jump to navigation

Kabur July 31, 2009

Posted by superwid in Jalan.
trackback

Siapa bilang naik gunung itu enak?

Yang pasti naik gunung itu harus bawa tas besar yang sering disebut dengan kerir. Tas besar itu entah bagaimana caranya harus diisi dengan perlengkapan yang dibutuhkan selama naik gunung : tenda, sleeping bag, nesting, pakaian cadangan, raincoat serta tidak lupa makanan secukupnya dan minuman yang banyak. Ini penting karena tidak akan ada penjual bakso di gunung.

Tidak sedikit uang untuk transportasi dan bekal selama perjalanan. Kecuali kalau mau survival di gunung dan mengandalkan tumpangan untuk sampai ke basecamp.

Belum lagi selama naik gunung, jalan yang dilalui tidaklah mudah. Namanya naik gunung pasti melalui jalanan yang mayoritas berupa tanjakan. Udara dingin, angin yang bertiup kencang serta kalau beruntung bisa mendapatkan badai cukup untuk membuat AC di kota berasa tidak ada apa-apanya. Gelapnya malam dan teriknya siang juga turut melelahkan fisik dan batin.

Tidak cukup di situ ketidak-enakan naik gunung. Sepulang dari gunung sudah tersedia kerir, tenda, sleeping bag, pakaian, sepatu dan kawan-kawannya yang menanti untuk segera dicuci. Kalau ada uang berlebih atau pemabantu yang bisa dipekerjakan itu bukanlah masalah gawat. Tapi bagi saya yang tidak punya uang berlebih dan pembantu yang bisa dimintai tolong, pekerjaan cuci-mencuci itu merupakan siksaan tambahan.

Tapi saya kemaren malah naik gunung.

Saya suka naik gunung karena di sana jarang ada sinyal handphone apalagi internet. Menurut saya, handphone dan internet merupakan penjajah yang lebih kejam dari Belanda atau Jepang pada masa perang kemerdekaan. Dua hal itu dengan perlahan menyusup ke kehidupan seseorang dan membuat orang itu kecanduan. Kini, orang lebih khawatir jika handphonenya ketinggalan atau akses internetnya mati ketimbang mengkhawatirkan teman yang ada di dekatnya sedang mendapat masalah.

Tapi saya membutuhkan keduanya sekaligus membencinya. Ironi memang. Dengan naik gunung saya bisa melupakan sejenak dua hal itu. Berjalan menikmati indahnya ciptaan Tuhan sembari menikmati hidup. Refleksi diri tanpa gangguan apapun.

Belajar untuk mengenal teman lebih baik, mendalami kehidupannya tanpa ada yang bisa ditutupi. Berada saling berdekatan, merasa dekat dan menikmati suasana kedekatan itu. Berbeda dengan di kota, meskipun raga saling berdekatan tapi sebenarnya batin melayang entah ke mana. Itulah dampak dari pesatnya perkembangan informasi.

Kata Om Hans mengenai teknologi informasi ini :
Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Ceritanya saya dan Ipin memang sudah lama mendambakan untuk naik gunung bersama setelah dulu sempat mendaki bersama. Itu dua tahun yang lalu. Kini kami ingin mengingat kembali nostalgia dua tahun lalu itu. Dengan personel yang lebih sedikit dan gunung yang berbeda.

Sebenarnya tujuan utama saya dan Ipin naik gunung adalah lari dari masalah walaupun untuk sejenak. Ipin, entah kenapa meskipun banyak gadis di sekitarnya rupa-rupanya ia dibuat gila oleh seorang gadis dan ingin menenangkan diri di segarnya udara gunung. Sedangkan saya ingin menyegarkan otak sebentar setelah mengerjakan beberapa pekerjaan yang menumpuk dari si bos di Kota Besar sana.

Meskipun saya tau lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah, tapi rehat sebentar kan tiada mengapa.

Sukiman, Mardi, Rosi, Ucup, Kojrat dan Paijo menjadi beberapa kandidat yang akan menemani saya dan Ipin naik gunung. Mardi dan Paijo pernah naik bersama saya. Kojrat, Sukiman dan Ucup belum pernah naik gunung. Rosi, entah.

Dari enam orang itu hanya Sukiman yang bersedia untuk menemani saya dan Ipin. Katanya dia tergoda oleh kata-kata manis Ipin, “Nanti di gunung kamu akan menemukan sesuatu yang hilang”.

Ipin pasti bohong, saya sudah paham tipikal pendaki. Mereka banyak bohong.

Jadilah kami berangkat bertiga menuju basecamp di salah satu kaki gunung yang cukup mahsyur di kawasan Jawa Tengah. Berbekal beberapa bungkus mie, roti-rotian, minuman bersachet dan dua bungkus nasi kucing kami mulai bergerak meninggalkan basecamp untuk mulai mendaki ketika matahari mulai condong ke arah barat. Tidak lupa sebuah radio sebesar dus sepatu menjadi teman perjalanan.

Saya yang beruntung membawa radio itu.

Target adalah bermalam di Pos 2, sumber air terakhir menuju puncak. Selanjutnya akan dibahas nanti. Menurut perkiraan Ipin, tiga jam adalah waktu standar untuk mencapai pos 2. Dengan asumsi itu kami berharap akan tiba di pos 2 saat Isya.

Kata Ipin, di pos 2 pemandangannya sudah cukup bagus. Ada air terjun juga. Di pos 5 ada kawah. Saya tidak yakin dia bicara jujur. Dia kan pendaki.

Saya ingin sampai pos 5, melihat kawah.

Kami bertiga berjalan beriringan. Ipin di depan menajdi guide, saya di belakang menjadi sweeper mengapit Sukiman di tengah.

Saya memang menyadari bakat saya adalah menjadi sweeper. Tim penyapu yang bertugas di posisi paling akhir. Sebenarnya ini cuma alasan agar saya bisa banyak istirahat. Belum lagi biasanya yang jalan belakangan adalah gadis-gadis. Momen yang tepat untuk pdkt. Tapi sumpah, saya tidak pernah melakukannya. Dosa.

Belum memasuki hutan, Sukiman sudah minta rehat. Packingannya kurang enak sehingga tas-nya harus dibongkar dan packing ulang agar lebih nyaman. Tidak lupa dia mencari sebuah tongkat untuk membantunya mendaki. Sebuah tongkat dibuatkan oleh Ipin dari kayu yang banyak berserakan di jalan setapak.

Sukiman menamainya “Tongkat Musa”.

Sepanjang perjalanan, Sukiman dibuat kagum dan terheran-heran. Bukan hanya karena pemandangannya yang indah, tapi juga karena trek yang dilewati tidak lazim dilaluinya sehari-hari. Dengan postur tubuhnya yang lumayan berisi, pendakian merupakan sesuatu yang cukup menyulitkan. Untungnya ada tongkat musa.

Hari mulai gelap saat angin mulai bertiup dengan kencang. Pos 2 belum terlihat. Kata Ipin, pos 2 ada di balik bukit yang sedang kami daki, dekat.

Kata-kata dekat bagi saya itu merupakan ambiguitas. Subjektif sekali.

Sukiman mulai nampak kepayahan, ditambah dengan cuaca yang mulai tidak bersahabat di gelapnya malam pastinya membuat pengalaman pertama pendakian Sukiman itu akan membekas di hatinya.

Tidak berapa lama berselang, cuaca yang tidak bersahabat itu mulai berubah menjadi badai. Ipin nampak biasa saja. Saya diam. Sukiman mulai mengalami masalah.

Jalannya mulai pelan dan akhirnya kram.

Paha kanannya kram. Cukup untuk membuat kami beristirahat cukup lama di sebuah lereng yang di sampingnya terdapat jurang yang cukup dalam. Angin kencang yang turun dari puncak menghantam kami. Tapi mau bagaimana lagi, kaki Sukiman yang masih kram tidak mungkin dipaksakan untuk segera bergerak melanjutkan perjalanan. Kami beristirahat cukup lama.

“Ayo jalan lagi”, kata Sukiman yang mulai merasa sanggup melanjutkan perjalanan.

Ipin, sang guide melanjutkan memimpin di depan.

Tidak sampai 100 meter, kaki Sukiman kram lagi. Kali ini lebih parah. Betis kiri dan paha kanan.

“Pin, turun dulu. Kram lagi”, teriak Sukiman sambil kesakitan.

Ipin segera turun dan membantu Sukiman. Mengurut kakinya yang kram. Tapi karena Ipin memang tidak pernah menangani orang kram, pijatannya tidak cukup banyak membantu.

“Kamu saja”, kata Ipin pada saya.

Segera saya lepaskan tas dan saya lemparkan ke tempat yang aman. Radio yang ada di genggaman saya oper ke Ipin.

Brakk.. Radio terlepas dari pegangan saya dan menghantam bumi. Ipin tidak sempat menangkapnya karena suasana saat itu memang cukup gelat.

“Haduh..”, saya dan Ipin kompak.

Cover radio itu terbuka, Ipin berusaha memperbaiki.

“Haduh, ini cover tidak mau menyatu lagi. Bagaimana? Tapi santai saja. Masih bisa nyala kok, suaranya masih keluar. Kita tidak perlu khawatir akan kesepain malam ini” kata Ipin bahagia.
“Sini, saya coba perbaiki”, saya meninggalkan Sukiman yang terbaring tak berdaya di tanah.

Saya mengutak-atik radio itu. Lama.

Bagi saya dan Ipin, radio itu nyawa kami. Teman setia yang menemani setiap langkah kami dalam pendakian kali ini. Ipin menerangi dengan senter sedangkan saya berusaha memperbaiki radio itu.

“Sudah itu dibiarin saja radionya, bukan punya Kojrat. Itu punya Dibyo kok”, kata Sukiman miris menahan sakit di kedua kakinya yang kram.

Saya baru ingat kalau Sukiman kram. Saya lupa, khilaf.

Kali ini istirahat lebih lama. Saya dan Sukiman berukar alas kaki. Sepatu yang selalu menemani pendakian saya dipakainya sedangkan sendalnya ganti saya injak-injak.

Radio yang rusak itu berhasil juga diperbaiki.

“Berapa lama lagi Pin”, tanya Sukiman.
“Ini sebentar lagi, paling lima menit. Tinggal menyusuri lereng ini memutar kemudian sampai di pos 2. Nggak lama kok. Bentar lagi jalanan datar”, terang Ipin. Bohong.

Benar saja Ipin bohong. Kalau untuk ukuran normal memang jarak itu bisa ditempuh dengan waktu lima menit. Tapi ini bukan orang-orang normal.

Namun tidak sampai setengah jam, akhirnya kami sampai di pos 2. Badai tidak juga mereda. Justru tambah menggila.

Segera tenda didirikan dengan hati-hati. Badai yang kami alami saat itu mungkin saja menerbangkan tenda yang belum sempat didirikan sempurna. Pasak belum terpasang.

Setelah susah payah mendirikan tenda, barang-barang segera dimasukkan ke tenda berikut orangnya. Tempat mendirikan tenda yang tidak cukup terlindung dari badai membuat angin sering masuk ke dalam tenda. Membuat kami bertiga mengigil.

“Pin, saya masak air dulu. Itu Sukiman kalau kram tolong diurut dulu”, kata saya.
“Siap”, Ipin menjawab.

Dan memang Sukiman kram lagi saat berusaha mencari posisi yang nyaman.

Ipin berusaha mengurutnya.

Pelan. Bagi Sukiman itu bagai sentuhan lembut.

“Ganti.. Ganti.. Ipin tidak punya bakat. Kamu saja”, Sukiman protes. Dia menunjuk saya.

“Pin, tolong airnya ya”, kata saya pada Ipin.
“Yo, saya memang nggak ada bakat jadi tukang pijat. Kamu yang lebih pantas”, Ipin gembira.

Kembali lagi saya mengurut kaki Sukiman. Celana jeans yang dikenakannya yang dituduh menyebabkan kram. Jeans memang penyerap dingin yang handal.

“Sudah celana jeans-mu dicopot saja. Pakai celana dalam didobeli sarung cukup. Daripada nanti kamu kedinginan” kata Ipin. Saya mengiyakan.

Sukiman menurut saja.

“Kalau besok kalian mau lanjut ke kawah, silakan. Saya tunggu di sini saja”, Sukiman menyadari keterbatasannya.

Pos 2, pos 5, puncak semuanya sama saja selama kami masih bersama. Pos 2, pos 5 dan puncak hanya berbeda ketinggian.

Cukuplah bagi Sukiman pendakian pertamanya hanya sampai pos 2. Saya dan Ipin yang niat awalnya hanya untuk lari dari masalah juga tidak keberatan. Lagipula kami sama-sama pernah mencapai puncak ini.

“Ya sudah, kita tidur saja”.

Malam itu di tengah badai, saya dan Ipin yang pernah naik gunung kalah dengan Sukiman yang baru pertama naik gunung. Dia tidur hanya memakai cawat sedangkan saya dan Ipin yang memakai busana lengkap.

Salut buat Sukiman!

Dia tau batas kekuatannya. Biasanya pendaki pemula lebih memilih memaksakan egonya ketimbang berpikir dengan akal sehatnya. Demi puncak seseorang bisa berbuat apapun tanpa memikirkan resiko yang bakal dihadapinya yang justru bisa merugikan bagi dirinya sekaligus merepotkan bagi teman-teman serombongannya.

Keberhasilan sebuah pendakian bukanlah saat puncak bisa didapat, tapi bagaimana bisa kembali dengan selamat.

Advertisements

Comments»

1. Aneh - August 3, 2009

Walah iki tho menunggu badai. Merbabu yo mz?

Ini seperti kata Mas Dhani : bersama sahabat mencari badai, mengasah pribadi mengukir cinta.

Aneh - August 4, 2009

Jare om Ari Lasso “Badai pasti berlalu….”

2. monorawx - August 3, 2009

ya allah nyepto…

tapi septu wingi wes melu futsal cah..hoho

Woh, jangan salah.. Sukiman yang memberi kehangatan di tenda dengan lemak-lemak di tubuhnya.

3. sita - August 5, 2009

wooooo..sido to??
huhuhu, mupeng.. 😦

Terima jasa mengantarkan dan porter dengan biaya 1 juta per malam.

4. septo - August 9, 2009

kau yang di sana… siapa dirinyaa..
buatku terpana… 😆

yak… semenit lagi om! takasih tambahan waktuu 😆

Itu Mbak Gita manis bener yak..

5. han - August 24, 2009

Keberhasilan sebuah pendakian bukanlah saat puncak bisa didapat, tapi bagaimana bisa kembali dengan selamat.

suka quote ini… 😉
hiohooo.. menyebut namaku royali sak miliyar…

Impas, karena saya juga minta ganti rugi material 1 milyar atas perlakuan jahat Anda pada saya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: