jump to navigation

Motret April 10, 2010

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Beberapa tahun lalu.

Dengan menenteng sebuah kamera prosumer sekelas Canon Powershot S2IS, saya sudah bisa bergaya di depan gadis-gadis kampus. Maklum, jaman segitu yang namanya kamera DSLR belum menjamur seperti sekarang. Pas masa-masa itu, yang beredar di seputaran kampus kebanyakan kamera digital pocket yang pas di kantong. Jadilah sang Canon itu mendapatkan tempat istimewa di hati wanita. Apalagi dengan fasilitas 10x optical zoom-nya cukup untuk memata-matai gadis cantik nun jauh di sana.

Saya sebagai si empunya kamera juga kecipratan tenarnya. Maklum, sebagai yang punya kamera saya sering didaulat untuk menjadi fotografer dadakan saat acara kampus. Kebetulan saya lebih sering menolak dan mengijinkan orang laìn untuk mengoperasikan sang Canon. Namun tetap saja sebagai yang punya kamera, julukan fotografer terlanjut disematkan pada saya.

Enak jadi fotografer. Minimal seorang fotografer mempunyai previlige lebih saat ada bertugas mendokumentasikan acara. Hanya fotografer yang dihalalkan jumpalitan ke sana ke mari dari ujung panggung sampai kamar mandi untuk mengabadikan rangkaian acara. Saat memotret model, seorang fotografer juga diberikan kewenangan untuk mengatur model. Disuruh menyibakkan rok atau membuka kancing baju, model harus mau. Apalagi kalau model majalah dewasa. Kalau untuk majalah satwa, mau dibuka semua juga tiada mengapa. Seorang fotografer alam bebas akan dibawa ke tempat-tempat serupa surga yang ada di berbagai belahan dunia.

Singkat kata, seorang fotografer akan mendapatkan sesuatu yang lebih istimewa dibanding yang lainnya.

Maka saya pun tak keberatan disebut seorang fotografer. Toh tak ada ruginya.

Sekali waktu, saya ingin menjadi fotografer alam bebas. Bersama beberapa rekan saya berinisatif untuk mendaki gunung sekaligus memanfaatkan sang Canon untuk mendokumentasikan perjalanan kami.

Saat beristirahat di sebuah warung yang berada di seputaran basecamp, saya bertemu dengan seorang bapak paruh baya. Beberapa helai uban telah menghiasi rambutnya yang menandakan kami hidup di generasi yang berbeda. Saat itu rekan-rekan saya sedang mencari tambahan konsunsi dan air untuk menemani perjalanan kami. Sementara saya diserahi tugas menunggu di warung. Fotografer gitu.

Si bapak ini masih nampak muda meskipun beberapa garis yang berada di wajahnya menunjukkan bahwa dia telah berumur. Di hadapannya, tergeletak beberapa roll film dan sebuah kamera SLR tua yang masih manual. Kamera analog.

“Bapak ini fotografer ya?” saya bertanya.
“Ah bukan, saya ini cuma suka motret saja. Jadi nggak bisa dikatakan fotografer, wong ini cuma hobi kok Mas,” si Bapak menjawab.
“Apa iya Pak? Kamera yang Bapak bawa itu kan bukan kamera sembarangan, itu kan kamera SLR yang masih analog. Setau saya tidak sembarangan orang bisa menggunakannya,” saya masih penasaran.
“Yo gimana Mas, saya ini kebetulan lebih suka kamera kayak gini ketimbang kamera-kamera jaman sekarang yang sudah model digital-digitalan itu. Rasanya kurang puas kalau saya pakai kamera jaman sekarang. Kurang mantap,” jelas si Bapak.
“Kurang puas gimana Pak?” saya mencoba menggali.
“Dasar saya ini orang dulu, sudah kebiasaan. Motret pakai kamera lawas model begini itu lebih menyenangkan menurut saya. Ada rasa penasaran saat mengambil sebuah gambar. Jadinya bagus ndak ya, kebakar apa ndak ya. Gitu Mas. Kalau hasilnya bagus saya pasti senangnya bukan main, tapi kalau ada kesalahan saya mesti belajar lagi. Belajar dan terus belajar Mas. Memang keadaan dan keterbatasan memaksa saya buat belajar menggunakan kombinasi iso, diafragma dan kecepatan rana untuk dapet exposure yang tepat sehingga menghasilkan potret yang mengecewakan.

Apalagi suara loading film-nya itu lho: jekrek… cet….seeeeeeet. Ngangenin Mas.

Kalau kamera-kamera sekarang yang sudah digital kan begitu jepret sudah keluar hasilnya. Tinggal dilihat, kalau bagus ya simpan. Kalau jelek ya tinggal hapus saja. Hasilnya instan Mas, ndak ada rasa penasaran, ndak ada rasa deg-degan, ndak ada kejutan-kejutan yang muncul saat menggunakan kamera digital. Begitu jepret sudah ketahuan hasilnya. Padahal hidup ini kan lebih menyenangkan kalau kita harus menunggu kejutan-kejutan.

Lagipula saya lebih suka kamera kayak gini, hasil cetakannya ndak pernah mengecewakan saya Mas. Ukurannya bisa diperbesar sampai semau saya dan ndak pecah. Kalibrasi warnanya juga terjaga. Saya pernah coba pakai kamera digital, tapi hasil cetaknya mengecewakan. Bagus kalau dilihat di komputer, tapi kalau kena cetak sudah beda,” terang si Bapak.

Saya bingung dengan penjelasan si Bapak. Bukankah dengan adanya teknologi digital membuat segalanya menjadi praktis dan mudah.

“Saya bukannya anti teknologi Mas, hanya saja teknologi itu bagai dua sisi mata uang. Untuk orang-orang tertentu, teknologi bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan diri namun bagi kebanyakan orang teknologi hanya akan membuat malas.

Ya ndak pa pa kalau orang bawa kamera-kamera DSLR itu buat belajar. Mempraktekkan pengaruh diafragma, iso dan kecepatan rana dalam memotret suatu objek. Mengatur fokus sedemikian rupa untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Itu namanya dia belajar ilmu fotografi. Tapi kan ndak setiap orang yang punya DSLR mempraktekkannya,” lanjut si Bapak.

Saya jadi ingat kata Om Hans dulu mengenai konsep internet menurutnya, “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”. Mungkin ada korelasinya.

“Dengan adanya teknologi digital dalam perkembangan fotografi sekarang ini semua orang bisa ambil foto dengan hasil yang bagus. Kecanggihan kamera sekarang kan bisa mengkombinasikan semua fitur dilakukan secara otomatis. Teknologi memudahkan kegiatan pemotretan, jadi kita ndak direpotkan mengatur setting diafragma dan kecepatan rana. Pakai saja sembarang kamera digital dan tinggal di-set pada moda otomatis. Tinggal tekan tombol semaunya sudah pasti dapat banyak foto. Kalau hanya kayak gitu, ndak butuh seorang yang punya dasar pengetahuan fotografi untuk motret kan Mas.

Kalau hasilnya potretnya bagus ya alhamdulillah, kalau jelek tinggal diulangi lagi. Itu yang kadang membuat orang ndak mau belajar fotografi. Ndak sedikit orang yang hanya mengandalkan faktor keberuntungan untuk mendapatkan hasil yang bagus dan kamera digital bisa mengakomodirnya.

Beda dengan kamera analog. Saya musti mikir dan menggambarkan objek dengan pikiran dulu sebelum menekan tombol pelepas rana. Saya musti mikir komposisi pencahayaan dan objek yang dipotret untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Ini melatih kepekaan dalam memotret dan dituntut untuk ndak motret asal-asalan.

Lha wong sekali jepret dengan kamera analog itu biayanya mahal. Lagipula motret dengan kamera analog ndak ada yang namanya kesempatan kedua. Jadi harus pintar-pintar cari momen juga biar sekali jepret itu tidak mubazir.

Memotret dengan kamera analog punya tantangan tersendiri Mas, kita diharuskan memiliki daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi,” si Bapak menjelaskan.

“Tapi kan itu gunanya teknologi Pak, untuk memudahkan. Membuat sesuatu yang rumit menjadi lebih sederhana dan praktis hingga tiap orang bisa menikmatinya,” saya mencoba mendebat.

“Iya memang benar, teknologi memang pada dasarnya diciptakan untuk memudahkan. Untuk memudahkan, bukan membodohi. Hanya saja kebanyakan orang, disadari atau tidak, menggunakan teknologi untuk membodohi diri sendiri. Dengan adanya teknologi orang jadi malas belajar kan Mas.

Ya itu tadi Mas, adanya teknologi otomatisasi membuat orang malas belajar. Belum lagi fitur kamera digital yang sekali jepret bisa melihat hasil. Kalau bagus disimpan kalau jelek dihapus. Itu kan sebenernya ndak bagus Mas. Orang jadi kadang ndak mikir kalau mau motret karena dia punya banyak kesempatan. Jadinya dia ndak memanfaatkan setiap jepretan dengan baik.

Orang biasanya kan kalo disuruh milih antara yang mudah apa yang susah pasti kebanyakan milih yang mudah to Mas? Jadi buat apa ribet-ribet mikir diafragma kalo sudah ada moda otomastisnya. Padahal di situ letak seni dalam fotografi. Dengan memainkan diafragma, fokus, kecepatan rana, kita bisa menciptakan hasil potret yang unik dan menarik. Potret-potret yang penuh imajinasi dan kreativitas.

Apalagi sekarang ditambah dengan adanya teknologi komputer, hasil kamera digital bisa direkayasa sedemikian rupa untuk mendapatkan hasil yang wah. Tinggal buka file foto di komputer kemudian diutak-atik untuk mendapatkan gambar yang dramatis. Bukannya itu namanya penipuan seni fotografi Mas,” lanjut si Bapak.

Benar juga apa kata si Bapak. Saat sebuah foto digital sudah mengalami retouching baik sedikit atau banyak di komputer, seharusnya itu bukanlah sebah karya seni fotografi lagi tapi sudah lebih merupakan sebuah karya seni digital yang tidak bisa disebut seni fotografi lagi.

“Dunia fotografi itu dunia seni Mas. Seni melukis dan menulis dengan menggunakan media cahaya. Merekam suatu pantulan cahaya yang mengenai objek pada media yang peka cahaya.

Seni itu bermain dengan hati dan hati tidak mungkin membohongi,” jelas si Bapak.

Ternyata ribet juga dunia fotografi itu. Saya pikir tadinya dengan teknologi digital bisa membuat setiap hal menjadi lebih mudah, tapi ternyata dalam seni, teknologi tidak sesederhana itu aplikasinya.

“Seorang fotografer tidak harus menggunakan kamera mahal atau mendapatkan objek yang menarik untuk mendapatkan hasil foto yang menarik.

Seorang fotografer tidak butuh pengakuan akan hasil karyanya. Selama dia berkarya dengan hati bukan materi,” nasehat si Bapak.

Wah, sudah saya nampaknya tidak ada bakat jadi fotografer. Susah. Lebih baik saya jadi manusia biasa saja.

Advertisements

Comments»

1. booedy - April 12, 2010

pantesan kamera analog bapak ku ndak pernah mau dijual.. hahaha..

Dutinya mau kamu pake buat apa Bud?

2. setanmipaselatan - April 13, 2010

bapak saya punya 3. analog semua. dan ndak boleh dibawa2 ke jokja. takut saya cuma bisa ngrusakin. padahal dulu saya hobi nenteng2 kamera waktu esema πŸ˜†

Lha wong bapakmu tau kalau itu kamera nantinya cuma dipakai buat menipu gadis-gadis.

3. -ivy wae- - April 16, 2010

kamera analog ayah saya sudah saya banting sewaktu balita,.. hag hag hag,. entah dimana sekarang batang hidungnya,…

Memang Anda punya bakat merusak πŸ˜†

4. Anis Ni... - April 25, 2010

wahahaha…
kamera nalogku tersimpan rapi di lemari, kalau lagi mood bagus baru de aku pake…
bener kata si bapak, kalo analog tu kluar duitnya banyak banget jadi kadang kalo gak nemu angle yang bagus aja kadang males bwat njepret

ku sempet mikir, Ada gak fotografer jaman skarang yang menag lomba foto tanpa ada proses Editing foto??? alias analog mengalahkan digital???

Wah kalo itu urusannya panitia Dek Anis, mereka mengadakan lomba foto apa lomba retouching foto.

5. hans - April 29, 2010

pengin duwe SLR.. tapi sing ora angel… *mung pengin duite ra ngumpul ngumpul*

Kalau saran saya, lebih baik Anda punya pasangan dulu lho.

6. Asop - May 5, 2010

Jadi fotografer juga ada dukanya. Dukanya ya ga pernah nongol di foto. πŸ˜€

Dukanya kalo pas beli kamera bukannya? πŸ˜†

thatscya - November 23, 2011

pas beli lensanya apa lagi.

7. zeerka vana - August 19, 2011

thanks for the story….that really helps me…. πŸ™‚


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: