jump to navigation

Elizabeth August 23, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

“Kalau kamu bukan orang Jogja, segeralah menabung jika kamu berkunjung ke Jogja. Entah bagaimana caranya suatu saat pasti kamu akan kembali ke sana. Tapi tidak perlu menabung banyak-banyak, secukupnya saja. Karena dengan uang yang secukupnya itu justru kamu akan menikmati Jogja yang sebenarnya.”

Itu kata Mas Gogon. Untuk selanjutnya lebih enak dipanggil Masgon saja.

Teman sekamar waktu dulu saya pernah mendapat keberuntungan untuk bermalam di rumah sakit, ruang Elizabeth. Masgon ini aslinya orang Jakarta yang kerjanya di Jakarta pula. Kebetulan dia sedang main ke Jogja sekaligus mengunjungi keluarga ketika dia divonis harus opname di rumah sakit. Sakitnya tidak parah, cuma butuh istirahat saja. Plus diinfus. Plus disuntik. Plus diambil darahnya. Plus bed rest.

Sudah beristri. Anaknya malah sudah dua, sesuai anjuran pemerintah orde baru. Makannya dia sering berkunjung ke Jogja. Anak istrinya memang menetap di Jogja. Tapi jangan salah, meskipun buntutnya sudah dua tapi umurnya belum juga 30. Tampangnya masih keliatan muda begitu pula jiwanya. Dia bilang kalau fans-fansnya bertebaran di sana-sini. Saya sih tidak percaya apa katanya.

Punya teman itu enak, sendiri kadang jauh lebih enak.

Tapi lama-lama sendirian juga tidak enak. Memang sendiri itu menyenangkan, bisa memikirkan yang tidak-tidak. Tapi kalau keseringan bisa bikin stres juga, apalagi kalau di ruang rawat inap rumah sakit. Makannya waktu Simbok menawarkan kamar kelas satu jelas saya tolak mentah-mentah. Tidak ada temannya, cuma berteman tipi dan kulkas. Sukur-sukur kalau anak-anak setan semacam Sukiman, Paijo, Kojrat, Joko datang menemani. Tapi dasar mereka anak setan kalau datang bukannya membuat kedamaian di muka bumi tapi justru bikin keributan di sana-sini. Jadi lebih baik cari tempat menginap yang sekamar berdua. Biar ada teman ngobrol.

Paijo dan kawan-kawan haram hukumnya datang. Merepotkan.

Sejujurnya saya lebih suka punya teman sekedipan mata, maksudnya teman yang cuma datang dan pergi sesuka hati. Selalu saja ada hal baru yang bisa diceritakan olehnya. Apalagi kebanyakan orang kan suka menceritakan tentang dirinya sendiri. Jadi bertambahlah wawasan dan pengalaman saya bertemu banyak orang. Bandingkan dengan teman begadang, teman yang selalu ada di saat susah maupun senang. Kadang saking lamanya berteman dan sudah habisnya bahan pembicaraan akhirnya malah bergosip dan berkata yang tidak-tidak. Itu kan perbuatan tercela. Ganjarannya berat, masuk neraka.

Di balik itu semua, sebenarnya alasan saya menolak tawaran kamar kelas satu karena mahal. Kasian Bapak Simbok saya kalau harus membayar biaya rumah sakit yang amit-amit jabang setan.

Suka atau tidak suka, dokter dan rumah sakit merupakan perpaduan senjata mematikan. Jauh lebih efektif dan efisien ketimbang T-X di Terminator 3. Bagaimana tidak, setelah dipaksa menginap, minum obat, badan dioprek; jurus terakhir keluar. Bon pembayaran yang tidak manusiawi. Apalagi untuk biaya dokter. Dipegang saja tidak, disuruh bayar biaya dokter yang bejibun.

Masgon (yang ternyata mengidap kelainan yang sama seperti saya) sudah lebih dulu menempati kamar pojokan di lantai tiga itu.

H1

“Saya sudah seminggu di sini, belum boleh pulang juga. Padahal stadum penyakit saya cuma 2,” kata Masgon.
“Saya malah sudah stadium 5 Mas, jadi kapan saya bisa pulang kalau begitu?” makin kalut hati saya. Saya tidak betah menginap di sini.

Itu percakapan pertama saya dengan Masgon. Waktu itu memang sudah sore menjelang malam. Saya capek dan langsung berpamitan tidur saja. Badan saya kurang enak.

H2

“Bangun-bangun. Bentar lagi spreinya mau diganti,” Masgon membangunkan.
“Males ah,” saya jawab. Masih mengantuk.
“Nanti kalau tidak bangun bakalan dipaksa. Habis itu disuruh mandi. Kalau tidak mau mandi bakalan dimandiin,” Masgon menjelaskan.
“Dimandiin suster mas? Cantik? Enak dong?” saya bertanya.
“Perawat cowok yang mandiin. Eike sih ogah,” jawab Masgon.

Daripada dimandiin oleh sesama lontong mending bangun, mandi sendiri. Saya mandi.

Suster datang.

“Loh, mandi? Kan nggak boleh jalan-jalan dulu. Emang tadi ndak apa-apa di kamar mandi? Harusnya kan tidak boleh turun dari tempat tidur,” suster cantik bertanya.
“Nggak boleh mandi to? Bilang dari tadi sus! Itu kata tetangga sebelah katanya kudu mandi” saya protes.
“Harusnya nggak usah mandi nggak apa-apa. Soalnya emang nggak boleh jalan-jalan dulu. Bed rest. Total. Biar nanti dimandiin saja,” suster cantik memberi nasehat.

Ah, sudah terlanjur. Lagipula saya tidak mau dimandikan. Apalagi sama lelaki. Naudubile.

“Ini infusnya macet juga kan gara-gara darahnya keluar,” suster cantik memperbaiki selang infus yang tersumbat darah.

Setelah semuanya beres suster cantik keluar.

“Kan, apa saya bilang. Berbahaya menginap di sini, salah-salah bisa mengalami pelecehan seksual. Coba kalau nggak mau mandi, bakalan dimandiin sama perawat-perawat lelaki berwajah sangar,” kata Masgon.

Saking lamanya Masgon menjadi penghuni kamar ini dia sampai sudah hapal semua rutinitas di kamar ini. Jam berapa perawat masuk mengganti sprei, jam berapa makan pagi, makan siang, makan malam, jam berapa harus mandi. Bahkan sampai mengatur infus sendiri.

“Kuliah dimana?” tanya Masgon.
“Di utara situ,” saya menjawab sambil menyebutkan nama kampus.
“Kalau begitu kita satu almamater. Dulu saya juga kuliah di situ. Cuma sudah lama,” Masgon menjelaskan.

Masgon melanjutkan ceritanya.

“Saya sangat bersyukur pernah merasakan hidup di Jogja.

Awalnya dulu saya sama sekali tidak ada keinginan kuliah di Jogja. Tapi saya pikir-pikir pengen juga sesekali keluar dari Jakarta. Saat itu di Jakarta sudah mulai sumpek. Kemana-mana susah. Macet. Panas. Suasananya kurang kondusif saja buat belajar. Jakarta cocoknya buat kerja dan kerja. Kalau ke Bandung juga sama saja. Panasnya memang tidak seberapa, tapi angkotnya itu yang bikin stres. Bandung pun sudah mulai mirip Jakarta, kurang bersahabat bagi mahasiswa. Surabaya? Tidak ada bedanya dengan Jakarta. Polusi. Satu-satunya yang paling memunginkan adalah Jogja. Makannya saya minta kuliah di Jogja saja. Kebetulan orang tua mengijinkan.

Bagi saya Jogja itu kota yang sempurna. Meskipun tidak seramai Jakarta tapi hampir semua ada di Jogja. Kota yang tidak terlalu besar tapi hampir semua fasilitas publik tersedia. Semua yang dibutuhkan untuk hidup dengan normal ada di Jogja.

Budayanya khas dan sangat kental, hingga orang-orangnya berkarakter. Orang-orang unik diciptakan saat mereka hidup dan berkeliaran di Jogja. Penuh kreativitas dan inovasi. Banyak yang bisa digali di Jogja.

Jogja itu murah, malah terlalu murah dalam memberikan pelajaran bagi penghuninya. Kota yang menawarkan pendidikan bagus dan paling murah dibanding kota-kota lain, kota yang nyaman untuk ditinggali.

Jogja selalu memberikan kenangan. Banyak kan yang sudah terpikat oleh Jogja. Lihat saja Katon yang meskipun kehilangan cintanya di Jogja namun ingin tetap selalu pulang ke Jogja? Begitu pula Didi Kempot yang meskipun ditinggalkan kekasihnya di Parangtritis namun tetap setia menunggunya di sana. Lalu Doel Sumbang dan Nini Karlina dengan Malioboro-nya. Tidak lupa Sepasang Mata Bolanya Izmail Marzuki yang ngetop sejak jaman republik.

Jogja juga punya kenangan buat saya. Itu ibunya anak-anak juga hasil berburu di Jogja. Dapat gadis Jogja, jadi kalau ke Jogja tidak perlu bingung mencari penginapan.

Dulu saya sempat baca tulisannya Gie waktu dia ke Jogja, begini katanya:

Saya membayangkan kembali kebudayaan Jakarta yang cepat, efisien dan barbar dibandingkan kebudayaan feodal yang seolah-olah beku dalam waktu. Tetapi tidak ada yang salah. Dua-duanya punya nilai sendiri. Tapi dengan majunya teknologi, kebudayaan pop, akhirnya yang lama akan mati. Dan the dying process kini sedang berjalan. Tak ada yang bisa mencegahnya. Paling-paling sebuah adaptasi pada dunia yang lebih maju.

Nah mumpung masih ada waktu menikmati budaya feodal itu maka saya manfaatkan saja. Dan ternyata memang benar apa kata Gie di tahun 60-an itu. Sekarang semuanya mulai berubah.

Waktu jaman saya kuliah, memang sudah banyak pendatang di Jogja. Membawa kebudayaannya masing-masing. Orang desa dengan keluguannya dan orang kota dengan ‘kenakalannya’. Tidak cuma pendatang dari Indonesia saja, dari dulu memang sudah banyak turis asing di Jogja. Jogja kan kota pelajar sekaligus kota wisata. Wajar kalau banyak pendatang, itu kan konsekuensinya.

Tapi dulu kebudayaan mereka berbaur dengan kebudayaan Jogja. Malahan mereka mesti melebur ke budaya Jogja karena saat itu nilai-nilai normatif Jogja masih terjaga sebagai kota pelajar dan kota budaya.

Sekarang rasanya sudah beda. Apalagi semenjak Plaza Ambarukmo di Jalan Solo itu dibangun, lengkap dengan bioskopnya, perasaan saya Jogja sudah mulai berubah. Begitu juga dengan mejamurnya kafe-kafe dan tempat hiburan malam. Sama seperti perkembangan kota-kota di Indonesia pada umumnya yang cenderung sama. Homogen. Sudah mulai mengarah ke kota metropolis. Pola hidup masyarakatnya sudah mulai konsumtif.

Homo homini lupus.

Apa mungkin karena sikap sopan santun, murah hati, lugu, pakewuh dan keramahtamahan masyarakat Jogja yang justru menjadi bumerang. Terlalu menerima pengaruh dan budaya asing dengan terbuka hingga mulai mengikis akar budaya lokal. Atau justru para pendatang yang tidak tau diri. Tidak punya unggah-ungguh dan tidak kulonuwun. Tipikal masyarakat modern.

Semestinya Jogja sebagai kota budaya mestinya menjadikan budaya yang dalam hal ini adalah Keraton sebagai pusat pengembangan kota sehingga Jogja memiliki identitas yang membedakannya dengan kota-kota lain. Itu yang nantnya bisa menjadikan Jogja tetap unik, berbeda dari daerah lain.

Perkembangan Jogja lebih ke arah fisik dengan meninggalkan pengembangan budaya. Kota bersolek semakin anggun mempesona, tapi tidak disertai dengan pembangunan mental warganya untuk tetap menjaga nilai-nilai budaya Jogja. Jadinya Jogja menjadi kota besar tanpa budaya. Tanpa identitas.

Bisa jadi Jogja akan menjadi icon ibukota kebudayaan Jawa akan tetapi tinggal berupa serpihan-serpihan kenangan masa lalu yang kini hanya berupa bangunan-bangunan kokoh tanpa esensi kerarifan Jogja dalam pergaulan masyarakatnya.

Ada anekdot di kalangan anak muda Jogja: kampungan kalau tiap malam minggu tidak ke mall. Tidak pernah menikmati empuknya bangku bioskop. Belum mencicipi irisan pizza atau potongan paha ayam Amerika.

Padahal kalau mencari yang seperti itu dimana saja ada. Saya justru merindukan temaramnya angkringan di waktu malam. Berbaur dengan orang-orang sederhana. Membicarakan hal-hal remeh temeh hingga yang paling kompleks. Semuanya terasa mengalir apa adanya. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan Jogja begitu terasa, mewakili warganya yang bersahaja.

Kata William A. Haviland, perubahan budaya bisa terjadi karena adanya persinggungan dengan masyarakat lain yang memperkenalkannya dengan ide asing yang membawa serta perubahan pada tata nilai dan perilaku. Dan ini ‘sukses’ diterapkan di Jogja.

Ya tapi itulah perubahan, dinamika kebudayaan. Selalu bergerak mengikuti arus keinginan masyarakatnya. Kalau pada akhirnya banyak masyarakat yang menginginkan perubahan kultur sosial dan budayanya ya mau bagaimana lagi. Apalagi dengan adanya globalisasi, nilai-nilai sosial budaya dan normatif Jogja sudah mulai terkikis. Sekarang nyaris segalanya berorientasi material, dan jika urusannya sudah material yang ada ya itung-itungan, duit, untung rugi. Kapitalis.

Jogja sekarang sama dengan kota lainnya. Tambah sumpek. Lupa jati dirinya.

Tapi kok saya selalu pengin kembali ke Jogja.”

Saya cuma bisa melongo mendengar cerita Masgon. Saya lupa penyakit saya.

“Mau jadi apa Jogja ya?”

H3

“Saya pamitan dulu, situ sabar saja. Paling seminggu lagi boleh pulang kok,” Masgon berpamitan. Lengkap dengan senyum jahat. Dia sudah boleh pulang rupanya. Pulang bersyarat, masih harus istirahat minimal satu bulan.

Masgon pulang diiringi dua anaknya. Saya bakal kesepian.

Suster masuk, membereskan tempat tidur sebelah.

“Siapa penghuni barunya Sus?” saya bertanya dengan penuh harap. Semoga seorang gadis single, manis, cantik, pengertian, sholehah, sabar, baik hati, pintar masak, kaya. Tipikal istri idaman.
“Ada, nanti sebentar lagi. Sabar saja,” kata si Suster.
“Gadis Sus?” saya tanya lagi.
“Tunggu saja.”

Saya menunggu dan berharap bakal menemukan teman sekedipan mata lagi yang bisa memberikan pengalamannya.

Tapi.

“Simbok, besok kalau saya belum boleh pulang saya mau dipindah ke kamar kelas satu. Yang ada tipi dan kulkasnya. Yang adem pake ac!”

Penghuni barunya seorang kakek-kakek yang tidur terus. Kalau tidur saja tiada mengapa, tapi mendengkurnya itu, sungguh membuat frustasi. Mau tau kabar yang lebuh buruk? Yang menunggui kakek tua ini seorang lelaki paruh baya yang suara dengkurannya membuat frustasi kuadrat.

Advertisements

Comments»

1. septoadhi - August 23, 2009

ya memang akan begitulah nantinya di Jogja ini, namanya juga manusia, pasti akan selalu berubah, nda tau arahnya kemana, nikmati saja, selagi bisa, hahayy..

Pasrah sekali.

septoadhi - August 27, 2009

jawaban situ sebenernya adalah yg terbersit pertama kali saya baca posting situ, kok situ kayaknya pasrah saja dan menerima cirita orang, tapi rak memang tiada bisa dipungkiri to, pendatang semangkin banyak, sementara ibukota tetap masih memukau banyak pemuda pemudi desa,

nda ada salahnya untuk pasrah sekali-kali, bukannya kepasrahan -bukan dalam hal yg sangat keterlaluan pasrahnya- adalah salah satu nilai dari jogja, budaya dan manusianya, ya to?
nikmati saja, sambil jgn lupa kepada budaya simbah2 kita W,

hohoho, omongan saya ngelantur, saya lapar, mengantuk, tapi nanggung, dah hampir waktu sahur,

Iya, memang omongan situ agak ndak jelas juntrungannya. Saya juga agak butuh waktu untuk mencernanya.
Kalo semua pemuda pasrah kayak saya, nanti tidak ada generasi penerus yang nguri-uri kabudayan Jawi. Bisa-bisa kayak tulisan Kakang Sengkuni di sini.

2. han - August 24, 2009

oalah ngger, kowe urip dikon njogo jogja malah nggolek “gadis” neng rumah sakit… piye to!!

Sambil menyelam minum susu.

3. sangprabo - August 24, 2009

Wakakaka.. Apa tulisan ini bukti kesumpekan Yogya? Bukti kalo kota sudah menjadi sedemikian sehingga buat tersenyum saja kita mesti mikir seribu kali?

Kalo katanya si SGA, di Jakarta selalu saja ada tempat-tempat yang tidak terpengaruh ruang dan waktu, tempat2 yang seakan berbeda dimensi. Misalnya, warung rokok kecil yang penghuninya sepasang suami istri yang bergantian jaga 12 jam 12 jam, di tempat yang tidak manusiawi berukuran satu setengah meter kali kali tiga jengkal? Mungkin suatu saat Yogya akan menjadi seperti itu, W..

Ayo gek ndang lulus, terus cepet cari bini yang kinyis-kinyis di desa…

Nampaknya di Kota sudah mengarah ke sana. Tapi di desa yang banyak gadis kinyis-kinyisnya itu, mungkin belum tersentuh perubahan jaman.

4. Aday - August 31, 2009

lama saya tidak berkunjung kesini, ternyata gaya dan bobot penulisannya makin mangstab!!!

wah..jadi gk kebayang klo jogja bsk makin parah..
tapi khusus gadis2 yg sukanya pake hot pant dan berkeliaran di seantero jogja ini, saya mendukung!! hahaha..jadi gak usah jauh2 ke bandung lg buat liat paha2 seksi nan putih mulus…wakakakaka
*mesum mode: On*

Memang, memang Anda mesum. Tapi saya mendukung keinginan Anda juga kok. Ke Bandung mahal je.

5. sangprabo - October 2, 2009

Lama bnget kagak nulis lagi?

Hooh Bo, ya beginilah.. Buntu. Membuntukan pikiran.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: