jump to navigation

Kimia June 12, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Jikalau ada pelajaran yang paling saya hindari sewaktu sekolah dulu, Kimia adalah jawabannya. Bukan tanpa alasan kalau saya mendiskreditkan pelajaran Kimia, banyak aspek yang menjadi pertimbangan saya untuk memasukkan Kimia sebagai salah satu objek yang harus dihindari. Salah satu alasan paling mendasar yakni Kimia menggabungkan dua pelajaran yang termasuk saya kutuk di sekolah : Biologi dan Matematika. Kimia merupakan perpaduan yang menakjubkan antara hafalan Biologi dan perhitungan Matematika. Kombinasi yang mengagumkan antara dua kekuatan ilmiah dan kekuatan logika. Jika tiap ulangan Biologi nilainya tidak pernah lebih dari 5 dan Matematika seringnya di bawah 4, simbiosisnya akan menghasilkan nilai yang jauh dari kewajaran.

Lagipula jika Kimia tidak pernah ditemukan, mana mungkin nuklir akan dihasilkan melalui penggunaan uranium. Dunia ini tentunya akan lebih tenang tanpa nuklir, nuklir yang dibentuk dari uranium, dan uranium yang merupakan unsur kimia.

Ada dua golongan siswa di kelas saya dulu. Pertama adalah siswa yang pintar, rajin mencatat, disukai guru dan terjamin masa depannya. Yang ke dua adalah siswa yang kurang pintar, rajin meminjam catatan, dianaktirikan oleh guru dan masa depannya terancam suram.

Kebetulan, saya, Ucrit, Bagus, Ahmad, Luki dan dua teman saya yang lain termasuk golongan ke dua. Golongan kaum yang nampaknya masa depannya akan suram. Bagaimana tidak kalau lima di antara tujuh orang itu tercatat sebagai kaum terbelakang di kelas. Namun, di antara kami masing-masing mempunyai kelebihan tersendiri dalam menangkap pelajaran.

Ucrit, ahli dalam bidang biologi. Dialah yang menjadi panutan saat mata pelajaran biologi dan bidang ilmiah lainnya yang menyangkut anatomi. Luki kesohor dalam bidang ilmu sosial, otaknya encer dalam hal hafalan dan pengetahuan umum. Bagus terkenal akan kelihaiannya menyelesaikan permasalahan fisika dan ilmu ukur lainnya, bersanding dengan saya. Kemampuan saya dan Bagus sepantaran dalam mengarang angka-angka meskipun kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ahmad memiliki bakat dalam bidang berkomunikasi dan berbahasa. Jangan tanyakan nilai TOEFL-nya. Tertinggi di antara kami.

Sebelumnya saya perkenalkan dua orang teman saya yang sebelumnya belum pernah disebutkan. Yang pertama, Opik namanya. Kemampuannya setingkat di atas kami dalam bidang kimia dan turunannya. Dia termasuk anak kesayangan Pak Kimi, guru kimia kami, dan menjadi rujukan tiap ada soal kimia. Tiap ulangan hasilnya tidak pernah kurang dari nilai delapan.

Opik lah teman sebangku saya selama 2/3 masa sekolah saya di tingkat atas. Awalnya saya termasuk golongan terdepan, kelompok penghuni bangku depan saat awal masuk sekolah. Namun menginjak pembagian rapor pertama yang menunjukkan rangking saya yang dua digit dengan nilai di bawah rata-rata saya mulai terpinggirkan. Jadilah saya terpental dari kaum yang terjamin masa depannya menjadi kaum yang terancam suram masa depannya. Untunglah Opik yang sedari awal mapan di bangku belakang bersedia menerima kehadiran saya di sampingnya.

Yang kedua, Jarwo. Berasal dari salah satu kota di pelosok Jawa Tengah menjadikan dirinya mempunyai kepribadian yang berbanding terbalik dengan Ucrit. Jika Ucrit terkenal sebagai pejuang cinta di kelas kami, Jarwo dengan kepribadian kampungnya justru tidak pernah sama sekali mengenal cinta. Katanya pantang! Si emak kan menyekolahkan demi masa depan, kalau urusan dengan gadis bisa bikin masa depan suram.

Nah, kalau Jarwo bergaul dengan kami yang bermasa depan suram dan nantinya dia punya gadis. Kesuramannya akan berlipat ganda.

Oh ya, Jarwo pun mempunyai kejeniusan setaraf Luki dalam bidang ilmu sosial.

Tapi sejenius-jeniusnya kami menganggap diri kami, itu masih kalah jauh dibandingkan dengan penghuni rangking-rangking atas di kelas kami. Kami memang kaum yang termarginalkan.

Separah-parahnya nilai pelajaran kami di kelas, tapi kalau untuk urusan kegiatan fisik kamilah penguasanya, terutama dalam hal sepakbola. Bagus menempati posisi gelandang jangkar ditemani Luki. Ucrit dan Opik merupakan ujung tombak kembar yang pastinya mampu mengobrak-abrik pertahanan lawan. Sedangkan saya dan Ahmad menempati posisi sayap kanan dan kiri. Waktu itu stamina saya masih lumayan hingga mampu naik turun membantu penyerangan dan menggalang pertahanan. Itu dulu. Kami merupakan tulang punggung timnas sepakbola di kelas kami yang sempat menduduki peringkat keempat liga sekolah. Itupun dengan catatan, kami dirugikan di semifinal sehingga kami bermain setengah hati setelah itu. Tapi apa gunanya punya kelebihan di bidang otot kalau nantinya untuk lulus yang diperhatikan adalah nilai-nilai otak.

Perbedaan kaum terpelajar dan kaum terbelakang di kelas kami terletak pada posisi duduk kami di kelas. Bukan kebetulan kalau Bagus-Ucrit, saya-Opik, Ahmad-Luki menempati bangku terbelakang di kelas. Kalau ada yang lebih beradab, Jarwo-lah orangnya. Dia berada satu baris di depan bangku terakhir.

Untuk mendapatkan bangku sesuai keinginan, siswa harus datang pagi. Siapa yang datang paling pagi, dialah yang berhak memilih di mana dia akan duduk hari itu. Sialnya (atau untungnya) kebanyakan siswa yang datang pagi adalah kaum terpelajar dan mereka paling anti duduk di bangku belakang. Berada di baris ke empat saja sudah dianggap hina, salah satu tempat nista yang patut dihindari dalam karir bersekolahnya.

Sebelumnya saya jelaskan dulu formasi bangku di kelas kami. Ada 29 siswa di kelas kami dan ada 15 bangku yang bakal menampung kami. 15 bangku itu disusun 3 x 5. Tiga berbaris dan lima berderet. Tiga baris terbelakang itulah yang menjadi posisi paten kami. Bagus-Ucrit di kiri dan Luki-Ahmad di kanan mengapit saya-Opik di tengah. Jarwo berada di bangku depan Ucrit.

Awalnya saya pernah membuat perjanjian dengan Opik.

“Pik, besok datang pagi. Sesekali kita mencari bangku depan agar keberadaan kita lebih diperhatikan oleh teman-teman sekaligus guru”, kata saya pada Opik
“Oke kawan, besok saya bangun pagi. Saya carikan tempat yang lebih menjanjikan prospeknya”, kata Opik pasti.

Paginya Opik memang datang pagi dan mendapatkan bangku nomer dua dari depan. Tapi sesiangan Opik tenggelam dalam rasa kantuknya. Matanya nampak sayu seharian menunjukkan tadi pagi dia musti berjuang keras untuk bangun lebih awal.

“Udah deh, kagak sanggup saya kalau harus datang pagi demi mendapatkan bangku depan. Coba deh besok kamu saja”, pinta Opik.
“Siap”, saya menjawab tegas.

Esoknya saya kesiangan dan bangku tengah paling belakang untuk kesekian kalinya menjadi tempat bernaung saya dan Opik.

Bagus-Ucrit dan Ahmad-Luki setali tiga uang dengan saya-Opik.

Kata orang, teman itu berkah. Tapi punya teman semacam Opik dan Ucrit? Itu nasib.

Saking seringnya kami menempati bangku terbelakang itu rasa-rasanya teman-teman sudah mempatenkan bangku itu untuk kami tempati. Tiada seorangpun yang berani menyentuh bangku itu barang sejengkalpun. Benar-benar suram masa depan kami. Ditambah dengan tanggapan dan stigma negatif mengenai penghuni bangku belakang di kelas.

Di samping berkolaborasi di kelas saat pelajaran, saya, Opik, Jarwo, Bagus dan Ucrit juga berkolaborasi di tempat les. Kami mengikuti kelas yang sama di tempat bimbingan belajar. Luki dan Ahmad juga menambah ilmunya di tempat les yang sama, hanya saja Luki dan Ahmad mengambil slot hari yang berbeda. Kami berlima mengambil slot Selasa-Jumat sedangkan Luki dan Ahmad mengambil slot tiap hari Senin-Kamis.

Seperti Jumat biasanya, selepas Jumatan di sekolah, saya, Opik, Jarwo , Bagus dan Ucrit kerap berkumpul di kamar kost Jarwo. Jarwo termasuk teman yang unik. Di saat orang-orang memilih kamar kost yang manusiawi dengan ukuran lapang dan sirkulasi udara memadai, Jarwo malah memilih loteng yang sebenarnya difungsikan untuk gudang. Loteng itu berbentuk limas segitiga, mirip seperti tenda pramuka dari karung goni. Pintunya pun pintu geser, demi menghemat ruang. Jangan pernah berharap bisa berdiri di dalamnya, membungkuk sudah menjadi suatu keharusan. Pun kami heran dengan tingkah laku Jarwo yang kadang aneh itu.

Les dimulai pukul 14.30 hingga 17.30. Tapi kami biasanya berkumpul dulu di kost Jarwo dan baru berangkat pukul 15.00. Selepas siaran radio yang memperdengarkan 20 tangga lagu paling laris yang disiarkan lebih dari 15 radio swasta di Jogja. Karena sering berangkat terlambat ini pula di tempat les kami biasa menempati bangku terbelakang juga. Tipikal siswa di kelas saya dengan siswa di tempat les mirip. Dasar mereka orang-orang rajin wal pintar.

Berangkat bersama-sama itupun demi kepentingan penghematan penggunaan motor dan bensin.

Jumat itu berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Saya, Jarwo, Bagus dan Ucrit berkumpul seperti biasanya di kost Jarwo. Kali ini ditambah Ahmad dan Luki. Opik sedang pulang karena ada urusan yang mengharuskannya pulang dan berangkat les dari rumahnya.

Sudah jam 15.00

“Mari kita berangkat menuntut ilmu”, kata Jarwo.
“Marilah mari”, saya menyetujui usul Jarwo.
“Kok tiba-tiba saya malas ya. Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja. Mencari ketenangan. Sudah lama kita tidak pergi bersama. Bagaimana?”, tanya Ucrit.
“Boleh sekali itu”, Ahmad berusaha menguatkan niat jahat Ucrit.

Bagus dan Luki pun ternyata sependapat dengan Ahmad dan Ucrit. Sialnya demi mengutamakan kebersamaan dan menghormati keputusan terbanyak, les ditiadakan ganti dengan jalan-jalan. Tujuannya, tentu saja belum jelas.

“Parangtritis saja”, saran Ucrit.
“Boleh, lagipula di sana ada Pakdhe saya. Di kawasan Giricahyo. Paragtritis terus ke timur. Ke arah pegunungan. Itu bisa dijadikan alasan untuk masuk Parangtritis gratis”, jelas Jarwo yang mulai terbujuk rayu hasutan Ucrit.

Pada akhirnya, Pantai Parangtritis di selatan Jogja menjadi tujuan kami.

“Opik gimana. Nanti kalau dia nyariin? Kan nggak enak juga. Sehina-dinanya kita yang namanya pertemanan itu harus dijunjung tinggi”, tanya saya.
“Biar saja. Nanti kita kirim sms”, kata Ucrit.

Ada rasa tidak enak meninggalkan Opik mengikuti les sendirian sementara kami berenam meninggalkannya bersenang-senang di Parangtritis. Tanpa konfirmasi sama sekali. Kalau nantinya Opik menuntut pertanggungjawaban dan kalap, Ucrit patut dijadikan tumbal. Dia yang memulai.

Sore itu kami beranjak untuk menikmati matahari tenggelam di Parangtritis.

“Mau ke tempat saudara Pak, di Giricahyo”, kata Jarwo.
“Oh ya silakan”, kata Si Penunggu Karcis yang nampak curiga.

Kami toh tidak mau rugi. Jarwo yang memang punya saudara di ujung timur Parangtritis menjadikan saudaranya itu sebagai alasan untuk mangkir dari membayar karcis masuk Parangtritis.

Di Parangtritis memang tidak banyak yang kami lakukan. Cuma duduk menyaksikan pemandangan kuda lari-lari di pantai dan beberapa orang yang mandi di laut hingga matahari mulai tenggelam di ufuk barat.

“Bagaimana ini, sekarang kita kemana?”, tanya Jarwo.
“Pulang dong”, jawab Ucrit.
“Weits, jangan. Kita ke tempat Pakdhenya Jarwo dulu. Kita sudah banyak berdosa hari ini. Masak kita mau berdosa lagi”, kata Bagus.
“Berdosa di mananya?”, tanya Ucrit.
“Tadi kan kita bilang mau ke tempat saudara sama si Pak Penunggu Karcis”, jelas Bagus.
“Oh iya, betul itu. Demi menggugurkan perkataan itu lebih baik kalau kita ke sana saja”, saya menyetujui saran Bagus.
“Ya sudah, kita ke sana saja. Tapi sebentar saja”, kata Jarwo.

Sebenarnya hari sudah petang, tapi demi mengurangi dosa kami hari itu kami bergerak menuju rumah Pakdhenya Jarwo. Maghrib kami sampai di sana.

Niatnya hanya sebentar di rumah Pakdhenya Jarwo tapi apa daya, kami ditahan sampai jam makan malam. Tidak boleh pulang sampai makan malam tersaji dan dihabiskan. Baru selepas Isya kami dipersilakan untuk kembali ke Jogja.

Jam sembilan malam kami sampai ke Jogja dan kembali ke kediaman masing-masing. Lelah.

Paginya di sekolah.

“Sial kamu, kemaren ke mana kok nggak les”, tanya Opik.
“Wah Pik. Lupa mau sms kamu. Kami ke Parangtritis. Tadinya mau mengajak kamu. tapi pas itu sudah sore, lagipula kamu kelihatannya sudah berangkat les. Memangnya nggak ada yang sms kamu?”, saya bertanya balik.
“Nggak ada. Mana? Kalian ini memang teman di kala senang saja”, Opik protes.
“Kami tidak bermaksud untuk meninggalkanmu, sumpah! Demi… Demi… Demikianlah adanya Pik”, saya membela diri

Opik pun memahami apa yang terjadi sore itu. Meskipun masih tampak berat hati dia menerimanya. Kami telah meninggalkannya kemaren sore dan itu fakta yang tidak dapat dipungkiri. Kalaupun saya jadi Opik pastinya saya juga akan menunjukkan sikap dan perilaku yang sama.

Jam pelajaran terakhir adalah Kimia.

“Hari ini kita ulangan”, kata Pak Kimi.
“Yahhh… Kan belum diumumkan Pak”, mayoritas siswa mengeluh.
“Ini ulangan mendadak”, kata Pak Kimi lagi.
“Yahh…”, mengeluh dilanjutkan.

Walah. Apa salah saya?

Pak Kimi merupakan salah satu guru yang punya hobi menyiksa anak didiknya. Setiap jam pelajarannya selalu saja ada anak didik yang terpaksa menerima sindiran-sindirannya karena tidak bisa mengerjakan soal yang diberikannya tiap akhir jam pelajaran. Kalaulah doski mood-nya sedang tidak bagus, tidak jarang kekerasan fisik terjadi meskipun itu hanya berupa sentuhan-sentuhan dan belaian yang kelewat lembut. Kalau untuk urusan ulangan dadakan, itu sudah biasa. Maka dari itu para siswa yang sudah hapal dan menghitung hari-hari yang patut diwaspadai dijadikan hari-hari ulangan dadakan tentunya sudah bersiap-siap sebelumnya. Para siswa itu tidak termasuk saya.

“Pik, udah belajar Pik?”, tanya saya pada teman sebangku saya itu, teman senasib seperjuangan.
“Santai”, kata Opik dengan wajah berbinar bahagia sejahtera sehat sentosa.

Tentunya Opik sudah belajar karena di tempat les kemarin adalah jadwal les Kimia. Lagipula banyak waktu senggang di malam harinya untuk belajar Kimia, berbeda dengan kami berenam yang terlalu lelah untuk membuka lembaran-lembaran catatan kimia.

Saat ulangan dimulai, saya cuma bisa clingak-clinguk kiri-kanan. Ucrit dan Bagus sama pusingnya seperti saya. Luki dan Ahmad tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Opik yang nampak sukses mengerjakan ulangan hari itu.

“Pik Pik, minta jawaban dong”, saya berbisik pada Opik sembari memperhatikan Pak Kimi yang matanya semakin jelalatan. Berharap dia tidak akan memperhatikan gerak-gerik dan tingkah laku saya.

Opik tidak dengar, atau pura-pura tidak dengar. Pastinya dia masih kecewa karena kami tinggalkan kemarin sore.

Pak Kimi yang terkenal galak itu mengawasi ulangan dengan sangat rapi dan terstruktur. Jangankan untuk tengok kiri-kanan, lirik kanan-kiri saja sudah mendapat tatapan tajam dari Pak Kimi. Siang itu tidak ada yang bisa kami lakukan sama sekali selain berharap mukjizat kan datang dari Tuhan.

Menunggu mukjizat sama saja seperti menunggu aliran sungai Code berbalik dari selatan ke utara. Maka demi pertimbangan masa depan yang terancam suram itu saya melakukan manuver yang cukup menjanjikan. Mencontek atau bahasa jawanya “ngepek”. Tapi namanya Kimia, ngepek tidak bakalan menjadi patokan nilai akan memuaskan. Namun bisa dikatakan ulangan hari itu sukses.

Beberapa hari kemudian hasil ulangan dibagikan.

Ucrit 3.5, Luki 4.75, Bagus 4, Ahmad 5.5, Jarwo 6.5, Opik 8.5 dan saya beruntung mendapatkan nilai 7.5. Cukup menjanjikan.

“Buat yang nilainya kurang dari enam ada ulangan perbaikan dan tambahan tugas. Ucrit, Bagus, Ahmad, Luki kalian sehabis mata pelajaran ini jangan kemana-mana”, terang Pak Kimi.
“Waduh duh duh”, kata mereka berempat kompak.
“Kamu juga”, kata Pak Kimi menunjuk saya.
“Apa salah saya Pak? Nilai saya lebih dari enam kok”, saya membela diri.
“Kamu kan kemaren nyontek. Nanti ada hukuman tambahan buat kamu”, kata Pak Kimi.

Duh Gusti!! Ketahuan!

Semenjak saat itu saya putuskan, urusan Kimia harus jauh-jauh dari kehidupan saya. Untungnya pula saya masuk ke program studi yang jauh hubungannya dengan Kimia meskipun masih satu fakultas dengan program studi Kimia.

Ucrit melanjutkan pendidikannya untuk mewujudkan impiannya, paling tidak menjadi mantri keliling. Luki dan Jarwo menekuni bidang sosial di salah satu sekolah tinggi di Jakarta. Bagus meneruskan sekolahnya di bidang setrum menyetrum. Ahmad mengejar gelarnya di hubungan antar manusia dan gosip menggosip. Opik yang ahli kimia, paling tidak di antara kami menjadi mahasiswa teknik yang ada kaitannya dengan bidang kimia.

Saya ingin melupakan kimia tapi kenapa mahasiswi Kimia atau setidaknya mahasiswi yang ada kaitannya dengan Kimia banyak yang menarik.

Advertisements

Comments»

1. ziezah - June 13, 2009

ha ha pak Kimi…bukanne pak Y***o……..
wuz…begitulah aksel….tapi anda beruntung mas…wlo minim laki-laki…hahahaha

Lah ini bocah, bisa juga nyasar ke sini.

2. septoadhi - June 13, 2009

kalo itu pak yanto berarti si ucup nho?? šŸ˜€
bapak yang satu itu memang tukang ngincim kok heheheh šŸ˜€

betewe, sebenarnya aksel nduwurmu ki diperhitungkan juga lo dalam jagat sepakbola teladan, tapi mereka orangnya ngepas, 11 apa 12 saja nek ga salah,

Memang, dia memang jahat pada saya..

3. afiemaniez - June 16, 2009

hahahahahahah
*numpang ketawa ya om… šŸ˜€

Semoga kontrak kerja Anda diperpanjang, amiin..

4. afia - June 17, 2009

hahahhahahahaha… šŸ˜€
pancen anehhhh..

Apa ini, memang pada aneh!!

5. hans - July 31, 2009

koyo moco kimia… mantep dowo…padet isinya.. mbuh maksude…

Maksudnya kalau sudah tau panjang, tidak usah dibaca.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: