jump to navigation

Kuli June 18, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Jadi kuli itu tidak enak.

Setiap hari musti bekerja dengan jam kerja yang sudah ditentukan bahkan kadangkala harus kerja lembur demi memenuhi apa yang diinginkan oleh sang majikan. Mending kalau sang majikan mau tau tentang nasib si kuli, kalau sang majikan menggunakan prinsip tangan besi untuk menjalankan pemerintahannya. Maka hidup bagaikan rakyat miskin yang berada di bawah kepemimpinan seorang diktator.

Lebih enak kalau menjadi majikan sekaligus kuli bagi diri sendiri. Mau tidak kerja ya silakan dengan konsekuensi anak istri tidak bakalan bisa makan nasi dengan layak tiap harinya atau mau bekerja dengan giat dan sepenuh hati dengan jaminan anak istri akan makan nasi dengan layak, luknya pun daging plus ikan-ikanan. Tidak akan kekurangan gizi.

Dan sayangnya saya maih belum bisa menjadi majikan sekaligus kuli bagi diri sendiri. Alhasil saya musti merintis karir sebagai kuli panggilan.

Suatu ketika, Jupri dan Sukiman medapat tawaran proyek dari seorang teman. Proyeknya membuat website resmi dari suatu kegiatan yang didanai oleh sebuah NGO yang cukup ternama. Karena Jupri dan Sukiman itu orangnya baik dan suka membantu teman, maka mereka kemudian mengontak saya, Ajong dan Yoyon untuk membantu mengerjakan proyek ini. Sekaligus untuk belajar mencicipi dunia kerja yang sebenarnya. Bukan proyek besar tapi hasilnya lumayan untuk menghidupi anak istri.

Toh selama ini kami hanya sering modar-mandir di hima mengerjakan sesuatu yang seringnya non-profit alias kerja sosial. Jadi nasib anak istri tidak terjamin, makannya hanya nasi aking. Pihak fakultas pun sama saja, yang biasanya hanya mementingkan kepentingan fakultas tanpa memperhatikan nasib anak didiknya yang kleleran tidak jelas. Yang penting uang semesteran rajin disetor tiap awal semester maka fakultas tidak akan banyak cingcong. Kalau telat bayar iuran semesteran, urusannya bisa ribet. Beda urusannya kalau fakultas yang suka mengganti-ganti jadwal kuliah, jadwal ujian seenaknya. Kan? Jadi majikan itu enak.

Proyek website yang didapatkan oleh Jupri dan Sukiman itu secara garis besar bisa dipecah menajdi dua pekerjaan. Yang pertama pembuatan intro dan yang ke dua menyangkut website itu sendiri. Untuk urusan intro nantinya akan dibuat animasi sedangkan untuk web akan dibuat dengan CMS yang akan dikustomisasi sesuai dengan keinginan klien.

Tim berjumlah lima orang. Jupri dan Yoyon mempunyai keahlian di bidang koding mengkoding alias pemrograman web maka mereka berdua difokuskan mengerjakan website. Sisanya, termasuk saya, mengerjakan bagian intro. Pembagian kerja ini tidak berlaku harus seperti itu karena dalam pembuatan web diperlukan sentuhan artistik yang dimiliki oleh Sukiman dan Ajong dan sebaliknya dalam pembuatan animasi diperlukan sentuhan dingin para programmer yang dikuasai oleh Jupri dan Yoyon. Saya? Bawang kosong saja, tidak ikut kerja yang penting dapat bayaran.

Setelah diputuskan tugas dibagi maka selanjutnya giliran kami berembug dengan si klien menyangkut tema apa yang akan digunakan, batasan apa yang harus dipenuhi. Seperti layaknya membuat rumah, si arsitek harus mengetahui keinginan pemiliknya nantinya. Apakah rumahnya akan dibuat bertingkat atau tidak, seberapa luas taman yang dikehendaki, berapa jumlah kamar tidur, perlu dibuat kolam renang atau tidak. Tanpa adanya pembicaraan seperti itu bisa saja apa yang dianggap si arsitek menarik dan mempunyai fungsionalitas tinggi hanya dianggap sebagai sampah oleh klien.

Saya dan Jupri pun lantas bertemu dengan klien.

“Untuk website, masalah isinya nanti bisa menyusul kan? Yang peting desainnya sudah jadi. Nah ini yang penting untuk intronya. Jadi saya pengin ada intro yang istilahnya menarik, begitu pengunjung datang sudah langsung tertarik untuk masuk webiste itu. Jadi saya berharap banyak untuk intronya”, kata Pak Klien.
“Temanya kira-kira apa ya? Terus ada batasan-batasannya Pak?”, saya bertanya.
“Itu terserah kalian saja, yang penting menarik. Titik. Sudah, saya mau rapat dulu”, Pak Klien mengakhiri pembicaraan.

Opo tumon! Inilah susahnya kalau seorang arsitek disuruh membuat rumah sekehendak hatinya yang penting bisa menarik orang untuk datang dan melihat-lihat. Satu poin yang patut digaris bawahi : MENARIK!

Untuk urusan menarik perhatian orang ada banyak cara yang bisa dilakukan. Misal dengan membuat pengumuman :

“Bagi siapa yang membuka website ini akan mendapatkan hadiah langsung berupa jalan-jalan ke Hawai”

Tapi siapa yang mau membayar biaya akomodasinya.

Ada cara lain! Dengan menempatkan gambar seorang wanita tanpa busana di halaman pertama ditambah dengan tulisan “Yang berumur 18 tahun ke atas yang boleh masuk”. Dijamin website ini akan laris manis, meskipun nantinya para pengunjung akan kecewa karena isinya tidak sesuai dengan covernya. Pastinya pula kami akan kena damprat Pak Klien. Wong jelas-jelas websitenya merupakan kegiatan NGO tentang moral dan kemanusiaan ini justru membuat intro yang jauh dari segi moral.

Beberapa hari kami masih santai dengan pekerjaan yang ada. Ciri orang Indonesia kan baru panik saat tenggang waktu mulai mendekat. Website yang dikerjakan Jupri dan Yoyon sudah mendapat persetujuan dari Pak Klien sedangkan intronya sama sekali belum dibuat. Saya, Sukiman dan Ajong panik. Jupri dan Yoyon tidak mau tau, bukan urusan mereka.

Saya, Sukiman dan Ajong malam itu lembur. Mengerjakan pesanan Pak Klien untuk membuat intro yang nantinya akan digunakan sebagai web yang digarap oleh Jupri dan Yoyon. Kami memutuskan untuk membuat animasi.

“Animasi macam apa yang mau kita buat?”, tanya saya yang sama sekali tidak punya ide.
“Apa ya?”, Sukiman bergabung dalam membuat kebingungan.
“Ya sudah bagaimana kalau kita buat animasi dengan menggunakan stickmen. Orang-orangan yang kayak lidi itu. Bagaimana?”, tanya Ajong yang memang penuh ide, kreatif, inspiratif dan inovatif itu.
“Boleh”, saya dan Sukiman menjawab serentak.

Ide memang mudah didapatkan, tapi kadang untuk pengembangannya justru yang mengalami hambatan terbesar. Skenario. Kami butuh skenario.

Setelah jumpalitan, menghabiskan beberapa potong roti, menegak bergelas-gelas minuman yang disediakan oleh Ajong sang tuan rumah skenario itu akhirnya datang juga.

Eksekusi dikerjakan secara bergantian. Karena ada tiga orang yang mengerjakan maka dua orang mengerjakan dan seorang istirahat. Saat saya dan Sukiman yang mengerjakan, Ajong istirahat. Giliran saya istirahat, Sukiman dan Ajong melanjutkan.

Animasi itu berupa stickmen yang berlarian ke sana-sini, melompat-lompat dilengkapi dengan rumah yang bergoyang-goyang layaknya orang sedang disko yang diguncang gempa. Lengkap dengan lagu dengan hentakan nada yang keras dan bersemangat yang mendukung gerak-gerik stickmen. Belum lagi ada animasi lain berupa gelombang yang dibuat guna mendukung segi estetis dari karaya seni itu.

Baru siang hari saat animasi itu selesai dikerjakan, bahkan belum digabungkan dengan website. Kalau ada revisi kan nantinya gampang diubah, begitu pikir kami.

Sorenya, sesuai tenggat waktu yang diberikan Pak Klien, kami beranjangsana ke kantor Pak Klien dan menunjukkan pekerjaan yang telah kami selesaikan dengan segenap hati.

“Hah, ini animasi apa ini! Kayak anak kecil aja, nggak bisa yang lebih serius sedikit apa?”, Pak Klien marah. Desain animasi kami ditolak mentah-mentah dengan alasan terlalu kekanak-kanakan. Padahal menurut kami, itulah salah satu desain animasi terbaik yang bisa kami kerjakan. Apalagi dengan jangka waktu satu malam. Tiga otak berkumpul jadi satu dan menghasilkan sebuah mahakarya seni animasi yang indah.

“Bikin lagi yang baru, yang lebih formal! Besok pagi harus ada di meja saya! Tidak ada toleransi keterlambatan. Kalau tidak bisa dipenuhi, kontrak batal. Kalian tidak akan dibayar”, kata Pak Klien muntab.

Sukiman dan Ajong yang patah arang dan kecewa kemudian menunjuk saya untuk mengerjakan desain animasi yang baru berhubung semalam saya tidak punya andil dalam pembuatan animasi yang ditolak mentah-mentah oleh Pak Klien. Padahal kan semalam saya urun rembug, meskipun lebih banyak turut serta dalam menghabiskan jatah konsumsi yang disediakan tuan rumah. Pledoi saya ditolak.

Jadilah malam itu saya lembur lagi dan esok pagi-pagi sekali desain harus sudah selesai.

Di rumah saya buka program untuk membuat animasi. Sama sekali tidak ada ide. Hujan turun.

“Oh, ini saja”, tiba-tiba saya mendapat ide.

Saya buat animasi baru, dengan beberapa bagian mengambil animasi dari animasi lama yang dibuat Sukiman dan Ajong. Stickmen hilang sama sekali, tapi animasi gelombang tetap dipertahanlan. Saya buat animasi hujan huruf yang nantinya membentuk huruf-huruf yang merujuk pada halaman website. Begitu saja, saya tidak peduli Pak Klien suka atau tidak. Yang penting sudah ada desain baru. Tidak sampai setengah jam semua selesai dikerjakan.

Kalau animas pertama yang dibuat Sukiman dan Ajong pantas mendapatkan rating 8 dari 10, yang saya kerjakan mungkin hanya mendapat rating 3 dari 100. Seadanya lah.

Paginya di kantor Pak Klien.

“Wah, ini. Ini maksud saya. Yang nggak kekanak-kanakan seperti kemaren”, kata Pak Klien puas.

Sebenarnya salah siapa kalau klien tidak memberikan batasan jelas dalam pembuatan karya. Sang eksekutor tanpa batasan tentunya akan mengerjakan karya sesuai dengan hati nuraninya. sesuai apa yang ada di otak dan hatinya. Tidak peduli nantinya tanggapan pengamat.

“Tapi, menurut saya ini akan lebih baik kalau fontnya diganti”, Pak Klien menanggapi animasi yang saya sodorkan.
“Oh begitu Pak, baik nanti saya ganti. Jadi kapan bisa saya serahkan ke Bapak?”, tanya saya sopan.
“Besok pagi saja, soalnya seharian ini saya mau ke luar kota sebentar”, Pak Klien mengakhiri pembicaraan.

Lhadalah, besok kan saya ada urusan penting. Penting sekali!

“Baik Pak, tapi pagi-pagi sekali ya”, jawab saya.
“Oke”, kata Pak Klien.

Sepulang dari kantor Pak Klien saya kerjakan revisi desain animasi itu sedetail dan sesempurna mungkin berharap esok tidak ada revisi lagi sehingga urusan saya esok bisa terlaksana.

Keesokan paginya saya sudah nongkrong di kantor Pak Klien, menunggu Pak Klien datang.

“Mencari siapa Mas?”, tanya seorang perempuan. Nampaknya staff Pak Klien.
“Pak Klien. Orangnya ada Mbak?”, tanya saya balik.
“Loh, Pak Klien baru kembali nanti siang dari luar kota. Mungkin baru ke kantor sore-sorean”, jelas si Mbak.
“Waduh, kalau gitu bisa saya nitip sesuatu buat Pak Klien? Ini desain animasi titipannya Pak Klien”, saya menjelaskan.
“Wah nggak bisa Mas, Pak Klien itu tidak suka kalau ada orang yang menitipkan pekerjaannya. Soalnya Pak Klien itu orangnya perfeksionis. Nanti kalau ada kekurangan di sana-sini kan Masnya juga enak ngobrol langsung sama Pak Klien”, si Mbak mengutarakan alasannya.
“Yahh”, saya lemas.

Rencana saya hari itu bisa gagal.

Saya menghubungi dua teman saya, menjelaskan keadaan yang terjadi.

“Ya sudah, diselesein pekerjaannya dulu. Nanti kalau udah selesai aja kita berangkat”, begitu kata teman saya.

Bagaimanapun caranya saya mesti melaksanakan rencana ini. Sayang kalau batal, sudah direncanakan sejak lama. Saya segera pulang ke rumah dan mempersiapkan eksekusi rencana saya.

Sorenya setelah Maghrib memang Pak Klien datang dengan santainya. Menemui saya yang sudah setengah jam menunggu di lobi.

“Sudah lama Mas”, tanya Pak Klien.
“Lumayan Pak”, jawab saya lugas.
“Mari silakan masuk”, Pak Klien mempersilakan saya masuk ke ruangannya.

Kemudian saya menunjukkan revisi yang diminta Pak Klien. Pak Klien nampak cukup puas.

“Tapi Mas, kalau warnanya diganti yang lebih cerah sepertinya bagus. Cepat ya, saya tunggu secepanya, soalnya besok website akan dipublikasikan”, Pak Klien meminta revisi kembali.

Ada revisi lagi. Saya tidak membawa master animasi ini, yang ada hanya file executeablenya. Saya segera kembali ke rumah, mengganti warna latar belakangnya agar nampak lebih muda. Tidak sampai setengah jam saya kembali ke kantor Pak Klien lengkap dengan tas ransel yang sudah berisi perlengkapan hidup selama beberapa hari ke depan.

“Nah kalau begini kan warnanya bagus, lebih kalem gitu. Jadi enak diliatnya. Tapi kok perasaan font-nya bagus yang kemarin ya?”, kata Pak Klien.
“Lha bagaimana Pak?”, tanya saya meminta kepastian.
“Kamu ada font yang kemarin kan, coba saya liat”, pinta Pak Klien.

Saya menunjukkan animasi pertama, dengan font yang lama dan warna latar belakang yang masih lama juga.

“Font-nya bagus yang ini sepertinya. Cona diganti animasinya. Font-nya yang lama terus latar belakangnya warna yang baru”, Pak Klien memberikan perintah sesukanya.

Jaman itu belum ada laptop yang bisa dipinjam. Memang ada komputer di kantor Pak Klien, tapi tidak ada program untuk membuat animasi. Hari sudah mulai malam dan bagaimanampun caranya hari itu rencana saya bersama teman saya harus bisa terlaksana. Ransel sudah di punggung, tinggal berangkat.

Saya berpikir.

“Satu-satunya yang bisa dimintai tolong adalah Yoyon. Kostnya dekat, komputernya ada program untuk editing animasi. Dialah malaikat saya!”.

Saya segera beranjak ke kost Yoyon.

Sesampainya di sana, komputer Yoyon yang sedang dipakai bermain game saya akuisisi. Klak klik beberapa kali dan selesailah sudah revisi yang diminta Pak Klien.

“Yon, tolong ini nanti diserahkan kepada Pak Klien. Malam ini, harus malam ini. Tolong ya. Saya ada urusan penting, penting sekali!”, saya meminta tolong pada Yoyon.
“Lha memangnya kamu mau ke mana?”, tanya Yoyon.
“Saya mau pergi, kalau Pak Klien nanya, bilang saya ke luar kota, empat hari. Biar dia tidak minta revisi lagi. Oke teman? Adios!!”, kata saya terburu-buru sembari mengambil tas ransel saya dan segera kabur dengan motor ke arah timur jauh.

Meninggalkan Yoyon yang masih bengong.

Advertisements

Comments»

1. joesatch yang legendaris - June 20, 2009

dadi takmir mesjidmu dewe wae kono!

Jadi marbot kan biasanya cuma mendapat pahala biar bisa masuk surga.

2. Nurul Aneh - June 22, 2009

Haha.. Sabar! Ndang cepet dadi majikan gih..!

Siap, nanti kalau saya sudah jadi majikan saya lamar itu kamu punya teman.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: