jump to navigation

Mancing Lagi December 29, 2009

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Mancing adalah seni, seni menarik dan mengulur umpan yang terkait pada pancing di ujung senar. Mancing adalah seni memainkan umpan agar bisa menarik perhatian ikan. Kadang umpan perlu ditarik agar menimbulkan efek hidup, kadang perlu diulur agar menimbulkan efek pasrah. Tidak ada teori yang pasti. Pengalamanlah yang akan mengajarkan kelihaian seseorang dalam memancing. Sebagai suatu seni tidak pernah ada yang salah dengan apapun yang ada kaitannya dengan mancing. Tergantung bagaimana persepsi tiap orang dalam mengapresiasi mancing sebagai suatu seni.

Tidak ada yang salah dengan mancing.

Itu yang dulu sempat saya pelajari dari si bapak sewaktu perjalanan panjang Jogja-Negeri Antah Berantah. Mancing merupakan suatu yang menyenangkan, tidak pernah membosankan karena bakal ada sesuatu yang baru tiap kita memancing. Entah itu tempatnya, tekniknya, umpannya dan tentu saja hasilnya.

Mancing adalah alternatif yang menggembirakan untuk mengisi waktu luang. Di luar nelayan, mancing adalah suatu hobi yang menyatukan kegiatan olahraga dan rekreasi. Kegiatan ini bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana pun sepanjang di daerah tersebut terdapat air yang menjamin hidup ikan.

Memancing memiliki kenikmatan tersendiri yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain, yaitu saat menunggu umpan dimakan ikan dan saat mendapatkan ikan. Meski hanya banyak diam menunggu umpan dimakan, para pehobi mancing dapat seolah-olah melupakan dunia di sekitarnya.


Suatu ketika, saya pernah janjian mancing bersama Ucrit. Sekadar mengisi waktu luang yang kurang baik kalau diisi dengan mabuk atau berjudi.

“Mancing nyok, saya bosan,” Ucrit mengajak saya.
“Boleh Crit, kapan?” tanya saya memastikan.
“Besok saja, di kali selokan di ujung kampung. Nggak usah jauh-jauh kan niatnya cuma refreshing saja. Nggak usah modal, yang penting kere hore,” kata Ucrit.
“Ha ya ampun Crit, memangnya di sana banyak ikannya? Wong saya nggak pernah liat ada yang mancing di sana. Itu kan pertanda bahwa di sana tidak ada ikannya. Coba itu di embung di hulu kali selokan,” ajak saya.
“Loh, jangan protes. Terserah saya. Saya kok yang mau mancing, kok situ protes. Saya kan cuma minta kamu menemani saya,” Ucrit memberikan alasan.
“Kok marah? Ya bagaimanapun saya siap bos! Cuma saya nggak punya pancing. Pinjam ya bos” saya menjawab sekenanya.
“Gampang!”

Pada hari yang disepakati, saya bersama Ucrit segera meluncur ke TKP. Ucrit yang hobi mancing saya mintai tolong membawa joran ekstra untuk saya. Daripada di sana saya cuma bengong liat Ucrit mancing, lebih baik saya ikut mempraktekkan seni mancing yang diajarkan dulu.

Sesampainya di TKP, saya dan Ucrit membagi teritori memancing. Ucrit mengambil tempat di dekat rimbunan pohon. Konon kabarnya di bawah rimbunan pohon selain banyak memedi yang tinggal di bawahnya, banyak pula ikan besar yang bersembunyi di bawahnya. Pepohonan yang memiliki akar di dasar sungai dengan batang pohon di dalam air tapi daun-daunnya malah mencuat rimbun ke atas. Di sanalah ikan-ikan besar bersembunyi. Tempat yang strategis untuk mendapat hasil tangkapan yang tidak mengecewakan.

Sedangkan saya terpaksa mencari tempat seadanya. Meskipun saya ada niat mempraktekkan ilmu mancing, tapi toh saya sedang malas. Memangnya di sungai ada ikan apa? Paling-paling ikan kosmopolit sebangsa gabus, lele, wader, sukur-sukur kalau ada ikan gurameh yang lepas dari kolam pembibitan. Lagipula kalaupun dapat ikan paling-paling akan saya lepaskan saja. Saya tidak begitu suka ikan sungai, kecuali kalau ikan laut sebangsa tuna, tongkol atau tengiri. Itu makanan favorit saya. Kata simbah dulu, ikan laut mengandung banyak gizi dari lemaknya yang mengandung Omega 3 alami. Baik untuk tubuh.

“Kamu jauh-jauh, saya mau mancing ikan besar di sini. Kamu cari tempat sendiri, jangan dekat-dekat. Nanti kalau ada dua mata kail di satu tempat ikannya malah curiga’,” saya diusir Ucrit.
“Ya nggak apa-apa to Crit, biar pada pesta ikannya,” jawab saya.
“Nggak bisa, hus sana jauh-jauh,” Ucrit tidak terima teritorinya saya ganggu.

Saya kan harus solider sama teman. Saya ambil sejumput umpan yang dibawa Ucrit untuk bekal. Umpan beraroma vanila. Bekal mengelabui ikan.

“Crit, minta umpan,” saya meminta.
“Ambil sendiri, tapi jangan banyak-banyak. Nanti kalau kurang cari saja cacing di tepian sungai atau daun lompong sudah cukup. Jangan mewah-mewah kalau mau mancing ikan sungai. Ikan sungai ya paling mentok makanannya tidak jauh-jauh dari habitatnya. Ini umpan khusus buat mancing ikan spesial,” terang Ucrit.

Segera setelah saya mendapatkan tempat yang dirasa aman dan tidak mengganggu daerah kekuasaan Ucrit, umpan dipasang di ujung pancing. Ucrit memang jahat, dia hanya menyediakan joran pancing tradisional buat saya. Beda dengan yang dipakainya. Segalanya serba modern. Jorannya dari bahan fibre glass dengan panjang 180 cm, Shimano Speed Master punya. Reelnya dari bahan graphite yang kuat dari Daiwa Tournament SS 700. Senarnya pabrikan Platypus. Kailnya bawaan Eagle Claw. Siap memancing ikan hiu. Sayang ini di sungai, jadi paling mentok ya ikan gabus. Kalau lagi untung ya buaya buntung jadi-jadian yang bakal ketarik.

Sedangkan pancing buat saya jorannya hanya dari bambu, gulungannya dibikin sendiri dari kaleng bekas. Peralatan minim seorang pemancing. Tapi tiada masalah, yang namanya mancing itu keberuntungan yang paling utama. Itulah inti dari memancing, keberuntungan.

Ucrit sudah melemparkan kailnya ke tengah medan pertempuran. Tekniknya sempurna. Caranya melontar umpan ke hotspot sungguh prima. Barangkali saya perlu belajar banyak darinya dalam hal pancing-memancing. Toh selama ini saya hanya mendapat banyak teori tanpa praktek.

Saya sendiri setelah memasang umpan pada mata kail segera melemparkan kail ke sungai. Tanpa teknik. Sebisanya. Semoga dapat hasil yang maksimal, saya membatin.

Satu dua jam, Ucrit sudah mulai mendapatkan hasil tangkapan meskipun tidak memuaskan. Beberapa ekor ikan gabus, ikan lele dan wader berhasil dipancingnya dari kali. Sedangkan saya sendiri masih nihil. Belum ada satupun ikan yang kalap mencaplok mata kail saya. Paling-paling cuma menggigiti umpan hingga habis. Belum ada yang terjebak.

Bisa rugi bandar kalau umpan habis tanpa menghasilkan tangkapan.

Tiga atau empat kali saya masih bisa sabar melihat mata kail yang saya tarik sudah hilang umpannya. Tapi lama-lama saya muntab juga. Umpan mahal-mahal beraroma vanila yang diminta dari Ucrit tidak berhasil menemukan sasaran yang tepat. Habis sudah umpan mahal hasil nyolong di tempat Ucrit tadi.

“Wah ini ada yang salah dengan pancingnya barangkali. Mungkin saya perlu bikin pancing baru saja,” saya berpikir dalam hati.

Kebetulan saya membawa golok, jaga-jaga kalau nanti ada hewan melata yang sowan ke tempat saya. Dengan golok itu saya tebas sebuah dahan pohon yang tidak begitu besar, tapi cukup panjang untuk dijadikan joran. Senar saya ambil dari pancing pinjaman milik Ucrit tadi. Mata kailnya, saya minta ke Ucrit.

Tanpa modal yang penting hore!

Setelah mendapat komponen membuat alat pancing, segera saya rangkai joran, senar dan mata kail itu menjadi satu. Lengkap dengan baut sebagai pemberat dan kayu yang saya temukan di tepian sungai sebagai pelampungnya. Umpan, berupa cacing yang baru saja saya dapatkan di tepian sungai.

“Ngapain kamu,” tanya Ucrit yang meskipun sudah mendapat banyak hasil tangkapan tapi mukanya masih cemberut saja.
“Bikin pancing, kayaknya pancing punyamu nggak bawa hoki Crit,” saya berteriak agar Ucrit dapat mendengar perkataan saya dengan jelas.
“Oh, ya sudah terserah. Tapi jangan berisik, nanti ikannya pada transmigrasi gara-gara kamu berisik,” kata Ucrit.
“Siap bos!”

Setelah pancing jadi dan umpan dipasang di mata kail, saya lemparkan pancing baru itu ke tengah sungai. Berharap seekor ikan wader atau ikan gabus bakal menyambarnya. Kalau saya berharap ikan marlin yang menjadi dambaan para pemancing di seluruh dunia karena kehebatan fight-nya bakal menghajar umpan saya, itu jelas tidak mungkin.

Sementara Ucrit makin banyak mendapatkan hasil tangkapan, saya masih penasaran. Sepertinya ada yang salah ini.

Saya terapkan berbagai macam teknik mancing. Mulai dari teknik mancing dasar, live bait, trolling, jigging-popping hingga casting diaplikasikan. Sampai pada akhirnya teknik mancing garong terpaksa digunakan. Tapi hasilnya masih saja nihil.

Satu jam.. Dua jam.. Tiga jam..

Lama menunggu akhirnya ada juga ikan yang kesasar mampir ke mata kail yang saya pasangi umpan cacing sungai tadi. Dari tarikannya nampaknya ikan besar. Nampaknya..

Berbagai macam teknik digunakan agar ikan yang menyangkut di kail itu dapat diangkat dari sungai. Lamat-lamat terlihat ikan yang menyangkut di kail. Bukan ikan wader, bukan ikan gabus tapi ikan louhan. Bisa-bisanya ada ikan louhan kesasar di sungai. Ini pasti ada yang salah lagi.

Ikan louhan kawan! Ikan yang dicirikan dengan benjolan di kepala. Ikan pembawa hoki yang konon karenanya banyak orang yang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan ikan yang mempunyai rajah di badannya ini. Motifnya indah, warnanya menarik.

Bagaimanapun juga, ikan louhan itu tidak boleh lepas, tapi tidak boleh terluka juga akibat tarikan yang kasar. Nanti keindahannya bisa hilang. Mata kail yang masuk ke mulutnya bisa mengakibatkan luka pada mulutnya. Ini ikan louhan bung, sayang kalau nanti dimakan. Lebih baik dipelihara. Harga jualnya tergolong mahal dan siapa tau bisa mendatangkan keuntungan bagi saya.

“Kamu ngapain, mancing pakai gaya seperti itu,” tanya Ucrit melihat cara saya menarik ikan yang begitu berhati-hati.
“Pancingan saya dapat rejeki nomplok Crit, ikan louhan. Ikan imporan dari Malaysia,” saya menjawab.
“Kok bisa, saya saja dari tadi cuma dapat ikan wader sama gabus kok. Bisa-bisanya ada ikan louhan?” Ucrit bertanya-tanya.
“Ya mana saya tau Crit, namanya juga bejo. Untung,” jawab saya lagi.

Sedapat mungkin saya mencoba mengangkat ikan louhan itu dari sungai. Pelan-pelan agar tidak menimbulkan kerusakan pada ikan itu sendiri. Keindahannya bisa rusak, turun harga jualnya.

Di saat saya masih sibuk berusaha mengangkat ikan louhan, pancing di sebelah saya bergerak-gerak. Pancing pinjaman dari Ucrit yang saya vonis tidak membawa keberuntungan tadi. Sejenak saya pegang pancing buatan tadi dengan tangan kiri dan mengambil pancing pinjaman dari Ucrit tadi dengan tangan kanan. Pancingan pinjaman dari Ucrit tadi juga disambar ikan.

Padahal pancingan pinjaman dari Ucrit tadi tidak saya pasangi umpan di kailnya. Pancing itu cuma saya taruh di tepian sedangkan senarnya entah kemana. Wah ada kesalahan lagi ini pastinya. Saya letakkan pancing yang disambar ikan louhan tadi, jorannya saya talikan pada pohon agar tidak tertarik ikan louhan yang masih belum selesai bertarung dengan saya. Kemudian saya bertarung dengan ikan yang melahap kail tanpa umpan. Tarikannya sama kuatnya, tapi saya tidak pernah berpikir bakalan ada louhan-louhan lain yang makan kail tanpa perhitungan ini. Beberapa saat kemudian, seekor ikan arwana muncul dari sungai dan terbang beberapa saat di udara. Ikan arwana!!

Siapa tidak kenal dengan ikan arwana? Ikan yang mengisi akuarium para konglomerat dengan harga yang selangit. Ikan kayangan! Ikan yang eksotis dengan bentuk tubuh yang gagah dan warna sisiknya yang mempesona yang membuat ikan ini banyak digemari orang. Bagi beberapa orang dianggap sebagai ikan keberuntungan pula!

“Kamu kenapa lagi,” Ucrit bertanya.
“Crit Crit, ikan arwana Crit!!! Bantu saya Crit.. Ini yang satu louhannya belum berhasil diangkat eh malah ada arwana. Crit tolonglah Crit!”, saya minta tolong Ucrit.
“Wah kagak bisa, mau ditaruh di mana muka saya kalau kamu yang berusaha tapi saya yang dapat. Usaha sendiri! Jangan manja!” Ucrit menolak.
“Nanti salah satunya buat kamu Crit, atau kita bagi rata!” saya meminta lagi.
“Tidak bisa, saya nggak mau turut campur!!” jawab Ucrit sembari menggulung sena dan merapikan alat pancingnya. Kemudian melihat saya sedang berjuang menghadapi ikan louhan dan ikan arwana.

Untungnya si ikan arwana agak kooperatif. Dia tidak seganas ikan louhan yang bertarung sengit dengan saya. Perlahan tapi pasti si ikan arwana berhasil saya tarik ke tepian. Tanpa perlawanan yang begitu berarti.

Sekarang tinggal si ikan louhan yang masih bertarung dengan saya. Ucrit hanya bisa menyaksikan perjuangan saya sembari memberikan beberapa saran.

“Ulur, ulur.. Jangan dipaksakan!!”
“Tarik.. Cepat tarik mumpung ikannya lengah.”
“Jangan sampai ikannya terluka! Ikan mahal, hati-hati!”

Cukup membantu pula saran dari Ucrit yang telah malang melintang di dunia pemancingan. Setidaknya teori yang dia miliki berhasil dipraktekkannya di dunia nyata. Sementara saya hanya teori saja.

“Susah Crit, ni ikan bandel sekali,” saya mulai malas.
“Jangan dilepaskan, sayang.. Sudah lama nunggu juga. Jangan menyerah!” balas Ucrit.
“Beneran Crit, ini ikan benar-benar merepotkan,” saya balas lagi.
“Usaha dulu. Masalah hasil liat nanti saja!”

Lama juga waktu yang dibutuhkan untuk menaklukkan ikan louhan ini. Apalagi dengan modal peralatan pancing seadanya. Sukur pancingnya tidak rusak di tengah jalan.

Akhirnya dua ekor ikan berhasil saya tangkap. Cuma dua, tidak sebanyak tangkapan Ucrit. Dia berhasil mengangkat banyak ikan gabus, ikan lele dan ikan wader dari sungai. Dia bakalan pesta ikan malam ini. Sementara saya hanya berhasil mengangkat dua ikan, tapi ikan louhan dan ikan arwana.

“Hebat!” Ucrit menanggapi.
“Cuma dua Crit, banyakan kamu!” saya balas menanggapi.
“Dua yang berkualitas!” Ucrit menanggapi lagi.
“Mau diapakan ini Crit?” saya bertanya.
“Terserah kamu, kalau cuma ikan wader atau ikan gabus tinggal digoreng jadi lauk makan beres deh,” jawab Ucrit.
“Berarti ini ikan kita masak saja juga?” tanya saya polos.
“Gila kamu, dipelihara saja!! Bawa keberuntungan itu!” Ucrit memberikan saran
“Oh iya ya, benar. Saya pelihara saja!”

Saya baru ingat, saya tidak punya kolam. Saya tidak punya akuarium. Lalu mau saya taruh mana ikan louhan dan ikan arwana ini?

Advertisements

Comments»

1. Aneh - December 29, 2009

Bikin kolam dulu.. Beli akuarium dulu.. Mesakne iwake ditaruh di bak mandi.
Kreditne akuarium tho mz, kalau dilepas belum tentu mancing bisa dapat lagi.
Hihi…

Lagi ndak punya duit mbak. Memangnya bikin kolam atau beli akuarium tidak butuh duit? Saya masih mahasiswa ini.

2. sangprabo - December 30, 2009

Wadoh, ini cerita fiksi ataukah nyata? Mantap betul kamu W? Jadi kamu gak punya pancing? Terus kalau kamu ke sini mau mancing pakai apa? Pancingku cuma 1. Ya sudah, nanti pake batang ubi aja. Oia, ati2, kalo nyium bau amis, cepet minggat, mungkin ada buaya habis makan orang…

Tidak semua yang Anda baca dari internet itu benar. Mengenai fiksi atau nyata silakan bagaimana persepsi setiap orang yang membacanya.

3. septoadhi - December 31, 2009

posting opoooo iki 😆
rapopo, sante wae, wong kagol bebaaaaaass 😆
kurang cerito nek bekal ngombene sunrise dab! 😆

Wis gak kagol Sep

4. crotsd4 - January 22, 2010

wah.. manteb tenan.. dapat louhan sama arwana..
sebentar -sebentar..
tak bobo dulu, trus mimpi …
nanti ikannya disimpen di kolam dalam mimpiku saja yah..
hahaha….

cerita yang sungguh menarik..

Menarik? Dilematis barangkali.

5. satriyowibowo - January 23, 2010

wahh2..
mari mbikin empang….

Modalnya gede Yan 😀

6. praja - June 27, 2010

Ceritanya bagus.
Interaktif..
Menarik.
Walapun aneh n gila n mustahil isi ceritanya.
Tapi cukup bisa menghibur diriku n buat ak tersenyum..

Hihih.. Ini memang fiktif.. Tapi ada arti dibaliknya. Semoga menghibur.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: