jump to navigation

Kontemplasi II March 17, 2010

Posted by superwid in Cerita.
trackback

Bagaimana kabarmu?

Kemarilah sahabatku, sudah lama kunantikan kamu di sini. Kemarilah. Akan kubuatkan secangkir kopi, spesial untukmu. Aku tahu sejak dulu kamu menyukainya. Kamu sering mengatakannya.

Kemarilah, secangkir kopi mungkin tidak akan meredakan lelahmu dari perjalanan jauhmu ke kotaku. Tapi setidaknya secangkir kopi ini akan mengurangi dahagamu. Semoga juga mengingatkanmu akan Argopuro, dua tahun lalu.

Aku selalu kagum akan cerita-ceritamu menapaki puncak-puncak tertinggi di pulau ini. Ceritamu tentang keringnya Segara Wedi di Slamet, tentang hijaunya Lembah Kijang di kaki Arjuno, tentang dinginnya air Ranu Kumbolo di pagi hari, tentang luasnya kawah Raung. Semuanya selalu kuperhatikan. Bukan ceritamu, tapi dari caramu bertutur yang membuatku ingin selalu memperhatikanmu. Kini biarlah untuk sekali waktu aku yang ingin bercerita kepadamu. Maka dari itu kubuatkan secangkir kopi untukmu, sebagai penawar kantukmu jika nanti kamu bosan mendengarkanku.

Apakah kamu masih ingat Argopuro dua tahun lalu?

Mengenangkan masa muda kita yang gemilang. Menghabiskan dunia remaja kita yang tidak pernah terlupa. Mengingatkan tahun penuh warna.

Saat janji terucap bahwa kita akan menapaki tanah-tanah dingin yang membelah Dataran Tinggi Hyang. Senyum manismu yang menjanjikan keindahan perjalanan menggapai Puncak Rengganis.

Aku selalu ingat.

Dalam satu senyuman saja kamu bisa meyakinkanku sementara dua tahunku bersamamu tidak cukup untuk menyelamimu.

Kuceritakan dulu padamu, Argopuro, begitu masyarakat sekitar menyebut Dataran Tinggi Hyang ini. Arged dan Puro lah yang menyusun nama itu. Kata orang Madura, artinya istana yang sangat tinggi. Aku pun percaya saja.

Istana yang sangat tinggi yang dibangun untuk Dewi Rengganis, selir raja pada masa Kerajaan Majapahit. Istana megah yang lengkap dengan segala keindahannya, sepasukan tentara yang siap menjaga, dayang-dayang yang setia melayani, berbagai macam hewan ternak dan taman yang indah. Istana yang dibangun agar Dewi Rengganis berkenan menempatinya dalam keabadian.

Sebuah cara yang culas untuk menyingkirkan Dewi Rengganis, selir raja yang paling disayang agar tidak menduduki tampuk kekuasaan Kerajaan Majapahit seperti yang diramalkan empu pada masa itu.

Ah itu cuma legenda mistis yang menyertai alamnya yang begitu eksotis. Buat apa kita membicarakannya.

Argopuro, gunung yang begitu indah hingga Wormser tak henti-hentinya memuji keindahan alamnya. Taman Firdaus Pulau Jawa begitu Junghuhn menjulukinya. Surga di Timur Jawa para pendaki menyebutnya.

Aku ingin bercerita, tentang kita.

Pagi itu kita mulai perjalanan menapaki jalur pendakian Baderan. Jalanan berbatu mulai kita lalui, kemudian tanah-tanah gembur sisa hujan yang membecek mengotori sepatu kita.

Sepanjang perjalanan ingin sekali aku berada di sampingmu, mendengarkanmu bercerita, ikut tertawa. Langkahmu yang kecil itu semakin cepat saja saat langkah-langkah panjangku mulai bisa menggapaimu. Saat aku terpaksa mempercepat langkahku untuk mencapaimu, aku mulai meninggalkan teman-temanku. Kamu kadang peduli pada mereka tapi lebih sering kamu abaikan mereka.

Kamu bilang pendakian kali ini adalah menggapai puncak secepatnya.

Aku katakan pendakian kali ini adalah pencarian jati diri seutuhnya.

Menyusuri lereng bukit, menapaki jalan berbatu yang membelah ladang jagung dan tembakau kemudian berlanjut memasuki kawasan hutan yang konon banyak dihuni babi hutan, monyet ekor panjang dan burung. Semakin jauh dari ladang, hutan semakin lebat dan gelap. Menyusuri punggungan dengan tebing yang terjal dan jurang yang curam di kedua sisi jalan setapaknya. Maka aku pun semakin tak mungkin bisa berjalan di sampingmu.

Sempat kita beristirahat di sebuah tempat terbuka. Pos Mata Air, begitu yang tertulis di salah satu sisi pohonnya. Kamu tak ingin istirahat, kamu ingin terus berjalan.

Aku masih sempat melihat beberapa monyet ekor panjang melompat-lompat di kejauhan. Menggelayuti dahan dan ranting pepohonan hujan tropis ini. Sesekali melihat jejak-jejak babi hutan yang turut melintasi jalan setapak para pendaki. Ataukah sebenarnya para pendaki yang turut melintasi jalur babi hutan di tanah tak bertuan ini.

Apakah kamu sempat memperhatikannya? Adakah kamu memikirkannya?

Setelah beratus-ratus langkah, berjalan melalui tanjakan dan turunan, melingkari bukit yang ditumbuhi pohon pinus dan cemara selanjutnya padang rumput luas mulai terbentang di hadapan kita. Masih separuh jalan lagi untuk sampai ke tujuan hari itu.

Bukit-bukit berlanskap sempurna diselimuti hamparan karpet hijau menyertai perjalanan kita. Bagian bumi manalagi yang bisa menandingi keindahannya?

Padang rumput yang indah. Beberapa pucuk bunga Primula ploifera tumbuh jauh di luar jalur. Sesekali burung merak menampakkan diri. Kalau kamu perhatikan banyak sekali kehidupan di sana. Kalau kamu dengar banyak suara-suara alam yang mengalun indah menjanjikan kedamaian.

Kilometer lima belas dan pandangan kita tertuju pada hamparan ilalang hijau yang bersemi indah di musim hujan ini. Cikasur. Sebuah lapangan datar yang sangat luas. Padang rumput yang dulu pada masa Belanda sempat dijadikan sebuah lapangan terbang.

Malam itu aku terlalu lelah untuk menikmati Cikasur. Ditambah rintik hujan yang malas membasahi bumi sore tadi, menjadikan hari itu akan lebih baik jika segera diakhiri. Mungkin perjalanan jauh dari basecamp telah meruntuhkan semangat-semangat dalam pribadi kita.

Aku pun tidak mendengar suaramu lagi saat aku mulai memejamkan mata.

Malam belum juga lewat paruh pertama. Bulan mati sebagian hingga padang luas itu nampak temaram. Kelam.

Pagi di tepian sabana Cikasur.

Taukah kamu, hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk meresonansikan ingatan masa lalu. Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu.

Hujan semalam menyanyikan lagu rindu yang begitu merdu. Membuai dalam tidurku dan menyeruakkan kenangan-kenangan indah masa lalu yang semestinya sudah aku lupakan sejak beberapa waktu silam.

Tapi aku tidak bisa.

Pagi inipun keadaannya tidak begitu bersahabat bagiku. Petrichor, begitu senyawa ini dinamakan. Bau wangi yang khas yang dikeluarkan oleh tanah, ilalang dan rerumputan setelah hujan turun. Aroma wangi surga memenuhi ruang yang seakan tiada tepi ini. Hati. Semakin membawaku ke dalam kenangan masa lalu.

Aku benci mengingat masa lalu tetapi aku suka hujan selalu. Entah kenapa, tak ada alasan. Meskipun hujan itu akan selalu menyadarkanku akan masa lalu. Membawaku pada memori kelabu.

Aku ingin meninggalkan kenangan lamaku itu di sini, di Cikasur. Hingga aku begitu betah berlama-lama di sini. Sekadar duduk diam, sendiri di tepian sabana hijaunya dipayungi oleh hamparan langit biru yang maha sempurna.

Aku selalu jatuh cinta pada semua yang bisa membuatku merasa sendiri karena dalam sendiri aku bisa mengerti. Mengerti akan diri sendiri.

Dalam sendiri, aku mengimajinasikan setiap bujur garis yang membelah sabananya, melukiskan jejeran cemara gunung, Casuarina junghuhniana, yang membatasi di setiap sisinya, mengabadikan setiap rangkaian peristiwa yang terjadi di masa lalu dalam ruang imaji. Kemudian menyimpannya di tempat terdalam di dalam hati yang mungkin tak kan bisa kuselami.

Masa lalu, ya, masa lalu. Sebagian yang ada saat ini dimulai dari masa lalu.

Dan kamu memanggilku. Memecah kesunyian. Mengganggu kesendirian.

Kamu bilang kamu ingin segera sampai ke puncak. Aku bilang aku masih ingin menikmati sabana.

Kamu menempatkanku pada sebuah keadaan yang dilematis. Kontradiktif.

Kamu bilang aku terlalu santai menikmati hidup. Aku bilang kamu terlalu serius menjalani hari. Kita memang tidak bisa bersama, maka aku biarkan kamu memunguti barang-barangmu, memanggul ranselmu dan segera melanjutkan perjalanan untuk menapaki puncak Dataran Tinggi Hyang-mu. Menuju puncakmu.

Aku berikan segulung pita merah kepadamu,

“Ikatkanlah seutas pita merah di setiap ilalang yang tumbuh di tepi jalan setapak. Biar aku tau kamu masih ada di jalur yang semestinya.”

Senyumu bagaikan salam perpisahan bagiku.

Dan kamupun mulai mengikatkan pita merah itu sejak kita berpisah.

Aku cemas. Gelisah.

Selang beberapa jam saat matahari mulai bersinar terik aku menyusulmu untuk berusaha mencumbui puncak Dataran Tinggi Hyang-ku.

Garis-garis imajiner yang membelah padang Cikasur mulai hilang seiring peluh yang membasahi. Kuucapkan selamat tinggal pada Cikasur, pada kenangan-kenangan masa lalu. Esok kalau ada waktu aku ingin menjengukmu lagi. Menggauli ilalang-ilalang hijau dengan embun pagi yang menyejukkan hati.

Mulanya setiap beberapa ratus meter aku masih bisa melihat pita yang kamu ikatkan, namun pada akhirnya aku harus mencarinya dengan seksama. Tidak mudah menemukannya. Apakah semakin jarang kau ikatkan pita merah itu. Atau hutan-hutan Dataran Tinggi Hyang ini tidak merestui perjalanan kita hingga tidak mengijinkanmu melilitkan pita merah di sebagian tubuhnya.

Apakah itu artinya kamu mulai tidak mengingatku?

Hm 140 setelah kulewati berpuluh-puluh tonggak hektometer lainnya.

Sebuah turunan yang membawaku menyeberangi sungai berarus lumayan deras. Menjanjikan tanjakan yang akan menuntunku ke sebuah tempat datar beberapa meter di atas lekukan sungai yang meliuk manja.

Setiap tanjakan ada batasnya. Dan saat batas itu terlampaui turunan yang akan dihadapi. Begitu pula sebaliknya, setiap turunan akan menyuguhkan tanjakan yang harus didaki saat batas turunannya dilampaui.

Begitulah hidup ini, Tuhan menciptakannya begitu sempurna. Hanya saja aku terlambat menyadarinya.

Matahari masih bersinar dengan terang saat aku merebahkan tubuh di sebuah bangunan kayu berdiri dengan megahnya di Cisentor, di tengah Dataran Tinggi Hyang. Di sana aku melihat ranselmu tergeletak hingga aku yakin kamu masih baik-baik saja. Kudirikan tenda di sebelah shelter, untukmu jika kamu kembali dari puncak.

Dan kamu pun datang saat matahari mulai terbenam di peraduannya.

Di Cisentor, di tempat bertemunya tiga jalur pendakian ini kita bertemu lagi. Hanya saja kita bertemu bukan sebagai tim lagi. Kamu telah menginjakkan kaki di puncak sementara aku masih berusaha menggapainya.

Malam itu tidak banyak yang kita bicarakan. Kamu terlalu lelah karena perjalananmu ke puncak dan aku terlalu bersemangat untuk menggapai puncak esok.

Namun aku mulai berpikir untuk melupakan puncakku untuk bisa menemanimu berjalan menyusuri lebatnya hutan Dataran Tinggi Hyang-mu.

Dini hari di Cisentor. Gemericik air di Aeng Poteh, air putih, mengusik keheningan malam.

Tidak mungkin bagiku untuk menyertaimu dan meninggalkan teman-teman yang telah menemaniku menikmati Cikasur kemarin. Sungguh tidak mungkin aku melupakan mereka yang telah bersedia berkorban waktu untukku.

Hingga aku mungkin tetap akan pada tujuan semula, menggapai puncakku dan membiarkanmu melanjutkan perjalanan nanti. Dengan orang lain yang pastinya akan menjaga di setiap langkahmu.

Percayalah, aku selalu melihatmu dari jauh bahkan aku selalu memperhatikanmu. Tidak untuk mencemoohmu atau mengasihanimu, apalagi untuk menjerumuskanmu. Karena aku percaya kamu pasti bisa melewati semuanya di atas kakimu.

Kubuat segelas teh. Kumulai perjalanan puncakku pagi itu sembari meninggalkan secangkir kopi panas untukmu. Untuk menghangatkanmu jika kamu terjaga nanti. Semoga.

Pagi di Puncak Rengganis, salah satu puncak Dataran Tinggi Hyang yang berwarna keputihan, kombinasi batu kapur dan belerang. Mistis sekaligus eksotis.

Kuucap syukur atas segala yang telah diberikan padaku, padamu dan pada semua. Kumohonkan semua yang terbaik untukku, untukmu dan untuk semua.

Begitu yang selalu kuminta: untukku, untukmu dan untuk semuanya.

Reruntuhan bangunan yang lebih pantas disebut puing berserakan dan bertumpukan begitu saja seolah tidak bernilai apa-apa. Entah beberapa ratus tahun yang lalu puing-puing ini mungkin membentuk sebuah istana indah. Sebuah istana tertinggi di tanah Jawa, istana Dewi Rengganis.

Bau belerang masih terasa di sini. Bunga-bunga edelweis mulai menemani semenjak dari Rawa Embik hingga lereng terakhir menuju puncak Rengganis. Beberapa di antaranya berupa padang edelweis yang begitu luas dan indah.

Ya, aku begitu menyukai edelweis. Aku menyukainya karena aku menghargai persahabatan, sebuah interaksi yang susah dicari namun akan selalu abadi seperti bunga edelweis.

Ah, jangan tanyakan padaku lebih indah edelweis Merbabu atau edelweis Argopuro. Aku tak akan menjawabnya. Masing-masing punya keindahannya tersendiri.

Dewi Rengganis pun mungkin hanya bisa tersenyum manis.

Sudah siang ketika aku kembali di Cisentor. Sepi. Tidak ada kamu, begitu pula ranselmu. Hanya sekilas bayangmu dan harum wangi tubuhmu.

Kamu telah melanjutkan perjalananmu dan aku baru kembali dari puncak.

Aku bilang untuk segera melanjutkan perjalanan, menuju pemberhentian berikutnya, Danau Taman Hidup. Tumbuhan perdu dan rerumputan coba menghambat langkah dan pandangku. Sepanjang jalan, Girardinia palmata, sang tumbuhan penyengat menemani. Apakah kamu sempat merasakan sengatannya? Ataukah raincoat, gaiter dan sepatumu mengisolasimu dari dunia luar?

Aku katakan pada teman-temanku bahwa kita harus menghabiskan malam di Danau Taman Hidup. Begitu indahnya di sana. Aku paksa mereka untuk berjalan membabi buta. Mengejar asa yang sempat kusematkan dalam segaris senyummu.

Padahal aku tahu bahwa aku tidak akan sampai ke sana hari itu, aku cuma ingin segera menyusulmu. Paling tidak memendekkan jarak di antara kita.

Aku egois. Memang. Demi kamu.

Langit berpendar jingga di barat. Senja di Aengkene. Aku sudah tahu bahwa perjalanan hari ini akan berakhir di Aengkene, bukan di Danau Taman Hidup.

Kamu mungkin sudah di Danau Taman Hidup saat itu.

Aengkene, sebuah tempat datar yang cukup luas. Cukup untuk mendirikan empat tenda besar. Aengkene, air kecil begitu artinya. Air kecil yang diwujudkan dalam sebuah sungai kecil yang mengalir. Dipenuhi oleh tumbuhan penyengat.

Kubayangkan jika saat itu aku bisa duduk di sampingmu. Menatapmu. Mengagumi keindahanmu. Di tengah hamparan tanah yang tidak seberapa luas ini ditemani kicau burung yang bersahutan mesra. Ah, betapa sempurnanya.

Aengkene. Aku hanya memikirkanmu hingga pagi itu aku ingin segera melanjutkan perjalanan ke Danau Taman Hidup. Mungkin kamu masih menungguku di sana dan aku pun tak ingin membuatmu menunggu lama. Maka aku segera memulai perjalanan pagi itu.

Melalui punggungan, meretas jalan menyayat hutan lumut. Pos Cemara Lima hanya terlewatkan begitu saja, tanpa ada sedikitpun keinginanku untuk mengistirahatkan sepasang kakiku.

Danau Taman Hidup baru bisa kucapai menjelang sore hari. Aku tidak melihatmu. Kata teman pendaki, mereka berjumpa dengamu di tepian hutan. Menyusuri jalan setapak menuju Ayer Dingin. Beberapa jam selepas perbatasan ladang. Aku bahagia kamu telah menyelesaikan pendakianmu, namun di sisi lain aku kecewa karena kita tidak bisa bersama. Ingin rasanya aku segera melanjutkan perjalanan turun ini.

Aku bilang pada teman-temanku untuk melanjutkan perjalanan ini. Tapi kata mereka, pemandangan Danau Taman Hidup terlalu indah untuk dilewatkan. Mereka ingin melihat matahari muncul dari balik gunung yang melatarbelakangi Danau Taman Hidup. Aku pun tak mungkin turun sendirian. Sangat tidak logis untuk melakukan perjalanan turun saat malam hari, apalagi sendiri.

Pagi itu di Danau Taman Hidup. Sebuah danau terbesar di Dataran Tinggi Hyang. Danau yang sangat penting bagi kelanjutan ekosistem alam di Argopuro. Air danau yang tenang dikelilingi pohon besar menambah panoramanya yang cantik. Selimut tipis selalu menghiasi pagi di Danau Taman Hidup. Selalu. Apalagi di musim hujan seperti sekarang ini.

Aku sudah bilang padamu, aku suka hujan. Aku suka setiap tetes air yang membasahi bumi. Aku suka basah yang melembabkan tanah di setiap inci. Aku suka dingin yang membekukan hati. Hujan adalah sesuatu yang menyenangkan bagiku.

Dan aku suka pelangi yang menghiasi langit begitu hujan mulai berhenti.

Hujan semalam menyisakan lengkungan pelangi di tepian danau. Lengkungan pelangi yang mengingatkanku pada senyumanmu.

Seharusnya aku bisa berbagi pelangi itu denganmu di ujung dermaga yang menjorok di salah satu sisi Danau Taman Hidup ini. Pelangi yang membuka pagi ini setelah hujan semalam yang bekasnya membawa hawa dingin menusuk tulang.

Seharusnya.

Aku semakin merindukanmu, tapi kukatakan, tidak mungkin aku meninggalkan teman-teman yang telah berbagi suka dan duka selama perjalananku.

Bersama mereka aku berbagi rasa. Berbicara pada mereka aku mengerti cinta.

Biarlah untuk sejenak aku melupakanmu.

Yang tersisa hanya sekilas senyummu di sudut benakku.

Seperti saat kita masih bersama di awal pendakian, senyummu yang meyakinkanku. Senyum yang akan menjanjikan keindahan pendakian Argopuro saat itu. Senyum yang perlahan-lahan mungkin hanya akan tersimpan sebagai kenangan masa lalu dan kemudian hilang tak berbekas.

Namun begitulah hidup sahabatku, kadang kita harus mengubur masa lalu untuk meraih sesuatu yang baru.

Kini sudah dua tahun semenjak pendakian Argopuro, adakah setiap detik yang berlalu telah mendewasakan kita? Sehingga kita bisa berjalan berdampingan. Sehingga kamu tak perlu menungguku di setiap percabangan dan aku tak perlu mempercepat langkahku untuk bisa berjalan di sisimu.

Aku pernah belajar menyamakan langkahku denganmu, bahkan aku pernah bisa. Tapi kini aku sadar bahwa kita tidak harus belajar untuk menyamakan langkah. Langkah yang akan menyesuaikan jika kita memang harus bersama.

Apakah dua tahun ini kamu belajar?

Ataukah dua tahun yang telah lewat tidak berarti apa-apa? Sekadar kenangan masa lalu yang indah yang akan terlupakan begitu saja.

Advertisements

Comments»

1. Aneh - March 17, 2010

So sweet…
Baru membaca tulisanmu yg seperti ini. Ah seharusnya tak kubaca tadi.

Bagaimana kabarnya? Terima kasih.

2. Aneh - March 17, 2010

“nya” yang mana nih? Hehe..
Kenapa ya saya tdk pernah bisa “membaca” Anda? Jgn menjadi terlalu misterius ta mz!

3. Parus - March 17, 2010

panjang sekali tulisannya…
kapan2 saja saya lanjutkan lagi mbacanya… 😀
sekarang numpang komen aja dulu… 😛

Ya ampun, itu belum sepanjang novel Pras. Nanti kapan-kapan tak bikin postingan bersambung saja apa ya?

Lagipula ini sekalian rapelan untuk beberapa bulan ke depan 😀

4. kbp - March 17, 2010

walaah..w..w..tekan argopuro kok ra mampir omahku..
nek mung Aeng Poteh neng omahku yo akeh..nek kurang ono Aeng Sabeh, Aeng Tasek..opo Aeng Massak..wakaakk

Madura detected!

5. sita - March 18, 2010

oooo…dadi ngono to widd.. i see …. hahahaha

Kowe ga ngerti, hohohoho.. Begitu banyak yang tersembunyi 😀

6. han - March 18, 2010

aku tertipu…tak mengenalimu lagi…

Siapa “-mu” yang dimaksud?

7. afie - March 18, 2010

haduh..mumet mocone..dowo tenan…tak turu disik..jikalau ingat kapan2 saya jalan2 kesini lagi 🙂

Padahal tadinya mau tak bikin lebih panjang lagi, semacam bikin novel gitu. Nampaknya saya punya pemikiran dan keinginan ke arah sana. Cuma sayang kemampuannya belum mumpuni.

8. septoadhi - March 18, 2010

pak asisten menejer, posting panjang sudah, kalap beli adundas sudah, tinggal maennya saja yg belum, mari pak asisten menejer 😆

Ternyata saya sudah berumur.. Capek sekali. Habis memeras otak untuk menulis dan mempekerjakan tulang untuk olahraga. Sudah lengkap. Apalagi yang dikejar?

9. -ivy wae- - March 28, 2010

hmm,. mengingatkan masa2 ketika itu,.wah pak we, sering2 saja memosting yang beginian, tapi ndak usah pake acara **gol2an dulu kalo mau bikin mahakarya,. hahay…

Masa yang mana Dek Ifah?

Kalau saya posting model beginian nanti bacanya pada sedih. Ini postingan berkala saja (ini juga kalau saya ada waktu menulisnya, lama bikin kayak ginian. Butuh observasi mendalam).

Lagipula, ini kan ditulis spesial buat seseorang. Semacam limited editon. Ya begitulah.

10. lembahmenoreh.sby - April 30, 2010

klo diliat dari gaya tutur ceritamu…
tulisan ini memang hasil dari pengalamanmu sendiri….
tpi cara bertuturnya….???
saya me”rasa”kan seperti seseorang yang mencoba gaya dn estetika “baru” dari gaya sepertinya..
hahay

Pengalaman po? Hehew.. Eike kan berusaha menulis dengan berbagai gaya tergantung suasana hati.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: