jump to navigation

Kontemplasi August 17, 2009

Posted by superwid in Bukan Saya.
trackback

Ndak usah banyak cingcong. Jangan banyak komentar apalagi menghina. Sudah baca dan nikmati sahaja.

Aku ingin sekali bercerita padamu. Mungkin bisa sedikit menghibur. Mengurangi rasa penat setelah seharian ini kamu berkeliling kota bersama orang yang kamu sebut teman itu. Aku tau semuanya. Kamu tidak perlu menutupinya sedikitpun dariku.

Kamu pasti sudah sering dengar kan, kalau bangkai meskipun disimpan serapi apapun pasti baunya akan tercium juga. Tenang saja, aku sudah tau kamu menyimpannya (lagipula aku tidak mau tau perihal bangkai itu, aku jijik untuk sekadar mendengarnya), tapi aku tetap ingin bercerita padamu. Maaf kalau nantinya tidak cukup menghiburmu.

Aku ingin bercerita tentang edelweis di Merbabu.

Kamu tau edelweis kan? Anaphalis javanica, bunga abadi. Flora endemik yang hanya hidup di zona alpina. Semestinya kamu tidak pernah melihatnya karena aku tau kamu tidak pernah mendaki satu montana pun. Tapi aku yakin kamu pernah menyaksikannya bahkan menyentuhnya. Di Kaliurang atau yang lebih mudah di tepian jalan protokol di pusat kota Jogja. Ah kamu pasti sudah pernah melihatnya, bahkan memegangnya. Bagaimana rasanya? Aku belum pernah memegangnya.

“Ah apa bagusnya edelweis?”, tanyamu.

Edelweis, jika kamu tau, dia adalah perlambang pengorbanan, ketulusan, keabadian. Sesuai dengan warnanya yang putih halus selembut salju abadi Cartenz.

“Maksudmu?”, tanyamu.

Oh, aku lupa kamu belum pernah melihatnya langsung. Kamu hanya melihat bunganya saja, bunga yang telah mati. Tak bernyawa. Baiklah akan kujelaskan padamu. Hanya padamu.

Edelweis, tumbuhan perintis yang kuat. Edelweis pemilih. Hanya memilih untuk tumbuh di kondisi panas terik di daerah terbuka di kawah dan puncak. Dia hidup sendiri, individualis bahkan terkesan egois. Dia bukan sejenis gulma atau benalu yang menggantungkan hidupnya pada sang inang.

Edelwis adalah tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Sang pahlawan!

Perlambang pengorbanan.

Jika tumbuhan ini cabang cabangnya dibiarkan tumbuh cukup kokoh, edelweis dapat menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik Myophonus glaucinus.

Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus, sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya.

Perlambang ketulusan.

Perhatikan daunnya yang panjang, tipis dan berbulu lebat serupa duri-duri yang berusaha menjaga bunganya agar tetap tak tersentuh. Bagian tengah bunganya yang berwarna oranye dan kepala bunga yang menyerupai bunga aster. Indah bukan? Kamu pun indah di mataku. Asal kamu tau saja bunga edelweis bisa mencapai umur lebih dari 100 tahun, untuk itulah disebut bunga abadi. Bunga edelweis tidak akan berubah bentuk dan warnanya. Bunga yang akan tetap kekal. Abadi.

Perlambang keabadian.

Jangan membandingkan edelweis dengan bunga lain. Ia tidak seanggun bunga anggrek. Ia tidak sewangi bunga melati. Ia tidak semenarik lili. Tapi aku suka edelweis! Aku suka edelweis di Merbabu. Edelweis terakhir di penghabisan jalan sebelum jalanan menanjak sampai puncak. Edelweis satu-satunya yang terpisah dari kumpulannya. Aku suka memandanginya seperti mataku yang selalu berbinar jika memandangmu.

“Cukup memandangnya?”, tanyamu.

Ya, memang cukup untuk memandangnya bagiku. Tidak perlu kucumbui, tidak perlu kupetik. Sama sekali tak ada hasratku untuk memilikinya. Aku sudah cukup bahagia dengan memandangnya. Membiarkannya di sana dan menyegarkan berjuta pasang mata yang berusaha menggapai puncak Merbabu setiap harinya.

Bagi mereka mungkin sama saja antara edelweis ini dengan edelweis lainnya. Tapi berbeda bagiku. Setiap dahan yang tumbuh dari pohonnya, setiap ranting yang mencuat dari dahannya dan setiap bunga yang bermekaran di rantingnya. Semuanya begitu mengagumkan.

Edelweis itu nampak tegar meskipun termarjinalkan.

Kamu pikir setiap tahun aku kembali ke Merbabu untuk apa? Hanya untuk memastikan ia masih di sana. Tumbuh dengan anggun di tengah tandusnya lereng-lereng yang mulai kering oleh kemarau.

Edelweis itu seakan memanggilku ke sana. Memintaku mengunjunginya dan menyuruhku menatapnya. Cukup menatap, katanya. Dan entah kenapa aku pun tak bosan untuk mengunjunginya.

Jika dia tidak memanggilku pun, selalu ada semacam rasa kerinduan. Sesuatu yang muncul dari dalam hati untuk memuaskan hasrat. Hasrat untuk kembali padanya. Bersahabat dengannya dan memahaminya apa adanya.

“Lalu”, tanyamu.

Lalu terakhir aku ke sana, edelweis di penghabisan jalan itu sudah hilang. Semuanya masih sama saja, kecuali satu pohon edelweis itu. Entah kemana, hilang seakan ditelan bumi. Tercabut, bukan tercabut karena aku tidak melihat sisa batangnya di permukaan tanah. Tanahnya masih rapi, tidak ada bekas cabutan atau tebangan paksa. Terbakar? Aku pun tak yakin, tidak ada bekas kebakaran hutan di sana.

Sepertinya dia mencabut dirinya sendiri dengan sangat rapi. Entah, mungkin berpindah sesuka hatinya.

“Ah kamu melantur. Dipetik orang?”, tanyamu.

Mungkin. Itu kemungkinan yang paling mungkin. Bukan mungkin. Pasti.

Sial, ada yang mendahuluiku. Ah..

“Kamu menyesal?”, tanyamu.

Sebentar, biarkan aku berpikir barang sejenak. Aku tidak ingin salah menjawab pertanyaanmu ini.

….

Sedikit, tapi biarlah. Seseorang yang memetiknya pasti akan menjaganya baik-baik. Dia harus menjaganya baik-baik. Seandainya dia tidak merawat edelweis itu, sumpah serapahku akan hadir di hidupnya.

Sementara itu biarlah aku menikmati sisa-sisa bayangannya yang masih terekam di otakku. Nanti akan terbias seiring waktu dan semua akan terlupakan. Kembali lagi seperti sebelum aku mengaguminya.

“Kenapa dulu tidak kamu petik?”, tanyamu.

Sempat terpikir, tapi buat apa kupetik? Kami berbeda. Aku tidak mungkin membawanya ke kota yang panas. Bunganya mungkin bisa kubawa dan akan abadi selamanya. Tapi pohonnya akan mati dan dia tidak akan pernah berbunga lagi. Daripada aku menyimpan bunga edelweis terakhir dari pohon edelweis di penghabisan jalan itu, lebih baik aku membiarkannya tetap di sana. Di ujung jalan.

Ironis sekali nampaknya, aku menyukainya tapi aku tidak mau memilikinya. Belum ingin. Belum pantas.

Toh setidaknya setiap tahun aku masih bisa melihatnya, mengaguminya. Menyaksikannya berbunga dengan lebat dari waktu ke waktu. Menghiasi lereng tandus Merbabu yang mestinya mulai kering di musim panas ini.

“Sekarang?”, tanyamu.

Sekarang edelweis itu telah dirawat orang, entah dimana. Semoga ia baik-baik saja. Dia edelweis terindah yang pernah aku kagumi. Biar. Masih banyak edelweis lain di Merbabu. Mungkin di lereng utara atau lereng barat aku akan menjumpai edeweis lain yang sama anggunnya, atau mungkin lebih anggun. Kalau memang tidak ada aku masih bisa ke gunung lain.

Lain kali kan kuajak kamu ke Merbabu, menikmati edelweis yang masih tersisa. Kalau tidak ada, barangkali di lereng Sindoro masih tersisa beberapa yang tidak terbakar. Atau mungkin akan kuajak kamu ke Alun-Alun Surya Kencana. Surga edelweis di Jawa.

Tapi tak kan ada lagi edelweis di Merbabu bagiku.

Si empunya tulisan lagi kalut, untung saya mendapatkan ijinnya untuk mempublikasikan karyanya ini. Hehew…

Advertisements

Comments»

1. septoadhi - August 18, 2009

siapa yang kalut? situ kan? kok pake malu-malu, sudah mengaku saja ๐Ÿ˜†
rumit, awas nanti kamu terjepit dalam posisi yang sulit karna keputusanmu yang rumit..
dari dulu beginilah cinta, sudah tak terhitung berapa banyak insan yang segala daya nalar pikir-nya dibuat kalut… ๐Ÿ˜†

Saya sudah terjepit, posisi saya memang sulit tapi bukan karena keputusan saya yang rumit. ‘Mereka’ hanya kalut saja kok.

2. Aneh - August 18, 2009

Hahaha.. Ini toh. Ya sabar saja pak ๐Ÿ˜‰ nanti juga terbias waktu. :p

Saya selalu sabar tapi kenapa pantat saya tidak lebar-lebar ya. Dan maaf, saya bukan ayah Anda.

3. afia - August 21, 2009

wkwkwkwkkwkw ๐Ÿ˜€
cinta bukan berarti memiliki…
gitu ya…hohoho..

Tidak ada komentar, kan saya suruh baca saja.

4. sangprabo - August 21, 2009

Maukah kau kawan, aku beritahu bunga yang lebih cantik dari yang kau duga? Bunga yang lebih indah dari seribu bunga, yang di tangkainya pun ada madu, tak berduri dan tak membuat luka, tak menginang dan tak pula diinang. Bunga yang hanya ada di malam purnama bulan Gemini, yang hanya terjamah air hujan dan sinar srengenge.

Jangan kalut karena tak dapati edelweis bukanlah akhir dari romansa, nenekku pun tahu edelweis kadang berbau anyir. Yang perlu kawan lakukan cukuplah menunggu pasang datang, untuk cukup kita berlayar arungi hulu. Tetaplah pada pengharapan.

Btw, seharusnya tanda baca pada kalimat langsung terletak di dalam quote ganda. Contoh..
โ€œKamu sudah makan?โ€œ tanya Gondong.
โ€œBapak pulang,โ€œ kata Emak.
โ€œBangsat!โ€œ makinya.

Itu bunga apa ya? Bunga desa? Tapi lama-lama bosan juga berharap.

BTW, Terima kasih atas ilmunya. Maklum dulu tidak sempat belajar bahasa dan sastra. Nanti sambil jalan diperbaiki segala salah dan dosa.

5. han - August 24, 2009

aku tenggelam….
dia telah diambil orang…
jahatnya…

Siapa yang diambil siapa?

Peri - August 24, 2009

Makanya sedia pelampung….
Masih banyak stok gadis2 desa ๐Ÿ˜€

Pelampung mahal harganya, mending buat ikut les renang.

6. sangprabo - August 24, 2009

Bosan berharap? Lalu, apa yang membuat Anda tetap hidup sampai sekarang kalau begitu?

“Loving you keeps me alive ” — Pearl Harbour

Maksudnya berharap pada seseorang. Capek juga lama-lama, makan ati. Hehew..

7. sangprabo - August 26, 2009

Liat ajah salah satu iklan rokok tuh,ntar kita dapet ‘lebih’. Sapa tau ente dapet bini anak pengusaha yg tajir, sholeh, keluarganya baek, serta rajin menabung. Amien..

Amin amin amin, ya robbal alamin. Semoga Akh Bo juga mendapatkan jodoh yang cucok di hati juga. Allahuma amin.

8. sangprabo - September 1, 2009

Doa Anda kurang tepat.. Doakan saya bisa dapet izin dari bini pertama buat cari bini sampe empat. Itu baru do’a..

Lha situ yakin bisa adil sama bini-bini situ? Kalo iya beneran saya doakan lho..

9. undapatie - May 31, 2012

ini masih jadi tulisan terbaik yang pernah saya baca.. top ah…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: