jump to navigation

Lulus January 29, 2010

Posted by superwid in Bukan Saya.
trackback

Di kampus, mahasiswa seperti saya, Sukiman, Ucup, Paijo, Joko, Jupri, Ajong dan Ibo dianggap sebagai kaum tua yang sudah selayaknya segera meninggalkan kampus tercinta untuk mencari penghidupan yang (semoga) lebih layak di luar lingkungan kampus. Itu anggapan mahasiswa yang masih dalam masa akademik, yang notabene masa pendidikannya belum mencapai empat tahun untuk jenjang sarjana dan tiga tahun untuk jenjang diploma. Lebih-lebihnya ya setahun lah.

Joko dan Ibo memang statusnya mahasiswa angkatan di atas saya, Sukiman, Ucup, Paijo dan kawan-kawan. Tapi karena teman-teman seangkatan mereka sudah lebih dahulu lulus meninggalkan mereka, maka bergaullah mereka dengan kami yang dilihat dari segi usia masih di bawah mereka. Sebenarnya pun saya ragu, teman-temannya yang lebih dahulu lulus meninggalkan mereka atau mereka yang tidak diterima di angkatannya. Atau kemungkinan lain, mereka sengaja memanfaatkan status mereka sebagai mahasiswa senior (dibandingkan saya dan rekan-rekan) untuk menyuruh-nyuruh kami sekehendak hati. Sekadar membelikan rokok atau es teh. Namun bagaimanapun jua, mereka senior yang baik yang tidak segan-segan mentraktir makan nasi padang atas keringat yang telah kami kucurkan.

Bagi kami sesama kaum tua, kami menggolongkan masing-masing di antara kami bukan berdasarkan angkatan tetapi berdasarkan kelulusan. Toh dari sekian banyak kaum tua yang masih beredar di kampus, ada juga yang sudah lulus tapi selalu ada untuk menyambangi gadis-gadis bunga kampus seperti Paijo, Joko dan Ibo. Saya sendiri masih setia menunggu jadwal untuk dinyatakan lulus secara resmi oleh pihak universitas sedangkan sisanya masih berkutat pada skripsi mereka.

Sudah jelas kastanya kan? Paijo, Joko dan Ibo berada di puncak rantai makanan kemudian menyusul saya di bawahnya dengan level menengah sedangkan Sukiman, Ucup, Jupri dan Ajong berada di kasta terendah di antara kami. Sekali lagi pembagian kasta ini tidak didasarkan pada parameter yang jelas selain indikator kelulusan.

Jadilah setiap ada obrolan di antara kami, empat orang yang disebutkan terakhir menjadi bulan-bulanan empat orang yang disebut sebelumnya. Tidak peduli dia punya pacar atau malah sudah beristri, tidak ada urussan dengan porsi makan yang banyak atau sedikit, tidak ada kaitannya dengan jumlah SKS-nya yang sudah lebih dari 200 ataupun masih di bawah 50. Parameternya jelas : LULUS atau BELUM LULUS.

Syahdan di suatu siang selepas seorang teman pendadaran, sebut saja namanya Wahyu, saya dan Rosi berbincang ringan dengannya. Sebelum pendadaran Wahyu sangat serius bertanya kepada saya yang notabene tinggal menunggu wisuda mengenai kondisi sewaktu pendadaran, dosen-dosen mana saja yang kiler, tata cara yudisium, cara mendaftar wisuda dan sebagainya. Nampaknya dia semangat sekali untuk segera lulus.

Kata si Bo juga, Wahyu pernah meneleponnya untuk menanyakan masalah yudisium. Benar-benar serius dia rupanya mengejar wisuda secepatnya.

“Selamat ya Yu, sudah lulus,” saya mengucapkan selamat. Tulus. Murni. Ikhlas tanpa embel-embel apapun. Bahkan minta traktiran makan pun tidak. Padalah rutinitas mahasiswa sehabis pendadaran adalah makan-makan. Itu wajib hukumnya.
“Iya, enak kan. Udah lega,” Rosi menimpali sekaligus memberikan selamat juga.
“Wah, saya berasa tidak berguna tadi di dalam. Begini saja tidak bisa, begitu tidak bisa. Sia-sia selama ini saya belajar di sini. Berasa hidup ini tiada artinya,” jawab Wahyu lemas seakan tidak punya semangat hidup.
“Loh, memangnya kenapa? Wajar lah tadi kalau begitu, dosen pengujinya kan emang kejam. Jangankan kamu, saya dulu juga begitu kok,” Rosi mencoba membandingkan keadaan yang hampir mirip dialaminya setahun silam.

Wahyu hanya menghela nafas panjang dengan raut muka yang masih ditekuk.

“Ya sudah, sekarang lekas dikerjakan revisinya. Biar lekas bisa wisuda periode depan,” saya memberikan saran.
“Saya nggak bakalan ikut wisuda. Buat apa ikut wisuda. Ini sudah tahun kesekian saya di sini. Malu kalau masih harus ikut wisuda. Malu sama orang tua saya. Beberapa dosen di sini kenal orang tua saya, lalu mau ditaruh di mana muka saya dan orang tua saya kalau saya yang angkatan tua ini baru lulus saat ini dan ikut wisuda periode mendatang,” jawab Wahyu sambil menyebutkan nama beberapa dosen yang saya kenal juga.
“Nggak sayang? Kan cuma sekali,” tanya saya.
“Nggak,” kata Wahyu lemas. Masih menyesali sesi sidangnya yang berjalan tidak sesuai harapan.

Begitu Wahyu pulang, saya masih nongkrong di kampus dengan beberapa teman se-kaum tua tadi. Sukiman, Ucup, Jupri, Ajong, Paijo dan Ibo. Topik pembicaraan kami pun tidak jelas. Yang pasti masih seputaran kehidupan mahasiswa yang tidak jauh-jauh dari kampus. Sesekali kami saling mengejek dan diakhiri dengan kalimat yang menohok ke wajah Sukiman, Ucup, Jupri, dan Ajong : yang penting sudah lulus. Begitulah rutinitas obrolan kami, diawali dari pembicaraan tidak jelas, kemudian mengarah ke saling hina dan pada akhirnya mahasiswa dengan kasta terendah terpaksa bungkam oleh satu kata. Lulus.

Hari berganti hari. Wahyu yang saat sidang pendadaran menghadapi suasana yang mencekam, kembali ke kampus dengan beberapa revisi yang harus dikerjakan. Wahyu ini bukan tipe-tipe mahasiswa yang sering absen di kampus, setor muka pada mahasiswa baru seperti Joko yang kadang tidak sadar umur. Tapi berhubung revisi skripsinya lumayan banyak dan lumayan rumit, maka dia kembali sering bersliweran di kampus. Nongkrong di sekretariat himpunan mahasiswa, tempat mahasiswa kaum tua sering nongkrong selain di kantin. Wahyu ke kampus untuk berkonsultasi dengan Jupri membahas revisinya.

Memang, meskipun Jupri statusnya mahasiswa yang belum lulus, tapi beliaulah yang menjadi tujuan mahasiswa untuk bertanya masalah pemrograman. Tidak tanggung-tanggung, paling tidak ada dua mahasiswi yang berhasil ‘dibimbingnya’ lulus dengan sukses lebih dari setahun yang lalu. Tentunya dengan imbalan sepantasnya. Belum lagi mantan Joko nun jauh di pulau sebrang pun berhasil menikmati hasil karya Jupri yang mengakibatkan mantannya Joko itu mendapatkan IP yang insaoloh melebihi IP Jupri sendiri. Jupri memang pantas dikerjarodikan cukup dengan imbalan sepiring nasi padang.

Maklum, mahasiswa. Urusan perut dan mulut kadang memang lebih diutamakan ketimbang urusan lain.

“Jup, bisa bantuin saya mengerjakan revisi tidak?” tanya Wahyu.
“Bisa aja, kenapa? Mana yang harus dibantu?” tanya Jupri balik.

Jupri memang orang baik. Dibandingkan mengerjakan skripsinya dia lebih memilih untuk membantu teman-teman yang mengalami kesulitan dalam bidang akademik. Tipe-tipe martir yang siap berkorban demi rekan se-batalyon. Mahasiswa pembimbing tugas akhir yang patut direkomendasikan bagi segenap mahasiswa jurusan perkomputeran yang mengalami kesulitan dalam bidang pemrograman. Biaya konsultasi gratis. Biaya eksekusi, seikhlasnya. Kalau cewek.. Bisa dengan menggelayut manja di pundaknya atau sebuah ciuman di pipinya. Bukan begitu Jup?

“Ini Jup, kurang menu ini. Trus masalah layer juga belum jelas. Databasenya juga harus dibenahi. Ini… Itu..,” jelas Wahyu kepada Jupri.

Saya, Sukiman, Ucup, Ajong dan Paijo saat itu cuma bisa mendengarkan saja. Kami memang tidak paham. Otak kami tidak seencer Jupri yang menjadi master di bidang pemrograman. Jadi kami biarkan saja mereka berkutat dengan revisi Wahyu sementara kami asik mengutak-atik komputer, berselancar di dunia maya sembari mengoper film-film terbaru untuk disebarluaskan di kalangan sendiri.

Kemudian kami ke kantin, ngobrol haha-hihi.. Dengan topik yang tidak jelas dan pada akhirnya kadang disertai dengan pukulan telak ke arah Sukiman, Ucup maupun Ajong. Jurus terakhir kalau saya dan Paijo sudah kepepet tidak bisa membela diri dari caci maki mereka.

Setelah bosan di kantin kembalilah kami ke sekretariat himpunan mahasiswa. Di sana masih bergumul Wahyu dan Jupri yang sedang mengerjakan revisi skripsi milik Wahyu. Sementara saya, Sukiman, Ucup, Ajong dan Paijo masih saja melakukan perbuatan yang tidak jelas. Saya sibuk chatting, entah dengan siapa waktu itu. Sukiman sedang nampaknya sedang ber-facebook ria. Ajong seperti hari-hari sebelumnya, berusaha mengunduh file berformat .avi atau .mkv untuk didistribusikan. Paijo mengambil gitar dan mulai memainkan. Ucup, yang paling serius, sedang mengerjakan skripsi.

Ketenangan siang itu terusik oleh perkataan Wahyu.

“Ternyata revisi itu susah, ribet. Sudah skripsi susah, pendadaran susah, revisi malah tambah susah,” Wahyu curhat.

Sebagai teman yang baik, saya pun berusaha membesarkan hatinya.

“Nyantai aja Yu, kan sudah pendadaran. Sudah dinyatakan lulus juga. Ya meskipun dengan revisi, tapi wajar lah. Jarang mahasiswa yang lulus tanpa revisi. Kamu harusnya bersyukur sudah selangkah di depan. Lihat itu Sukiman, Ucup sama Ajong yang masih berkutat dengan skripsi tapi santai-santai saja,” saya berusaha menghibur. Sumpah cuma menghibur. Tidak ada udang di balik batu.

Saya cuma membandingkan kondisi Wahyu yang sudah lebih baik daripada Sukiman, Ucup maupun Ajong yang belum jelas kapan akan maju sidang. Seharusnya pada kondisi normal, Wahyu mestinya bersyukur. Tapi..

“Saya nggak bisa santai-santai seperti kalian. Saya tidak seperti kalian, orang tua saya sudah minta lulus secepatnya. Lagipula saya malu baru lulus sekarang,” jawab Wahyu.

Kalau saja Wahyu tau kesulitan yang dialami Sukiman, Ucup, Ajong dan Jupri yang belum juga lulus mustinya dia tidak akan mengatakan seperti itu.

Kami yang ada di ruang sekretariat himpunan mahasiswa cuma bisa diam saja. Kalau tanggapan saya yang berusaha membesarkan hatinya dianggap justru meruntuhkan semangatnya lalu apa yang bisa kami katakan padanya. Satu-satunya jalan untuk selamat dunia akhirat adalah diam. Ya diam. Diam itu emas.

“Kamu sih enak Cup, kamu masih muda. Mau lulus kapanpun juga santai-santai aja, masih banyak yang mau menerima kamu bekerja karena umurmu masih muda,” lanjut Wahyu nampak putus asa. Keliatan dari raut mukanya yang cukup sedih.

Wahyu memang sudah berumur, tapi insaoloh masih lebih berumur Ajong. Kalau saja Ajong lebih perasa, perkataan Wahyu mungkin akan menjatuhkan semangatnya mengerjakan skripsi. Tapi kenyataannya berhubung daya kepekaan hatinya sudah terlanjur hilang semenjak bergaul dengan Sukiman dan kawan-kawan maka perkataan Wahyu tiada artinya di telinga Ajong. Hanya dianggap sebagai angin lalu.

Jika saja Wahyu dibesarkan di lingkungan yang sama seperti lingkungan di mana saya, Sukiman, Paijo, Joko, Jupri, Ajong, Ucup dan Ibo dibesarkan, mungkin dia tidak akan seputus asa ini. Masih banyak yang bisa disyukuri. Kalau saja dia mau melihat sejenak ke bawah.

“Kamu juga, selamat ya bisa ikut wisuda periode depan,” begitu kata Wahyu pada saya sebelum dia pulang. Perkataannya menunjukkan seakan-akan tidak ada yang bisa dibanggakan darinya lagi.

Saya kurang mengenal Wahyu rupanya. Saya pun tak pandai memberikan motivasi kepadanya.

Kemarin Jupri cerita. Wahyu menawarkan kepada Jupri beberapa video rekaman Mario Teguh saat memberikan presentasi mengenai motivasi hidup.

Semoga saja Mario Teguh bisa mengembalikan kembali semangat hidup Wahyu. Amin.

Advertisements

Comments»

1. sangprabo - January 29, 2010

Di saat seperti ini orang memang kadang jadi rapuh. Wajar sih kalo begitu.. Cuma jadi gak wajar kalo kita berlama2 di kubangan. Ibarat dagang, kalo hari ini rugi, besok kudu dapet untung 2x lipat…

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran yang baik dari apa yang terjadi.

2. septoadhi - January 30, 2010

si sukiman dkk itu sepertinya dalam cerita nasipnya masyaolo…
sepertinya sukiman, ajong, ucup, dan jupri yang seharusnya di motivasi πŸ™‚

Itu Sukiman nampaknya sudah tidak mempan motivasi, jadi kita biarkan saja dia mengalir apa adanya. Sembari berdoa semoga air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut.

3. luqmansyauqi - January 30, 2010

tiba2 nyasar ke blog ini. salam kenal dan selamat atas kelulusannya. πŸ˜€

Sama-sama. Kok bisa nyasar mas?

4. joesatch yang legendaris - February 1, 2010

jika tidak berhasil itu si mario, hadapkan yang bersangkutan kepada saya. saya memang tampan dan berkelas. pintar memotivasi dan mengakali keadaan, nyahahaha!

Monggo, silakan.. Sudah tau kan siapa dirinya?

5. william sha-kres-peare - February 1, 2010

wwkwkkw…pilu ngene ceritane w..
sopo to iki..penasaraaaann!!

Ente kecepetan lulus sih, kembalilah si anak hilang ke pelukan D(idit).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: