jump to navigation

Akreditasi August 14, 2009

Posted by superwid in Bukan Saya.
trackback

Para pembaca yang budiman, sesekali bolehlah saya menulis yang ada di otak saya, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hidup saya. Ini semua murni pemikiran pribadi, kalau ada yang kurang setuju dan sependapat mohon jangan diambil hati.

(*Saya juga tidak menerima kritik dan saran. Tapi kalau ada yang mau kirim makanan boleh juga. Jangan protes, blog ini punya saya, kalau hosting dan domainnya masih gratisan ya itu keterbatasan saya sebagai orang-orang yang belum dikaruniai rejeki untuk menyewa domain dan hostingan. Semoga dalam beberapa purnama ke depan ada dermawan yang rela memberikan donasi untuk keperluan penyewaan domain dan hosting. Amin.. Amin ya Robbal Alamin).

Jika memang mau protes, silakan saja langsung ke Mahkamah Konstitusi. Dijamin protes anda akan ditolak karena buktinya tidak memenuhi aspek kualitatif dan kuantitatif.

Masuk ke inti cerita.

Jadi, beberapa minggu yang lalu saya sempat diminta oleh Sukiman, yang notabene merupakan ketua angkatan saya untuk menyemarakkan akreditasi program studi yang saya ikuti. Mahasiswa bangkotan kok masih saja ikut kegiatan kampus? Ah biarkan saja, mumpung masih jadi mahasiswa gitu.

Si Ibu dosen dari perguruan tinggi sebelah yang berkepentingan mengakreditasi program studi bilang :

“Mahasiswa yang lulusnya lama ini bisanya cuma memperburuk citra kampus, menurunkan akreditasi. Makannya bagi mahasiswa yang bilangan semesternya sudah menginjak dua digit tolong segera diselesaikan kuliahnya”

Wah, si Ibu ini saya pikir terlalu picik pandangannya kepada mahasiswa yang lulus lama. Barangkali dulu beliau termasuk golongan pembalap, tukang kebut waktu jaman kuliah dengan masa studi 3,5 tahun dan IP cumshot.

Masyaoloh, saya bergunjing. Dosa.. Dosa..

Kembali lagi ke topik awal.

Berdasarkan ini, mahasiswa memang merupakan salah satu aspek penting dalam akreditasi suatu program studi. Menurut pemahaman saya, mahasiswa bisa merubah akreditasi suatu program studi. Jauh lebih mungkin daripada tenaga pengajar maupun sarana dan prasarana yang dimiliki suatu program studi.

Coba bayangkan kalau ada suatu program studi dengan tenaga pengajar yang lulusan Jerman dengan sarana prasarana papan atas tapi mahasiswanya pemimpi, pasif, dan tidak punya semangat belajar semua. Bisa dibayangkan apa jadinya?

Bandingkan dengan program studi dengan tenaga pengajar yang cukup memenuhi kompetensi dengan sarana prasarana seadanya akan tetapi mahasiswanya jenius dan aktif berkegiatan.

Akan memberikan perbedaan yang sangat jauh bukan.

Jadi kesimpulannya memang mahasiswa memiliki peranan penting dalam kehidupan suatu program studi. Itu tidak bisa dipungkiri lagi. Idealnya, kontribusi mahasiswa kepada program studi adalah dengan kuliah rajin, lulus cepat dengan IPK memuaskan. Tapi tidak semua bisa menjadi mahasiswa ideal. Setiap mahasiswa punya idealisme masing-masing.

Secara umum akan saya bagi mahasiswa ini ke dalam empat golongan.

1. Aktif kuliah sekaligus aktif berorganisasi

Ini tipe mahasiswa ideal. Kuliah jalan, organisasi jalan. Jadinya lulus tepat waktu dengan koneksi yang melimpah ruah.

Jika diasumsikan lulusan standar S1 adalah empat tahun, maka mahasiswa golongan ini bisa lulus dalam jangka waktu tersebut. Lebih kurangnya bisa disesuaikan lah, asal jangan lebih atau kurang dari satu tahun. Kalau margin errornya sampai satu tahun maka mahasiswa tersebut bukan termasuk golongan pertama ini. Mungkin bisa dilihat di poin selanjutnya.

Seetelah lulus mau melanjutkan studi bisa, cari kerja juga gampang. Mau nikah? Banyak yang mau pastinya.

Yang pasti ini tipe mahasiswa idaman semua mertua.

2. Aktif kuliah tetapi kurang aktif berorganisasi

Mahasiswa di golongan ini biasanya cuma kenal tiga hal yang sering disingkat dengan 3K: Kampus, Kantin dan Kamar. Eh, ada yang kelupaan: Kamar Mandi. Setiap hari hidupnya hanya berkutat di antara empat hal tersebut. Bangun tidur di kamar lalu berangkat ke kampus. Jika lapar makan di kantin kemudian pulang lagi ke kamar. Ke kamar mandinya diselipkan di antara kesibukan rutin tadi. Buku catatannya rapi dan lengkap.

Sayangnya karena jarang mangkal di kampus teman manusianya pun sedikit. Lebih sering berteman dengan buku, diktat materi dan lain-lain (dan lain-lain di sini maksudnya bisa luas. Kalau mahaiswa pertanian temannya bajak, mahasiswa kimia temannya gelas ukur, mahasiswa komputer temannya PC, kalau mahasiswa sastra jepang? Sadako mungkin).

Lulus cepat adalah jaminan pasti golongan ini, biasanya 3,5 tahun sudah merupakan waktu maksimal untuk mendapatkan gelar sarjana. IP-nya jelas cumlaude. Setelah lulus dipastikan akan mendapatkan tawaran beasiswa di sana sini untuk melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya yang lebih bergengsi di dunia keilmiahan.

Begitu lulus dan lepas dari almamater biasanya akan melupakan teman-teman seperjuangan. Tidak tau bahkan tidak mau tau. Yang penting sukses. Tidak peduli dengan orang lain. Kalau ketemu dengan teman-teman seangkatan basa-basi sedikit kemudian kabur.

Inilah mahasiswa yang memberikan kontribusi positif pada akreditasi program studi.

3. Kurang aktif kuliah tetapi aktif berorganisasi

Kalau waktu studi kurang dari empat tahun, Anda kurang beruntung masuk ke golongan ini. Mahasiswa golongan ini tidak ikhlas kalau kuliah hanya empat tahun. Tidak rela meninggalkan almamater hingga memanfaatkan kesempatan menjadi mahasiswa sampai batas akhir. Kalau ada jatah perpanjangan, bisa diambil. Sebenarnya bukan tidak ikhlas kuliah ataupun tidak rela meninggalkan almamater, tapi saking sayangnya pada organisasi yang diikuti sampai-sampai tidak rela meninggalkan organisasi itu. Masalah kuliah bisa dipikir nanti. Bahkan ada yang sampai lulus kuliah masih tetap saja nongkrong di organisasi. Agendanya: mencari daun-daun muda untuk diprospek ke depannya. Atau agenda yang lebih penting : mengunduh film-film box office untuk kemudian digandakan kepada teman-teman seorganisasi.

Lulusnya lebih dari empat tahun dengan IP yang selalu diusahakan. Diusahakan cukup memenuhi standar minimal IPK untuk melamar kerja.

Setelah lulus kuliah, biasanya golongan ini akan mencari link-link dan channel dari teman-teman yang beruntung sudah lulus sebelumnya. Sukur-sukur ada yang jadi HRD di perusahaan ternama. Tinggal pakai metode nepotisme dan kongkalikong, sukseslah dia diterima sebagai karyawan.

Biasanya mahasiswa dalam golongan ini jiwa sosialnya tinggi. Apalagi dengan sesama mahasiswa abadi yang tergabung dalam MAPALA (Mahasiswa Paling Lama). Saking tinggi jiwa sosialnya, rela teman-temannya lulus duluan (meskipun pengerjaan skripsinya sempat dibantu oleh para mahasiswa-mahasiswa berjiwa sosialis ini).

Jika bertemu dengan teman semasa di organisasi yang sudah sukses pertanyaannya hanya satu : “Eh, ada kerjaan nggak buat saya?”. Kalau bertemu yang belum sukses, ujung-ujungnya cuma nongkrong di kantin kampus.

Golongan mahasiswa yang tidak diharapkan menjadi bagian dari suatu program studi. Sudah lulusnya lama (yang bisa mengakibatkan akreditasi turun) masih juga mengkritisi kebijakan program studi. Bagaikan duri dalam daging, jarum dalam bantal. Bukannya memberi manfaat pada program studi tapi memberikan mudharat yang tiada terkira.

4. Kurang aktif kuliah dan sayangnya kurang aktif pula berorganisasi

Golongan mahasiswa yang kuliah segan, drop out tak mau. Khusus untuk golongan ini, saya pun tak tahu akan bagaimana nanti nasibnya. Saya hanya bisa mendoakan kepada yang Maha Kuasa semoga diberi kemudahan dan yang terbaik tuk semua karena pada akhirnya hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan hamba-Nya.

Sekian saja pandangan mata dan analisa tanpa dasar ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan dari saya. Kalaulah kurang berkenan tolong jangan diambil hati. Cerita di atas toh hanya fiktif belaka. Kalau ada kesamaan nama, tempat, kejadian itu murni kebetulan saja.

Terima kasih. Adios!

NB :
Oh iya, saya baru ingat kalau ada golongan yang lupa disebutkan.

5. Kaum pecundang

Termasuk golongan ini adalah mahasiswa yang masa studinya sudah lebih dari yang ditentukan akan tetapi belum lulus juga. Bahkan musti ikut dalam proses akreditasi program studi.

Kalau Anda masuk golongan mana coba? Yang bisa menjawab secara tepat akan mendapatkan coklat beng-beng dari Ketua Angkatan saya, Sukiman, yang bulan depan akan merayakan hari lahirnya yang ke 8395 hari, plus ciuman mesra kalau beliaunya bersedia.

Advertisements

Comments»

1. faisaldwiyana - August 15, 2009

nek koyo aku mlebu sing endi mas?
hehe..

Waduh, ada yang kelupaan lagi: golongan pembelot, membelot ke kampus tetangga. Hehew.. Silakan dipilih sendiri saja. Kan di luar kewenangan saya untuk menilai. Wong ini cuma tulisan iseng saja kok.

2. Campus - August 16, 2009

Intinya sih tgt mahasiswanya juga, kalo peruruan tingginya sih menyediakan sarana dan proses pembelajaran yang idealnya tercermin dalam borang atau dokumen akreditasi. Btw, akreditasi itu sebagai syarat atau faktor minimal yang harusnya dipertimbangkan oleh masyarakat. Namun ternyata masih ada dikotomi antara PTN dan PTS, terutama dari kaca mata orang tua mahasiswa πŸ™‚

Jadi memang mahasiswa peranannya sangat penting dan sudah selayaknya mendapatkan fasilitas yang memadai sehingga mahasiswa bisa memberikan aspek positif pada nilai akreditasi perguruan tinggi kan?

Berdasarkan borang akreditasi, salah satu faktor yang menentukan nilai akreditasi adalah waktu lulus mahasiswa juga.

Nah kalau perguruan tinggi tidak memberikan fasilitas yang memadai (menyangkut sarana, prasarana, tenaga pengajar yang kompeten dan lain-lainnya) lalu mahasiswa terpaksa belajar sendiri dengan fasilitas yang minim dan ala kadarnya (plus bimbingan dosen yang tidak selancar proyek yang masuk ke kantong dosen) yang berakibat pada waktu lulus mahasiswa yang tambah lama, apakah kesalahan patut ditimpakan sepenuhnya pada mahasiswa? Sudah bayar mahal, faslitas minim, dosennya banyak kelayapan cari obyekan dan disalahkan pula!

Lagipula akreditasi di Indonesia sendiri tidak terjamin transparansi dan kejujurannya, bisa saja sudah ada kongkalikong di antara asesor-asesornya kan.

Ini cuma studi kasus di suatu kampus lho, jangan ditanggapi terlalu serius. Tanggapan saya panjang juga ya, mestinya jadi postingan baru ini.

3. Campus - August 16, 2009

Yup, biarkanlah akreditasi itu sebagai salah satu instrumen yang memang mempunyai legalitas formal. Jadi artiya harus diikuti oleh semua PT, terlepas dari segala kekurangan-kelebihan atau pro-kontra. Final Judgement tehadap kinerja sebuah PT adalah masyarakat juga, termasuk disini adalah mahasiswa, orang tua, bahkan dosennya itu sendiri. Yang jelas banyak faktor yang kadang belum terlihat dengan jelas atau transparan oleh masyarakat. Btw, saya gak serius kok, tapi santai hehehe. Intinya senang aja berdiskusi tentang dunia pendidikan di Indonesia yang tercinta ini. Banyak hal-hal penting yang justru efektif jika didiskusikan sambil “nyantai” hehehe.

Hehew.. Niat awal kan memang ini tulisan iseng, meskipun agak berbau satire. Biar pandangan semuanya terbuka. Menentang anggapan bahwa akreditasi adalah segalanya, kuliah di perguruan tinggi negeri adalah yang paling top, mahasiswa yang lulusnya lama bisanya cuma membuat malu nama perguruan tinggi (saya soalnya masuk golongan ini, jadi ini juga pembelaan gitu) dan pemikiran-pemikiran sempit lainnya.

BTW, bapak/ibu ini termasuk dari kalangan mana ya? Dosen? Mahasiswa? Umum? Dari link yang dikasih, dari Gunadarma ya. Salam kenal dari Jogja.

4. Campus - August 16, 2009

Hehehe, saya bukan siapa2 kalo di dunia maya πŸ™‚ Link itupun hanya sekedar berbagi informasi tentang sebuah kampus, namun kiprah saya yang sebenarnya bukan di blog itu- yang hanya sekedar eksperimen saja untuk menjadi “bukan siapa-siapa” hehehe. Namun tidak ada maksud terselubung kok untuk menjadi “anonim”- toh di dunia maya ini, akhirnya bisa dilacak juga keberadaan seseorang πŸ™‚ Termasuk blog resmi saya yang ada di situs UG πŸ™‚ Namun benar bahwa saya adalah salah satu pekerja di UG πŸ™‚ Salam lagi dari Jakarta πŸ™‚

Hehew.. Ketauan kok πŸ˜€ (*mencurigakan, sepertinya ini orang yang hebat. Keliatan.. Mencurigakan.)

5. joesatch yang legendaris - August 17, 2009

saya adalah anomali untuk nomor 3!
lulus lama tapi tetap cumshot,
masih hobi ngampus tapi ndak nyari kerjaan, malah bagi2 kerjaan…

saya memang membawa manfaat yang banyak zonder mudharat sama sekali, nyahahahaha!

Kamu kan ke kampus mencari daun-daun muda. Pengganti permaisurimu dari kawasan ujung selatan Lampung sana kan?

6. izzul - August 17, 2009
7. joesatch yang legendaris - August 17, 2009

salah! saya tidak butuh kata2 jamak. saya cuma mencari reihan πŸ˜›

Reihan sudah punya orang.

8. afia - August 20, 2009

Kategorinya kurang tuh, Aktif kuliah dan aktif cari uang,….

Itu kan versi saya, kalau Bu Dosen mau bikin versi baru juga boleh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: