jump to navigation

Lingkaran Setan March 15, 2010

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Belakangan ini saya merasa terjebak dalam lingkaran setan kehidupan di Indonesia. Lingkaran setan apa?

Hidup di Indonesia itu tidak lepas dari pandangan dari masyarakat mengenai kondisi ideal yang tentunya timbul dari persepsi masyarakat itu sendiri. Sayangnya persepsi masyarakat ini tidak jauh dari stereotip kehidupan yang sesuai jalur aman yang dikehendaki banyak orang. Jalur aman yang kadang memaksa seseorang untuk mengikuti kehendak orang lain sehingga terpaksa membuyarkan mimpi-mimpi dan ambisi pribadi.

Persepsi masyarakat itu timbul dan mendoktrin melalui pertanyaan-pertanyaan yang akan timbul seiring pencapaian-pencapaian yang didapatkan. Kasus umum yang sering terjadi adalah setelah selesai menjalani pendidikan formal sejak bangku SD hingga bangku SMP kemudian muncul pertanyaan : Nilainya berapa? Akan melanjutkan kuliah dimana? Ambil jurusan apa?

Seakan-akan jalur yang benar selepas SMA adalah melanjutkan jenjang pendidikan ke bangku universitas negeri terkenal dengan masuk jurusan yang banyak diminati calon mahasiswa. Tidak masuk universitas diibaratkan sebagai suatu kegagalan yang menyalahi kondisi ideal. Pandangan miring pun kadang timbul dari kaum intelektual di masyarakat.

Setelah masuk ke universitas, yang selanjutnya menjadi pertanyaan adalah : Bagaimana skripsinya? IPK berapa? Kapan lulus? Kapan wisuda?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini kadang mengenanya jauh lebih sakit ketimbang sakit hati maupun sakit gigi. Buat yang sudah pernah mendapat pertanyaan seperti itu pastinya tau kan? Kalau belum pernah ini saya kasih tau. Amboiii.. Betapa pilunya hati.

Kemudian setelah lulus, pertanyaan berikutnya adalah kerja dimana? Gajinya berapa?

Selanjutnya, kapan nikah? Kapan punya anak?

Dan seterusnya.. Dan seterusnya.. Kemudian tinggal menunggu tua dan dipanggil oleh yang Maha Kuasa.

Begitulah yang terjadi di negeri ini. Lingkaran setan yang tak ada habis-habisnya. Pandangan dan persepsi masyarakat yang menghakimi kehidupan salah satu warganya. Entah yang dilakukan itu sesuai dengan hati nuraninya atau tidak, yang pasti masyarakat mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan jalan hidup seseorang. Kecuali mental Anda kuat, bahaya hukumnya mencoba keluar dari jalur aman. Salah-salah kalau tidak kuat iman dan imron bisa depresi berkelanjutan. Amit-amit jabang bayi.

Alkisah suatu saat, ketika saya sudah berhasil melakukan salah satu pencapaian, seperti yang sudah diperkirakan, muncullah pertanyaan-pertanyaan yang semakin ramai bersliweran di telinga saya. Jauh lebih banyak ketimbang saat saya masih ngalor-ngidul mengejar-ngejar dosen. Sekadar bimbingan, revisi, minta tanda tangan, mengurus nilai, termasuk duduk-duduk santai di kampus, melihat pemandangan indah di kampus dan kawan-kawannya.

Pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

Seorang kawan yang bekeja di pertamini datang pada saya, menyempatkan waktu di sela-sela kesibukannya menjalani pendidikan di salah satu blok pertamini yang sempat menjadi masalah di daerah Jawa Tengah.

“Halo kawan,” sapanya.
“Halo juga kawanku. Bagaimana kabarmu? Sekarang sedang sibuk apa?” saya berbasa-basi.
“Baik-baik saja. Sekarang saya tinggal menunggu diangkat di pertamini. Ini masih pendidikan, sebulan lagi insaoloh tinggal menunggu penempatan. Kemaren sempat sebulan magang di Abu Dhabi, lalu mungkin bulan depan akan magang lagi di Kanada. Lumayan lah, keliling-keliling,” dia bangga.
“Wah, hebat. Enak pastinya?” saya bertanya.
“Jelas, gajinya menggiurkan. Lekas menggelembung tabungan saya. Apalagi kalau pas dapat proyek di lepas pantai. Kamu sendiri bagaimana? Mau kerja di mana? Pertamini? Schumburger? PT Aneka Galian?” tanyanya.
“Nanti lah mau santai-santai dulu. Mau menikmati hidup dulu. Mumpung masih muda. Masih banyak yang harus dilakukan,” saya menjawab.
“Ck ck ck, mau jadi apa kamu? Orang-orang setelah lulus cari kerja yang bagus biar cepet mapan, biar lekas bisa menikmati hidup. Begitu seharusnya. Ini kamu malah mau santai-santai saja,” dia balas berargumen.
“Ya nggak apa-apa kan. Namanya juga darah muda, darahnya para remaja. Yang selalu merasa benar tak pernah mau mengalah,” saya berdendang.

Dia muntab. Katanya saya terlalu santai, terlalu menikmati hidup.

Sekali waktu ada seorang kerabat datang dari jauh menanyakan.

“Sudah lulus?” tanya si Om.
“Alhamdulillah,” saya jawab. Singkat padat jelas. Semoga tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain harap saya.
“Sudah ngelamar dimana?” tanya si Om lagi.
“Alhamdulillah belum. Kebetulan kisah cinta saya tragis Om. Berpuluh-puluh gadis di sekitar saya tapi tiada seorangpun yang terbujuk rayuan saya. Dari Lilis, Meymey, Cipluk, Indri hingga Gadis,  semuanya layu sebelum terkembang,” saya jawab.
“Bukan itu, maksudnya sudah melamar kerja di mana?” si Om mulai kesal.
“Oh, itu belum juga Om. Baru kemaren lulus, ijazah saja belum kering capnya. Pamali. Bayangkan Om, saya sejak TK sampai sekarang sekolah terus. Mengikuti rutinitas. Bosan Om. Biarlah barang sejenak saya menikmati kebebasan. Keluar dari rutinitas. Kata orang tidak ada salahnya sejenak keluar dai rutinitas untuk mendapat semangat baru, kalo lebih kerennya sih mundur selangkah untuk melompat lebih jauh,” saya beralasan.
“Ealah, dasar anak pemalas. Itu si Michael, sepupumu, kerja di pengeboran minyak. Gajinya berpuluh-puluh juta. Kerjaannya ke luar negeri, rumahnya ada dua, mobilnya saja tiga, istrinya saja yang cuma satu. Kamu nggak kepingin? Om ini saja dulu begitu lulus, langsung cari kerja buat membahagiakan orang tua. Sukur langsung diterima di perusahaan kredit negara, jadi sekarang anak-anak Om sudah terjamin kehidupannya. Nggak bakal habis tujuh turunan. Sudah sana sekarang kamu cari kerja yang bener,” si Om menjelaskan berbusa-busa.
“Lha gimana Om, daripada dipaksakan cari kerja nanti hasilnya juga nggak bagus kan? Lagipula saya sudah minta ijin sama Simbok untuk istirahat sejenak. Ada yang musti dilakukan. Penting,” saya beralibi.

Si Om sudah bosan menjelaskan panjang lebar tapi hanya lewat kuping kanan keluar kuping kiri.

Kemudian ada seorang teman sepermainan menawari pekerjaan.

“Di perusahaan saya masih butuh pegawai. Kalau kamu mau bisa kirim CV ke saya. Nanti gampang lah. Mengurusi jaringan. Paling-paling kerjaannya menginstal server,” kata si rekan.
“Oh ya? Butuhnya kapan? Kalau masih bulan-bulan Juli-Agustus saya minat,” jawab saya.
“Nggak bisa, butuhnya dalam waktu dekat ini. Begitu ada yang CV masuk dan memenuhi kriteria langsung ditutup lowongannya. Setelah lowongan ini nampaknya nggak bakalan ada lowongan lagi hingga tahun depan. Pegawainya sudah banyak,” jelas si rekan.
“Wah kalau begitu, saya nggak bisa. Masih ada sesuatu yang harus saya lakukan terlebih dahulu. Takutnya nanti kalau sudah dapat kerja tidak sempat lagi,” saya menolak dengan halus.
“Sayang sekali, padahal enak kerja di tempat saya. Gajinya lumayan besar kalau sudah diangkat. Bisa lah buat beli nasi goreng buat sekelurahan. Apalagi tunjangannya. Dijamin nggak nyesel kalau masuk ke tempat kerja saya,” si rekan merayu.
“Ya bagaimana lagi. Kalau belum ada panggilan hati atau kepepet nampaknya berat untuk berangkat ke kota besar sana,” saya menjelaskan.
“Ya sudah nanti kalau ada temenmu yang berminat suruh menghubungi saya,” kata si rekan.
“Siap bos, sukses ya!”

Saya berpikiran untuk menawarkan pekerjaan ini kepada Kak Ibo dan Paijo. Paijo kan job seeker sejati sementara Kak Ibo masih berpikiran untuk melanjutkan sekolah atau cari kerja. Tapi tidak ada salahnya kan saya tawarkan pekerjaan ini. Mungkin beliau berminat sementara saya bisa mendapat saweran dari gaji pertama salah satu dari mereka yang diterima di sana.

Berkesan congkak? Tidak juga.

Kata Sandy (Drummer Pas Band) pas main di OVJ :

“Apalagi yang bisa dibanggakan oleh orang miskin selain kesombongannya.”

Sesekali saya ingin keluar dari lingkaran setan itu. Berusaha memenuhi mimpi-mimpi dan ambisi pribadi sebelum pada akhirnya mungkin menyerah pada keadaan. Kata Simbok, mumpung saya masih sendiri sekaligus belum ada tanggungan terserah mau berbuat apa saja. Asalkan jangan pernah menyesal untuk semua yang pernah dijalani.

Sebelum saya dapat kerja yang akan membawa saya pada pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Sungguh.. Saya masih ada mimpi.

Saya masih ada janji main ke kampung Boni di garis khatulistiwa sana. Boni sudah berulang kali menyampaikan agenda kegiatan di kampungnya kepada saya, tapi entah mengapa duitnya kok masih disayang-sayang untuk beli tiket ke sana. Mahal kalau naik kapal terbang tapi kalau naik kapal laut bisa semaput.

Saya kalau ada kesempatan pengen maen ke tempat Yoyon di Lombok. Kalau nanti saya dapat tiket gratisan ke Lombok, saya pengen mampir ke sana. Itu juga kalau ada seseorang yang berbaik hati memberikan tiket Jogja-Lombok PP gratis. Diutamakan alat transportasi yang bersayap.

Belum lagi ke tempat Mardi di pedalaman Sumatera sana. Melihat orangutan dan menyempatkan diri bermain di Bukit Lawang yang konon kabarnya sangat indah lengkap dengan bule-bulenya.

Semoga saya bisa ke sana suatu saat nanti jikalau ada kesempatan.

Tapi saya juga tidak berharap banyak. Beda pulau, butuh modal besar. Tabungan semar saya baru cukup buat ke Surabaya PP naik bus Eka.

Dan kalau ada waktu dan kesempatan, saya sangat pengen sekali main ke tempat Om Tovic di Batu sekalian menikmati dinginnya Ranu Kumbolo sebelum saya memeras keringat untuk (mungkin) mengikuti hidup ideal yang diidam-idamkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Sudah sejak 2007 yang lalu, sejak Ipin pertama kali mengajak saya main ke Ungaran, saya ingin sesekali menginjakkan kaki di tanah tertinggi di Pulau Jawa ini. Tidaklah perlu sampai ke tanah tertinggi di bumi ini. Itulah yang saya inginkan sejak beberapa tahun silam, dan sayangnya saya terlanjur mengucap janji kalau saya tidak akan ke sana sebelum saya berhasil meluluskan diri dari universitas tercinta. Alhamdulillah Tuhan pun merestuinya. Dua kali saya terpaksa mengubur impian saya untuk menjejakkan kaki di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Pertama, karena alasan kesehatan yang memaksa saya harus menginap di rumah sakit dan yang kedua karena alasan akademik yang mengharuskan saya harus tetap tinggal di kampung untuk lekas menyelesaikannya.

Kini, saya pikir kesehatan saya sudah pulih seperti semula, urusan akademik saya juga sudah selesai dan Lestari (ponakan saya yang pertama) juga sudah lahir jadi tidak ada alasan untuk menunda lagi keinginan yang sudah lama diimpikan.

Cuma sayangnya kenapa sekarang Semeru masih ditutup ya? Malah aktif pula.

NB : Sudah terklasrifikasi 😀

(Sebagai pledoi atas pertanyaan-pertanyaan yang tertuju kepada saya akhir-akhir ini. Saya bosan menjelaskan, jadi saya postingan ini agar semuanya jelas. Sejelas-jelasnya)

Advertisements

Comments»

1. Parus - March 15, 2010

Life’s simple, you make choices and you don’t look back.

Begitu katanya si tokoh Han dalam film “The Fast and The Furious: Tokyo Drift”.

You only get one life. There’s no need to choose an impossible path. It’s fine to live as you like and die as you like…

Nah kalo ini yang ngomong Hokage Ketiga di komik Naruto. 😛

Aku sempet baca tulisan di blognya Megan, mungkin bisa memberikan pencerahan. 🙂

Nah memang ngomong itu gampang, tapi menjalankannya susah je Pras. Ini sedang berusaha mengimplementasikannya.

2. septoadhi - March 16, 2010

jadi ajang kutip quote 😀

Saya masih ada janji sama Simbokmu lho :p

3. sangprabo - March 16, 2010

Kalo kata PrabowoMurti sih,

jangan hidup dengan standar orang lain

soalnya kalo ngikut2 mainstream kayaknya kok ndak kreatip banget… Orang pada ngibrit cari duit ke Jakarta, orang pada jadi kaya di usia muda, orang pada punya rumah and hidup mapan kerja pake dasi, orang pada lulus kurang dari empat tahun, orang pada dapet IPK bagus, orang pada punya pacar cakep, biarin deh W…
Kadang kita nggak sadar, pencapaian kita dalam hidup ini udah banyak, kalau nggak mau dibilang kebanyakan. SMA kan udah dapet SMA bagus tuh, Universitas juga udah oke, apalagi prodi kita ini passing gradenya nomor 2 setelah kedokteran umum. Gila nggak tuh kalau bisa masuk begitu? Belum lagi berbagai macam skill kita yang (kalau mau dibilang) simpel, tapi pas di situasi dan kondisi tertentu bisa bikin kita disembah2 seperti Tuhan, contohnya ngetik cepet2, nyetting LAN, bisa copy data ke CD, dll. Dan itu kudu disyukuri, di tempat2 tertentu kompetensi semacam itu bermanfaat sekali, mungkin karena di Indonesia ini segalanya sungguh2 timpang (status sosial, wealth, dll). Mungkin bisa ke http://blog.joesgoals.com/2007/09/27/what-it-means-to-master-something/ buat inspirasi..

Terakhir, saya dukung seratus persen buat Anda yang ingin calm down setelah penat habis wisuda. Kalo kata zenhabits,

Slow down, you’re doing too much..

NB: Ndak usah pake NB aja W, sahaya sudah mahfum ituh alias buat saia.. Terima kasih sebelumnya. 🙂

Siap.. Ini sedang mempersiapkan mental dan berbagai macam alasan untuk menjalani hidup sesuai yang saya inginkan. Kan sudah saya bilang, namanya juga hidup di Endonesa. Infotainment saja bejibun, menunjukkan betapa “perhatiannya” masyarakat pada urusan pribadi seseorang.

Selalu bersyukur atas apa yang didapatkan. Bukan begitu?

4. sangprabo - March 16, 2010

Oia, satu lagi… Tanggal 21 ini (katanya) tugu khatulistiwa bakal keren banget. Kurang tahu juga soalnya seumur hidup saia belum pernah ke sana. Jauh abisan.. Hahahaha.. Sebenarnya tempat sahaya ini akan terlihat lebih eksotis kalau situasi, dan waktunya tepat saja. Misalnya, Singkawang bakal lebih bermakna kalau pas musim lebaran Cina. Selebihnya, ya agak2 ndak enak diliat juga sebenernya..

Di Singkawang Cici-cicinya cantik-cantik juga kan Bo? Bagaimana dengan di tempatmu? Itu juga bisa jadi nilai tambah untuk lelaki single seperti saya. Para gadis single, beriaplah..

5. faisaldwiyana - March 17, 2010

kapan nang semeru mas?
hayok,,,

Begitu celengan semar saya cukup untuk modal ke sana Dek Faisal. Tentu saja kalau sudah dibuka juga.

6. Aneh - March 17, 2010

Wah daku jadi merasa tersindir. Sekalinya chating yang kutanyain malah kerja dan nikah.
Btw, semua itu sih bergantung kebutuhan dan latar belakang masing2, Mz. Iyah dikau orang berduit, lha saya yang dompetnya tipis ini kan susah kl ga kerja. Hehe…

Kalo ke Semeru jgn lupa mampir ke Sda yah.^_^

Ampun, komennya saya hapus satu. Sama kan yang tadi sama yang ini.

Duit saya ndak banyak, cuma kartunya yang banyak. KTP ada dua, SIM ada dua, KTM ada dua. Tebal bukan?

7. han - March 18, 2010

2-4 April ada team yang mau mulai naik.. silahkan kontak dengan mereka, dan setelah itu jadilah manusia Indonesia seutuhnya…

Tidak mau kalau tidak denganmu 😀

8. joesatch yang legendaris - March 20, 2010

jadi kalo sudah kerja terus punya duit banyak terus baru bisa nyante2?
saya sih milih keadaan saya yang skrg: nyante2 tapi duit tetap banyak dan tidak mau terjebak dengan rutinitas kayak orang lain. rahasianya cuma satu: otak! 😈

benar2 tipikal shikamaru nara saya ini; pemalas yang jenius

Salah Mas Joe, kalo sudah punya istri cantik nan kaya raya baru bisa nyante-nyente.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: