jump to navigation

Gengsi March 27, 2010

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

“Kekalahan itu menyakitkan,” Sukiman merenungi nasibnya.

Dia baru saja kalah di putaran pertama kompetisi futsal di kampus. Padahal biasanya Sukiman dan timnya melangkah lebih jauh. Tapi itu jaman mudanya dulu. Kini untuk ukuran kompetisi di kampus, Sukiman dan kawan-kawan sudah bisa dibilang uzur. Kebetulan saya termasuk satu tim dengannya.

Tapi saya tidak merasakan kekalahan itu sebagai suatu hal yang menyakitkan.

Tentunya ini di luar konteks sakit yang sebenarnya. Kaki kiri saya sempat kena tebas dan menimbulkan luka di betis dan lutut. Anak-anak muda itu harusnya dinasehati bahwa futsal itu permainan yang indah, tidak perlu pakai fisik. Tapi namanya juga anak muda, biasanya otot lebih berkuasa daripada otak.

Kenapa kekalahan ini bukanlah hal yang menyakitkan?

Pertama, saya merasa bahwa sekarang bukan saatnya saya ikut kompetisi lagi. Alasannya? Umur pastinya. Saya menyadari bahwa fisik dan stamina saya sudah tidak bisa diharapkan lagi kalau musti bertarung dengan anak-anak muda.

Kedua, saya merasa tidak bisa lagi diharapkan menjadi anggota tim yang solid. Dulu, tiap ada jadwal kompetisi, minimal setengah jam sebelumnya sudah musti berkumpul. Sekadar ngobrol-ngobrol ringan sampai membahas strategi dilakukan guna mendapatkan komposisi tim yang maksimal. Kini, saya menyadari bahwa saya punya urusan pribadi yang mesti dipenuhi dulu. Jadi saya tidak sempat lagi ikut briefing sebelum pertandingan.

Ketiga, gengsi. Apalagi memangnya yang bisa memompa semangat, meningkatkan semangat dan daya juang selain gengsi. Gengsi untuk tidak mau dicap pecundang. Dan sekarang saya sudah tidak butuh gengsi untuk mendapatkan gelar sebagai juara di lingkungan kampus.

Main setengah hati, tanpa gengsi.

Saya sudah kalah sebelum berperang. Dengan persiapan minim dan ala kadarnya apalagi yang bisa diharapkan.

Akan menjadi sesuatu yang menyakitkan apabila dengan usaha yang maksimal kita tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Tapi kalau tanpa usaha yang maksimal kita mengharapkan sesuatu yang diinginkan, itu namanya keberuntungan. Dan keberuntungan itu tidak bisa dijadikan patokan mengukur prestasi seseorang.

Lagipula, kata Om Gandhi, “Kepuasan itu terletak pada usaha, bukan pada pencapaian hasil. Berusaha keras adalah kemenangan besar.”

Tapi ini kasusnya sekarang, bisa berpikir jauh lebih dewasa dengan melihat kesalahan dalam diri sendiri daripada menyalahkan orang lain.

Masa muda, gengsi di atas segalanya.

Saya sering main sepakbola di kampung. Harap dimaklumi, di kampung tidak ada lapangan bola standar. Jadi kalau mau main sepakbola kami menggunakan tempat dan fasilitas ala kadarnya. Jalanan kampung yang beraspal dijadikan lapangan mini, yang paling top cuma di halaman rumah si Atang dan Otong yang cukup luas.

Jangan bayangkan halaman rumah Atang dan Otong berupa lapangan luas berlapiskan rumput hijau. Ukurannya paling-paling seukuran 8 x 15 meter. Itu pun tidak rata, beberapa bagian bergelombang dan mengenang jika hujan turun. Beberapa bagian ditumbuhi rumput liar sementara bagian lainnya dipenuhi pasir dan kerikil kecil. Plus ada berupa pohon melinjo, rambutan dan sawo yang berdiri anggun di beberapa titik halaman itu. Kami anggap saja itu sebagai rintangan. Untuk meningkatkan kemampuan.

Tapi dari lapangan ini anak-anak muda di RT kami mengembangkan bakat dan memenangi kompetisi sepakbola dangdut di kampung.

Pemainnya?

Atang, tukang gedor berkaki kidal yang masuk final lomba balap karung. Larinya cepat. Adiknya, Otong, sebagai penjaga gawang yang sering juara lomba makan kerupuk. Maka pantas saja lompatannya paling top di antara kami. Kemudian Tikno, pemain tengah handal yang lincah. Finalis lomba balap kelereng, maka keseimbangannya tak perlu diragukan lagi. Saepudin di defender handal punggawa lomba tarik tambang dan saya sendiri sebagai pelengkap formasi yang sering lolos ke final lomba memasukkan pensil ke dalam botol.

Tiap sore, saya dan teman-teman kampung bermain bola di halaman Atang-Otong. Tanpa alas kaki. Bolanya cukup bola plastik. Pernah sekali waktu pakai bola kulit, waktu ditendang Atang kena genteng. Pecahlah genteng dan bocorlah rumah Atang. Lapangan sempat diblokade oleh orangtua Atang seminggu lamanya. Baru boleh dipakai apabila kami berjanji tidak menggunakan bola kulit lagi.

Gawangnya dibuat dari bambu yang ada di kebon di samping rumah Atang. Garis batasnya? Ada rumah Atang di sisi utara, jalan kampung di sisi selatan, kebon bambu di sebelah barat dan kebon tetangga di sebelah timur.

Berhubung hanya main-main, banyak anak-anak kampung yang datang. Selain lima orang di atas, masih ada Juned, Warno, Kipli, Toing, Ujang dan masih banyak lagi. Anak-anak yang masih di bawah umur. Berlatih untuk meneruskan dominasi RT kami dalam ajang sepakbola dangdut di kampung.

Suatu saat, saat kami bermain bola, datang dua orang tetangga kampung menyampaikan tantangan bermain sepakbola.

“Tang, kami mau main lawan kalian,” Iwan, salah seorang tetangga kampung memulai.
“Dalam rangka apa Wan?” Atang bertanya.
“Main-main saja, berani tidak?” tanya Iwan.
“Kalau begitu nanti saya sampaikan ke Mas Sobri, ketua pemuda kampung sini. Biar dibicarakan dulu,” Atang balik bertanya.
“Tidak perlu ngomong-ngomong Sobri. Kita main-main aja, tidak usah serius-serius. Di sini saja. Lapangan sudah tersedia, gawang sudah ada,” jawab Iwan.
“Oh ya kalau cuma mau main-main saja boleh. Bagaimana?” Atang bertanya pada saya dan rekan rekan.

Kami siap.

Akhirnya hari yang ditentukan pun tiba.

“Tang, orangtuamu mana? Nanti kalau ribut-ribut gimana?”, Tikno bertanya.
“Mereka lagi pergi No. Kita ladeni tantangan mereka. Maunya mereka apa,” kata Otong.

Kami siap dengan kekuatan penuh. Tim yang memenangi sepakbola dangdut di kampung beserta kader-kader muda yang menjadi cadangan siap bermain. Begitu pula dari kampung tetangga, Iwan telah menghadirkan beberapa rekannya.

Meskipun cuma main-main, tapi atas dasar gengsi kampung, Atang tetap menurunkan formasi yang terbaik. Minus Saepudin yang kakinya masih agak sakit karena kemaren berbenturan dengan Atang dan saya yang telat datang karena ketiduran.

Awalnya, pertandingan mini antar kampung ini berjalan biasa saja. Atang dan Tikno dengan disokong Juned dan Toing selalu bisa menekan tim dari kampung lawan. Atang yang mengandalkan kecepatan dan Tikno dengan kelincahannya berkali-kali membahayakan gawang lawan. Baru seperempat jam bermain, Atang sudah membawa tim kampung saya memimpin tiga gol.

Melihat timnya yang kalah skill, Iwan mulai menginstruksikan teman-temannya untuk bermain keras cenderung kasar. Prinsipnya, bola boleh lewat tapi orang jangan.

Tanpa wasit, sebuah pelanggaran diputuskan atas dasar musyawarah untuk mufakat. Kalau tidak ada kata mufakat, pertandingan jalan terus.

Dengan permainan kasarnya, Iwan cs berhasil mengungguli kami satu gol dengan berbagai cara yang licik.

“Brakk..”

Tikno diganjal dengan keras oleh pemain lawan. Tikno yang kecil dan kurus itu memang bukan tandingan lawan yang berbadan besar. Dari segi skill Tikno boleh di atas, tapi kalau sudah badan yang bermain Tikno tak bisa apa-apa. Tikno mengguling-guling kesakitan di lapangan.

Kakinya nampak bengkak dan memar.

Saya dan Saepudin turun ke lapangan.

“Kenapa No?” tanya Saepudin.
“Kakiku Din, kena hajar. Sakit sekali,” Tikno menjelaskan sambil mengerang kesakitan.
“Ayo ke pinggir saja, biar kamu istirahat. Bisa jalan kan?” tanya Sapeudin.

Baru mencoba bangun, Tikno sudah jatuh tersungkur.

“Tidak kuat Din, sakit sekali,” Tikno menyerah.

Saya dan Saepudin menggotong Tikno ke pinggir lapangan sementara Atang dan Juned beradu mulut dengan Iwan cs.

“Wan, kalau main jangan seperti itu,” Atang mulai panas.
“Alah, namanya juga sepakbola, kalau begitu saja sudah terkapar mending main bekel saja,” Iwan menghina.
“Hati-hati kalau ngomong!” Atang benar-benar panas.
“Tahan Tang,” Juned mencoba menenangkan Atang.
“Kalau kalah jangan emosi,” Iwan tersenyum sinis.

Saya dan Saepudin mendatangi Atang dan Iwan yang tengah berselisih.

“Sabar Tang,” saya berusaha meredakan emosi Atang meskipun saya mulai panas juga.
“Udah, sini biar saya main,” Saepudin mulai panas juga.
“Kalo begitu, kamu dan Udin masuk. Gantikan Tikno dan Toing,” kata Atang pada saya.

Dengan formasi utama, tim kami pun tidak bisa mengembangkan permainan. Baru sebentar menggocek bola, tangan dan tubuh tim lawan sudah menghadang. Segala cara dihalalkan. Beberapa kali Atang dan saya jatuh karena hadangan lawan yang sengaja ingin menjatuhkan dan mencederai. Hanya Saepudin yang dengan badannya yang besar yang bisa bertahan.

Tim Iwan mencetak gol lagi. Kami tertinggal dua gol. Atas nama gengsi kami tidak mau kalah.

“Din, Ned, hajar saja mereka,” kata Atang panas.

“Kamu juga, tapi jaga si Otong biar tidak dimakan mereka. Nanti biar saya urus sisanya,” pesan Atang pada saya.

Kami yang hatinya panas mulai kalap. Skill bermain bola dialihkan untuk mencederai lawan. Saepudin yang bermain sangar berhasil menjatuhkan dua pemain lawan yang terpaksa harus diganti. Juned pun setali tiga uang, dengan tangannya yang lihai, pemain tim lawan dipaksa menerima sikutannya. Sementara saya menjaga di belakang memastikan Otong tidak dicederai sekaligus sesekali melepaskan tendangan asal-asalan ke arah pemain lawan.

Dengan permainan seperti ini kami berhasil mengungguli tim Iwan.

Setelah berhasil menungguli, tim kami bermain semakin beringas. Berkali-kali atang melepaskan tembakan keras yang menghantam kiper lawan. Sengaja, bukan untuk menghasilkan gol tapi untuk membalas perlakuan kasar tim lawan kepada Tikno.

Iwan mulai terbakar emosi. Dia menyuruh teman-temannya bermain lebih keras. Segala cara dihalalkan.

Ini bukan sepakbola lagi, tapi tawuran terselubung.

Mencederai lawan yang menjadi tujuan dengan kemenangan yang tentu saja diharapkan. Demi gengsi. Memar dan bengkak yang ada di kaki tidak dirasakan lagi.

Saat pertandingan semakin brutal, orangtua Atang dan Otong tiba. Mereka baru pulang kondangan.

“Heh heh, apa-apaan ini,” kata Bapak Atang melihat permainan brutal kami.

Ibunya Atang hanya bisa mengelus dada.

“Sudah sudah, berhenti! Jangan diteruskan. Saepudin, sini bolanya! Kalian dari kampung tetangga, sudah pulang saja sana!” Bapak Atang mengambil bola dan mengusir pemain tim lawan.

Iwan cs hanya bisa diam menahan marah. Berbuat kesalahan di kampung tetangga bisa panjang masalahnya.

Mereka pulang dengan tetap menunjukkan permusuhan.

“Tang, lain kali kalau kalian main kayak gini, sudah tidak usah main sepakbola lagi,” bentak Bapak Atang.

Ah, namanya juga gengsi Pak.

Advertisements

Comments»

1. sangprabo - March 28, 2010

Hahaha.. Itu namanya lapangan virtual. batas out, mistar gawang bagian atas, semuanya cuma dikira2. Wah, tapi ceritanya kok mirip2 dengan saia dulu? Jangan2 ini typical orang Indonesia asli. Makanya pas besar mereka cenderung beradu jotos hanya karena hal2 konyol..

Btw
Hla ini kamu punya segudang nama ndeso sebangsa Toing, Otong, dll.. Kok saia yang jelas2 dari deso beneran malah dikasih nama Boni??!

Memang saya seprti orang Indonesia kebanyakan πŸ˜€

Nama itu adalah anugerah, harus disyukuri. Nanti tinggal cari siapa “Ring-Ring”-nya dan kalian akan menjadi kolom wajib di majalah Bobo. Boni, gajah kecil berbelalai panjang.

2. sangprabo - March 30, 2010

Ndak bisa, saya ndak terima.. Pokoknya situ cari nama lain buat akte kelahiran sahaya.. Yang lebih ndeso, atau lebih ke-tionghoa2-an.. Saya tunggu. Terima kasih.

Saya ngasih apa memangnya, kok ndak terima? πŸ˜†

3. kbp - March 31, 2010

Ada..Bodong..mau?? kalo ndak pake aja Bo Hai..tu gadis2 tionghoa kan pada bohai2 biasanya..wkwkkwk

Ada saran po? BTW, kamu juga belum saya kasih nama kalo ndak salah πŸ˜€

4. sangprabo - March 31, 2010

Dulu saia pernah mau pakai Bo Cun Lai, tapi sudah dipakai sama pemain bukutangkis malaysia.. Saia masih belum sreg dengan mana pemberian Anda. Kita tunggu saran dari Mbah W…

Sudah saya kasih nama Boni, kurang apa lagi? Ini kan terkena efek asimilasi jaman 65 dulu dimana banyak nama-nama berbau Cina yang di-Endonesia-kan. Apa perlu saya bikin polling, pilih nama buat teman kita?

5. kbp - April 1, 2010

“Apa perlu saya bikin polling, pilih nama buat teman kita?”
Pake Bodong saja…

“BTW, kamu juga belum saya kasih nama kalo ndak salah”
Sulit W cari nama ndeso buat saya, tapi kalo mau..pake Kadir saja, tapi nanti Anda akan berurusan dengan pihak yang berwenang..wahahaha

Sudah saya siapkan nama buatmu, tunggu sahaja πŸ˜†

6. sangprabo - April 1, 2010

Jangan cuma gara-gara nama urusan jadi panjang nih W.. Ya sudah, nama sahaya Bodong saja… *frustasi*

Saya lumayan ngefans sama Noh Alam Shah, jadi tak kasih nama “A Long” saja bijimane?

7. sangprabo - April 2, 2010

Long itu di sini artinya Abang (kalo untuk perempuan berarti kakak).. Hm.. Ya boleh lah.. πŸ˜€

Biaya konsultasinya : 1 milyar. πŸ˜† *balas dendam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: