jump to navigation

Loyalitas June 1, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Berbicara mengenai loyalitas, jelas saya kalah jauh dibandingkan dengan Paolo Maldini di AC Milan ataupun Ryan Giggs di Manchester United. Apalagi jika harus disejajarkan dengan kesetiaan Raden Kumbakarna yang rela berkorban demi Negara Alengka. Bahkan untuk sekedar bersanding dengan konsistensi Denny Malik yang mengusung lagu disko di era 80-an yang pada akhirnya banting setir ke lagu dangdut pun saya masih belum bisa disamakan.

Tapi saya sangat menjunjung tinggi loyalitas.

Tiap kali tergabung dalam suatu organisasi, saya pasti akan memberikan semua yang terbaik bagi organisasi tentunya dengan harapan bahwa akan terjadi timbal balik sepadan yang diberikan oleh organisasi itu. Tidak jarang bukan saya yang mengorupsi aset organisasi justru organisasi yang mengorupsi waktu, tenaga, pikiran dan dana yang saya miliki. Namun sejauh ini saya mendapatkan berbagai hal yang bisa menggantikan kerugian yang saya derita itu. Saya tidak mau menjadi orang munafik yang seolah-olah mengabdikan jiwa dan raganya demi suatu organisasi tanpa mengharapkan sedikitpun keuntungan atas pengorbanannya. Saya kan penganut paham simbiosis mutualisme.

Dalam memilih organisasi saya sebenarnya kurang menyukai organisasi yang mapan. Saya lebih suka tergabung dalam organisasi yang masih labil, karena dalam kondisi labil itu lebih banyak yang bisa dipelajari. Dalam organisasi yang stabil, anggotanya hanya bisa melakukan kegiatan yang telah tercantum dalam AD/ART yang menghambat kreativitas anggotanya. Saat suatu organisasi sudah mencapai kestabilan saya lebih memilih untuk menjadi partisipan saja, bukan motor penggerak organisasi. Sudah tidak ada tantangannya. Lagipula saat suatu organisasi sudah mulai stabil dan besar pastilah banyak orang yang ingin menjadi motor penggeraknya.

Atas berbagai pertimbangan di atas itulah pada akhirnya saya tergabung dalam suatu komunitas yang menurut saya pada waktu itu belumlah semapan sekarang. Itupun dengan catatan karena ada kegiatan yang menarik perhatian saya. Sebut saja komunitas itu bernama Komunitas Anggrek.

Sewaktu saya bergabung dalam Komunitas Anggrek, jumlah anggotanya memang banyak. Namun hanya sedikit yang aktif di dalamnya. Dibandingkan dengan beberapa komunitas serupa, jumlah anggotanya jauh lebih kecil dengan jumlah kegiatan yang hanya bisa dihitung dengan jari setiap lima tahunnya. Itupun kegiatan yang dilakukan bekerja sama dengan komunitas lain, bukan kegiatan yang murni digagas, direncanakan dan dilaksanakan secara mandiri. Ada tantangan di komunitas ini.

Komunitas yang saya ikuti ini lintas propinsi dan negara, sehingga cara berkomunikasinya pun lebih intensif via dunia maya. Sangatlah tidak mungkin untuk mengorganisasi ratusan orang yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia dalam suatu ruang dalam satu waktu yang bersamaan.

Saat saya menjadi bagian di dalamnya, kegiatan di dunia maya belumlah padat. Tiap bulannya hanya ada beberapa anggota yang mengirimkan postingan entah itu berupa artikel yang bermanfaat atau sekedar menyambung tali silaturahmi, sisanya lebih sering menjadi pembaca.

Sampai pada suatu waktu dibuatlah suatu kegiatan yang diselenggarakan murni atas inisiatif Komunitas Anggrek. Tanpa intervensi dari pihak luar. Kegiatan yang hanya bisa diikuti oleh anggota Komunitas Anggrek. Yang tidak tercatat secara resmi sebagai anggota Komunitas Anggrek segera menyingkir jauh-jauh dari kegiatan ini. Di kegiatan ini pula nantinya akan di-launching logo Komunitas Anggrek untuk pertama kali setelah sekian tahun sebelumnya tidak ada logo resmi dari komunitas ini.

Kegiatan ini dirancang oleh beberapa orang lama dan sebagian besar orang baru. Bukanlah kegiatan yang revolusioner, tapi cukup bisa menunjukkan eksistensi komunitas ini di level yang lebih tinggi.

Kegiatan berlangsung dengan sukses. Komunitas Anggrek mulai merintis karir sebagai salah satu komunitas yang patut disegani dan dijadikan barometer di kancah nasional. Sebutlah pelaksananya adalah Tim Marmut yang terdiri dari sekitar 20 orang dan pemimpinnya disebut Komandan. Saya termasuk anggota Tim Marmut.

Di dunia maya, Tim Marmut menggembar-gemborkan kesuksesan kegiatan ini. Hampir semua anggota Tim Marmut mengirimkan postingan mengenai kegiatan ini. Trrafic di dunia maya meningkat hampir 300%, dari awalnya yang hanya berjumlah puluhan dan ratusan tiap bulannya kini mencapai angka ribuan. Awalnya postingan masih menyangkut pelaksanaan kegiatan, namun akhirnya isinya berupa postingan yang tidak penting. Celana bolong saat kegiatan saja bisa menjadi bahan diskusi yang tidak ada hentinya. Diskusi yang sebagian besar dimonopoli oleh anggota Tim Marmut, sedangkan anggota komunitas yang tidak tergabung dengan Tim Marmut kebanyakan hanya menjadi pendengar setia dan sesekali menimpali meskipun pada akhirnya Tim Marmut yang berkuasa di dunia maya.

Sampai pada satu waktu, ada pesan dari Komandan :

“Mohon buat teman-teman semua untuk menghentikan postingan yang berbau junk yang sangat mengganggu anggota yang lain. Diharapkan ke depannya kalian bisa memberikan sesuatu yang lebih berguna bagi komunitas ini. Salam”

Begitu mendapati sang ketua online via YM saya langsung mengklarifikasi masalah ini.

“Ndan, itu apa maksudnya”, saya bertanya dengan sikap tidak bersalah.
“Ya itu, selama ini postingan kita dianggap bermasalah. Soalnya postingan kita banyak yang nggak mutu dan nggak berguna. Terus banyak anggota yang komplain ke tetua sampai-sampai banyak juga yang keluar dari komunitas ini karena isinya dianggap sampah”, jelas komandan.
“Ohh gitu”, saya mencoba mencerna perkataan Komandan.

Sampai tahap ini saya baru sadar memang beberapa postingan terakhir Tim Marmut yang sukses menyelenggarakan kegiatan memang sudah kelewatan. Bahkan untuk hal-hal yang tidak penting sampai harus ditulis dan diposting ke semua anggota komunitas.

Komandan menjelaskan semuanya. Sebagai pemimpin kegiatan yang membentuk Tim Marmut banyak teguran yang ia peroleh dari tetua komunitas yang menjadikan posisinya sulit. Di satu sisi ia merasa tidak enak kepada teman-teman Tim Marmut yang telah menyukseskan kegiatan komunitas ini, namun di sisi lain ia lebih tidak enak kepada anggota komunitas yang jumlahnya jauh lebih besar. Terang saja tindakan yang kami lakukan telah merugikan anggota komunitas lain yang jumlahnya jauh lebih besar.

Sebagai golongan minoritas, Tim Marmut harus tahu diri. Mulai saat itu tidak ada lagi postingan tentang kegiatan yang sukses diselenggarakan beberapa waktu yang lalu. Semua berakhir.

Pada saat itu, meskipun secara halus dan tidak langsung, tapi anggota Tim Marmut tetap dianggap bersalah dan merugikan golongan mayoritas: Komunitas Anggrek secara keseluruhan.

Dengan berakhirnya euforia Tim Marmut itu, traffic kegiatan di dunia maya juga berkurang meskipun tidak drastis. Beberapa anggota Tim Marmut mengurangi intensitas keaktifannya seiring berjalannya waktu. Sebagian besar memang masih aktif, beberapa menjadi pasif dan beberapa sisanya benar-benar menghilang.

Saya masih menjadi anggota loyal dari Komuitas Anggrek meskipun dengan domisili saya tidak memungkinkan untuk aktif dalam kegiatan komunitas. Di kota tempat saya tinggal, anggota Komunitas Anggrek jumlahnya minim. Jumlah keanggotaan terbesar didominasi oleh dua kota besar di negeri ini. Jangankan untuk aktif dalam kegiatan, untuk aktif di dunia maya pun saya harus berpikir dua kali. Saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan melakukan postingan junk.

Saya tidak mau melakukan kesalahan yang sama!

Beberapa waktu setelah kesuksesan kegiatan Tim Marmut, kegiatan Komunitas Anggrek semakin banyak saja. Begitu pula jumlah anggota yang aktif dan terdaftar di dalamnya. Traffic postingan di dunia maya yang pada awalnya sempat menurun karena ditinggalkan sebagian anggota Tim Marmut mulai merangkak naik lagi. Isi postingannya? Beberapa artikel yang bermanfaat dan sebagian besar sisanya adalah junk.

Dari sebagian besar postingan junk yang ada, topik besarnya didominasi oleh dua kekuatan besar Komunitas Anggrek di dua kota besar.

Sampai pada suatu waktu ada anggota baru yang mengkritisi banyaknya postingan yang tidak disertai banyaknya ilmu yang didapatnya dari Komunitas Anggrek ini. Banyaknya postingan yang lebih berupa postingan junk dirasa mengganggu anggota komunitas lain, terutama bagi anggota yang tidak memiliki akses internet yang cukup memadai.

Kritikan yang pada awalnya disampaikan dengan cukup pedas dan keras.

Tanggapan anggota Komunitas Anggrek pun beragam. Ada yang menanggapi dengan lebih ketus dan pedas namun ada pula yang bersikap bijaksana. Sebagian besar yang entah merasa dikritik karena sering melakukan postingan junk mencoba membela diri. Beragam tanggapan diposting untuk menanggapi kritikan tajam dari anggota baru itu tapi dengan satu pemikiran yang hampir sama dari setiap tanggapan yang diberikan itu.

“Pada dasarnya postingan yang berbau junk ditulis untuk meningkatkan keakraban dari sesama anggota Komunitas Anggrek. Tidak bermaksud menganggu anggota lain”

Tanggapan saya hanya satu kalimat singkat. “Coba belajar dari apa yang pernah terjadi pada Tim Marmut”. Tanggapan singkat saya hanya dianggap sebatas angin lalu.

Dalam kasus ini, si anggota baru lah divonis salah karena telah menyulut api permasalahan di dalam Komunitas Anggrek. Kritikan anggota baru yang daftar keanggotaannya baru seumur jagung itu tidak ditanggapi dengan lebih serius. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.

Pada akhirnya memang anggota baru itu meminta maaf secara terbuka di dunia maya karena ia tidak ingin memperpanjang masalah.

Kembali lagi minoritas harus mengalami kesulitan dalam menghadapi kekuatan mayoritas, tidak peduli apakah kaum minoritas itu benar ataupun sebaliknya.

Para tetua pun pada akhirnya harus mengalah pada kekuatan besar meskipun mereka masih selalu berupaya untuk mengatasi permasalahan postingan junk ini.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang anggota Komunitas Anggrek dalam kegiatan yang sedang diselenggarakan di salah satu kota di kawasan Jawa Tengah.

“Mas, kok jarang posting?”, tanya seorang anggota yang lebih muda keanggotaannya, tentunya yang tidak tahu mengenai permasalahan yang pernah dibuat oleh Tim Marmut.
“Yah, pengetahuan saya kan sedikit. Mau posting apa coba? Kalau masalah kegiatan kan kalian yang sering berkumpul kan lebih paham. Kalau saya ikut-ikutan posting nanti ujung-ujungnya malah nge-junk”, jawab saya.
“Ya nggak apa-apa nge-junk. Biar rame!”, jawabnya lagi.

Dan sungguh hingga kini saya masih tidak bisa memberikan respek terhadap orang-orang yang banyak bicara dan sok tau, apalagi orang-orang yang tidak bisa konsisten dan mempertanggungjawabkan perkataannya.

Advertisements

Comments»

1. Nurul Aneh - June 2, 2009

Setujuuuu…. maap ngejunk-ngejunk.. 😀

Ya ampyuunn.. Saya benci.

2. joesatch yang legendaris - June 3, 2009

bukan marmut, mas dur… tapi kelinci irian. namanya si omen. omen kelinci irian, lebih tepatnya

Si Omen bukannya nama lain si Kojrat.

3. nyepto - June 4, 2009

nama laen si Omen ya berati si Ojra, 😀 ahahah, nge-JUNK!!

kalo begitu ikutan meramekan forum ini saja wids, http://himakom.ugm.ac.id/main/komunitas, ditanggung boleh nge-JUNK!! :)) ahak ahak ahak,

Malu, sudah tua…

4. sangprabo - June 8, 2009

Kalo menurutku, nyampah di mana2 ya sama2 ga mutu. Kecuali dari awal emang tujuan hdup anggotanya cuma nyampah..
0. Posting kudu nyambung ama tema. Cntoh: tlisanku ga jd dimuat coz ga nyambung ma ikom.
1. Ga smua org pnya benwit gde. Kbyang ga,kalo ngcek forum isinya cm ad post ‘Tdi gw boker 2 prongkol’. Emg penting gitu?
2. Ga smua org pny wktu luang.
3. Sayang duit. Kalo mau nympah d halaman sndiri dong,posting ga pnting brarti d blog sndiri..
4. Emg ada ya, Org yg mendedikasikn hdupnya bwt ngejunk? Tuh liat d milis gajah,brapa org yg udh tobat? Dpt apa coba dr ‘menjadi top junker’? Duit? Prestise? Pliis,respek dikit dong ama hdup kalian..

“I’m sick of people who don’t appreciate their blessings” –John, Saw

Jangan mengotori jalanan umum. Kasihan petugas kebersihan yang tiap hari nyapu jalan.

5. joesatch yang legendaris - June 9, 2009

betul kata si bo, wiwid…
cobalah kamu berintrospeksi pada kelakuanmu yang suka colek2 dan merangkul mesra rekan laki2mu. tidak semua orang punya waktu luang buat dirangkul erat2 sama kamu…

Fitnah akhir jaman.. Sungguh kejam! Tidakkah kau ingat saat-saat indahmu bersama Didit dan Chiel? Saat kalian dulu bermesraan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: