jump to navigation

Rencana (KJ 5) April 23, 2009

Posted by superwid in Jalan.
trackback

Sebelumnya

Sesi snorkeling sore itu diawali oleh saya dan Mardi. Dengan pelampung yang memastikan keselamatan saya selama di laut, saya mulai bergerak ke tengah lautan dengan malu-malu kucing. Kaki katak yang saya pakai justru menyulitkan pergerakan saya di air. Sebenarnya bukan menyulitkan, tapi karena memang baru pertama kali itu saya ber-snorkeling ria dan tidak ada pemandu maka teknik dan gaya yang digunakan adalah teknik seadanya dan gaya semaunya. Kaki katak saya tinggal di tepi pantai.

Saya dan Mardi mulai berenang agak ke tengah karena di tepian tidak ada karang sama sekali. Kalau toh ada hanya satu atau dua gugusan. Tidak seperti yang ada di tipi-tipi itu. Ikan-ikan karang memang mulai terlihat mulai dari tepian, tapi jumlahnya sedikit. Baru agak ke tengah gugusan terumbu karang mulai nampak memadati dasar laut. Sebenarnya kami bukan berenang hanya mengapung dan mengerakkan tangan mengikuti kata hati. Efek jaket pelampung yang membuat malas berenang.

Baru sebentar saja penyakit Mardi mulai kambuh, mabuk laut. Alasannya karena kebanyakan makan kelapa muda. Tapi memang dasarnya dia tidak betah lama-lama di laut. Badannya bisa mengalami korosi akut.

Gantian Rosi yang menemani saya snorkeling. Saya membutuhkan mereka karena kalau terjadi apa-apa dengan saya yang tidak bisa berenang ini, mereka yang bisa berenang itu pasti akan menolong saya. Lagipula kalau tiba-tiba ada hiu yang nyasar semoga dia memilih Mardi atau Rosi yang badannya lebih berisi daripada saya yang kurus ini.

Bersama Rosi saya bergerak jauh lebih ke tengah dan pemandangan bawah lautnya sungguh menakjubkan. Terutama di penghabisan perairan yang dangkal sebelum memasuki perairan yang lebih dalam.

Ini pertama kalinya saya snorkeling dan hanya satu kata yang bisa saya katakan, wuahhhhhhh….

Lain kali saya mesti bisa snorkeling lagi, diving kalau perlu. Meskipun konsekuensinya saya harus bisa berenang dan membayar biaya lisensi diving yang setinggi langit itu. Pemandangan bawah laut menyajikan sensasi yang berbeda dengan pemandangan di puncak gunung, di tengah hutan maupun di perkotaan. Semuanya memiliki keunikan dan keindahan tersendiri, mungkin karena baru pertama kali ini saya melihat dunia bawah laut secara langsung, saya sangat mengagumi ciptaan Tuhan ini.

Hanya sampai jam setengah enam sore sesi snorkeling itu berlangsung karena sinar matahari mulai redup. Pemandangan indah di bawah laut mulai tidak jelas terlihat. Selanjutnya adalah sesi foto-foto di sore hari dan akhirnya mandi di kamar mandi alam di dekat rumah “para pemetik kelapa”.

Besok pagi saya akan snorkeling lagi, biar kulit jadi hitam.

Mardi yang sudah menyerah snorkeling rupanya sudah mandi duluan ketika saya dan Rosi sedang asyik ber-snorkeling hampir 500 meter dari bibir pantai tadi.

“Puas mandi telanjang. Tidak ada yang mengintip”, kata Mardi.

Kalau mandi memang telanjang, kalau pakai baju namanya berenang. Acara mandi sore itu saya tidak mau telanjang seperti Mardi. Kalau ada Jaka Tarub yang mengambil pakaian saya kan bisa panjang urusannya. Dijadikan istri Joko Tarub? Memangnya saya homo.

Giliran Rosi yang mau mandi semuanya heboh. Mulai dari cari pinjaman jarik ke tempat ibu pemetik kelapa. Suasana yang mulai gelap hingga “kesulitannya” mengambil air dari sumur. Untuk mengambil air dari sumur memang hanya menggunakan sebuah ember yang dipasangi tali di gagangnya. Kemudian ember dilemparkan ke dalam sumur dan begitu air sudah memenuhi ember tinggal diangkat. Bukan suatu hal yang sulit dan merepotkan. Apalagi kedalaman sumur tidak sampai dua meter.

Padahal sebelumnya ketika saya selesai mandi saya sempat mengambilkan air dari sumur dan ditampung dalam sebuah ember besar, seukuran ember yang sering digunakan untuk memandikan bayi. Tapi dasar perempuan, airnya tidak cukup. Belum keramas lah, belum ini lah, belum itu lah.

“Jangan mengintip”, Rosi mengingatkan saya.

Saya tidak ada niat sama sekali. Kalau boleh memilih, saya memilih menunggu di rumah “pemetik kelapa” ketimbang menunggui orang mandi. Tanpa kaos pula, kebetulan pakaian saya yang basah sekalian saya bilas saat mandi tadi. Semuanya basah. Saya hanya mengenakan celana 3/4 dengan tubuh yang terbungkus sebuah handuk kecil yang niscaya tidak akan mampu menutup aurat saya jika saya tidak memakai celana 3/4 tadi. Angin malam yang menerpa sekaligus serangan nyamuk menghampiri bagian badan saya yang tidak tertutup selembar kain pun.

Setelah semuanya selesai mandi, kami berpamitan kepada semua penghuni rumah untuk kembali ke tenda.

Tidur kami malam itu cukup nyenyak, tidak ada gangguan makhluk apapun.

Snorkeling sesi pagi. Saya mengajak Mardi ke titik dimana gugusan terumbu karang yang indah sempat saya lihat kemarin sore. Namun belum sampai ke sana saya tergoda untuk memutari Pulau Menjangan Kecil. Bersama Mardi tentunya. Dari tempat kami membangun tenda kami bergerak menuju barat kemudian ke arah utara kemudian berbelok ke timur hingga sampai ke sebelah utara Pulau Menjangan Kecil. Gugusan terrumbu karangnya tidak begitu bagus meskipun ikan karangnya banyak bersliweran sepanjang kami bersnorkeling. Duri-duri bulu babi juga siap menusuk kulit kami.

“Kita ke sana saja, ke pulau karang di sana”, saya menunjuk sebuah daratan yang tersembul dari bawah laut yang kemarin sore tidak kelihatan.

Setiap pagi hingga menjelang siang, air laut memang surut sehingga banyak karang yang timbul di tengah laut. Saya dan Mardi memutuskan bergerak ke titik itu.

Tepat di sebelah utara Pulau Menjangan Kecil, penyakit Mardi kambuh lagi dan dia benar-benar memutuskan berhenti snorkeling di Pulau Menjangan Kecil. Dia segera menepi ke pantai dan memilih berjalan menysuri pantai untuk kembali ke tenda.

Saya snorkeling sendirian. Kurang menyenangkan, di samping tidak ada teman juga karena gugusan terumbu karangnya tidak seindah di titik yang saya temukan sore kemarin. Saya mulai agak ke tengah tapi begitu arus mulai terasa kencang saya kembali menepi. Sungguh kaki saya waktu itu sudah tidak kuat membawa badan ini ke tepian.

Saya menyusul Mardi kembali ke tenda melalui jalan yang sama yang dilalui Mardi. Jika harus berenang melawan arus saya tidak kuat.

Di tenda saya menyempatkan diri untuk sarapan sepiring mi, memang adanya cuma itu. Kemudian saya melanjutkan snorkeling pagi sesi ke dua. Sendiri. Mardi, yang karena penyakit mabuk lautnya, benar-benar tidak mau snorkeling lagi. Lagipula dia sudah mandi. Rosi setali tiga uang dengan Mardi. Dengan alasan bajunya yang semakin menipis menolak ajakan saya untuk menemani saya snorkeling. Segala bujuk rayu saya tidak berhasil. Mereka lebih memilih berjemur di tepian pantai, semacam orang bule saja mereka. Sok!

Alhasil dengan semangat 45 saya kembali snorkeling. Kali ini lengkap dengan menggunakan kaki katak dan menuju ke titik yang berbeda. Jika sebelumnya saya bergerak ke arah utara maka kini saya bergerak ke arah selatan dengan jarak yang semakin jauh dari bibir pantai.

Pemandangan bawah lautnya jauh lebih indah, lebih indah daripada titik yang saya temukan sore kemarin. Dengan bantuan kaki katak yang sangat membantu pergerakan saya di air, saya menjelajahi bagian barat daya Pulau Menjangan Kecil yang terumbu karangnya sangat bervariasi. Begitu pula jenis ikannya yang terdiri dari berbagai macam jenis dan ukuran.

Puas snorkeling, saya kembali ke tenda. Mengisi bahan bakar. Air kelapa muda menjadi tenaga saya berikutnya. Sebenarnya saya sudah lelah snorkeling, tapi begitu melihat matahari muncul dari balik awan saya memutuskan ada sesi ke tiga di tempat yang sama, arah barat daya pulau.

Pemandangan bawah laut kali ini sungguh menakjubkan. Ditambah dengan sinar matahari yang menembus sampai ke dasar laut, keindahan terumbu karang di Menjangan Kecil makin menjadi-jadi. Kombinasi warnanya sangat beragam lengkap dengan anemon, tiram, kerang, bulu babi dan ikan-ikan karang yang tidak ada habisnya. Saya tidak bisa mendefinisikannya dengan sempurna, lebih baik nikmati saja langsung keindahannya di Karimunjawa.

Jam setengah 12 siang, saya resmi mengakhiri sesi snorkeling di Pulau Menjangan Kecil dengan satu kesimpulan, menakjubkan. Kulit yang sudah hitam dan lecet-lecet di beebrapa bagian tidak saya pedulikan. Saya puas ke Karimunjawa! Lain kali saya ingin kembali.

Di tempat kami membuat tenda, bapak-ibu pengangkut kelapa ke Pulau Karimun sempat singgah sejenak untuk mengangkut kelapa.

“Kalau mau ikut ke Pulau Karimun ikut kapal ini saja”, tawar si ibu.
“Nggak usah Bu, sudah janjian dengan Pak Moko”, Mardi menolak dengan sopan.

Tengah hari kami mengepak tenda dan barang-barang lain ke kerir. Sampah-sampah dimasukkan ke plastik untuk dijadikan oleh-oleh di Pulau Karimun. Setelah semuanya beres kami kembali ke rumah “para pemetik kelapa” yang sudah sepi. Keempat penghuninya sudah kembali ke Pulau Karimun setelah selesai memanen seluruh pohon kelapa di Pulau Menjangan Kecil ini.

Sudah jam dua siang, Pak Moko belum menjemput kami. Khawatir tidak dijemput kami mengirimkan SMS kepada Pak Moko untuk memastikan dia ingat meninggalkan tiga orang baik di Menjanagn Kecil.

“Saya lagi nganter tamu. Nanti saya jemput”, begitu pesan Pak Moko yang dikirim via SMS.

Langit mulai nampak mendung. Petir menyambar dan hujan mulai turun dengan derasnya. Makanan sudah habis, air minum tidak tersisa. Tinggal kelapa muda yang harus dipetik dari pohonnya. Memangnya siapa yang mau minum air kelapa lagi? Saya sudah bosan, begitu pula Mardi yang tidak mau memakan daging kelapa muda lagi. Ada pohon pisang, sayangnya belum berbuah. Sekarang yang kami butuhkan adalah makanan layak yang dihidangkan di Warung Bu Ester lengkap dengan segelas teh manis. Saya dan Mardi membanyangkan sepiring nasi hangat lengkap dengan ikan goreng sedangkan Rosi lebih hemat, hanya sepiring nasi dengan telur goreng yang di Warung Burjo dihargai 3500 rupiah.

Sudah mirip seperti imigran gelap yang terdampar di Pulau Christmas ketika Pak Moko menjemput kami. Saat itu sudah sore, jam lima.

“Rombongan Jakarta tidak jadi datang ke Karimun. Mereka ketinggalan kapal. Jadi besok tidak jadi ke Pulau Tengahnya”, Pak Moko menjelaskan situasi.
“Oh ya nggak apa-apa Pak. Besok kami mau keliling Pulau Karimun dan Kemojan naik motor saja”, balas Mardi.

Kami kembali ke rencana awal, hari Minggu digunakan untuk menjelajahi daratan Pulau Karimun dan Pulau Kemojan. Mardi kebelet ingin melihat Legon Lele. Pantai yang kata temannya yang pernah KKN di sini termasuk pantai yang paling indah.

Dalam perjalanan menuju Pulau Karimun kami membulatkan tekad, menyamakan visi dan misi, makan nasi yang layak dan banyak di Warung Bu Ester. Hujan gerimis menemani kami selama perjalanan. Di dalam kapal yang sama kami bertemu dengan Mas Alex dan dua orang turis yang nampak baru saja selesai snorkeling di Kepulauan Karimunjawa juga. Katanya mereka baru dari Ujung Gelam dan Menjangan Kecil.

Sampai di Pulau Karimun matahari sudah terbenam dan hari sudah mulai gelap, saya, Mardi dan Rosi segera menuju Kantor Dermaga. Setelah meletakkan barang bawaan kami di kamar belakang dan mandi secukupnya, segera kami menuju Warung Bu Ester untuk memuaskan cacing-cacing di perut kami, memberikan makanan yang lebih bergizi daripada mi.

“Nah itu motor kamu kok di luar?”, tanya saya pada Mardi.
“Tadi habis dipake sama kantor kelihatannya”, jawab Mardi.
“Sukurin, habis bensin motor kamu”, ejek saya.
“Oh iya ya”.

Saya mengambil motor saya yang diletakkan di garasi.

“Bujubuneng, perasaan kemaren bensinnya masih enam bar. Kok sekarang tinggal dua bar. Spionnya kok jadi patah leher gini. Wah, sial. Berarti kemaren motor saya yang dipake, bukan motor Mardi. Kebetulan saja hari ini motor Mardi yang dipake. Sial.. Sial..”, batin saya dalam hati.

Gantian Mardi yang menghina-dina saya. Sungguh nista perbuatannya.

Itu konsekuensi yang harus ditanggung karena numpang menginap di kantor dermaga. Biarlah. Kami anggap ini sebagai balas budi karena kami diijinkan menginap dan makan gratis di kantor.

Di Warung Bu Ester kami juga bertemu Pak Moko untuk menyelesaikan masalah pembayaran sewa kapal, sewa perlengkapan snorkeling dan sewa pelampung. Semuanya menghabiskan biaya 200 ribu dengan rincian 125 ribu untuk sewa kapal, 50 ribu untuk sewa perlengkapan snorkeling dan 25 ribu untuk biaya sewa pelampung. Urusan kami dengan Pak Moko selesai sampai di situ karena keesokan harinya kami tidak jadi ke Pulau Tengah.

Sepulang menyelesaikan urusan dengan Pak Moko kami kembali ke kantor dermaga.

“Itu ada makan malam, dimakan dulu”, Pak Sis, koki kantor dermaga menawari kami.

Baru saja saya dan Mardi makan malam di Warung Bu Ester. Rosi yang tidak makan, membungkus makan malamnya untuk dimakan di kantor dermaga dan malam ini Pak Sis menawari kami untuk makan malam. Mau menolak kok tidak enak, lagipula Pak Yusuf juga sedikit memaksa kami untuk makan malam. Gratisan sih.

Alhasil dengan mengalokasikan sebagian lambung kami yang sudah terisi nasi di Warung Bu Ester, saya dan Mardi memasukkan sesuap demi sesuap nasi melalui mulut kami sedangkan Rosi memakan makan malam yang tadi dibeli di Warung Bu Ester yang belum sempat dimakannya.

“Urusan kita belum selesai, parang yang kamu bawa belum dikembalikan”, begitu SMS Pak Moko.
“Iya Pak, besok kami titipkan di Warung Bu Ester”, begitu jawaban SMS kami.

Urusan dengan Pak Moko, selesai! Kasus ditutup.

Malam itu kami tidur dengan perut kekenyangan.

“Bangun-bangun, jadi muter-muter Karimun?”, tanya Mardi.
“Iye, bentar. Silakan yang mau mandi, mandi dulu. Saya mengalah”, kilah saya.

Begitu Rosi dan Mardi selesai mandi, ganti saya ditodong untuk lekas mandi. Dengan berat hati saya melangkahkan kaki ke kamar mandi.

Kembali dari kamar mandi, saya mendapati Mardi dan Rosi sedang ngobrol dengan beberapa pegawai kantor dermaga. Mereka membicarakan tentang “penghuni” kantor dermaga ini. Katanya di kamar belakang tempat kami menginap ini ada penunggunya. Di sebelah luar kamar sering ada suara tangisan. Di kamar mandi juga ada yang sering menganggu.

Pantas mereka menempatkan kami di kamar tidak berpenghuni ini. Sekarang saya tau alasannya mereka tidak menggunakan kamar ini sebagai mess.

Pak Sis menawari kami sarapan lagi. Gratis seperti biasanya.

Ketika akan berangkat berkeliling Pulau Karimun.

“Loh, motor saya tidak ada!”, saya kaget.

Bersambung ke KJ 6.

Advertisements

Comments»

1. Aday - June 6, 2009

hahahaha…
dr KJ 4 aku sudah curiga dgn “kamar belakang”…
pasti berhantu,,,aah..gampang ditebak..
hehe..
ngmg2, kalian2 pas awal2 tidur di kantor dermaga apa ya gak curiga kamarnya berhantu?
atau pura2 tidak mau tahu alasan kenapa kamarnya gk dipakai biar tentram?
hihihihi…

Sebelumnya disuruh milih, tidur di kantor atau di kamar belakang. Kalau di kamar belakang ada fasilitas tempat tidurnya. Lagipula namanya juga numpang..

2. Aday - June 6, 2009

siji meneh pertanyaanku, opo yo kata2 sms seko pak Moko ki tenanan muni, “Urusan kita belum selesai, parang yang kamu bawa belum dikembalikan”

Dia tidak berkata seperti itu, tapi menulis seperti itu.

Aday - June 13, 2009

eh iya ya..nulis kamsud saya..
wedyaaaan,, to the point tenan sms e pak Moko…

Memang aneh orang-orang di dunia ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: