jump to navigation

Ini 2009 Bung October 22, 2009

Posted by superwid in Bukan Saya.
trackback

Sebelumnya saya mau meminta maaf yang sebesar-besarnya jikalau dalam tulisan nanti ada yang merasa teraniaya, tersakiti ataupun ternodai. Saya tidak punya maksud sama sekali untuk melakukan hal-hal tersebut. Saya cuma mau bercerita.. Cerita dan selalu cerita.

Ruangan yang masih sama di bawah tangga kampus selatan, tidak ada yang berubah dari luar. Mungkin hanya lapisan cat yang baru serta papan nama yang tergantung di depan pintu, hadiah dari kampus saat dilakukan akreditasi yang membuat ruangan ini berbeda dari luarnya. Menunjukkan identitasnya sebagai ruangan milik mahasiswa. Mandiri, tanpa intervensi. Lengkap dengan sebuah gembok yang menjaga keamanan isi ruangan ini dari tangan-tangan jahil. Selebihnya tidak ada.

Namun di dalamnya telah banyak yang berbeda. Beberapa poster yang dipigura rapi menandakan kesuskesan yang telah dicapai beberapa tahun belakangan ini. Beberapa souvenir yang didapatkan dari kunjungan beberapa instansi tertata apik di lemari kaca. Sebuah kullkas yang memenuhi ruang yang sudah sempit. Komputer desktop yang kurang diperhatikan oleh penghuninya karena ini 2009. Ini bukan jamannya desktop.

Yang masih sama barangkali hanya karpet hijau yang sudah lusuh. Tidak lupa sebuah meja kotak berukuran sangat besar. Kalau diperhatikan lebih seksama, banyak tulisan yang telah digoreskan di sana. Berbagai macam kenangan, suka duka, cinta dan derita. Hanya saja kini telah sedikit terlapisi oleh pernis tipis serta ditumpuki berpuluh-puluh laptop yang tiap hari tergeletak di sana.

Dulu ruangan ini tidak seramai kini. Beberapa orang yang masih punya rasa memiliki selalu menyambanginya. Sekadar untuk duduk-duduk bertukar pikiran, merencanakan kemanakah pemilik ruangan ini akan dibawa ke depannya. Angan-angan dan harapan yang dulu hanya bisa diimpikan oleh segenap pengurus ruangan. Sama sekali tidak terpikir bahwa ruangan ini akan menghasilkan even-even yang sukses di tingkat nasional maupun internasional.

Saat ruangan ini belum ramai pula dulu saya pertama kali menginjakkan kaki ke ruangan sumpek ini. Tidak ada yang menarik di dalamnya. Hanya sebuah meja besar yang menyapa di tengah ruangan. Tidak ada janji-janji manis yang merayu untuk masuk. Tidak ada pancaran kebahagiaan yang ditawarkan oleh ruangan ini.

Tidak ada bayangan sama sekali saat itu bahwa dari ruangan ini akan direncanakan suatu even yang menghasilkan banyak materi. Materi yang bisa digunakan untuk makan-makan, membuat souvenir entah itu berupa kaos atau sekadar selembar sertifikat yang bisa menambah CV. Ah seritifkat itu, cuma semestinya cuma selembar kertas dengan tanda tangan para petinggi kampus yang sebenarnya tidak memberikan sebanyak apa yang diberikan petinggi kampus pada ruangan ini dan penghuninya. Tapi kenapa sertifikat itu begitu didewakan.

Seakan-akan sebuah even akan dianggap berhasil jika dari ruangan ini panitianya bisa tertawa bahagia dengan dompet yang tebal atau perut yang kenyang lengkap dengan kaos baru dan selembar sertifikat bercap resmi kampus.

Seakan-akan ruangan ini menjadi sebuah EO profesional dimana pengurusnya sangat gembira saat even yang diselenggarakan berhasil menghasilkan pundi-pundi emas. Tidak peduli ada konflik di dalamnya. Atau bahkan saking profesionalnya, masalah konflik pribadi itu ditidakadakan dengan meminimalisir kontak pribadi panitianya. Tidak perlulah sering-sering berkumpul, tidak perlulah sering-sering bertemu. Yang penting pekerjaannya beres. Tidak peduli akan kesulitan yang dialami pihak lain.

Tidakkah mereka tahu bahwa beberapa tahun silam orang-orang yang keluar dari ruangan ini tidak sering bisa tertawa. Bahkan untuk sekadar tersenyum sederhana. Setiap kegiatan yang direncanakan di ruangan ini selalu berawal dengan persepsi yang sama. Bagaimana memulainya dengan kondisi yang ada saat itu yang kekurangan materi? Mereka mungkin tak perlu tau.

Mereka perlu tau! Seharusnya mereka perlu tau, tapi apa mereka terlalu sibuk dengan even-even yang sudah terencana yang bakal memberikan kebahagiaan materi bagi mereka. Atau mereka terlalu sibuk duduk di depan laptop berselancar di dunia antah berantah. Atau mungkin sibuk mengantri tiket di bioskop hingga tak sempat meluangkan waktu barang sejenak untuk berbincang sederhana dengan orang-orang yang dulunya hanya bisa tersenyum saat keluar dari ruangan itu.

Bagaimana itu bisa kalau belum-belum sudah ada yang berkata,

“Semester ini semester terakhir saya menjadi pengurus ruangan ini. Semester depan saya ingin konsen kuliah.”

Seakan-akan ruangan ini menjadi penghambat keberhasilan akademik bagi pengurusnya. Padahal kalau dia mau menyadari, berapa banyak pengalaman yang telah dudapatkan dari ruangan ini, dia semestinya berterima kasih banyak pada ruangan ini.

Belum lagi ada yang berkata,

“Kalau koneksi internet lancar, saya akan betah di Himakom. Kalau tidak lebih baik laptop saya bungkus. Pulang.”

Seolah-olah ruangan ini seperti halnya sebuah warnet nyaman, lengkap dengan colokan listrik yang menjamin ketersediaan listrik untuk berinternet ria. Download dengan menghabiskan bandwith? Siapa peduli? Laptop milik sendiri.

Dan berbagai macam keluhan lain yang semestinya tidak patut diumbar ke seantero jagad raya. Serasa sudah jadi pahlawan bagi ruangan ini ya?

Tidak akan ada lagikah sekadar duduk-duduk bertukar pikiran, merencanakan kemanakah pemilik ruangan ini akan dibawa ke depannya. Menumbuhkan kebersamaan, kehangatan dan kekeluargaan yang tidak akan lekang oleh waktu. Yang tiada kan sirna meskipun ruangan ini bukan menjadi kepunyaan kita kembali. Yang melintasi batas ruang dan waktu.. Bukan kebersamaan semu, yang hanya ada saat kita duduk bersama di ruangan ini.

Sudah lima tahun sejak pertama kali saya menjadi penghuni ruangan ini. Ruangannya masih sama, karpetnya masih sama, mejanya juga sama. Hanya orang-orangnya yang berbeda.

Ruangan ini tidak akan pernah meminta apapun dari saya. Tapi saya diberikan segalanya oleh ruangan ini. Pelajaran, pengalaman, ilmu, pengetahuan dan yang paling penting di atas segalanya adalah kebersamaan dan kekeluargaan.

Jangan pernah sekali-kali melupakan ruangan ini.

Hanya teringat dulu Kak Hanif pernah berkata,

“Ruangan ini adalah keluarga, tempat kembalinya anak-anak kampus selatan.”

Inspirasinya dari Kak Ipin

Advertisements

Comments»

1. mono - October 22, 2009

huks..
saya terharu kang…

rapat antar divisi pun keknya udah jarang di dalam ruangan yak
kebanyakan di kantin ato di lobi..

Soalnya kulkasnya kosong, air bersodanya udah ndak kulakan lagi.

2. setanmipaselatan - October 26, 2009

dulu waktu saya pertama kali nggabung jadi pengurus himakom, saya sering ditanyain sama mbak-mbak dan mas-mas angkatan 2000-2001, “kowe ngopo isuk2 wis neng kene, joe? cah ekstensi kan kuliahe sore.”

jawab saya, “nggak tau, mbak. saya seneng aja di sini. di kos juga nggak ada kerjaan soalnya.”

dan nongkronglah saya di situ sampe sore hari menjelang kuliah

Saya tau motifmu, mencari korban pastinya.

setanmipaselatan - October 26, 2009

lebih spesifiknya lagi, saya menunggu desti keluar kelas untuk – minimalnya – sekedar tersenyum kepadanya…
hiks..hiks..hiks..

Kagol ya Mas?

3. ernesto(mukhlis) - October 26, 2009

saya ke himakom jarang bawa laptop lhoh, niat ke himakom kalo g sekedar meminta sebatang rokok, mencari sebuah gitar, bercanda bersama teman atau menggoda seorang wanita hha

inspiratif mas

@mas joe: itu udah saya rasakan beberapa bulan belakangan mas, daripada di kosan, mending nongkrong di himakom aja, memang waktu yang paling berharga adalah waktu yang dihabiskan bersama teman teman

sayang kalo mo kampus musti cari tebengan dulu hhaha

Keturunan Jon the Gabilz, tipe-tipenya sama.

4. faisaldwiyana - October 26, 2009

saya tidak lupa mas..
semoga saya masih diijinkan menginjakkan kaki disana..
padahal tidak ada apa” yang telah saya tinggalkan disana, hanya rasa penyesalan karena meninggalkan ruangan itu terlalu cepat..

Ah yang benar.. Kamu sudah mengambil seseorang dari sana to? Ya to? Ya?

5. septo - October 26, 2009

aih, kata-kata mu W, seperti kata Monox, bikin terharu, hahayy πŸ˜€
saya nda bakal lupa sama ruangan ini dah! once in a lifetime!

PS : karpetnya sudah ganti lho, sudah nda sama kayak waktu kita masuk, saya inget, karna saya yg kebagian tugas beli kapret dari mas Anung πŸ˜€

Oh iya, dulunya warna kuning jelek itu ya.. Saya sudah pikun rupanya.

6. mbahsuriph - October 26, 2009

sekali udah kena radiasi nuklir dari ruang bawah tangga, nggak akan bisa lupa…
hanya kata terimakasih yang bisa terucap… Dan semoga dalam waktu dekat, bisa menginjakkan kaki… Hanya sekedar untuk bertegur sapa atau bertukar pikiran… hehehe…
OS : Nyep, karpet kuninge isih ora?

Yang sudah kerja kalau kembali musti bawa upeti.

7. Landhes - October 26, 2009

Saya masuk ruangan itu sebagai pecundang
seorang anak hilang yang kebanyakan pulang
sekarang saya masih duduk dan sering berbaring disana
untungnya sekarang saya masih bisa tersenyum, walau masih pusing kalau mikirin pesan emak saya…yang nyuruh cepetan lulus..
Tersenyum karena teringat masa2 dulu, dimana saya dan teman2 susah dan senang bersama…

Thanx Wid! Thanx Himakom!

8. aphip_uhuy - October 26, 2009

smoga banyak anak muda yang baca..
dan kembali membawa keluarga kita yang (tampaknya) terancam sirna..

πŸ˜›

xixiixixix

9. sangprabo - October 28, 2009

Saya pernah gulat loh di ruangan itu… Hahaha!

joesatch yang legendaris - November 1, 2009

pasti gulat dengan sesama lelaki. hiii…

Astagfirullah, tobat.

10. han - November 8, 2009

wes ndang lulus mas.. ko betah mung nunggoni himakom..

Bentar lagi saya bakalan lulus. Insaoloh.

11. ipeh - April 8, 2013

menyentuh sekali cerita ini… HImakom bunker Di bawah tangga, tempat kita biasa bernyanyi berdendang riang πŸ™‚


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: