jump to navigation

Sekadar Maaf October 2, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Sebelumnya ijinkan saya mengucapkan selamat Lebaran bagi yang merayakan. Semoga rekan-rekan semua mendapatkan angpao yang banyak. Jangan lupa sisihkan 2.5% untuk diberikan kepada yang berhak. Jangan pelit, lepit bin medit nanti rejekinya sedikit, jodohnya sempit, pokoknya amit-amit jabang demit.

Sekalian mau meminta maaf juga, rupanya puasa tahun ini tidak memberikan pencerahan kepada saya untuk membuat tulisan-tulisan baru. Yang ada justru menghasilkan bab 1 dan bab 2. Maklum, kejar setoran biar bisa nikah cepat. Amin..

Baiklah, untuk menghibur para pembaca yang budiman, kiranya akan saya ceritakan sekuel dari kisah yang pernah saya tulis di blog ini sebelumnya. Bingung? Penasaran? Silakan dibaca saja. Mari.. Mari..

Syahdan di suatu pagi di bulan Ramadan beberapa tahun silam, pikiran saya sedang semrawut. Melayang ke langit ke tujuh. Jelas disebabkan karena Joko dkk yang semalam baru saja mengadakan pertemuan rahasia yang menghasilkan sebuah traktat perjanjian yang melibatkan saya secara paksa. Kalau belum mendapat gambaran mengenai perjanjian itu, ada kiranya lebih baik baca selengkapnya.

Singkat kata singkat cerita, demi memenuhi kewajiban saya terhadap perjanjian itu, saya segera menyusun strategi. Membuat rencana besar yang akan merubah hidup. Berhitung di sana sini, mencatat berbagai kemungkinan yang kiranya akan terjadi setelah pelaksanaan misi. Membuat rencana A dan rencana B. Mengatur jadwal sedemikian rupa dan berbagai macam tetek bengeknya. Ternyata rumit! Dan akhirnya saya malas.

Tapi yang namanya janji dan kewajiban itu harus dipenuhi, entah bagaimana caranya. Daripada nanti di alam kubur saya ditanya sama Munkar-Nakir.

“Bagaimana kewajibanmu dulu terhadap Geng Gabrut. Dimana komitmenmu? Dimana rasa kesetiakawananmu?”

Nanti mau dijawab apa? Kalau malaikat itu bisa ditipu, semudah menipu Joko, Paijo, Sukiman dkk sih tidak masalah. Kalau sama Munkar-Nakir kan urusannya beda. Bisa dicambuk dan kena siksa kubur kalau saya main-main dengan makhluk Tuhan yang satu ini. Alamat sengsara dunia wal akhirat. Naudzubillah..

Saya paling malas membuat suatu kondisi yang sebenarnya bisa dibuat sederhana terpaksa dirumit-rumitkan. Seperti halnya saya tidak suka melihat Cinta Fitri yang sudah sampai session ke sekian padahal ceritanya begitu-begitu saja. Maka dari itu, sewaktu saya bertandang ke kediaman Meymey maka saya jelaskan maksud dan tujuan saya sesuai dengan rencana garis-garis besar haluan Geng Gabrut. Saya jelaskan dengan sejelas-jelasnya dan serinci-rincinya. Tanpa terlewatkan satu kata pun, tentunya dengan beberapa modifikasi di sana sini. Agar nampak lebih formal.

Tapi kan tidak selamanya yang diharapkan di hati selalu sejalan dengan kenyataan. Pernah membanyangkan saat Anda bertemu dengan seorang gadis yang menarik perhatian Anda dan semua tindakan pendekatan yang Anda lakukan ditanggapi dengan baik. Dia menerima segala perhatian yang diberikan tanpa menunjukkan sedikitpun tanggapan penolakan. Kemudian ketika Anda menyatakan perasaan Anda yang bergejolak selama ini, segumpal perasaan yang Anda simpan dan jaga baik-baik di sudut hati yang kelam dan sepi, ketika Anda menyatakan keinginan untuk menjalin sebuah hubungan yang lebih dekat dan bermakna.. dia menolak Anda.

Wah, saya terlalu puitis menggambarkannya.

Jadi intinya misi saya gagal.

Meymey nampaknya agak terkejut juga. Maka dari itu, perihal Geng Gabrut saya ceritakan juga. Orang kalau sudah kasmaran semuanya bakal diceritakan. Sampai-sampai rahasia sahabat sendiri yang mestinya disimpan rapat-rapat bisa juga bocor ke telinga orang yang disukai. Itulah efek buruk punya teman yang sedang kasmaran, segala rahasia pribadi yang mestinya tersimpan baik-baik bisa tersebar ke mana-mana.

“Maaf sekali, bukannya saya tidak suka sama kamu. Tapi selama ini kamu sudah saya anggap teman dan nampaknya lebih enak seperti ini saja. Tapi kamu jangan berubah ya. Tetap seperti ini, jangan berubah,” kata Meymey.

Sebagai orang yang berjiwa besar sudah selayaknya saya menerima keputusannya dan menghargai keputusannya. Saya tidak ingin kehilangan teman, apalagi menambah musuh. Saya terima keinginannya meskipun jantung saya kehilangan ritmenya dan berhenti berdegup sepersekian detik. Lengkap dengan latar belakang lagu Dewa.

“Baru kusadari.. Cintaku bertepuk sebelah tangan..”

Esoknya di kampus tercinta, kepada Geng Gabrut tercinta saya jelaskan bahwa misi saya sudah terlaksana dan hasilnya gagal. Ancaman menuliskan nama saya di papan pengumuman tiada lagi.

Saya bertemu Meymey. Dia diam saja, tidak menyapa sama sekali. Ada yang salah nampaknya.

“Mey, memangnya ada apa? Saya masih ada salah sama kamu?” saya bertanya.
“Nggak kok,” Meymey segera pergi menghindar, masuk kelas.

Saya anggap memang tidak ada apa-apa.

“Nanti saja kalau kelasnya selesai saya tanyakan apa yang terjadi,” begitu pikir saya.

Saya menunggu di parkiran, bersama para satpam kampus. Satu-satunya jalur keluar masuk kampus adalah pos satpam ini. Jadi saya tidak perlu mencari-cari Meymey untuk mencari penjelasan apa yang terjadi. Tinggal tunggu di pos satpam sembari menyaksikan gadis-gadis yang cantik dan bahenol bersliweran di depan kampus.

Sudah sore ketika saya melihat Meymey keluar dari kampus. Saya berinisiatif menghampirinya dan menanyakan keadaannya, masih syok atau tidak. Tapi Meymey diam saja, mempercepat langkahnya. Pergi menghindar.

Pikiran perempuan memang susah dimengerti.

Hari-hari berikutnya saya berusaha untuk mengetahui apa yang terjadi. Bertanya langsung kepada Meymey via sms tidak dibalas. Telepon tidak diangkat. Bertanya pada teman-temannya tidak digubris. Sungguh hari-hari itu merupakan hari-hari terberat dalam hidup. Merasa bersalah.

Beberapa hari berselang, keadaan bukannya bertambah baik tapi malah semakin tidak jelas. Sulit menemui Meymey di kampus. Komunikasi murni terputus. Saya sebenarnya hanya ingin tahu, sebenarnya ada masalah apa di antara saya dan dia. Sebelumnya dia pernah bilang agar saya tidak merubah sikap kepadanya. Dan itu saya lakukan, beda dengannya.

Saya meminta maaf, dengan berbagai macam cara.

Cipluk pernah bilang sama saya,

“Siapa bilang minta maaf itu mudah. Justru minta maaf itu lebih sulit daripada memberi maaf. Orang yang meminta maaf itu mesti berbesar hari mengakui kesalahan baik yang disengaja ataupun tidak bahkan kesalahan yang kadang tidak dilakukan, mesti merendahkan diri untuk memohon sekedar ucapan maaf yang belum tentu diucapkan dengan sepenuh hati dan yang paling membosankan adalah bersabar.. Sabar untuk mendapatkan maaf.”

Dan memang itulah yang terjadi. Saya bahkan tidak tau apa kesalahan saya. Meminta maaf itu memang susah.

Orang sabar itu ada batasnya. Ada satu saat dimana sudah habis segala daya upaya, berbagai macam jurus teknik dan metode untuk mendapatkan maaf dari Meymey. Sampai pada suatu waktu saya sudah habis kesabaran, hilang akal, kalap.

Saya sms dia.

“Saya sudah minta maaf, terserah dimaafkan atau tidak. Saya sudah capek!”

Mulai saat itu, saya berusaha untuk tidak peduli. Kehilangan satu teman tidak saya anggap kehilangan yang besar jika teman itu yang menghilangkan saya dari hidupnya. Saya tidak mau capek hati, capek tenaga dan capek pikiran. Terserah!

Alkisah, lebaran hampir tiba. Masalah Meymey sudah agak terlupa meskipun kadang belum bisa hilang sepenuhnya. Punya teman seperti Joko, Paijo, Sukiman, Kojrat, Dibyo ternyata cukup membantu. Solidaritas antar sesama lelaki.

Begitu lebaran tiba, ritual saling memaafkan dijalankan oleh segenap bangsa Indonesia. Penyedia layanan telekomunikasi mendapatkan keuntungan yang besar dari momen ini. Berjuta-juta warga Indonesia yang hobi memijit hape mengirimkan sms lebaran kepada rekan-rekan sejawat. Hape menjadi sesuatu yang sangat sibuk hari itu, sibuk membunyikan ringtone yang menunjukkan ada sms masuk.

Hape saya tidak mau ketinggalan.

Berpuluh-puluh sms lebaran singgah di inbox. Tidak saya balas. Malas.

Meymey pun sempat berkirim sms lebaran juga. Meminta maaf atas segala kesalahan. Saya biarkan saja.

Apa bedanya dia mengirimkan sms kepada saya dan kepada orang lain. Saya pikir dia hanya menjalankan ritual segenap bangsa Indonesia yang saling bertukar sms lebaran. Saya tidak melihatnya menunjukkan itikad baik untuk meminta dan memberi maaf kepada saya.

Tiga hari berselang, ketika saya sedang bertandang ke kampung Paijo di utara Jogja, ada sms masuk.

“Sms-ku yang kemaren waktu lebaran nggak masuk po?”

Dari Meymey.

Saya berkata pada Paijo.

“Jo, saya bosan, mari kita pergi ke mall.”

Advertisements

Comments»

1. Aneh - October 3, 2009

Ternyata masalah begituan di dunia ini sama saja. Beda pemeran.

Makannya.. Makannya apa ya?

2. septoadhi - October 3, 2009

saatnya silaturahmi ya pake (sensor), nelpon dan sms murah, cuma (sensor) rupyah, (sensor) onlen juga murah perkilobyte 1 rupiah, nanananananana 😆

sekarang sudah beres tho? hyahahahaha

Ya begitulah, mungkin kalau saya ada kesempatan nanti saya bikin sekuelnya lagi. Itu juga kalau serial ini laku 😀

3. septoadhi - October 4, 2009

situ mo bikin serial macam cinta fitri? apa ipil dan upil? garap saja bang, jangan lupa skenario yang panjang jadi bisa banyak sisen, sampai tar pakai season ramadhan juga ya! hahayy ;-D

Siap, tunggu sahaja novel saya keluar.

4. faisaldwiyana - October 8, 2009

bikin aja film Gading-Gading Gadjahmada eps. Mipa Selatan..

Bukan Gading-Gadnig Gajah Mada tapi Cintaku di Kampus Milan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: