. Jadi bujangan kadang ada enaknya, tapi ternyata lebih banyak tidak enaknya. Ini penilaian subjektif, bukan keputusan musyawarah mufakat. Tapi saya yakin kalau ada pemilihan memilih menjadi bujangan atau berpasangan pasti pilihan berpasangan menang telak. Saya yakin itu.

Obrolan yang membuat saya lupa kalau besok pagi saya ada urusan penting.

Esok paginya saya berencana untuk melakukan perjalanan melihat keindahan Jawa. Sebagai orang Jawa saya harus mengunjungi tempat-tempat menarik di penjuru Jawa. Itu obsesi saya dan kalau bisa sebelum saya bekerja saya harus bisa menuntaskannya.

Sebenarnya saya masih ragu untuk memulai perjalanan ini karena ada beberapa alasan.

Pertama. Ini rencana dadakan. Hanya direncanakan selama 10 hari tanpa persiapan yang matang. Memang kebanyakan rencana saya dadakan dan justru itu yang berhasil. Perjalanan kali ini sebenarnya sudah direncanakan lama bersama Hadi dan Rosi semenjak kami kemping di Pulau Sempu. Namun entah kenapa baru kali itu wacana lama terbersit lagi di benak saya setelah Mas Banjarnegara mengajak saya memancing di Semarang (yang sampai saat ini masih dalam wacana). Sayangnya Hadi sudah lulus dan bekerja di Jakarta sementara saya dan Rosi beruntung masih belum lulus dan menjadi mahasiswa di Jogja. Saya bingung, siapa yang beruntung sebenarnya? Yang sudah lulus dan bekerja atau yang belum lulus dan masih menjadi mahasiswa. Entahlah.

Kedua. Paling tidak ada empat orang yang berminat ikut dalam perjalanan kali ini, Mas Banjarnegara, Mas Boyolali, Mbak Soroako dan Mbak Semarang. Mereka memberikan persyaratan yang sama, jika keberangkatan diundur ada kemungkinan kami ikut. Tapi saya tidak suka kata mungkin. Kalau kata mungkin dihilangkan mungkin ada pengunduran jadwal keberangkatan. Tapi dengan kata mungkin, bisa saja meskipun keberangkatan ini diundur mereka juga tidak tetap ikut. Lalu apa yang harus ditunggu? Menunggu ketidakpastian itu menyakitkan bukan.

Ketiga. Adanya anggapan bahwa kami hanya membuang-buang uang hanya untuk memenuhi keinginan kami. Banyak yang beranggapan bahwa tempat yang kami tuju dalam perjalanan ini merupakan salah satu tempat yang mewah. Konon kabarnya biaya yang dikeluarkan melebihi biaya ke Bali.

Mungkin saya kurang persiapan karena perencanaannya yang mepet, mungkin saya egois karena saya tidak menunda keberangkatan agar teman-teman yang lain bisa ikut dan mungkin pula saya dianggap ‘semacam orang kaya’ yang menghambur-hamburkan uang untuk melakukan perjalanan ini.

Tapi saya tidak peduli. Hidup di Indonesia dimana orang-orang kadang ‘teralu’ peduli dengan urusan orang lain kadang memang tidak menyenangkan.

Rencana tetap dijalankan!

Baru pagi harinya saya sempat mengepak barang-barang yang perlu dibawa. Lebih tepatnya mengumpulkan dan membiarkan barang-barang yang nantinya dibawa berserakan di kamar, yaitu pakaian, tenda, nesting + kompor, matras, kamera + 24 baterai A2 untuk bahan bakar kamera, dua kaleng gas dan berbagai peralatan kemping lain serta tidak lupa tiga benda keramat : kacamata, hp + charger, dan dompet. Bahkan karena saya tidak sempat mencari kaos kaki terpaksa kaos kaki yang sudah bau tapi masih layak pakai saya gunakan sebagai penutup kaki. Biar tidak kena sengatan sinar mentari.

Sengaja saya menunda packing karena masih menunggu kedatangan Mardi yang katanya mau bawa kerir segede kulkas, yang cocok dengan postur tubuhnya. Kalau memang perlengkapannya masuk ke kerirnya kenapa saya harus bawa kerir lagi. Kata orang jawa : muspro, sia-sia, tidak ada manfaatnya.

“Sabar mbak, Mardinya belum datang, jadi berangkatnya nanti, sebentar lagi”, kata saya melalui hp pada Rosi yang menunggu jemputan.

“Kalo masih lama saya mau keluar dulu, sebentar”, kata Rosi.

“Jangan!”.

Sepertinya saya sudah paham tipikal perempuan yang menganggap kata sebentar mengandung makna yang sangat luas. Sebentar beli sesuatu di pusat perbelanjaan berarti sebentar-sebentar berhenti di tiap petak kios yang ada di pusat perbelanjaan dan sebentar-sebentar pula melihat-lihat semua barang yang ada di kios itu dan sebentar-sebentar lagi menawar barang yang sebenarnya tidak menjadi tujuan awal ke pusat perbelanjaan.

Maka dari itu saya melarang Rosi keluar sebentar.

Heran juga, sudah jam 9, Mardi belum nampak juga. Padahal malam sebelumnya kami sudah sepakat untuk berkumpul jam setengah 9 dan berangkat jam 9.

Baru jam setengah 10 Mardi datang. Penampilan sih oke, pakai kerir segede kulkas beneran lengkap dengan alat snorkeling dan dua joran pancing ditenteng di tangan. Nampak siap menjadi anak pantai rupanya.

“Maap, maap, ada sedikit urusan jadi agak telat. Gimana kita? Siap berangkat. Eh tapi tolong kerir saya di-packing-kan dulu, kok matrasnya nggak bisa melar. Daya tampungnya jadi sedikit. Sekalian kalau mau diisi juga boleh, biar agak mantap. Keren gitu”, kata Mardi.

“Siap, dengan senang hati!”, jawab saya.

Sesuai rencana awal, kalau memang semua perlengkapan muat di kerir Mardi, saya tidak perlu membawa kerir. Saya akan membawa sebuah daypack kecil, yang kira-kira cukup untuk membawa kostum pantai saya selama seminggu. Seminggu kalau mau berhemat cukuplah membawa beberapa lembar pakaian. Saya orangnya jarang mandi, jadi jarang ganti baju. Apalagi kalau sedang bepergian. Sholat yang urusannya dengan Tuhan saja bisa di-jama’, kadang di-qasar pula nah ini kan cuma urusan mandi dan ganti baju. Jangan bilang saya pemalas, saya cuma berhemat. Air bersih kan semakin berkurang, saya tidak mau anak cucu saya nantinya terpaksa mandi pakai air sungai yang kotor, minum air kencingnya sendiri.

Setelah saya cek, ternyata kerir Mardi penuh.

“Apa saja isinya? Kok kelihatan penuh begini. Perasaan kamu nggak bawa tenda sama nesting”, tanya saya heran.

“Bongkar saja”, jawab Mardi cengar-cengir.

“Bawa sabun, pasta gigi dan shampo?”, tanya saya.

“Pasta gigi ada, sisanya tidak ada”, jawab Mardi masih cengar-cengir.

“Ah nasib pergi sama cowok, peralatan mandi tidak lengkap! Ngirit apa medit bin lepit alias pelit!”, kata saya.

“Daripada kamu pasti cuma bawa sikat gigi doang!”, protes Mardi yang tidak terima.

Gantian saya yang cengar-cengir.

Dari keseluruhan kerir yang berkapasitas 80 liter, hampir 3/4-nya berisi pakaian Mardi. Dari celana jeans sampai celana dalam. Kaos oblong sembilan lembar plus beberapa kain-kain tambahan. Kalaupun ada barang-barang yang bukan barang pribadinya paling hanya dua joran pancing yang ditentengnya (bukan diletakkan di dalam tas) dan seperangkat alat snorkeling (tanpa kaki katak). Tas segede kulkas isinya hanya perlengkapan pribadi. Sekali lagi : ini muspro!

Langsung saja kerir Mardi saya garap. Tenda tanpa frame saya masukkan ke dalam tas. Hanya itu saja yang muat masuk ke dalam kerir Mardi. Sisanya ya itu tadi, pakaian Mardi dan alat snorkeling ,yang Astagfirullah, segede karung-karung pemulung yang baru saja selesai mengais barang rongsokan.

Terpaksa saya membawa kerir, yang lebih kecil. Sekitar 60 liter, isinya terpaksa dimaksimalkan sedemikian rupa hingga pakaian, nesting + kompor, kaleng gas, kamera, tripod, frame + pasak tenda, dua joran pancing harus bisa masuk ke dalamnya. Kalau kepepet paling tidak bisa menggantung di salah satu bagian kerir. Setelah diutak-atik sedemikian rupa, tripod, frame tenda dan dua joran pancing tidak bisa masuk kerir. Terpaksa diletakkan di saku luar samping kerir yang sebenarnya agak berbahaya. Ada kemungkinan jatuh atau tersangkut. Saya berharap tali kerir mampu menahan barang-barang tersebut, setidaknya sampai semuanya digunakan.

Setelah selesai packing, jam 10 pagi saya dan Mardi meluncur ke kost Rosi.

“We, pada bawa tas gede-gede. Pada mau pindahan ya?”, tanya Rosi agak heran.

“Ya sedikit banyak memang seperti itu keadaannya”, jawab Mardi sok bijak.

“Bawa sabun, pasta gigi dan shampo?”, tanya saya.

“Bawa”, jawab Rosi.

“Lha kamu cuma bawa tas segitu?”, tanya saya melihat Rosi menggendong daypack yang penuh.

“Iya, kenapa emangnya? Dikit ya? Ini sudah minimalis sekali lho. Isinya cuma pakaian aja, makanannya belum sempet beli. Kemaren agak sibuk sih. Baru sempet packing subuh tadi”, jelas Rosi sambil balik bertanya..

“Kebanyakan!”

Kata Paulo Cuelho, perjalanan dalam kelompok besar adalah sebuah cara untuk berada di tempat asing dan semua orang di kelompok berbicara bahasa yang sama dan melakukan apa yang disuruh pemandu, dan lebih tertarik dengan gosip dalam kelompok ketimbang menikmati tempat yang dikunjungi.

Kami bertiga memulai perjalanan menuju Semarang dengan mengendarai dua motor. Ya memang cuma bertiga saja, menghindari kelompok besar. Mardi dan Rosi memang sebagian dari teman perjalanan yang menyenangkan untuk sebuah petualangan. Saya bukanlah tipe orang yang mudah bersosialisasi sedangkan mereka tipe orang yang sangat mudah bergaul dan bersosialisasi, bahkan mudah untuk disuruh-suruh kalau penyakit malas saya sedang datang. Mereka bukan tipe orang yang dijelaskan oleh Paulo Coelho, yang lebih suka bergosip dalam kelompok ketimbang menikmati tempat yang dikunjungi. Jadi bepergian bersama mereka ke tempat-tempat baru akan jauh lebih mudah dan menyenangkan.

Saya memboncengkan Rosi yang menggendong kerir saya sedangkan Mardi sendiri memboncengkan kulkasnya yang segede kerir. Tas Rosi yang meskipun kecil namun amit-amit beratnya saya letakkan di antara stang dan jok motor.

Dalam perjalanan menuju Semarang kami sempat berhenti dua kali karena hujan, yang pertama di daerah Pringsurat dan Ungaran. Di Ungaran Mardi sempat menyantap sepiring lotek dan beberapa gorengan. Temboloknya sudah kosong atau barangkali karena perutnya ada empat, sebangsa sapi.

Sekitar jam 2 siang kami sudah sampai di pinggiran Kota Semarang. Kami memang berencana mengunjungi seorang teman di Semarang untuk transit dan sekadar mencari beberapa suap nasi gratisan untuk mengganjal perut. Kebetulan kami punya alamatnya, tetapi tidak tau letak persisnya.

Banyak punya teman memang menyenangkan, bisa jadi satu kiat untuk ngirit ongkos penginapan dan makan. Kesannya kok memanfaatkan teman sekali. Tapi selama yang diinapi senang dan menawarkan diri, kenapa tidak? Paling tidak, punya teman di berbagai pelosok kota dan penjuru dunia memudahkan kita untuk mengumpulkan informasi penting yang diperlukan dan tempat menarik yang tersembunyi, yang kadang tidak ada di buku informasi wisata. Coba baca buku panduan wisata Jogja, pasti tidak ada informasi kalo di Alun-Alun Utara tiap malam dijadikan tempat mangkal orang-orang yang main ‘pedang-pedangan’.

Bertanya adalah solusi terbaik. Tukang tambal ban menjadi target kali ini.

“Alamatnya mana mas?”, tanya si Tukang Tambal Ban.

“Perumahan Tanah Mas”, jawab saya.

“Perumahannya luas, alamat spesifiknya mana?”, tanya si Tukang Tambal Ban lagi.

“Daerah Jalan Tanggul Mas”, jawab saya.

“Wah, kalo Jalan Tanggul Mas itu saya tidak tau.. Mas kowe ngerti ra?”, tanya si Tukang Tambal Ban kepada seorang pasiennnya.

“Oh, kalo ke Perumahan Tanah Mas-nya saya tahu, tapi kalo jalannya juga saya nggak apal. Saya yang udah bertahun-tahun di Semarang masih belum apal juga. Tapi kalo mau ke Perumahan Tanah Mas gampang, tau Stasiun Poncol?”, tanya si Mas.

“Nggak tau”, jawab Mardi.

“Jalan Imam Bonjol?”, tanya si Mas lagi.

“Nggak tau juga”, jawab Mardi lagi.

“Wis, Tugu Muda. Kalau nggak tau pulang ke Jogja saja”, si Mas mulai putus asa.

“Oh iya, tau kalau itu. Yang ada Lawang Sewunya itu to?”, jawab saya.

“Iya, dari situ cari Jalan Imam Bonjol. Kalau sudah sampai Jalan Imam Bonjol tanya dimana Jalan Hasanudin”, jawab si Mas yang sudah benar-benar putus asa.

Setelah sempat nyasar ke Kota Lama karena kenekadan Mardi, bertanya kepada tiga penduduk setempat : orang Gondomanan yang lagi bekerja di Jogja, ibu-ibu di warung dan seorang tukang becak serta nyasar sekali lagi karena kejeniusan Mardi sampailah kami di kediaman Titi, seorang teman kampus yang kebetulan sedang mudik di Semarang.

Di rumah Titi kami dilayani dengan sangat baik. Kalau saya boleh usul, jika Anda datang ke Semarang, sempatkanlah mampir ke rumah Titi di Perumahan Tanah Mas. Anda pasti mendapatkan pelayanan yang memuaskan, makan siang berupa gado-gado yang sip ditambah makanan penutup berupa es durian atau aneka es yang lain.

“Emangnya mau berangkat kapan”, tanya Titi.

“Berangkat besok Rabu, pulangnya ikut kapal Senin kalo nggak Minggu. Liat nanti saja. Kamu pernah ke sana?”, saya bertanya balik.

“Ooo.. gitu. Belum pernah. Tapi kata saudara-saudaraku di sana bagus. Cuma makannya yang agak mahal. Biasanya kalau ke sana pada habis sekitar 1.5 juta per orang”, jelas Titi.

Wow, 1.5 juta? Saya, Mardi dan Rosi terkejut. Sebelumnya Rosi sempat membuat coret-coretan perkiraan anggaran yang dibutuhkan di sana dan paling tidak tiap orang menghabiskan biaya 500 ribu.

“Loh, bukannya berangkat Rabu pulang Kamis?”, Rosi protes.

Itu berarti 500 ribu tadi untuk hidup selama satu hari satu malam.

“Bukan mbak, kita berangkat Rabu pulang Senin. Kalau mau berangkat Rabu pulang Kamis mau ngapain kita disana. Wong kapal sampai sana jam 3 sore terus berangkat besoknya jam 9 pagi. Numpang tidur doang disana?”, jelas saya.

“Loh, katamu kan gitu?”, Rosi protes lagi.

“Kapan?”, tanya saya.

“Di chattingan terakhir”, Rosi membela diri.

Seingat saya memang saat itu saya memang bilang bagaimana kalau kita berangkat Rabu trus pulang Kamis. Rosi tidak menjawab dan tiba-tiba offline. Padahal rencana saya dari awal memang berangkat Rabu pulang Senin dan itu menurut perasaan saya sudah saya jelaskan sejak awal. Tapi perasaan saya lebih sering salahnya daripada benarnya.

“Saya kan Jumat ada janjian dengan Pak Dosen. Sudah janjian dari seminggu yang lalu. Gimana ini?”, Rosi mulai bingung.

“Masalah skripsi? Persiapan maju sidang?”, tanya saya.

“Iya..”, Rosi tambah bingung.

“Huaduh”, Mardi ikut bersuara.

“Nggak bisa dibatalkan?”, tanya saya yang juga mulai bingung. Bingung skripsi saya yang belum kelar-kelar juga. Kapan lulusnya kalau begini.

Rosi diam.

“Pokoknya berangkat dulu saja ke Jepara, nanti kalau udah di sana gampang lah”, kata Rosi.

“Gampang pegimana? Kalau berangkat tapi di sana cuma bentar sayang uangnya. Mending nggak usah berangkat sekalian. Daripada menyesal, capek di jalan. Atau kalau nggak, kamu saya antar ke terminal. Jam segini masih ada bis ke Jogja to Ti?”, tanya saya pada Titi.

“Ada kok. Kalau nggak besok pagi juga nggak apa-apa. Nginep sini dulu, besok pagi tak anter ke terminal”, jawab Titi.

“Atau kita pulang aja Di? Kita batalkan saja?”, tanya saya pada Mardi.

Mardi diam.

“Ya wis, kalau toh memang tidak bisa diambil alternatif jalan keluarnya kita batalkan saja perjalanan kali ini. Nggak apa-apa. Cuma kalau memang diundur saya belum bisa memastikan kapan diundurnya. Bisa minggu depan, bulan depan atau tahun depan”, saya mencoba membuat keputusan.

Kami semua diam.

“Gila, saya lupa bawa sunblock. Bisa hitam kulit saya”, saya membatin dalam hati. Tidak ingin merusak suasana serius yang telah saya buat.

Bersambung ke KJ 2

Advertisements

Comments»

1. sita - April 8, 2009

wid…wid…hhhmm…ya…ya…ya..maapp..maapp…hanya misunderstanding kecil yg dikrnkan daku juga lagi nge-blenk (trlalu bnyk multitasking) waktu chattingan itu maklum lah lagi mengejar deadline, toh akhrnya bs diatasi dgn sedikit ketidakdetil-an, gak ada niat buat gak jujur, hanya sedikit menyiasati dengan ketidakdetil-an, ex kabur tanpa pamit, tnpa sms pmbrithn cancel atas jnji hr jum’at, hahaha 😀 , pepatah bilang “DIAM adalah EMAS” , jadi lebih baek diem aja..hwahwaha 😀

Sebentar, cerita belum selesai. Ini masih dalam kondisi serius, tolong dikondisikan serius

2. sangprabo - April 8, 2009

1,5jt per orang? Gila! Ke sini aja, hm..600rebu deh PP+uang plesir.. Dr Jgja ke Smarng dulu,ntar cri kpal yg ekonomi aja,pling 170rebu. Ntar klo udh smp plabuhan sini,aq jmput. Soal logistik, kalo ga rewel kayak artis,insy Allah aku bisa jabanin. Kuat makan beras merah, tumis lalang, lauk ikan gabus, kan? Di sini ramenya pas matahari lg di garis 0, atau pas mau lebaran. Kalo mau ke tempatny Thaha juga bisa, lwt jalan darat mgkin 8 jam kalo lncar..

Sabar kawan, itu kan perkiraan awal. Apa yang terjadi berikutnya sama sekali tidak mengikuti jadwal dan perkiraan yang telah direncanakan. 600ribu itu pasti full mabuk laut, wong kemaren saja yang cuma enem jam perut sudah bergejolak, untungnya nggak kelepasan.

3. sangprabo - April 13, 2009

Kikiki.. Kalo gak terbiasa emang perut serasa dikeremes. Tapi kalo mau muntah, ya sah2 saja. Yang penting bisa nahan gak BAB ajah Bung, hla wong di atas kapal (yang kelas ekonomi) biasanya tempat buang hajatnya gak manusiawi.

Ayo ayo ayo.. Kapan ke sini? Kalo gak kuat lewat laut, bisa lewat udara.. Dengan resiko biaya berlipat ganda campuran alias jadi mahal sekali.. 😀

Nanti akh, kalau udah ada waktu dan kesempatan. Nungguin Adya mbayari (sambil lirik-lirik manja ke Adya).

4. Aday - April 13, 2009

lanjut baca bagian 2 aaaaahh…

Silakan…

5. Penyu (2) « UNDAPATIE - April 14, 2009

[…] banyak tempat di Indonesia yang dijadikan tempat penetasan dan penagkaran Penyu. Salah satunya di Karimun Jawa, tepatnya di pulau Menjangan Besar. Namun sangat disayangkan, t4 pemeliharaan anakan penyu (penyu […]

Ah berlebihan..

6. Aday - April 18, 2009

lho, saya nungguin wiwid mbayari saya je malahan…
brati aku nunggu dibayari wiwid, dan wiwid nunggu q bayari??
hla kapan mangkate??
po gini aja?? aku mbayari wiwid,, wiwid mbayari aku..
adil kan??

Yang paling adil, kita merampok Mas Joe kita saja untuk mbayari ke Gili Trawangan.

7. Raffa - December 24, 2009

Kalo mo liat jajaran gunung2 karang yg bagus datang za ke batulicin…

Terimakasih infonya, lain kali kalau ada kesempatan ke sana lagi insaoloh masuk dalam daftar tujuan yang diprioritaskan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: