jump to navigation

Jalan Tengah June 25, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Belakangan ini saya jadi rajin mengikuti perkembangan situs jejaring sosial yang sedang meledak di Indonesia dan dunia. Pesbuk namanya. padahal sedari awal, jauh sebelum oknum yang mengaku bernama MUI memfatwakan haram bagi pesbuk, saya sudah mengharamkannya terlebih dahulu. Tapi apa daya, akhirnya saya terlena juga oleh kehadiran pesbuk ini, maka fatwa haram saya turunkan, jadi makruh.

Entah besok kalau malah jadi wajib.

Saya bukan orang yang rajin mengikuti perkembangan jaman, jadinya itu pesbuk milik saya hasil bikinan teman saya si Sukiman. Dia yang buat, dia pula yang mengisi profil bahkan untuk edit foto saya juga minta tolong sama dia. Bukannya saya malas, tapi saya memang takut kecanduan pesbuk.

Bagaimana tidak, semacam narkoba itu pesbuk. Setiap saya online di tempat-tempat umum sejauh mata memandang yang nampak adalah layar monitor yang dihiasi corak biru tua khas situs jejaring sosial pesbuk. Sehari saja tidak membuka pesbuk rasanya ada yang kurang seperti orang sakaw. Kalau tidak bisa lewat komputer kan ada ponsel. Online di mana saja.

Apalagi untuk orang-orang yang sudah benar-benar kecanduan pesbuk. Segala kuis diambilnya kemudian ditunjukkan hasilnya di wall, menunggu tanggapan dari teman-temannya. Mengikuti game-game yang ada di pesbuk sampai lupa waktu, lupa makan, lupa teman. Upload foto kemudian di tag sesuka hati tanpa persetujuan orang yang di tag. Kirim-kiriman pesan di wall padahal sama-sama online. Banyak sekali mudharatnya ketimbang manfaatnya, menurut saya.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat iseng, mencari teman-teman lama saya di gugel. Kebiasaan lama kalau sedang iseng tidak ada kerjaan biasanya mencari kabar tentang teman lama yang sudah lama tidak saling berhubungan.

Saya tulis nama “indri” di tab gugel. Masih tau Indri kan? kalau tidak tau ya silakan dicari tau.

Saya tekan tombol enter dan muncullah situs-situs yang mengandung kata “indri” di dalamnya. Setelah saya pilih dan pilah saya dapatkan sebuah blog. Entah blog siapa itu pada awalnya, iseng lagi, saya buka blog itu.

Blog milik Upik rupanya. Salah satu teman akrab Indri dan Tiwi. Baca-baca saya dapat alamat email yahoo-nya sembari berharap dia tidak gaptek seperti kebanyakan penduduk negri ini sehingga saya bisa berkomunikasi dengannya via ym.

Saya tambah kontaknya ke ym saya. Tunggu semalam. Esoknya permintaan saya untuk menjadikannya teman diterima.

Dan percakapan pun berlangsung via YM.

“Wah Pak, gimana kabar? Lama tidak denger kabar. Gimana sekarang?”, Upik bertanya.
“Yah gini-gini aja Pik”, saya jawab iseng.
“Lah, dari dulu jawabanmu standar. Gini-gini aja. Nggak ada jawaban lain yang lebih memuaskan hati?” tanya Upik lagi.
“Yah gini gini aja lah”, saya jawab semampunya lagi.
“Heh! Jawab yang bener dong!”, Upik muntab.

Akhirnya setelah membujuk dan merayu Upik hatinya luluh juga. Dia tidak jadi marah sama saya. Kami pun terlibat dalam percakapan yang intim, antara dua teman yang lama tidak bertemu. Pertanyaan standar sebenarnya, sekarang di mana, sekarang ngapain? Kamu sekarang seperti apa?

“Ada pesbuk?”, tanya Upik.
“Ada tapi ndak pernah dibuka”, saya menjawab.
“Alamat emailnyanya apa?’, Upik menginterogasi.
“Nggak pernah tak update, dibuka aja hanya kalo sempet”, saya mencoba mengalihkan perhatian.
“ALAMATNYA APA!!!”, Upik hampir saja marah lagi.

Saya beri dia alamat email yang saya gunakan untuk mendaftar di pesbuk dan seketika itu juga dia off dari ym.

Waduh, bikin salah lagi saya.

Tidak sampai sehari saya buka email saya. Ada pesan dari pesbuk. Si Upik meminta saya menjadi temannya dan menuliskan pesan di wall-saya. Sungguh suatu kejadian yang langka ada email konfirmasi dari pesbuk muncul di kotak masuk saya. Biasanya hanya sebulan sekali. Kalau lagi musim ramai-ramainya maksimal hanya lima tiap bulannya. Itulah efek dari tidak pernah update pesbuk dan mengirimkan pesan-pesan ke teman.

Tidak ingin menyakiti hatinya lagi saya konfirmasi dia sebagai teman saya.

Terpaksalah saya buka pesbuk saya dengan satu komitmen, tidak ada kuis, tidak ada game.

Saya buka profilnya dan saya mendapatkan informasi tentangnya. Dimana kuliahnya, sekarang dia seperti apa. Bahkan dari tulisan-tulisan yang ada di wall-nya saya berusaha menganalisa sekarang seperti apa dirinya.

Seorang aktivis kampus dari golongan kanan. Pengikut partai berasaskan Islam yang di pemilu belakangan menempati posisi atas dalam perhitungan suara.

Hari berikutnya kami bersua lagi, masih via ym.

“Kok potonya ditutup. Saya kan pengen liat kamu sekarang seperti apa”, Upik bertanya.
“Lah, justru itu. Saya takut nanti orang-orang tau saya seperti apa. Nanti kalau ada yang sirik sama saya trus menyuruh orang untuk membunuh saya bagaimana?”, saya menjelaskan. Ngawur.
“Sok artis! Buka potonya, kaya apa kamu sekarang”, Upik memaksa.

Terpaksa saya buka poto saya supaya bisa diliat Upik. Upik tidak berkomentar macam-macam, kamu keliatan beda banget.

Lalu dia berkomentar di status yang saya tulis saat itu, padahal kami sama-sama online via ym.

Saya tulis:
demi seseorang saya terpaksa buka ini situs yang saya fatwakan makruh, lekas liat apa yang ingin diliat sebelum saya tutup lagi semua

“Baca di wall-mu, saya baru aja nulis di sana”, kata Upik.
“Ya ampun mbok ngomong di sini aja, via ym. Lebih cepat dan lebih pribadi”, saya menolak membuka pesbuk.
“Dasar pemalas, Tak tulis gini: Kamu memfatwakan pesbuk makruh. Padahal kamu kecanduan ym”, si Upik protes.
“Iya ya? Kan saya punya daftar prioritas. Pertama bertemu tatap muka langsung, ke dua telepon ngobrol langsung, ke tiga sms, ke empat ym kalau sama-sama online baru yang terakhir pesbuk. Lha wong tiap hari masih ketemu berhahahihi kok masih saja saling sapa di pesbuk”, saya jawab ngasal.
“Sok! Terus bisa-bisanya kamu memfatwakan pesbuk makruh? Sudah bisa bikin fatwa. Lha kamu itu sebenarnya ikut golongan mana? Kanan? Kiri? Marxis? Hedonis? Atau komunis sekalian?”, si Upik bertanya.
“Itu kan fatwa buat saya pribadi, tidak mengikat kepada siapapun. Kalo disuruh milih ikut golongan tengah aja, yang netral-netral saja”, saya menjawab sekenanya.
“Kan cuma ada surga atau neraka, tidak ada jalan tengahnya!”, Upik memprotes jawaban sekenanya itu.

Upik kemudian ceramah mengenai pentingnya memilih jalur, kanan atau kiri. Tidak ada jalur tengah. Dan dia memutuskan mengambil jalan kanan pastinya mengingat latar belakangnya yang saya tau dari pesbuk.

“Loh kok saya jadi ceramah gini”, si Upik bingung.
“Ya tidak tau, nanti saya belajar agama saja sama kamu”, saya bilang.
“Udah ketemu Indri di daftar temenku?”, tanya Upik menalihkan pembicaraan.
“Udah, dia sudah berpacar rupanya. Syukurlah..”

Hingga kini saya masih memakruhkan pesbuk. Tapi tidak tau kalau beberapa saat ke depan saya berubah pikiran.

Ah, tiap orang kan punya dasar pemikirannya sendiri. Jadi tidak perlu diperdebatkanlah pilihan saya ini. Lagipula fatwa saya hanya berlaku untuk saya sendiri.

Saya sangat besyukur punya teman lama seperti Upik yang meningatkan saya untuk berada di jalur yang benar, setidaknya benar menurut dia.

Comments»

1. Kasyful - June 28, 2009

Hlo? Yang mengharamkan facebook bukannya cuma pesantren tertentu? Kayaknya bukan Mui.
Ada kok,tempat antara surga dan neraka.. Kayaknya sih.. Hehe

Loh, kalau facebook saya tidak tau juga. Ini situs jejaring sosial yang saya makruhkan namanya pesbuk bukan facebook. Kalo facebook saya tidak ikut-ikutan.

2. afia - June 30, 2009

emang pesbuk URL.ny apa???

http://pesbuk.pes.buk


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: