jump to navigation

Boys Don’t Cry April 4, 2010

Posted by superwid in Bukan Saya.
trackback

Sudah lama saya tak bersua dengan Ucrit. Jujur, saya kadang merindukan Ucrit sebagai seorang teman yang selalu optimis dalam menghadapi hidup, tidak peduli betapa hidup itu akan menghadirkan kebahagiaan ataupun kekecewaan, Ucrit selalu bisa mengambil sisi positif dari apa yang pernah dialaminya. Maka dari itu, saya belajar banyak dari Ucrit.

Namun malam itu saya melihat Ucrit yang berbeda. Kalau meminjam istilah Ki Kusumo, sang cenayang kampus, aura Ucrit sedang gelap. Menurut tafsir Ki Kusumo, seseorang yang auranya sedang gelap berarti dia punya banyak masalah.

“Kenapa Crit?” saya bertanya.

“Sungguh saya heran dengan yang namanya perempuan kawan. Di saat perempuan menerima perhatian dari banyak lelaki pada saat yang bersamaan, dianggapnya hal itu sebagai kewajaran karena kodrat mereka memang seperti itu. Tidak ada rasa bersalah dan tidak ada yang menyalahkan. Kata perempuan, mereka layak diperjuangkan.

Tapi saat seorang lelaki memberikan perhatiannya pada banyak perempuan pada waktu yang berdekatan, dianggapnyalah kita para lelaki sebagai buaya darat, tukang obral janji. Makhluk tak setia. Hina nan nista.

Jadi, selama belum ada hubungan yang mengikat, perempuan menganggap mereka boleh punya hubungan one to many pada banyak lelaki. Halal bagi perempuan untuk didekati banyak lelaki, kemudian pada akhirnya mereka memutuskan untuk memilih salah satu di antara mereka. Kondisi seperti itu bukanlah hal yang tabu di masyarakat saat seorang perempuan dikelilingi banyak lelaki kemudian memilih salah satu di antaranya. Lelaki yang tidak dipilih pun harus ikhlas menerimanya.

Sementara seorang lelaki dengan perempuan hanya diperbolehkan memiliki hubungan one-to-one. Jika seorang lelaki melakukan pendekatan dengan banyak perempuan, itu menjadi hal yang tabu di mata masyarakat. Perempuan utamanya. Kita dicap sebagai lelaki tidak punya moral dan tanggung jawab. Playboy,” Ucrit berorasi penuh semangat. berapi-api.

“Ah Crit, namanya juga wanita. Kodratnya juga seperti itu,” saya menimpali.

“Persetan mereka bicara tentang kodrat tapi di sisi lain mereka begitu mengagungkan emansipasi, mengharapkan kesetaraan dengan kaum lelaki. Saya pikir mereka hanya mau enaknya saja. Di saat ada sesuatu yang dianggap berat untuk dilakukan, perempuan beralasan dengan menggunakan “kodrat”. Di saat ada sesuatu yang dirasa bisa memberikan keuntungan, mereka mempejuangkannya atas nama “emansipasi”. Bukankah makhluk-makhluk seperti itu merupakan makhluk yang oportunis? Tidak tahu diri,” Ucrit menjelaskan.

“Oooo,” saya hanya bisa melongo. Menunggu sambungan pidato Ucrit berikutnya.

“Saya sedang patah hati kawan..,” terang Ucrit.

Tidak usah dipikirkan, besok pasti dia sudah baik-baik saja dan seharusnya sudah lebih dewasa.

Advertisements

Comments»

1. kbp - April 5, 2010

walah..ngenee iki..

topiknya tajam we..kontroversial..wkwk

entah itu insting mereka sejak lahir ato gara2 terbawa paradigma (iki istilahe sing bener opo to) bahwa perempuan itu emg seharusnya dikejar2 lelaki. Ikut-ikutan we lebih tepatnya, menurutku. Jadi kayak misal ada cewe yang polos, punya rasa cinta yang tulus pada seorang lelaki, and then finally she ended up with some other guy she doesn’t even love in the first place hanya karena dia (ikut-ikutan) berpikir “harusnya cowo donk yang berusaha mendapatkan aku” dan lelaki yang ia cintai ternyata tidak “cukup berjuang” mendapatkan dia.

Mbuh iki nyambung ndak maksute yo..wahahaha..

Pandangan lelaki kan beda sama pandangan perempuan coy. Dinikmati saja perbedaannya, dijadikan bahan postingan 😀

2. sangprabo - April 6, 2010

Mungkin perempuan kebanyakan berpikir bahwa mereka gak mesti aktif mengejar, tapi zaman sekarang banyak juga lo yang agresif.. Buktinya, situs fans.prabowomurti.com dibanjiri 2juta orang per hari… *dilempar keluar jendela*

Ini kan tentang pandangan yang ada di masyarakat yang kata Ucrit, terlalu berat sebelah. Mungkin nanti kalau perbandingan laki-laki dan perempuan sudah 1:50 baru pandangan masyarakat berubah ya.

Perasaan, ini dua fans saya aktif sekali. Kbp dan Sangprabo 😆

3. Aneh - April 7, 2010

Aahh tidakk juga mz Widd… ^_^
Itu kan cuma hipotesis Anda yg belum dianalisis dr berbagai sisi. Nyatanya perempuan itu lebih setia kok, contohnya saya :p
Saya perempuan lho yooo…!!! Hihi..

Bukan masalah setia ndak setianya setelah ada “status” Dek, tapi masalahnya ini sebelum ada “status” kok.

Biasanya sebelum ada status, laki-laki yang mati-matian mengejar perempuan. Tapi kalau sudah ada status justru sebaliknya, perempuanlah yang akan mengejar pertanggungjawaban lelaki.

Dunia memang adil 😆 Kasusya si Putri kan kebalikan dari kasusnya Ucrit.

4. nurulaneh - April 7, 2010

Ya memang harus begitu. Pantas aja kan perempuan mengejar pertanggungjawaban lelaki. Biasanya sebelum ada status laki-laki yg mati-matian mengejar perempuan,tapi kalau sudah ada status laki-laki itu jadi ribet, sok dibutuhkan. hehe..
kasus si Putri ga jauh beda ama kasusku..
iya kalo jadi n***h
hehehe

Saya tunggu undangannya. Sana dikejar-kejar calonnya, awas nanti calonnya kecantol bule :p

5. sangprabo - April 7, 2010

Tapi aku punya teman, udah tunangan, dan si laki-laki sudah ngebet ingin nikah, tapi si perempuannya yang gak mau cepet. Bahkan ini mulai menimbulkan percekcokan karena keseriusan si perempuan dipertanyakan.. Jadi sepertinya saia setuju dengan aneh, itu lebih ke masing2 orang, bukan liat jenis kelamin..

Nah itu dia, kan kasusnya pas belum ada “status”. Maksudnya pas dua-duanya sama-sama belum ada hubungan apa-apa. Masih dalam tahap PDKT gitu. Itu yang saya tangkap dari perkataan Ucrit. Kebanyakan (dan pandangan yang ada di masyarakat) berpikiran bahwa sang perempuan adalah pemegang kendali.

Kalau sudah ada status sih ndak tau ya, kebetulan saya jarang sekali punya “status” kayak gitu. Seingat saya.. Saya tidak ingat 😀 Nanti saya tanyakan Ucrit yang lebih punya pengalaman.

Tapi memang pada akhirnya semua kembali ke pribadi masing-masing kok. Cuma sayangnya, kalau sudah “kembali ke orangnya masing-masing” dijamin bakalan ndak ada perdebatan lagi. Kalau ndak ada perdebatan, hambar hidup ini 😆

6. -ivy wae- - April 8, 2010

menerima (perhatian) dan memberi (perhatian) kan lain, pak we,.. eh,. emboh dink,. setahu saya memberi lebih baik daripada menerima,.. Salamke ngge Ucrit, yo!

Lebih baik mencegah daripada mengobati. Itu yang benar 😀

7. septoadhi - April 11, 2010

semoga cepat sembuh

Yes!

8. ephiel - April 13, 2010

saya setuju semua mas..
perempuan memang pantas dikejar2 beberapa lelaki, dan dia berhak menentukan donk, yang paling pantas buat dirinya, toh dia nanti juga akan jadi ibu, yang mengurus rumah tangga. laki-laki jua, tugasnya harus pintar-pintar menunjukkan, kalo dia mampu, baik secara materi atau non materi, dan dia pantas dipilih. toh nantinya perempuan yg akan mengejar-ngejar tanggung jawab lelaki tsb.

smoga mas ucrit itu lebih smangat lagi ya.. kalo jodoh jg g akan kemana to.. 😀

Lingkaran setan. Situasi dan kondisi yang ndak bakalan ada ujung pangkal penyelesaiannya jika masih memaksakan ego masing-masing.

Mari kita doakan yang terbaik buat Mas Ucrit dan jangan lupa buat saya. Kemaren simbok saya sudah nanyain je. “Le pacarmu sik ndi?” Hahay..

septoadhi - April 14, 2010

iki jenenge wong lanang menang milih, wong wadon menang nolak 😆

Jadi terima nasib saja kalau antum ditolak 😆

9. halo_tyan - April 21, 2010

Di suatu acara di Tipi

MT: Wanita itu memilih atau dipilih?
AU: kalo bagi saya sih ya dipilih, karna saya memilih banyak dari banyak wanita.
MT: Memangnya wanita-wanita yang kamu pilih mau sama kamu?
AU: ………………………………..:D

nyambungnya jadi ksini, tapi topiknya emang begini sih…

Muter-muter.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: