jump to navigation

Putri 2 February 4, 2010

Posted by superwid in Bukan Saya.
trackback

Saya baru ingat masih punya janji, mau cerita tentang si Putri. Takut kalau nanti-nanti saya lupa trus dipertanyakan di alam sana, maka lebih baik sekarang saya ceritakan tentang Putri.

Bukan cerita yang menarik, tapi setidaknya bisa dijadikan bahan bacaan saja dan sukur-sukur teman-teman bisa memberikan solusi.

Setelah dipikir-pikir, percakapan lewat YM bukanlah percakapan yang ideal. Yang bisa memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi. Padahal saya tau waktu itu memang Putri tidak membutuhkan solusi, dia hanya ingin didengarkan sebagaimana banyak orang yang merasa butuh untuk didengarkan. Mereka tidak butuh jawaban, hanya sepasang telinga untuk mendengarkan segala keluh kesah yang ada.

Menjadi pendengar yang baik itu susah.

Setidaknya si pendengar harus bisa menjaga sikap untuk tidak memotong pembicaraan, entah yang dikatakan si pembicara benar atau salah. Sesuai dengan hati si pendengar atau tidak.

Memberikan perhatian kepada si pembicara juga merupakan satu hal yang penting. Jangan sampai menduakan si pembicara dengan hal-hal lain yang bisa mengganggu jalannya pembicaraan. Pendengar yang baik selalu mencoba memfokuskan diri pada pembicara.

Kemudian si pendengar tidak boleh memilih siapa yang berbicara, tua atau muda, kaya atau miskin, atau apapun status si pembicara. Yang harus diperhatikan adalah apa yang dibicarakan. Objek, bukan subjek.

Jangan pula terlalu cepat mengambil kesimpulan terlalu awal dari pembicaraan yang dilakukan. Kecuali jika si pembicara menginginkan tanggapan dari si pendengar. Di samping itu dalam memberikan tanggapan tidak boleh disertai dengan emosi. Emosi harus dikesampingkan agar pembicaraan dapat diterima dengan jernih. Selalu mecoba memahami pembicara tanpa membuat penilaian pribadi atas pembicara.

Apalagi jika sang pendengar mulai membanding-bandingkan kondisi yang dialami si pembicara dengan kondisi si pendengar. Ini merupakan blunder yang fatal, salah-salah bukannya solusi yang didapatkan tapi justru debat berkepanjangan. Seseorang cenderung untuk selalu menambahkan pendapatnya pada saat ia berkomunikasi dengan orang lain.

Dan yang terakhir, yang paling menjengkelkan adalah ketika si pembicara yang tadinya ingin menceritakan sesuatu kepada si pendengar justru kemudian berbalik menjadi pendengar karena saking penginnya si pendengar menceritakan apa yang pernah dialaminya pada si pembicara. Tanpa disadari inilah yang banyak dialami oleh si pendengar. Niatnya memang baik yakni untuk memberikan gambaran mengenai apa yang pernah dialami, tapi ini adalah kesalahan terbesar. Salah-salah pembicaraan yang dilakukan malah berbalik arah, yang awalnya dari si pembicara kepada si pendengar justru berbalik dari si pendengar kepada si pembicara.

Pendengar yang baik mencoba memahami bukan menghakimi.

Hal terbaik adalah menjadi pendengar yang hebat. Setelah semua informasi didapat, baru boleh banyak bicara. Sehingga apa yang kita bicarakan bisa dipertanggung-jawabkan.

Saya hanya ingin berusaha menjadi pendengar yang baik. Belajar dari banyak hal yang saya dengarkan.

Yak sudah cukup saya memberikan mukadimahnya, sekarang kembali lagi ke kasusnya si Putri.

Dan inilah hasil pendengaran saya terhadap perkataan Putri.

Baru kemaren-kemaren saya sempat ketemu sama Putri. Kesibukan kami masing-masing memang lumayan padat. Putri sudah bekerja di salah satu instansi yang untungnya masih sekota dengan saya. Tapi saking banyaknya kegiatan yang dia ikuti di samping kerja jadilah hubungan kami hanya sebatas hubungan melalui YM, telepon atau SMS. Sedangkan saya sendiri sibuk. Sibuk tidur sembari mendengarkan suara bariton merdu Jim Morrison.

Jadilah lewat YM kami sering bertegur sapa, tapi tanpa pernah ada jadwal pertemuan yang disepakati dengan pasti. Kalau tidak Putri yang membatalkannya dengan alasan pekerjaan kantor pastilah saya yang ingkar karena ketiduran.

Saya bertemu dengan Putri di salah satu seminar secara tidak sengaja. Tidak ada janjian sama sekali. Namanya jodoh, nanti juga ketemu kan? Tidak usah dipaksakan.

Idealnya dalam seminar, pesertanya duduk manis mendengarkan si penyaji menjelaskan materi yang dibahas. Peserta harus duduk diam menyimak dan jika sesi tanya jawab atau diskusi sudah dibuka, peserta baru diperkenankan untuk mengumbar pembicaraan di tengah khayalak ramai. Peserta kan harus jadi pendengar yang baik.

Tapi berhubung saya masih belajar menjadi pendengar yang baik, begitu saya mengetahui materi yang disampaikan sungguh di luar kemampuan otak saya untuk mencernanya maka saya putuskan untuk memberontak. Mata saya gerak kiri dan kanan mencari pemandangan dan kebetulan saya melihat Putri sedang serius mendengarkan topik yang sedang dibahas.

Tanpa pikir panjang, saya hampiri bangku yang masih kosong di sebelahnya. Tepat di antara Putri dan rekan kerjanya. Saya tidak peduli itu bangku punya siapa, selama tidak ada pantat yang mengakuisisinya maka tempat itu milik bersama.

“Put.. Put.. Apa Kabar?” saya bertanya setengah berbisik. Takut mengganggu peserta seminar yang lain yang masih sibuk mendengarkan penjelasan dari si pemateri.
“Heh, ada kamu. Kemana saja selama ini? Janjian tidak pernah datang, ditungguin malah nggak jelas kabarnya,” tanya Putri.
“Biasa Put, kejar setoran biar bisa lekas nikah. Padahal buat nikah harus lulus dulu, trus cari duit buat modal makan anak istri. Kamu sih enak udah lulus, udah kerja, calon sudah ada. Tinggal eksekusi saja,” saya menjawab sekenanya.

Sebenarnya saya tidak ada maksud untuk memulai pembicaraan yang serius. Tapi sebagai teman lama kan tidak ada salahnya saling menyapa. Menanyakan kabar. Lagipula sudah lama kami tidak berjumpa. Saya pun tak yakin kalau dia masih ingat dan ingin menceritakan kisahnya pada saya dan saya pun tak mau menanyakannya padanya. Pamali. Kesannya jadi orang yang pengen tau urusan orang.

Hanya segitu saja pembicaraan awal kami, kemudian Putri kembali serius menyimak materi yang disampaikan. Untuk seorang pekerja seperti Putri, topik yang disampaikan mungkin cukup menarik. Tapi bagi saya yang statusnya masih mahasiswa, topiknya jelas tidak menarik sama sekali. Membosankan.

Tapi tiba-tiba Putri menyambung pembicaraan. Mungkin dia bosan juga mendengarkan si pemateri.

“Temenmu itu loh, suruh lekas nikahin saya!” kata Putri.

Nah loh, ini kok tiba-tiba sampai nikah-nikahan. Saya bingung juga. Memang Putri dan calonnya sama-sama teman saya. Teman lumayan dekat lah meskipun tidak bisa dibilang sahabat. Tapi sedikit banyak saya tau juga kisah cinta mereka.

“Loh memangnya belum? Saya pikir sudah siap nikah kalian. Saya tinggal nunggu undangan dan kalau ada waktu dan kesempatan saya siap datang,” saya menjawab.
“Nah itu dia, masih banyak yang harus dipikirkan. Dianya keras kepala,” jawab Putri.
“Keras kepala bagaimana?” saya bertanya.
“Begini, dia pengennya kita sama-sama mapan baru nikah. Dia pengen punya rumah dulu, punya kendaraan meskipun kredit. Trus dia pengennya saya juga sudah punya karir yang mapan. Jadi katanya barang satu atau dua tahun lagi baru merencanakan pernikahan. Padahal saya kan pengen nikah secepetnya,” jelas Putri.

Putri memang dari dulu pengen nikah muda. Pengen lekas menimang bayi.

“Bukannya itu berarti dia pengen hidup kalian baik nantinya pas udah nikah?” saya bertanya lagi.
“Iya juga sih, tapi kapan itu? Keburu semangat saya udah hilang buat berkeluarga. Saya kan juga nggak bisa menjamin satu atau dua tahun lagi perasaan saya masih sama apa tidak sama dia. Bisa aja satu atau dua tahun ke depan saya malah nggak ada semangat buat menjalin hubungan serius. Begitu juga dia,” Putri mencoba memberikan penjelasan.

Setau saya Putri dan calonnya memang sudah lama menjalin ikatan cinta, pacaran istilah jaman sekarang. Pacaran lama-lama memang tidak baik nampaknya. Hanya memberikan ikatan yang tidak pasti. Menguntungkan si lelaki ketimbang si perempuan.

“Saya sudah bilang sama dia seperti itu, kalau perasaan saya mungkin nggak sama lagi sama dia beberapa taun ke depan. Tapi katanya, kalau mau cari yang lain ya silakan saja. Dia nggak ngelarang. Tapi dia salah apa coba sampai saya harus cari lelaki lain?” lanjut Putri.

Putri mulai cemberut.

“Semua lelaki tu emang gitu ya, dulu aja dia ngejarnya mpe mati-matian gitu. Bilang cinta lah sayang lah, ini itu, ngasih harapan macem-macem. Giliran udah diterima, eh malah gini jadinya. Kalau udah gini cinta penting ya,” protes Putri.

Ya begini kalau si perempuan sudah masuk ke perangkap si lelaki. Dulu saja sebelum pacaran si lelaki mengejar si perempuan setengah mati. Begitu si buruan sudah terjerat, gantian si perempuan yang mengejar si lelaki. Minta kejelasan hubungan.

Sebagai lelaki saya sebenarnya tidak terima karena tidak semua lelaki seperti itu. Banyak juga lelaki yang dipermainkan perempuan. Ucup contohnya. Tapi ya bagaimana lagi. Kalau saya mencoba memberikan alasan, nantinya malah jadi debat panjang yang tak berkesudahan.

Apalagi kalau saya kisahkan cerita cinta Ucup bin Bapaknya yang sungguh merana karena cinta pada wanita. Padahal Ucup lelaki baik nan tampan. Tapi tiada baik ah. Biarlah kisah Ucup menjadi misteri.

“Mami saya juga bilang, jangan pacaran lama-lama. Tidak baik. Dia pun tau kalau mami saya bilang begitu. Saya juga tau kalau dia juga nggak boleh ngelangkahi kakaknya yang belum berkeluarga. Kalau disuruh milih, saya juga lebih berat pada keinginan orang tua yang minta saya jangan lama-lama pacaran dan lekas nikah. Tapi sekali lagi, dia kan nggak salah apa-apa sama saya. Masa’ saya mutusin dia di tengah jalan. Dia nggak pernah macem-macem juga. Di sana hanya kerja dan kerja biar bisa lekas mapan,” terang Putri.
“Itu kan berarti baik, dia pengen lekas mapan trus bisa nikah,” kata saya.
“Iya, tapi pernyataan satu atau dua tahun lagi itu yang memberatkan. Iya kalau benar satu atau dua tahun. Kalau lebih? Berapa nanti umur saya. Kalau lelaki sih tidak masalah mau menikah umur berapapun. Kalau perempuan? Nanti dicap perawan tua lah, nggak laku lah,” Putri memberikan alasan.

Saya juga tidak bisa memberikan solusi pada Putri. Dua hati, dua pikiran memang tidak bisa disatukan begitu saja. Musti banyak pertimbangan yang harus dipikirkan tanpa merugikan satu sama lain.

“Ya udah, saya cuma bisa pasrah aja deh. Entah kapan nanti kami nikah. Iya kalau kami jadi nikah,” kata Putri.

Pasrah sekali Putri.

“Kamu bilang deh sama dia, eh jangan bilang. Disindir-sindir saja biar dia lekas nikahin saya,” Putri meminta.

Jadi buat yang merasa saja. Lekas dinikahi tu si Putri. Keburu diambil orang lho.

Advertisements

Comments»

1. Aday - February 4, 2010

ada penampakan si putri gak gan???
fs ato fb….
hahahahaha….

Akhwat Day, gadis bertudung. Dikau tega mrospek gadis seperti itu po?

septo - February 4, 2010

nha iki nha iki, meh SSI? πŸ˜†

SSI apa? Jangan-jangan ada hubungannya dengan BB?

joesatch yang legendaris - February 5, 2010

ditunggu frnya gan!

Masaoloh.. FR apa ya? πŸ˜€

2. septo - February 4, 2010

“Pendengar yang baik mencoba memahami bukan menghakimi.”

bukannya pendengar yg baik mencoba mendengarkan?

Iya ya, waduh salah. Tapi malas merevisinya.

3. sangprabo - February 22, 2010

Rss feednya opera mini kok agak kacau, hla tulisan yang ini baru muncul.. Kelewatan mbaca

Kok pandangan saya sama putri jadi berbeda ketika baca balasan komentarmu ke Adya.. Nanti aja lah komennya, soalnya agak panjang, tiada mampu hamba haturkan dengan hapeh dan koneksi gprs.

πŸ™‚


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: