jump to navigation

Bingung (KJ 2) April 13, 2009

Posted by superwid in Jalan.
trackback

Sebelumnya

Jangan berharap terlalu besar untuk perjalanan ini. Nikmati apa adanya. Pelajari kehidupan lokal, mengenal budaya dan bahasa setempat.

Di dalam perjalanan nanti, jangan heran jika anda menghadapi banyak yang di atas kertas anda telah rencanakan, ternyata anda terkaget-kaget saat di lapangan. Banyak hal yang tidak terduga, namun di situlah anda didewasakan dan selalu mendapat pelajaran dan nilai-nilai baru yang akan memperkaya pengalaman batin anda.

Mardi bilang kepada orangtuanya di ujung Sumatera sana bahwa ia pergi ke Kabupaten Jepara sedangkan Rosi setiap ditelepon oleh orangtuanya dari ujung timur Jawa hanya mengatakan tidak sedang di kos, katanya setiap di telepon, saya sedang pergi keluar dengan teman. Apa ini, di perjalanan ini saya berteman orang-orang yang belum mendapat restu dari orangtuanya. Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana saya harus mempertanggungjawabkannya kepada orangtua masing-masing.

Selepas Terminal Terboyo Semarang jalan yang kami lewati jauh dari kewajaran. Jalan antar propinsi yang menghubungkan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini rusak parah. Jalanan berlubang dan aspalnya sudah tidak rata lagi. Debu berterbangan di mana-mana. Suatu kesalahan besar kami melewati jalan ini, tapi mau bagaimana lagi. Tidak seorangpun di antara kami yang tau jalan yang lebih manusiawi menuju Jepara. Menurut kami ya cuma ini satu-satunya jalan menuju Jepara. Dan satu kesalahan yang sangat besar yang saya lakukan adalah meminta Rosi untuk memboncengkan saya.

Awalnya saya hanya iseng memintanya untuk memboncengkan saya. Apalagi di rumah Titi di Semarang Rosi berkata bahwa dia mengantuk. Sangat berbahaya kalau saya memboncengkan orang yang mengantuk. Salah-salah bisa jatuh di jalan. Maka dari itu saya menawarinya untuk memboncengkan saya. Kalau dia di depan mana mungkin dia mengantuk?

Saya juga heran dengan gaya bermotor mbak yang satu ini. Kebiasaan memakai Yamaha F1ZR mungkin bisa dijadikan alasan kenapa dia memacu motor Honda saya dengan kecepatan yang amit-amit. Padahal motor saya sudah saya wanti-wanti, jangan mengebut. Nanti ente jatuh lagi seperti pas di Selo. Tapi apa daya, si motor tidak mau menuruti nasehat saya. Katanya terpaksa durhaka karena dipegang oleh tangan yang salah.

Melewati jalan yang rusak pun tidak menghambat akselerasi Rosi yang menyaingi truk dan bus yang menjadi saingan. Beberapa kali saya dipaksa melalui jalanan yang berlubang tanpa mengurangi kecepatan yang mengakibatkan saya berulang kali terlempar dari jok motor.

“Depan ada becak, ambil kiri saja”, kata saya pada Rosi.

Rosi yang masih ngebut segera bergerak lincah menghindari becak sesuai aba-aba saya dengan mengambil kiri, ke bahu jalan. Kalau mengambil ke arah kanan sudah pasti tidak memungkinkan karena jalanan padat oleh truk dan bus. Salah-salah moncong truk atau bus mencium motor saya. Belum lagi adanya perbaikan jalan yang membuat jalan bergelombang bisa mengakibatkan motor goyah.

Saya berharap dengan berada di bahu jalan Rosi mengurangi kecepatan. Tapi sayangnya tidak. Dan jadilah pantat saya menjadi korban keganasan berkendara Rosi untuk ke sekian kali saat melalui jalanan yang berlubang di sana-sini.

Sempat istirahat sejenak di Masjid Agung Demak dan jalanan mulai bersahabat meskipun Rosi, yang menurut saya, masih ugal-ugalan dalam bermotor. Di dalam hati saya cuma bisa wirid tanpa henti, berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.

Hampir jam sembilan malam ketika kami sampai di tempat persinggahan kedua kami, di Kecamatan Batealit, Jepara. Tepatnya rumah mertua dari kakak sepupu Rosi. Bisa dibayangkan betapa jauhnya hubungan saya dengan si pemilik rumah? Ya memang tidak ada hubungannya.

“Jadi besok kita siap-siap pagi, biar tidak telat ke pelabuhan. Kalau sampai kita telat naik kapal bisa batal rencana kita”, kata Mardi malam harinya.

Saya sudah hapal kebiasaan anak-anak yang sering berwacana dan pantang menepati janji. Tapi apa yang terjadi pagi itu sungguh di luar dugaan kalau tidak bisa disebut suatu mukjizat yang entah kapan terulang kembali. Mardi dan Rosi sudah siap dengan amunisi tempurnya sementara saya yang meskipun sudah mandi masih tergolek tak berdaya di ruang tengah di hamparan karpet yang nyaman untuk ditiduri. Punggung saya masih sakit. Apalagi malamnya saya sempat mengalami gangguan tidur karena nyamuk Jepara yang ganas-ganas. Tidak pernah menghisap darah orang Jogja yang manis-manis sepertinya.

“Ayo berangkat”, ajak Mardi setengah memaksa.
“Loh nak, sudah mau berangkat? Jam segini pantainya belum buka. Nanti jam delapan baru buka. Sarapan-sarapan dulu”, kata si tuan rumah.
“Iya pak, setuju”, dukung saya.
“Takut telat pak, soalnya kapalnya jam setengah sembilan”, kata Rosi.
“Loh kok pake kapal? Mau ke mana memangnya?”, tanya si tuan rumah.
“Iya mau kemana to?”, saya ikut-ikutan tuan rumah.
“Mau ke Karimunjawa Pak”, jawab Rosi.
“Wah, kenapa nggak bilang dari kemaren. Kalau bilang dari kemaren bisa saya anter sampai ke pelabuhan. Tapi sekarang Bapak harus kerja. Ya Bapak cuma bisa bilang hati-hati saja, tapi sebelum berangkat harus sarapan dulu. Bapak pamit kerja dulu”, kata si tuan rumah.

Baru setelah sarapan kami diijinkan meninggalkan rumah. Lengkap dengan perbekalan dari si Ibu tuan rumah. Tidak sampai setengah jam kami sampai di pelabuhan Jepara dan membeli tiga tiket penumpang dan membayar dua tiket untuk motor yang kami tebus dengan harga Rp 146.500, dengan perincian Rp 30.500 untuk tiap orang dan Rp 27.500 untuk tiap motor.

Pertama kali yang saya cari setelah masuk ke kapal dan menempatkan diri di tempat duduk adalah tempat penyimpanan pelampung dan letak sekoci. Dua hal penting bagi orang yang tidak bisa berenang seperti saya. Saya harus mendapatkan akses tercepat, terdepan dan terbaik ke arah tempat penyimpanan pelampung dan sekoci, pikir saya dalam hati dan saya memang sengaja menempatkan diri di tempat yang menurut saya strategis itu.

Tepat jam sembilan pagi kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan Jepara ke arah utara. Untungnya di musim pancaroba seperti ini ombak sudah mulai tenang. Tidak ada ombak yang mengganggu perjalanan kami, laut tampak tenang.

“Coba liat dua orang itu. Cowok tapi jalannya kayak cewek. Sama Rosi saja lebih gagah Rosi”, kata Mardi sambil menunjuk dua orang ABK yang sedang berjalan menaiki tangga ke arah dek.
“Sik, bentar. Saya mengamati dulu. Saya curiga kalau-kalau..”, jawab saya tidak menyelesaikan kalimat saya dan segera mengamati tingkah laku kedua oknum yang kami curigai itu.

Dua orang ABK berseragam pelaut menaiki tangga. Jalannya lemah gemulai. Bak peragawati. Bodinya pun kelewat montok kalau untuk ukuran lelaki.

“Iya ya. Cowok apa cewek mereka?”, tanya saya pada Mardi. Penasaran.
“Yakin, kalo nggak banci mereka itu homo!”, jawab Mardi.
“Hmm.. Mungkin. Tapi nampaknya ada yang janggal. Liat dadanya itu, nampak bidang. Tapi kok lengannya tidak berbentuk, tidak berotot sama sekali”, saya mencoba menganalisa.
“Makannya. Kita patut curiga pada mereka!”, jawab Mardi mantap.
“Pengalaman Di?”, tanya saya.
“Gembel!”.

Jadilah beberapa jam di Kapal Muria kami habiskan dengan mengamati gerak-gerik dan tingkah laku dua ABK yang sering mondar-mandir naik turun tangga. Mungkin karena saking kurang kerjaannya kami sampai-sampai dua orang itu terpaksa kami amati setiap gerak-geriknya. Maafkan kami wahai ABK, waktu itu kami khilaf.

Kapal Muria yang kami tumpangi terdiri dari tiga tingkat. Bagian dasar bisa dikatakan sebagai tempat muatan dan kendaraan, bagasi sekaligus garasi. Tempatnya tidak begitu luas. Paling banyak hanya mampu menampung lima mobil. Ruangan yang masih tersisa diisi berbagai macam bahan makanan. Tidak jarang pula ada penumpang yang sengaja duduk di bagian ini karena di bagian dasar ini gelombang laut tidak begitu terasa namun anginnya cukup kencang.

Kehidupan warga Karimunjawa sangat bergantung dari pasokan bahan makanan yang dibawa dari Jepara oleh Kapal Muria yang hanya berangkat dua kali seminggu dari Jepara. Kabarnya saat musim angin barat, dimana ombak bisa sampai tiga meter dan saat Kapal Muria tidak berani berlayar, kapal Angkatan Laut terpaksa digunakan untuk mengirimkan bahan makanan ke penduduk Karimunjawa. Kalau masalah ikan masyarakat Karimunjawa dijamin tidak akan kekurangan, tapi untuk beras mereka sangat tergantung pada pasokan. Memang ada persawahan di kawasan Karimunjawa, namun luasnya tidak seberapa.

Bagian tengah merupakan tempat duduk penumpang yang terbagi menjadi tiga ruangan. Paling depan ruangan VIP, kursinya seharga 60ribuan. Dua ruangan sisanya merupakan ruangan penumpang kelas ekonomi. Goyangan kapal yang disebabkan ombak cukup terasa meskipun tidak seberapa.

Bagian paling atas merupakan ruang kemudi dan beberapa ruangan milik ABK. Di bagian belakang kapal terdapat tempat yang cukup luas dimana di sisi-sisinya terdapat sekoci. Di sini tempat yang paling mengasyikkan. Di sini gelombang laut sangat terasa, anginnya pun cukup kencang.

Kembali lagi ke pengamatan kami terhadap dua ABK yang ditengarai homo tadi.

“Yakin, mereka homo!”, Mardi berkata mantap.

Kemudian dua orang ABK itu berjalan di jalan yang ada di sela-sela tempat duduk kami. Saya melihat namanya..

“Kurniawati dan Suci”, saya mengeja dalam hati.

Nama perempuan, berarti mereka perempuan. Berarti saya tadi melihat dada perempuan. Ya Tuhan… Ampuni saya. Salahkan Mardi. Ya salahkan dia. Saya cuma mengamati.

“Goblok, mereka perempuan!”, saya mencoba menjelaskan kepada Mardi dengan menunjukkan badge nama yang ada di atas saku kanan kemeja dua ABK itu.
“Oh iya ya.. Hahaha”.

Kami berdua tertawa. Rosi bingung.

Enam jam di kapal jauh berbeda dengan enam jam di kereta atau bus. Sejauh mata memandang yang nampak cuma laut biru yang terbentang luas, lengkap dengan langit yang tak ada ujungnya. Sesekali nampak kapal nelayan. Itu saja, monoton.

Tiga jam perjalanan dari pelabuhan Jepara, Kapal Muria membunyikan klaksonnya. Saya heran. Ada apa gerangan?

Tanpa dikomando sebagian besar penumpang segera bergerak menuju jendela dan sebagian naik ke lantai atas kapal. Saya ikut-ikutan.

Beberapa ekor lumba-lumba nampak menyertai Kapal Muria. Katanya kami beruntung bisa melihat lumba-lumba ini karena kemunculan lumba-lumba ini tidak bisa diprediksi. Jarang terlihat.

Tidur dan makan adalah solusi cerdas untuk menghabiskan waktu selama di kapal.

Enam jam, 45 mil laut, kami sampai juga di sebuah dermaga yang tidak begitu besar. Di dermaga sudah menunggu beberapa tukang becak yang siap mengantarkan penumpang ke pusat kota kecamatan.

Sebuah gapura kecil berada di ujung jalan bertuliskan

“Selamat Datang di Karimunjawa”

Kami bertiga tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Saya segera mengajak Mardi dan Rosi untuk keluar dari kompleks pelabuhan Karimunjawa, mencari tempat yang cukup lapang dan nyaman untuk merencanakan apa yang akan kami lakukan berikutnya.

Diputuskan bahwa kami harus mencari tempat peristirahatan secepatnya. Enam jam dalam kapal harus dibalas dengan minimal enam jam tidur. Maka dari itu kami segera berkeliling kota kecamatan yang tidak begitu luas itu, mencari sasaran tempat menginap dan kami kebingungan untuk menentukan mana tempat yang terbaik. Ada hotel yang bisa menyedot habis uang kami dalam semalam. Ada homestay yang nampaknya lebih bersahabat dan tentu saja ada tanah lapang untuk tempat berdiri tenda. Lebih murah.

“Cari masjid dulu, ada panggilan alam”, kata Rosi.

Begitu menemukan masjid, Rosi segera menuntaskan panggilan alamnya untuk kemudian menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba yang baik. Saya dan Mardi duduk di atas motor, masih bingung apa yang harus dilakukan.

“Mau ke mana mas?”, tanya ibu-ibu di dekat masjid.
“Mau, nggak tau ke mana Bu. Ibu tau penginapan yang murah dekat sini?”, tanya saya.
“Di homestay depan itu. Tempat tetangga saya. Atau tempat suami saya. Di Menjangan Besar. Di pulau seberang”, jelas si Ibu.
“Kalau boleh tahu berapa biaya semalamnya ya?”, tanya saya.
“Kalo di homestay paling sekitar 50ribuan, kalau di wisma di Menjangan Besar saya juga nggak tau. Sebentar saya tanyakan suami saya dulu”, kata si Ibu.

Si Ibu menelepon suaminya yang sedang berada di Menjangan Besar.

Pulau Menjangan Besar adalah salah satu pulau di kawasan Kepulauan Karimunjawa. Kepulauan Karimunjawa sendiri terdiri dari 27 pulau. Pulau terbesarnya adalah Pulau Karimun dimana hampir semua kegiatan administrasi kecamatan Karimunjawa berada di pulau ini. Pulau Menjangan Besar berada di sebelah selatan agak ke barat dari Pulau Karimun. Jaraknya tidak begitu jauh, kalau naik kapal paling cuma membutuhkan waktu sekitar 20 menit, itupun lebih karena kapal harus memutar menghindari karang yang terbentang di antara Pulau Karimun dan Pulau Menjangan Besar.

“Suami saya mau ke sini, tunggu sebentar ya”, kata si Ibu.

Rosi telah selesai menunaikan kewajibannya. Kini giliran saya, saya segera masuk ke masjid meninggalkan Rosi dan Mardi yang masih ngobrol dengan si Ibu.

Selang beberapa saat kemudian saya kembali menemui mereka berdua yang sudah bersama seorang bapak yang mengaku bernama Pak Moko.

Pak Moko ini termasuk salah satu pegawai Balai Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Karimunjawa dimana salah satu programnya adalah melakukan penetasan semi alami penyu di kawasan Karimunjawa. Program ini bekerja sama dengan PT Hiu Kencana Ulung yang mempunyai wisma di Pulau Menjangan Besar. Di wisma milik PT Hiu Kencana Ulung ini penyu yang sudah menetas ditampung sementara waktu. Setiap nelayan yang menemukan sarang penyu biasanya melapor ke PHPA atau ke Pak Moko untuk kemudian telur-telur itu diambil untuk ditetaskan di Tempat Penetasan Semi Alami Penyu di Pulau Menjangan Besar. Untuk setiap sarang penyu yang ditemukan, PHPA akan memberikan ‘uang ganti rugi” sebesar Rp 200.000 hingga Rp 250.000, tergantung jumlah telur yang ditemukan. Pak Moko ini kabarnya juga diserahi tugas menjaga Pulau Menjangan Besar sehingga beliau menguasai benar seluk beluk pulau ini.

“Tadi ngomongin apa Di?”, tanya saya setengah berbisik pada Mardi.
“Banyak”, balas Mardi.
“Oh yo wis, saya ikut rencanamu saja untuk malam ini”, kata saya.
“Sip”.

“Besok kita ikut bapaknya ke Menjangan Besar, katanya di sana ada tempat penetasan semi alami penyu. Hari Jumat katanya mau ada pelepasan penyu. Saya pengin ikut, makannya besok malam Jumat kita menginap di Menjangan Besar. Kita bangun tenda. Malam Sabtunya kita ke Menjangan Kecil, bikin tenda juga semalam di sana. Katanya di Menjangan Kecil bagus buat snorkeling. Hari Minggunya kita muter-muter Pulau Karimun naik motor”, Mardi mulai menjelaskan rencananya sampai sedetail mungkin. Saya sebenarnya tidak peduli, saya hanya butuh makan dan tidur secepatnya.

“Ini sekarang mau menginap di mana”, tanya Pak Moko.
“Kata temen yang dulu KKN di sini kita bisa numpang nginep di Kantor Syahbandar. Kita ke sana aja”, kata Mardi.
“Ya boleh kalau mau ke sana, mari saya antar”, kata Pak Moko.

Kantor Syahbandar berada di dermaga nelayan, jauh dari dermaga tempat Kapal Muria bersandar. Kantor yang mengurusi administrasi nelayan ini berada di bawah pengawasan Direktorat Jendral Perhubungan Laut.

“Mas, kami dari UGM mau numpang nginep boleh nggak?”, tanya Mardi.
“Oh gitu, dalam rangka apa ini? Mau kegiatan penelitian atau penyelaman?”, tanya salah satu staf.
“Ya kira-kira begitu. Kami mau ikut kegiatan konservasi penyu di Menjangan Besar”, jawab Mardi ngasal. Katanya kalau cuma niat main-main saja tidak etis, makannya dia sengaja mengatakan bahwa kami akan turut dalam kegiatan konservasi.

“Kalo saya sih silakan, tapi ini kan kantor resmi. Jadi harus menunggu persetujuan Pak Yusuf, kepala dermaga sini”, kata si staf.
“Pak Yusuf-nya sekarang dimana?”, tanya Mardi lagi.
“Lagi main tenis, paling sebentar lagi sebelum Maghrib sudah kembali”, si staf menjelaskan.

Kami bertiga menunggu kedatangan Kepala Syahbandar di dermaga sembari menikmati momen saat matahari terbenam yang sangat indah, di Karimunjawa.

Kami sedikit tidak peduli mengenai nasib kami yang belum mendapat tempat menginap malam ini.

“Ealah mas, orang Indonesia kok jauh-jauh ke sini cuma cari matahari tenggelam. Kalo orang bule wajar liat sunset disini. Kita tu harusnya mencari salju, liat salju”, komentar seorang staf yang bernama Suranto yang melihat kami begitu takjub melihat pemandangan sore itu.

Kami tertawa. Beberapa saat kemudian matahari benar-benar menghilang dari pandangan kami.

Bersambung ke KJ 3.

Advertisements

Comments»

1. sangprabo - April 13, 2009

Wakakaka.. Pengalaman di Borobudur terulang lagi kah? Ngaku2 ada “kepentingan sok resmi”, yang survey lah, yang mau ikut program apa lah, ndak taunya cuma pengen masuk gratis.. :))

Eh, 6 jam perjalanan laut? Kok lama ya?

Kata temenku, di pantainya pulau2 itu, yang belum terjamah, yang masih perawan, banyak taneman langka yang kalo dijual bisa untuk makan anak 3 dan bini 2. Emang gak bisa nyari duit di sana W?

Itu tips dan trik berhemat ala Mardi. Tapi ya.. Nanti lanjut ceritanya. Konsekuensi karena “ikut program”.

Konon kabarnya kapal ini bisa sampai dalam waktu 4 jam, terutama jika ada pejabat pemerintah yang ikut naik. Katanya juga sengaja diperlambat agar kafetaria di kapal laku (dengan asumsi penumpang lupa bawa makan siang – seperti kami). Kalau mau cepat boleh naik Kapal Kartini dari Semarang, 3.5 Jam dengan biaya kalo nggak sala 3.5 kali juga.

Ada ular di sana Bo, katanya kalo kepatuk bisa matek dalam waktu satu jam kalau tidak dapat serumnya. Konon biaya serum beratus-ratus ribu. Jadi saya main aman saja, main di kota. Kalo sampek saya matek belum sempat ke Pontianak pegimana?

Kalo mau nyari duit bisa jadi tegkulak ikan, kirim ke kota-kota. Berminat?

2. Aday - April 13, 2009

wah wah…salud salud!!!
ayo lanjut bagian 3..
sudah gk sabar nih

btw, aku pgn liat lumba2 juga 😦

Ditunggu, jika respon pemirsa bagus segera dilanjutkan. Lumba-lumba, coba gugling dengan keyword dolphin.

3. pdparamitha - April 14, 2009

seharusnya ada foto matahari tenggelamnya, biar orang Indonesia yang lain termasuk Pak Suranto dan saya sendiri bisa melihat perbedaannya? sekaligus bukti bahwa kalian sudah menapakkan kaki ke Karimunjawa!!!

Berhubung saya tidak dipoto pas matahari tenggelam, makruh bagi saya mempublikasikannya. Saya takut mempublikasikan poto diri saya, takut disantet. Sini ke rumah, saya tunjukkan poto-poto Karimunjawa (yang tidak ada saya-nya).

4. undapatie - April 14, 2009

oke.. pertanyaanya… siapa Mardi???? huakakakaka

Ada baiknya suatu aib tidak dibuka, daripada Mardi ini banyak aibnya, jadi kalo dibuka kasihan orang yang sebenarnya.

5. undapatie - April 14, 2009

@sangprabo,
kita beneran ikutan kegiatan penetasan telur penyu lho…
ampe2 punggung rasanya pegel2… yah.. tunggu aja cerita lanjutan dari wiwid tengik….

Dan masalah borobudur, niat awalnya memang mau survey, tapi seperti kata pepatah, [i] kejahatan bukan hanya karena adanya niat pelaku, tapi karena adanya kesempatan[/i], begitulah jadinya…

hahay… huakakakakakaka….

Saya sih kemaren cuma ikut makan (atau minum air) degan, ngabisin wafer dan mejeng..

6. sita - April 15, 2009

@undapatie : Mardi….bukannya itu juga nama bapak tuan rumah jepara n guide cilik qta…hahahaha 😀

Hus.. Satu guru, satu ilmu dilarang saling mengganggu :p

7. sita - April 15, 2009

hehehehe…ampun wid…hahaha 😀

Tak ampuni.

8. joesatch yang legendaris - April 18, 2009

pemberhentian selanjutnya: gili trawangan! free island. bagaimana? kita bisa bebas menghisap ganja sambil nyanyi…

buffalo soldier, dreadlock rasta
it was a buffalo soldier in the heart of america
stolen from africa, brought to america

dreadie, woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy
woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy
woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy
woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy

Trus kita ke Semarang menyanyikan lagu Tanjung Mas Ninggal Janji kapan Mas Jon?

Neng pelabuhan Tanjung Mas kene
biyen aku ngeterke kowe
Neng pelabuhan Semarang kene
Aku tansah ngenteni kowe

9. joesatch yang legendaris - April 21, 2009

semarang mung kowe thok sing seneng dewean. mending ben adil, kowe moro semarang, aku neng purbalingga 😛

Bolelebo, nanti begini saja rencananya. Dari Jogja kita ke Jakarta naik pesawat. Starting point-nya di Depok (Kampus UI). Lalu naik bis ke Bandung (mampir di Dago liat ITB) dulu baru ke Purwokerto (survei di UNSOED). Dari Purwokerto naik bus jurusan Semarang (nongkrong di UNDIP) yang lewat Wonosobo. Dari Semarang lanjut kereta lagi ke Surabaya (absen di UNAIR). Boleh juga kalau mampir ke Malang (setor muka di UNIBRAW). Terakhir kita nyebrang ke Denpasar. Terus ke Lombok juga boleh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: