jump to navigation

45 Kilometer (KJ 6) June 1, 2009

Posted by superwid in Jalan.
trackback

Sebelumnya

Jangan membandingkan. Demi Tuhan, jangan bandingkan segalanya: harga, standar kebersihan, kualitas hidup dan transportasi! Anda melakukan perjalanan bukan untuk menunjukkan bahwa Anda hidup lebih baik (atau lebih buruk) dari orang lain. Tujuan Anda adalah melihat bagaimana orang di belahan dunia lain hidup, apa yang bisa mereka ajarkan kepada Anda, bagaimana mereka menghadapi kesehariannya dan juga hal yang tidak biasa.

“Tadi harusnya kalian perginya lebih pagi, jadi motornya belum dipakai Pak Yusuf. Kalau sudah dipakai Pak Yusuf saya juga nggak tau kapan kembalinya. Tapi biasanya sebelum tengah hari Pak Yusuf sudah kembali”, kata Pak Sis.

Pagi itu motor saya mendapatkan kleberuntungan dipakai Pak Yusuf, sang Kepala Syahbandar entah ke mana. Minta ijin pada pemiliknya pun tidak. Begitulah nasib motor di Pulau Karimun. Kadang motor yang terparkir di depan rumah dengan kunci tergantung bisa hilang entah ke mana, tapi jangan khawatir, pasti kembali dalam keadaan utuh bodinya dan berkurang bensinnya. Lagipula siapa yang mau mencuri di pulau yang jauh dari akses sindikat pencurian sepeda motor. Satu-satunya akses untuk menjual sepeda motor ke sindikat di Pulau Jawa hanyalah Kapal Muria yang berangkat seminggu dua kali.

Belum jelas pula kapan Pak Yusuf akan kembali. Keadaan ini tentu saja membuat rencana kami pagi itu untuk berkeliling Pulau Karimun dan Pulau Kemujan terancam batal. Apalagi cuaca di Kepulauan Karimun Jawa sulit diprediksi. Kadang saat pagi cerah tiba-tiba siangnya hujan sudah turun dengan derasnya.

“Yah ini kalau nggak jadi gimana?”, tanya Mardi.
“Ya sudah, kita tidur saja. Lumayan, menambah massa perut. Atau mungkin kita tidak direstui berangkat pagi, Tuhan tidak berkenan membiarkan saya beraktivitas saat hari masih terlalu pagi”, saya menjawab sekenanya.

Mardi dan Rosi nampak kecewa. Saya, biasa saja. Masih banyak kegiatan yang dilakukan jika tidak jadi berkeliling, makan dan tidur adalah prioritas utama. Kami menunggu sembari bermalas-malasan di kamar belakang.

Terdengar suara motor dari luar.

“Cek!”, kata Rosi.
“Bukan”, jawab Mardi yang mendongakkan kepalanya dari balik pintu untuk mengamati keadaan di luar. Barangkali Pak Yusuf telah kembali.

Baru jam 11 siang Pak Yusuf kembali dari perantauannya. Entah dari mana beliau bepergian, yang pasti bensin di motor saya tinggal dua bar dari kapasitas maskimal enam bar. Spion kanan yang sebelumnya sudah bermasalah kini makin bermasalah. Patah leher. Kalau mau si spion bekerja dengan semestinya, tangan kiri mesti menahan spion agar bisa memantulkan bayangan yang diinginkan.

Padahal motor Mardi baik-baik saja.

“Pak, motornya mau kami pakai ya”, saya meminta ijin pada Pak Yusuf. Padahal kan saya yang punya motor.
“Oh, mau dipakai to. Silakan pakai aja. Maaf ya, ya maklum di sini cuma ada satu motor dinas. Jadi terpaksa pinjam motor kalian”, jawab Pak Yusuf tanpa menunjukkan rasa bersalahnya.

Setelah membeli bensin dan membungkus makan siang di Warung Bu Ester kami berangkat ke tujuan awal kami. Legon Lele. Pantai yang kata teman Mardi cukup bagus untuk disinggahi.

Setengah jam menyisir jalanan aspal dan conblok dengan medan naik turun dan berkelok-kelok yang membelah hutan di pesisir timur Pulau Karimun membawa kami ke sebuah teluk yang tidak begitu besar dengan pasir putih yang membentang sepanjang pantai. 50 meter dari bibir pantai beratus-ratus pohon kelapa nampak tumbuh terawat. Itulah Pantai Legon Lele yang menghadap ke arah timur, ke lautan lepas Laut Jawa. Di sini saya, Mardi dan Rosi menyantap makan siang kami. Seperti biasa, nasi sayur dengan lauk ikan laut.

Jalanan conblok berakhir di Pantai Legon Lele. Berikutnya jalan hanya berupa tanah pasir berumput yang menembus rimbunnya pohon kelapa ke arah barat kemudian berbelok ke arah utara menuju pemukiman penduduk yang tidak bisa dibilang sebagai kampung karena hanya ada beberapa bangunan yang berdiri. Tidak banyak orang yang bisa dilihat di sini. kata seorang penduduk setempat, sebagain besar penduduk usia muda lebih memilih merantau ke kota sehingga hanya tersisa penduduk yang sudah berusia senja. Sebagian besar tanah di kawasan ini berupa daerah persawahan yang terbentang luas. Kawasan ini disebut dengan Kampung Legon Lele. Dari kampung inilah pantai yang tadi sempat kami singgahi mendapatkan namanya.

Tidak berapa lama kami segra meninggalkan kawasan Legon Lele ini untuk melanjutkan perjalanan kami ke Pulau Kemujan di kawasan utara Kepulauan Karimun Jawa.

Ada satu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari jalan-jalan, yaitu makan-makan. Setelah menyantap es dawet sepulang dari Legon Lele, Mardi melanjutkan dengan sepiring pecel tanpa lontong sebagai hidangan penutup makan siang yang dijajakan di dekat pasar. Tidak lupa dua bungkus ketan hitam akan dijadikan makanan penyela jika sewaktu-waktu diperlukan.

Dalam perjalanan menuju Pulau Kemujan nampak sebuah plang, Ujung Gelam 0.5 km.

“Ke sana kita?”, tanya saya pada Mardi.
“Ayoo!”, jawab Mardi semangat.

Di tengah jalan kami bertemu beberapa orang anak kecil yang sedang berkejar-kejaran. Karena nampaknya kami akan ke arah yang sama kami berinisiatif memboncengkan dua orang dari jumlah mereka yang enam orang. Sisanya jalan kaki.

“Mau ke mana?”, tanya saya.
“Mau ke rumah nenek di atas sana. Udah turun di sini aja Mas”, jawab si anak kecil.

Saya dan Mardi menurunkan dua orang anak kecil itu kemudian bertanya kepada mereka dimana Ujung Gelam berada.

“Kalau mau ke sana kita anterin aja”, salah seorang anak menawari.
“Katanya mau ke tempat neneknya?’, tanya saya.
“Nggak apa-apa. Sekalian jalan-jalan”, jawab si anak kecil.

Setelah berdiskusi dengan Mardi dan Rosi kami memutuskan menggunakan jasa guide anak kecil itu. Lagipula kami memang tidak tahu medan yang akan kami lalui.

“Motor gimana?”, tanya saya.
“Tinggal sini aja, katanya udah dekat”, balas Mardi.

Melewati jalanan tanah merah yang menanjak curam, nampak sebuah rumah. Rumah nenek si anak kecil tadi.

“Jalannya masih jauh lho Mas, motornya dibawa aja”, kata seorang ibu yang rumahnya kami lewati.
“Katanya anak-anak udah deket Bu”, saya menjelaskan.
“Anak-anak itu kan memang sudah biasa jalan, jadi kemana-mana dianggapnya deket”, kata si ibu lagi.
“Berarti ambil motor kita”, tanya saya pada Mardi.
“Haduh, saya nggak sanggup kalau kembali lagi ngambil motor. Kamu sama Rosi saja, biar saya nunggu di sini. Kalau kuat nanti saya lanjut jalan kaki sambil nunggu kalian”, jawab Mardi yang nampak mulai kepayahan.

Saya dan Rosi mengambil motor yang sudah kami tinggalkan jauh di belakang.

Setelah berhasil menyusul Mardi dan dua anak kecil tadi kami sampai pada satu persimpangan jalan. Jalan sebelah kiri lebih lebar dengan jalan yang nampak jelas dan ada bekas ban motor. Jalanan sebelah kanan nampak jarang dilalui namun masih bisa disebut sebagai jalan setapak.

“Motor tinggal sini atau kita bawa?”, tanya saya.
“Tinggal sini aja, saya sudah nggak berani bawa motor lewat jalanan seperti itu”, kata Mardi menunjuk jalanan yang memang terlalu beresiko untuk dilewati dengan menggunakan motor.

Motor ditinggal di persimpangan jalan dan kami melanjutkan ke Ujung Gelam dengan jalan kaki mengambil arah kanan, jalan yang lebih kecil.

Beberapa tanjakan dan turunan menjadi menu olahraga siang itu. Untungnya rimbunnya pepohonan melindungi kami dari sengatan matahari yang sedang terik-teriknya. Jam dua siang kami sampai ke sebuah pantai kecil dengan air jernih dan beberapa batu berukuran cukup besar di pantai. Bukan batu karang, tapi lebih mirip batu pegunungan yang permukaannya halus.

“Pantainya bukan yang ini Mas, masih harus ke sana lagi”, kata si anak kecil menunjuk jalan yang menembus rimbunnya hutan pesisir pantai.
“Ke sana?”, tanya saya pada Mardi dan Rosi.
“Udah dah, saya tidak sanggup. Saya nunggu di sini saja”, jawab Mardi yang diamini Rosi.

Karena tidak ingin melewatkan kesempatan ini saya bersama dua anak kecil yang bernama Mardi (untuk lebih gampangnya agar tidak tertukar dengan Mardi teman saya marilah kita sebut si kecil ini dengan sebutan Mardi Kecil) dan Bangun menembus rimbunnya hutan dan semak menuju ke Ujung Gelam yang sebenarnya.

Dasar Mardi dan Rosi yang pemalas, perjalanan yang hanya tiga menit itu seharusnya bisa membawa mereka ke pantai yang lebih indah.

Pantai berpasir putih bersih dengan air laut yang jernih. Pasirnya benar-benar lembut dan tidak ada karang. Kalaupun ada letaknya jauh di tengah. Sesekali ombak berkejaran dari tengah laut. Beberapa pohon kelapa yang tumbuh menjorok ke laut menambah eksotisme pantai yang kata Mardi Kecil tidak kalah indahnya dengan Pantai Kuta. Padahal dia belum pernah ke Kuta, tau dari mana dia tentang Kuta? Kata Mardi Kecil pula banyak bule yang sering berjemur di sini. Hanya saja saat saya sampai di sini tidak ada bule yang sedang berjemur. Coba kalau ada.. Menurut saya, pantai ini memang jauh lebih indah dari Pantai Kuta atau pantai apapun yang pernah saya kunjungi. Tipikal pantai tropis yang belum terjamah oleh tangan-tangan manusia. Konon untuk ke Ujung Gelam ini akses termudah hanya lewat laut dan kami beruntung bertemu dengan dua guide cilik yang bersedia mengantarkan kami ke tempat indah ini.

Mas Suranto saja yang sudah bertahun-tahun bekerja di Kantor Syahbandar belum pernah sampai ke Ujung Gelam melalui jalur darat. Tapi kalau lewat jalur laut dia sudah sering, sampai bosan malahan.

Hanya beberapa saat saya, Mardi Kecil dan Bangun di pantai ini. Setelah mengambil foto kami kembali ke tempat Mardi dan Rosi menunggu.

Dasar Mardi dan Rosi yang tidak melewatkan pemandangan indah yang saya tunjukkan di kamera, mereka ingin ke Ujung Gelam yang sebenarnya itu. Akhirnya kami berlima kembali ke pantai Ujung Gelam.

Puas di Ujung Gelam, kami berlima segera kembali ke rencana awal untuk ke Pulau Kemujan. Setelah meninggalkan Mardi Kecil dan Bangun di rumah neneknya kami melanjutkan perjalanan ke arah utara. Melewati jalan aspal satu-satunya yang menghubungkan Pulau Karimun dan Pulau Kemujan.

Pulau Karimun dan Pulau Kemujan merupakan dua pulau yang berbeda meskipun di antara keduanya bisa ditempuh karena ada sebuah jembatan yang menghubungkan kedua pulau. Jembantannya tidak begitu panjang, mungkin hanya sekitar 15 meter. Hanya saja jembatan itu dibangun di atas sebuah sungai yang menembus hutan bakau, begitu pula jalan aksesnya yang membelah Hutan Mangrove yang merupakan Zona Perlindungan Kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Sebenarnya tidak tepat kalau sungai yang membelah Pulau Karimun dan Pulau Kemujan itu disebut sungai karena sungai ini tidak berhulu dan berhilir, tapi jika disebut selat pun sebenarnya tidak pantas karena terlalu sempit. Ada satu hal yang unik dari sungai ini. Saat siang hari ketika kami lewat sungai ini, alirannya dari timur ke barat. Namun saat sore harinya kami melewati sungai yang sama alirannya berubah dari barat ke timur.

Pulau Kemujan terletak di sebelah utara Pulau Karimun. Di pulau ini terdapat sebuah bandara kecil yang bernama bandara Dewadaru yang hanya bisa digunakan oleh pesawat berbadan kecil. Jangan bayangkan bandara ini memiliki fasilitas sekelas Bandara Soekarno-Hatta, bandara ini nampaknya hanya sebatas landasan pacu yang belum tentu digunakan sebulan sekali. Bahkan di sekitar landasan pacu yang ditumbuhi rumput digunakan beberapa sapi untuk merumput.

Pulau ini dihuni oleh beragam etnis, mulai dari Bugis, Madura, Belitung sampai orang Kalimantan. Hanya saja mayoritas penghuni pulau ini merupakan orang Bugis yang membentuk sebuah perkampungan di daerah Batu Lawang. Nampak dari ciri rumahnya yang dibuat dengan menggunakan arsitektur rumah panggung. Bahasa yang digunakan pun Bahasa Bugis. Letak Kepulauan Karimunjawa yang berada di tengah-tengah jalur pelayaran Bugis-Belitung serta Jawa-Kalimantan menjadikan kepulauan ini menjadi daerah strategis tempat persinggahan banyak pelaut yang sedang melaut di Laut Jawa. Apalagi saat musim angin barat, kepulauan ini merupakan salah satu temapt berlindung dari ganasnya hantaman ombak dan angin barat.

Di pulau ini juga terapat sebuah pelabuhan kecil yang digunakan sebagai tempat berlabuh bagi kapal-kapal nelayan. Namanya Legon Bajak. Untuk ke Pulau Tengah dan Pulau Kecil biasanya wisatawan mulai berlayar dari pelabuhan ini. Pelabuhan di Legon Bajak ini tidak lebih ramai dari pelabuhan di Pulau Karimun. Hanya nampak sebuah kapal nelayan yang sedang bersandar. Sisanya merupakan kapal yang digunakan untuk mengangkut wisatawan yang hendak berkeliling pulau. Pelabuhan yang menghadap ke arah timur ini sangat cocok dijadikan tempat menyaksikan matahari terbit, sayangnya kami sampai di tempat ini saat hari telah sore.

Sebelum petang kami kembali ke Pulau Karimun menggunakan jalan yang sama seperti saat berangkat tadi karena memang itulah satu-satunya jalan yang menghubungkan kedua pulau. Konon kabarnya tidak ada penduduk setempat yang berani melintasi jembatan yang menghubungkan kedua pulau begitu senja tiba. Katanya banyak kejadian mistis yang sering terjadi di daerah jembatan itu.

Hari sudah gelap ketika kami sampai di Kantor Syahbandar. Begitu sampai di kantor dan membersihkan badan kami segera istirahat karena keesokan harinya sudah saatnya kami kembali ke Pulau Jawa.

“Sarapan dulu, jangan berangkat sebelum sarapan”, kata Pak Yusuf.
“Takut terlambat Pak”, jawab Mardi.
“Kalau kalian belum sarapan saya juga tidak akan ke dermaga. Kapal Muria itu nggak akan berangkat kalau tidak mendapatkan surat jalan dari saya”, Pak Yusuf menambahi.

Pagi itu kami sarapan dengan lauk sate kerang yang dimasak dengan bumbu khas Karimunjawa. Sangat lezat tetapi kami hanya mengambil sedikit. Khawatir kalau kekenyangan akan membuat perut tidak enak saat di kapal nanti.

Selesai makan, saya, Mardi dan Rosi berpamitan kepada seluruh pegawai Kantor Dermaga Syahbandar dan menyempatkan diri foto bersama.

“Ini ada makanan dari Kampung Bugis. Ambil aja yang banyak. Jangan cuma satu atau dua, enam sekalian. Kalian kan bertiga, satu orang dapat jatah dua. Ayo silakan. Kalau mau banyak juga nggak apa-apa, ambil saja”, kata Pak Yusuf.

Kami tambah tidak enak kepada Pak Yusuf dan segenap pegawai kantor dermaga yang begitu baik kepada kami.

Cuaca pagi itu kurang bersahabat. Mendung mengiringi perjalanan kami dengan Kapal Muria. Gerimis dan angin yang lumayan kencang menghantam Kapal Muria. Namun katanya ini tidak ada apa-apanya dibandingkan saat musim angin barat. Toh keadaan ini mampu membuat Mardi yang mabuk laut itu muntah-muntah beberapa kali di dek kapal.

Jam tiga sore kami sampai di Pelabuhan Jepara untuk kemudian mencari tempat makan siang. Nasi bungkus yang dibeli di warung belum sempat kami makan karena dalam perjalanan tadi kami lebih banyak tidur. Kecapekan. Begitu pula bekal makanan yang diberikan oleh Pak Yusuf, makanan tradisional dari Kampung Bugis berupa ketan yang dimasak seperti lontong, cuma dimakan dua buah oleh Rosi. Masih ada empat yang belum dimakan.

Selepas makan hanya satu tujuan kami, segera sampai ke Jogja.

Sempat berhenti sejenak di kawasan Demak karena ban motor Mardi yang bocor dan kebanjiran di kawasan Kota Lama Semarang sebelum akhirnya kami tiba di Magelang sekitar pukul delapan malam. Spion motor saya yang tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya cukup mengganggu sepanjang perjalanan. Terutama di kawasan Ambarawa-Secang yang jalannya naik turun berkelok-kelok tanpa penerangan yang memadai untuk ukuran jalan lintas propinsi.

Di Alun-alun Magelang kami istirahat sejenak untuk makan malam. Sepiring nasi goreng dan secangkir wedang ronde membantu memulihkan tenaga kami yang terkuras selama perjalanan Jepara-Magelang.

Di hektometer di pinggir jalan raya nampak sebuah tulisan,

JOG 45

Advertisements

Comments»

1. Aday - June 6, 2009

kok pantai Legon Lelenya gk dicritain?? mosok cm ada intro, “kata tmn saya yg KKN disini, pantai Legon Lele adlh pantai yg paling indah” doang?? lha crita ttg bagusnya apa dan bagaimananya manaaaa??hehe

asem ikh,,ada anak kecil namanya bangun segala..

mas,,mas,,ini msh bersambung tidak??
critain jg dong si rosi bagaimana cara ngeles ke pembimbingnya..
kan dia janjian sama dosen to seharusnya???

Itu pantai memang tidak bagus, itu tipu-tipunya temannya teman saya mungkin. yakin, saya tidak menyarankan Anda sekalian untuk datang ke sana.

Ceritanya udahan aja, udah capek bikin cerita bersambung. Tapi jikalau ada yang berminat menerbitkan bisa saya perpanjang, sepanjang sinetron Tersanjung..

Masalah ngeles, tanya saja langsung kepada yang bersangkutan. Saya sunggu tidak mau ikut-ikutan berbohong lagi.

2. sangprabo - June 8, 2009

Hlo? Ini gak ada sambungannya? Aq kira yg 45KM itu apa.. Iya,harusnya kan si Rosi sempet diteror ato apalah pas kalian di sana, secara dia anak yg kabur satu2nya..

Udahan ah, udah capek nulis cerita bersambung. Besok kalo udah punya rubrik tetap kaya SH Mintaradja di KR mungkin akan saya kembangkan potensi saya menulis cerita bersambung.

Kalo ceritanya Rosi, yah.. Biar dia yang menjelaskan sejelas-jelasnya. Itu di luar sepengetahuan saya (meskipun saya tahu tapi kan tidak etis menceritakan aib orang).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: