jump to navigation

Horor (KJ 3) April 20, 2009

Posted by superwid in Jalan.
trackback

Sebelumnya

Jangan mencoba untuk melihat seluruh dunia dalam sebulan. Jauh lebih baik jika Anda tinggal di sebuah kota selama beberapa hari ketimbang mengunjungi lima kota dalam seminggu. Sebuah kota adalah ibarat seorang wanita misterius, yang butuh waktu untuk dirayu sebelum ia menunjukkan dirinya yang sesungguhnya.

Berkat lobi handal dan sedikit tipu-tipu dari Mardi, malam pertama kami di Karimunjawa dihabiskan di Kantor Dermaga Syahbandar Karimunjawa. Pak Yusuf, kepala kantor, mengijinkan kami menginap di kantornya dengan satu syarat, besok kalau kembali lagi ke Karimunjawa tolong bawakan kaos Jogja. Eh, dia cuma iseng. Atau serius ya? Biasanya mahasiswa UGM yang melakukan penelitian dan Unit Selam UGM sering singgah di kantor ini untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan. Kami menyebut transit sebagai tempat menginap gratis selama di Pulau Karimun. Memanfaatkan? Biar, mereka tidak keberatan kok.

“Kebetulan di belakang ada dua ruang kosong. Kalian bisa tidur di sana. Tapi cuma ada satu tempat tidur, sisanya tidur seadanya, pake tikar. Nggak apa-apa kan? Oh ya, di sini nyamuknya ganas-ganas”, jelas Mas Ranto.

Kantor Dermaga Syahbandar tidak begitu besar namun terhitung lengkap. Ada dapur dan kamar mandi yang sangat layak. Di bagian depan terdapat sebuah aula yang tidak begitu luas yang berisi beberapa meja panjang yang mengelilingi satu set meja kursi tamu di tengah aula. Kegiatan perkantoran banyak berkutat di sini. Di bagian kanan kiri aula terdapat ruangan-ruangan yang lebih kecil sebagai kantor staf dan kepala kantor. Bagian belakang terdapat dua kamar yang lebih nampak seperti mess dan garasi yang mempunyai akses langsung ke jalan umum. Masih ada satu bangunan di depan yang digunakan sebagai mess pegawai.

Terletak di bagian barat Pulau Karimun. Dari dermaga Kapal Muria ikuti saja jalan ke arah barat, Kantor Dermaga Syahbandar Karimunjawa berada di penghabisan jalan. Alamat tepatnya di Jalan Pelabuhan Nomor 1, Karimunjawa. Jangan bayangkan Jalan Pelabuhan ini merupakan jalan yang lebar dan panjang. Jalanan di Pulau Karimun paling lebar hanya berukuran tiga meter dan yang paling jauh hanya berjarak 25 kilometer, jalanan yang menghubungkan Pulau Karimun dengan Pulau Kemujan. Tidak ada lampu pengatur lalu-lintas. Helm tidak bermanfaat.

Kota Kecamatan Karimunjawa sendiri tidak lebih luas dari Kampus UGM tapi seperti halnya suatu kota kecamatan, di sini ada berbagai kantor pemerintahan seperti Kantor Pos, Telkom, Polsek dan yang paling penting KUA. Pemerintah memang melayani hak hidup masyarakat dengan baik, terutama bagi mereka yang ingin menikah. Tapi perkantoran di Karimunjawa tidak seheboh kantor-kantor di Jawa. Kadang perkantoran itu hanya berupa sepetak rumah kecil, bahkan kantor pos lebih nampak seperti menumpang di rumah penduduk. Sekolah juga lengkap mulai dari TK hingga SMK. Jangan bawa Kartu ATM apalagi kartu kredit ke Karimunjawa kecuali anda membutuhkannya untuk kipas-kipas. Listrik hanya menyala tiap malam, didapatkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel yang menopang kehidupan penduduk Pulau Karimun. Koran datang dua kali seminggu, sesuai dengan jadwal kedatangan Kapal Muria. Satu-satunya informasi didapatkan dari televisi yang menggunakan parabola untuk menangkap siaran televisi. Beberapa operator telepon seluler juga sudah merambah kepulauan ini.

Salah satu keuntungan kami dengan menumpang di Kantor Dermaga adalah listrik yang terjamin siang malam karena tiap siang kantor ini mendapat pasokan listrik dari pembangkit milik Telkom dan malamnya tentunya mendapat pasokan dari PLTD.

Pemandangan di depan Kantor Dermaga Syahbandar Karimunjawa ini sungguh indah, terdapat sebuah dermaga nelayan dan langsung berhadapan dengan Laut Jawa. Panorama matahari tenggelam bisa dinikmati dari teras kantor karena kantor ini menghadap tepat ke arah barat. Namun akan lebih indah jika pemandangan ini dinikmati dari ujung dermaga. Dari sini Pulau Menjangan Besar, Pulau Menjangan Kecil, Pulau Burung dan Pulau Kaleang tampak di kejauhan. Agak ke utara tampak Pulau Cemara Besar dan Pulau Cemara Kecil.

Kami mendapat dua buah kamar di bagian belakang kantor, di samping garasi. Mess pegawai yang jarang ditempati. Di satu kamar terdapat sebuah tempat tidur yang kami alokasikan untuk Rosi sedangkan saya dan Mardi menggunakan kamar satunya yang untuk tidur kami harus menggeser meja dan kursi ke pinggir kamar dan membentangkan tikar di tengah kamar. Pegawai Kantor Dermaga sebagian besar telah memiliki rumah di Karimunjawa dan sisanya yang tidak punya rumah memilih menggunakan mess di bagian depan kantor. Saya tidak tahu alasannya.

Setelah meletakkan barang-barang kami di kamar belakang kami sadar bahwa dari siang perut kami belum terisi makanan yang layak. Segelas pop mie, beberapa biskuit dan wafer coklat, kacang serta beberapa camilan lain tidak saya kategorikan sebagai makanan yang layak. Saya orang Indonesia, orang Indonesia pantang berkata sudah makan kalau belum kemasukan nasi.

“Belum pada makan ya? Itu makan di warung dulu”, kata Pak Yusuf, Kepala Kantor.

Saya, Mardi dan Rosi bergegas menuju warung makan yang ditunjukkan oleh Pak Yusuf. Warung makan Bu Ester, begitu yang tertulis di papan namanya. Sebuah warung makan seperti halnya warteg di Jogja, yang menjamin harganya semoga tidak semahal yang kami bayangkan. Di Karimunjawa ikan dan hasil laut memang murah, tapi beras dan sayuran yang diimpor dari Jawa harganya tentu saja melambung. Paling tidak barang yang diimpor dari Jawa kena tiga kali biaya angkut : biaya ke pelabuhan, biaya naik kapal dan biaya dari pelabuhan.

Nafsu makan kami malam itu ditebus dengan harga delapan ribu rupiah per orang. Murah untuk ukuran Karimunjawa dan hemat untuk ukuran saya yang dibayari Rosi. Alhamdulillah. Kalau sering-sering ada yang mentraktir saya makan, saya bisa ikut kapal perintis ke Kalimantan. Mengunjungi Bowo di pesisir barat Borneo.

Pantas saja warung ini selalu ramai, harga makanannya tidak begitu mahal, standar untuk ukuran Karimunjawa dan lengkap pula.

“Jangan lupa besok pagi-pagi kita janjian dengan Pak Moko di Warung Bu Ester, besok pagi kita nyebrang ke Menjangan Besar”, Mardi mengingatkan kami.

Ah peduli setan, perut kenyang, badan lelah, mata ngantuk. Saatnya balas dendam, masih ada besok pagi untuk mengepak kerir. Malam ini saya ingin tidur sepuasnya meski hanya beralaskan selembar tikar yang harus dibagi dengan Mardi. Yang penting tidur!

—————

Pagi itu Rosi dan Mardi mengajak saya untuk berbelanja di pasar setempat. Katanya mereka mau beli ikan buat sarapan dan buat bekal untuk ke Menjangan Besar nanti siang. Belum juga jam enam pagi, matahari masih malu-malu keluar dari peraduannya.

“Tidak bisakah ditunda ke pasarnya. Saya mengantuk”, saya mencoba membuat alasan.
“Katanya kalau siang pasarnya sudah sepi, ayo daripada kesiangan nanti sudah pada habis. Saya mau beli ikan, saya mau menggoreng ikan buat bekal nanti di Menjangan Besar”, kata Mardi.
“Iyo, ayo berangkat”, Rosi mendukung Mardi.

Ya silakan kalau mau beli ikan, mau masak ikan. Saya kan tidak bisa masak. Kenapa saya harus ikut?

Malam pertama di Karimunjawa tidak senyaman yang dibayangkan, nyamuknya seganas di Jepara. Belum lagi berbagi tikar dengan Mardi berarti harus siap-siap menerima invasi Mardi yang kalau tidur tidak bisa diam.

Dengan langkah seadanya saya mengikuti Mardi dan Rosi yang semangat ke pasar. Jaraknya dari kantor hanya lima menit jalan kaki seadanya.

Menuruti Mardi dan Rosi hanya menghasilkan lapar dan dahaga. Beraktivitas di pagi hari tidak baik untuk kesehatan, itu prinsip saya. Jadilah saat Mardi dan Rosi melihat-lihat dan menawar beberapa bahan makanan yang bisa dijadikan bekal ke Menjangan Besar, saya memilih duduk di tepi jalan sambil memfoto pasar. Siapa tahu kamera saya menangkap sesosok gadis manis yang sedang berbelanja di pasar?

Dari pasar kami membawa pulang satu kilogram ikan yang berisi enam ekor ikan, seplastik gorengan dan bolang-baling, dua bungkus ketan dan sebungkus nasi sayur lengkap dengan pepes ikan untuk sarapan.

Sampai di kantor, Mardi dan Rosi segera menggarap ikan-ikan hasil tangkapan di pasar. Sedangkan saya? Belum masuk jam produktif, jadi maaf saja kalau harus bekerja di pagi buta seperti ini.

Hanya berbumbu garam, Mardi dan Rosi melanjutkan acara masak-memasak mereka di dapur kantor. Mereka kira mereka Om Chef Rudy Chaerudin yang bisa memasak lezat dalam sekejap? Saya tidak yakin. Makanan mereka tidak lezat dan tidak bisa jadi dalam sekejap. Itupun tidak ada jaminan kesehatannya.

Begitu mereka selesai memasak kami mengepak kerir, nasi dan ketan hasil berburu di pasar dijadikan sarapan pagi kami. Kami siap berangkat ke Menjangan Besar.

“Kunci motornya ditinggal saja Mas, nggak ada yang bakal hilang kok. Paling cuma diambil orang, trus pasti dibalikin lagi. Dipake sama kantor”, kata Pak Yusuf.
“Oh iya Pak”.

Sedikit tidak rela meninggalkan kunci motor di kantor. Tapi kalau kami menolak meninggalkan kunci motor bisa dicap orang tidak tau diri. Sudah numpang menginap, melawan pula. Kalau dicap durhaka dan tidak tahu diri sebenarnya bukan masalah besar, tapi kalau kami tidak boleh menginap lagi di kantor itu akan jadi masalah besar untuk pelancong-pelancong dengan modal seadanya seperti kami.

Tepat jam sembilan pagi kami meninggalkan kantor untuk bertemu Pak Moko di Warung Bu Ester. Kerir sudah siap, bekal ikan yang murah meriah bergizi rendah sudah dimasak lengkap dengan enam bungkus nasi, sayur dan dua cumi-cumi ukuran jumbo yang dibeli di Warung Bu Ester, 12 bungkus mie instan, delapan botol air minum ukuran 1.5 liter serta beberapa bungkus roti, saatnya berangkat kemping ke Menjangan Besar.

“Nanti ya, saya ada kerjaan dulu untuk acara besok. Mau bikin tempat penetasan penyu yang lebih permanen, jadi harus nyiapin semen dan bata untuk dibawa ke Menjangan Besar. Tunggu sebentar ya”, kata Pak Moko sekaligus berpamitan pergi dengan menumpang sebuah mobil patroli milik Polisi Hutan meninggalkan kami di Warung Bu Ester.

“Wah kapan ini ke Menjangan Besarnya?”, Mardi mulau gelisah.

Satu jam kami menunggu di Warung Bu Ester. Dari kejauhan tampak mobil Polisi Hutan yang datang lengkap dengan Pak Moko beserta batu-batanya.

“Bantuin yuk”, kata Mardi.

Konsekusensi logis dari perkataan Mardi “Kami mau ikut kegiatan konservasi penyu di Menjangan Besar” yang sukses membawa kami mendapatkan penginapan gratis di Kantor Dermaga adalah saya harus ikut membantu Mardi yang semangat ikut kegiatan “Konservasi Penyu”. Jangan bandingkan tenaga yang tersimpan di balik tubuh kurus ini dengan tenaga Mardi yang tersimpan di tubuhnya. Jauh. Memindahkan bata dari mobil Polisi Hutan ke dermaga menjadi olahraga saya dan Mardi pagi itu. Rosi? Olahraganya hanya memencet tombol kamera. Sangat tidak adil bukan.

Tidak cukup sekali saya membantu program “Konservasi Penyu” yang didukung penuh oleh Mardi. Masih ada termin ke dua. Untungnya sebelum ada termin ke tiga, yaitu mengangkat semen, Pak Moko menawari kami menyebrang ke Menjangan Besar.

“Mau ikut ke Menjangan Besar kapan? Sekarang atau habis makan siang? Soalnya saya mau ke sana ngambil kapal di Menjangan Besar buat ngangkut bata-bata ini”, Pak Moko menawari kami.
“Sekarang aja Pak”, jawab Mardi pasti.

“Ayo berangkat sekarang saja, sudah siang. Biar kita bisa makan siang di sana. Nggak lucu kan kalau kita sudah bungkus makan siang di Warung Bu Ester eh ujung-ujungnya bungkusan itu dimakan di Warung Bu Ester juga. Makannya ayo berangkat!”, kata Mardi semangat kepada kami.

Tepat saat adzan dhuhur dikumandangkan kami menyeberang ke Menjangan Besar. 10 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Menjangan Besar. Kapal kecil yang kami naiki bersandar di sebuah homestay yang dibangun di atas laut. Namanya Hiu Kencana.

Penginapan Hiu Kencana ini berada sekitar 50 meter dari pantai Pulau Menjangan Besar. Ada sebuah titian dari kayu selebar setengah meter yang menghubungkan bagian belakang penginapan dengan Pulau Menjangan Besar. Di depan penginapan, batu-batu karang disusun sedemikian rupa hingga membuat kolam berbentuk U yang mengelilingi penginapan di bagian depan dan samping. Kolam berbentuk U tadi dipisah menjadi dua dengan membuat batas tepat di tengahnya sehingga terbentuklah dua kolam berbentuk L. Kolam sebelah kanan diisi hiu putih dan seekor barakuda sedangkan kolam sebelah kiri diisi hiu hitam yang tidak begitu besar, yang paling besar hanya seukuran paha orang dewasa.

“Itu kalau mau mandi bareng hiu juga boleh. Tapi kolam yang sebelah sana”, Pak Moko menawari Mardi sambil menunjuk kolam di sebelah kiri yang berisi lebih dari 10 ekor hiu hitam dengan berbagai ukuran dengan kombinasi ikan-ikan lain yang saya tidak tahu namanya.
“Boleh Pak?”, Mardi yang dari kemarin sudah ingin mandi air laut bersemangat.
“Iya boleh asal jangan telanjang aja”, kata Pak Moko.

Mardi bersiap-siap menceburkan diri ke kolam.

“Tapi kalau ada apa-apa saya nggak tanggung jawab”, lanjut Pak Moko.

Mardi mengurungkan niatnya.

Dasar Mardi yang kelewat hiperaktif, perlahan-lahan mulai dari ujung jari lanjut ke pergelangan tangan sampai akhirnya Mardi merelakan tubuhnya masuk ke kolam hiu.

“Kapan lagi bisa berenang bareng hiu. Ayo sini, nyebur aja. Tu hiunya nggak nggigit”, ajak Mardi.

Mardi yang mulai asyik berendam bersama hiu-hiu itu kini mulai mengejar hiu untuk diajak berfoto bersama, bukan hiu yang mengejarnya. Tapi keberuntungan tidak ada di pihaknya, hiu-hiu justru menjauhinya.

“Saya sih nggak takut hiu, cuma ikan segede kaki aja. Saya itu cuma takut tenggelam. Biar mati tenggelam bisa dikategorikan mati syahid kalau bisa saya nggak mau mati tenggelam. Apalagi mati konyol di kolam ini. Coba kalau ada pelampung, saya berani nyebur juga”, saya mengelak.

Tapi toh akhirnya saya tetap masuk juga ke kolam hiu itu, tapi karena takut tenggelam saya cuma jalan-jalan di kolam bagian pinggir. Tidak berani ke tengah. Lagipula lebih mudah untuk menyelamatkan diri jika si hiu kalap menyerang saya.

Bosan mengejar hiu, kami ganti bermain dengan tukik-tukik penyu sisik yang ditangkarkan di penginapan ini. Tukik yang berhasil ditetaskan di Tempat Penetasan Semi Alami Penyu di Pulau Menjangan Besar dibawa ke penginapan ini. Tukik-tukik ini sengaja ditangkarkan karena dalam waktu dekat ini akan ada kunjungan dari Menteri Kehutanan dan pelepasan tukik akan menjadi salah satu agenda kunjungannya.

Menu makan siang kami adalah ikan hasil gorengan Mardi dan Rosi yang ternyata lumayan nikmat. Entah memang nikmat atau karena tidak ada makanan lain.

Jam tiga sore Pak Moko mengajak kami ke Tempat Penetasan Semi Alami Penyu di Pulau Menjangan Besar. Katanya di sana tempatnya nyaman untuk membangun tenda. Kami mesti berjalan satu kilometer untuk sampai ke Tempat Penetasan Semi Alami Penyu itu dengan menyisir pantai yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Beginilah pantai seharusnya.

Pulau Menjangan Besar sama sekali tidak berpenghuni. Jangan berharap warung makan atau tukang bakso di sini, sia-sia. Memang ada Penginapan Hiu Kencana dan sebuah keramba yang berada tidak jauh dari Pulau Menjangan Besar, tapi penghuninya memilih untuk tinggal di bangunan yang dibangun di atas laut itu.

Di Tempat Penetasan Semi Alami Penyu terdapat sebuah bangunan panggung yang dibuat dari kayu beratapkan daun kelapa. Di sampingnya terdapat dua bangunan dari kayu yang ditutup dengan jaring di keempat sisinya. Atapnya dari daun kelapa juga. Itulah tempat penetasan telur penyu. Agak menjorok ke laut terdapat sebuah kandang berbentuk persegi yang dibuat dari kawat. Di kandang itu terdapat seekor elang laut yang ditemukan oleh pegawai PHPA saat masih kecil. Sarangnya jatuh dan rusak.

Di sini sudah menunggu beberapa pegawai PHPA dan beberapa mahasiwa PKL yang bersiap menurunkan bata dari kapal. Mengangkat bata lagi?

Olaharaga sore kami sama seperti tadi pagi. Mengangkat bata, namun kali ini lengkap dengan mengangkat beberapa sak semen. Imbalannya, beberapa kelapa muda yang dipetik langsung dari pohonnya serta sebungkus wafer.

Setelah semua bahan bangunan selesai dipindahkan dari kapal ke bangunan panggung tadi petugas PHPA dan mahasiswa PKL kembali ke Pulau Karimun.

“Hati-hati… Banyak nyamuk”, begitu pesan mereka.
“Oh ya, kalau mau kelapa muda ambil saja. Tapi jangan lupa kelapa tuanya tolong dipetik juga. Ini parangnya dibawa saja”, kata Pak Moko sambil menyerahkan parang.
“Siap Pak!”.

Begitu mereka kembali ke kapal dan muai menuju Pulau Karimun, Mardi dan Rosi mulai membangun tenda. Tidak sampai 10 menit, tenda lafuma kuning sudah berdiri dan siap untuk ditinggali untuk semalam.

“Apa acara kita sore ini”, tanya Rosi.
“Bagaimana kalau memancing saja. Itu di sana saja”, jawab saya sambil menunjuk ke arah dermaga kecil yang sepertinya sudah lama tidak dipakai.
“Mancing di sana mau dapet apa? Mending ke keramba aja, lebih ke tengah laut, sekalian saya mau liat ikan di sana. Katanya ada yang besar sekali”, ajak Mardi.
“Umpannya?”, tanya saya.
“Nanti semoga boleh minta di sana”, jawab Mardi enteng.

Kami membawa pancing kami ke keramba apung yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat kami membangun tenda. Mirip dengan Penginapan Hiu Kencana, untuk menuju keramba ini harus melalui sebuah titian dari kayu. Titiannya tidak lebih baik dari titian yang ada di Penginapan Hiu Kencana. Kayu-kayunya sudah lapuk dimakan usia. Di beberapa titik bahkan kayunya sudah sampai melengkung saat diinjak.

Sampai di keramba, sambutan si mas penunggu keramba sangat ramah. Kami boleh mengambil umpan untuk memancing sesuka kami.

Keramba apung milik Pemerintah Jepara ini berisi ikan kerapu. Ada puluhan kolam yang ada di keramba ini, hampir 90%-nya digunakan untuk memelihara ikan kerapu macan dan kerapu tikus dengan berbagai macam ukuran. Makanan mahal, konsumsi orang-orang kaya, produk ekspor. Untuk kerapu tikus konon kabarnya per kilo bisa mencapai harga 300ribuan. Itu dengan syarat ikannya masih hidup saat dipilih oleh konsumen. Jika ikan kerapu sudah mati harganya bisa anjlok.

Saat adzan Maghrib mulai terdengar dari Pulau Karimun saya harus kembali ke tenda karena tidak membawa sarung, begitu pula Rosi yang perlengkapan sholatnya ditinggal di tenda.

“Balik dulu ke tenda, mau sholat. Nanti habis Isya saya kembali ke sini”, pamit saya ke Mardi.

Saya dan Rosi segera beranjak kembali ke tenda kami.

“Srek.. Srek..”, saya mendengar suara aneh saat akan kembali ke keramba.
“Ah, paling hanya hewan liar”, begitu pikir saya.

Empat jam kami menghabiskan waktu dengan memegang joran pancing, hasilnya kami mendapat banyak pelajaran tentang kesabaran dan keikhlasan. Sabar menunggu pancing yang tidak lekas disambar ikan dan ikhlas merelakan umpan kami yang berupa ikan segar dimakan ikan-ikan lain tanpa terjebak memakan pancingnya. Tidak ada seekorpun yang tertipu menyambar umpan kami.

Kalau ada pemancing yang tidak dapat ikan tapi justru kehilangan ikan, itulah kami. Kehilangan ikan yang digunakan sebagai umpan. Mungkin kalau umpan ikan tadi dimasak justru lebih bermanfaat bagi perut kami.

Sambil memancing kami mendengarkan cerita salah seorang mas penunggu keramba asal Medan mengenai hidupnya yang sering berkeliling Indonesia. Dia cepat akrab dengan Mardi karena berasal dari satu daerah. Kerjanya mencari ikan kerapu. Jika dia menemukan ikan kerapu yang layak untuk dibeli maka ia akan memberi kabar ke kantornya di Bali yang akan mengirimkan kapal untuk mengambil ikan kerapu itu. Kerjanya mirip dengan mata-mata. Dia menjelaskan bagaimana sulitnya membawa ikan kerapu yang harus dibawa hidup-hidup ke konsumennya dengan cara membuat kapal khusus yang berlubang di bagian lambungnya untuk menjamin pasokan oksigen bagi ikan-ikan kerapu.

Saya paling ingat dengan perkataan si Mas asal Medan (saya lupa tanya namanya).

“Awalnya saya suka pekerjaan ini, tiap waktu bisa berkeliling Indonesia melihat tempat-tempat baru,mendapat pengalaman baru. Seperti hobi saya yang suka jalan-jalan. Tapi kalau seumur hidup seperti ini juga tidak enak, saya kan butuh menetap juga. Karimunjawa ini salah satu kepulauan yang nyaman. Saya sudah di sini dari tahun 2002. Saya betah di sini. Tapi kalau ada satu Kepulauan yang paling saya sukai, Kepulauan Togian-lah tempatnya”.

Saya sadar ternyata hobi dan pekerjaan memang tidak bisa disatukan. Hobi adalah kesenangan dan pekerjaan adalah tuntutan. Suatu kesenangan tidak bisa dibarengi dengan suatu tuntutan.

Jam sembilan malam kami kembali ke tenda begitu melihat Rosi mulai sering menguap. Bahkan sempat beberapa kali nampak tertidur di tengah bangunan keramba. Kalau sampai nyemplung di laut bisa gawat. Kami berpamitan kepada mas-mas penunggu keramba dan kembali ke tenda kami.

Melihat Mancing Mania dimana pemancing begitu mudahnya mendapat ikan membuat saya ingin memancing di lautan lepas, tapi begitu malam ini berlalu saya memutuskan untuk pensiun menjadi pemancing, kecuali mancing di pemancingan. Kalau tidak dapat ikan bisa menjaring. Dijamin tidak akan kelaparan.

Sebelum tidur, kami menghabiskan sisa nasi dan ikan goreng yang belum termakan siang tadi dan memasak air untuk membuat minuman hangat. Saya mencari kayu dan ranting untuk membuat api unggun sampai ke semak-semak. Sendiri. Mardi dan Rosi memilih tinggal di tenda. Jam kerja saya dengan mereka berdua memang beda, jika mereka aktif di siang hari maka saya lebih aktif di malam hari, nocturnal. Suatu simbiosis mutualisme.

Malam semakin larut, api unggun yang saya buat cukup membantu mengurangi populasi nyamuk yang enggan bertamu ke tenda kami.

Saya biarkan api unggun tetap menyala meskipun tinggal bara apinya saja. Saya masuk ke dalam tenda.

“Srek.. Srek..”, saya mendengar seperti langkah kaki di luar, seperti yang sore tadi saya dengar.
.
Saya tidak peduli.

Malam semakin larut dan suara-suara aneh itu masih terdengar di luar.

Saya sempat terbangun saat Mardi mengigau. Kesannya seperti ketakutan dan meminta tolong. Saya sudah was-was, biasanya kalau Mardi bertingkah aneh seperti ini pasti ada sesuatu yang terjadi yang berkaitan dengan hal-hal berbau mistis.

Bulu kuduk saya berdiri. Merinding.

Bersambung ke KJ 4.

Advertisements

Comments»

1. sita - April 20, 2009

hahahah…hiu ne do wedi karo mardi…
mesakke bgt to si mardi…hehehe :p

2. unda - April 20, 2009

Hush…
Oh… Hidup ini indah…
Hei penulis, you miss one thing. Bunyi srek2ny sepanjang malam, bahkan saat mardi terbangun dia masih mendengar bunyi itu. Itu menurut pengakuan mardi.

Kan ini bukan reportase, tapi lebih menyerupai cerita fiksi yang dibumbui oleh sedikit garam, merica dan gula. Kalau rasanya jadi aneh ya karena beda takaran bumbunya. 😀

3. unda - April 20, 2009

Bukan kabur sit, tp sembunyi… Bukan takut, hany malu….
Menurut pengakuan mardi, sebenarny dia pengen difoto berenang dengan hiu. Tapi karena mungkin wajahny y imut membuat semua hiu jd malu dan sembunyi. Ga jd deh foto2ny…

4. sangprabo - April 21, 2009

W,kalo mau hemat, pake Hercules. Syaratnya cm knal dgn orng TNI,trus KTP ajah. Resikony pling pswtny muter k mana dulu gtu. Misal kalo mau k tempatku,bs dr Malang,ntar pling ke Padang dulu. Tp dijamin gratis (atau stidaknya murah).

Bwa accu aja,bwt nyetrum. Dapetnya bnyak,tp ngerusak lingkungan (katanya). Ntar qt mancing di great BR d australia aja. Hwehehe..

Itu kerir 60 liter hebat juga ya.. Jd pngen bli. Eh,ni kok perasaan lama amat crita brsmbungnya hbis? 1 posting 2 hari,kalian d sna 5 hr kan?

Ya itu kalau muter, kalau kecelakaan kayak di Husein Sastranegara, Mimika, bisa gawat. Mending naik kupu saja.

Di sana banyak diesel buat PLTD, bisa dipinjam kok. Tenaganya juga dijamin lebih besar. Untuk masalah kerir, itu salah satu perlengkapan wajib bagi saya jika bepergian. Masak mau bawa karung? Disangka pemulung nanti.

Iya, saya juga sudah bosan menulis tentang cerita ini. Semoga selesai secepatnya. Menurut perhitungan quick count harusnya bisa selesai dalam enam seri. Mau ganti topik juga.

5. Aday - June 4, 2009

mocone dilanjut sesok weh,,ngantuk…
menarik je critane

Silakan.. Terimakasih

6. liel - June 16, 2010

halo salam kenal,
mau tanya dong. apakah penginapan hiu ini recommended?
maksudnya, apakah kondisinya lumayan terawat dan bersih? berencana menginap di sana tapi banyak yang bilang kalau kondisinya kurang oke. makasih.

Saya sih pas itu ndak pernah nginep di penginapan. Tapi kalau saya boleh menyarankan, pilih penginapan yang ada di tengah laut sahaja. Kalau penginapan hiu kencana ini adanya di tepian, dekat daratan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: