jump to navigation

Humanisme April 23, 2010

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
Tags: ,
trackback

Tulisan ini tidak mengaitkan hubungan antara humanisme dan agama. Jadi untuk sementara tolong kesampingkan apa latar belakang agama Anda dan baca tulisan ini dengan pemahaman logika dan rasionalitas saja.

Secara teoritis, humanisme merupakan suatu paham atau filsafat mengenai kemanusiaan yang hakiki. Dalam perspektif yang lebih luas, humanisme lebih mementingkan logika dan pandangan rasional mengenai realita yang terjadi di masyarakat. Humanisme mengedepankan pemikiran moral yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan berdasarkan ajaran yang kadang tidak diketahui asal-usulnya. Misalnya adanya penolakan terhadap minuman keras, maka dibutuhkan penjelasan yang rasional dan logis. Jika perlu dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Penolakan yang didasarkan pada norma yang ada di masyarakat jelas tidak bisa dibenarkan dalam humanisme.

Pada perkembangannya, humanisme telah merefleksikan hak asasi manusia sebagai faktor penting dalam kemanusiaan. Pengakuan terhadap humanisme merupakan prisinp-prinsip dasar penegakan hak asasi manusia, hak yang melekat pada diri manusia sebagai hak yang harus di hormati dan dilindungi.

Belanda merupakan salah satu negara yang paling liberal di dunia. Bersama beberapa negara di Uni Eropa, Belanda selalu berada di urutan terdepan dalam penegakan kebebasan sipil, hak asasi manusia dan politik internasional. Kemajuan Belanda dalam hal penegakan hak asasi manusia ini tidak terlepas dari perkembangan humanisme di Negeri Orange itu.

Humanisme berkembang dengan baik di Belanda. Di samping karena akar kebudayaan Belanda yang sangat terkait erat dengan perkembangan humanisme di Belanda pada masa Renaisans (tentunya tidak lepas dari pemikiran-pemikiran Desiderius Erasmus), Belanda juga terkenal dengan tradisi “gedogen”-nya.

Gedogen adalah anak dari humanisme itu sendiri.

Gedogen merupakan istilah dalam bahasa Belanda yang bisa diartikan sebagai toleransi. Namun dalam arti yang lebih luas, gedogen bisa dijelaskan sebagai suatu situasi atau aktivitas yang secara teknis ilegal tetapi bisa ditoleransi dengan kebijakan dari pemerintah. Toleransi ini dilakukan karena masyarakat pun tahu dasar permasalahannya yang tidak mungkin diselesaikan. Jadi, daripada melarang sesuatu yang tidak mungkin bisa dilarang lebih baik semua dibiarkan saja dengan aturan-aturan yang tidak merugikan kedua belah pihak, baik yang setuju ataupun tidak setuju. Dengan kata lain gedogen digunakan untuk mereferensikan sesuatu yang ilegal, namun tidak ilegal.

Gedogen yang jika dirunut mempunyai akar pada humanisme melarang setiap diskriminasi yang timbul di masyarakat apapun bentuknya. Sama dengan pemahaman terhadap hak asasi manusia yang harus dihormati dan dilindungi. Ini adalah konsep humanisme yang menyatakan bahwa setiap orang berhak dilakukan secara manusiawi. Dari sudut pandang humanis, segala tindakan yang dilakukan seseorang selama tidak mengganggu orang lain itu tidak masalah. Sepanjang yang dilakukan tetap menghargai eksistensi orang lain dan tidak merugikan orang lain.

Tindakan-tindakan seperti prostitusi, hubungan sesama jenis, euthanasia, peredaran narkoba dan aborsi adalah beberapa hal yang bisa ditoleransi di Belanda meskipun di beberapa negara lain tindakan seperti ini masih dianggap tabu.

Toleransi yang dilakukan ini pun tidak dilakukan dengan membabi-buta, namun masih dalam koridor yang diatur oleh hukum yang ditetapkan oleh pemerintah Belanda.

Hukum yang diterapkan di Belanda sangat terkait dengan prinsip humanisme. Ini tentunya tidak terlepas dari kaum akademisi yang sangat dihargai di Belanda. Penelitian-penelitian akademis dan sains yang rasional dijadikan dasar dan patokan bagi pemerintah untuk menentukan hukum yang berlaku. Apa realita permasalahan yang terjadi di masyarakat dan bagaimana tindakan-tindakan logis untuk menyelesaikannya menjadi dasar pertimbangan pengambilan keputusan di Belanda. Maka kebijakan-kebijakan yang kadang kontroversial di Belanda sebenarnya timbul dari pemikiran mendalam yang dilakukan oleh pemerintah dan kaum akademisi.

Salah satu tindakan pemerintah yang cukup menarik adalah pemberlakuan hukum prostitusi untuk melegalkan bisnis prostitusi di Belanda. Suatu kebijakan yang sangat kontroversial namun juga merupakan satu hal yang berani dan revolusioner.

Prostitusi adalah penjualan jasa seksual untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK). Prostitusi merupakan salah satu bisnis dan jasa yang sudah mengakar turun temurun. Tidak ada solusi yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Kebutuhan manusia akan pemenuhan nafsu seksual tidak bisa dibatasi. Apalagi di negeri dengan norma agama dan masyarakatnya yang tidak begitu ketat.

Kalau mau mencari jawaban yang tidak solutif : semua kembali ke orangnya masing-masing. Namun meskipun di negara dengan norma agama dan masyarakat yang begitu ketat, masih ada saja bisnis prostitusi ilegal. Pemerintah seakan tutup tangan dan tidak peduli. Menganggapnya seakan-akan tidak ada meskipun nyata.

Prostitusi sering dipandang sebelah mata dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya dianggap sebagai sampah masyarakat yang tidak ada nilainya di masyarakat.

Ada pula pihak yang menganggap prostitusi sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran prostitusi bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa perempuan mana saja.

Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalah Augustinus dari Hippo, seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa prostitusi itu ibarat “selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya.”

Banyak penentu kebijakan di Belanda yang mempercayai bahwa apabila suatu permasalahan tidak bisa dipecahkan, lebih baik mencoba mengendalikan dan mengurangi kerugian yang mungkin ditimbulkannya.

Alasan yang dikemukakan oleh para penentu kebijakan ini adalah gedogen (kebijakan toleransi). Cara ini merupakan cara yang paling efektif untuk mengurangi kerusakan dan kerugian yang mungkin timbul dari bisnis prostitusi ilegal. Di samping itu mereka berkeyakinan bahwa penegakan hukum anti-prostitusi akan menjadi kontraproduktif dan bahwa cara terbaik untuk melindungi perempuan untuk mentolerir prostitusi.

Maka pemerintah Belanda melakukan tindakan yang sangat berani dengan melegalkan dan melokalisasi prostitusi di Red Light District. Namun begitu dengan adanya legalisasi dan lokalisasi, pemerintah Belanda lebih bisa mengatur keberadaan bisnis selangkangan di negaranya. Peraturan mengenai prostitusi dibuat sedemikian rupa hingga meminimalisir adanya tindak kriminal yang berkaitan dengan bisnis prostitusi semacam human traficking dan kekerasan seksual.

Sudah paham kenapa dinamai Kawasan "Red Light"? Sumber dari http://farm1.static.flickr.com/136/345333043_5451a91b28.jpg.

Pelegalan prostitusi di Belanda mempunyai dampak positif dengan adanya perlindungan hukum terhadap para pelaku prostitusi. Mereka mendapatkan jaminan hak dan kewajiban sebagaimana angkatan kerja lain. Di samping itu mereka juga punya hak dan kewajiban yang sama dalam kaitannya dalam hubungannya dengan pemerintahan, termasuk pajak, ijin dan perlindungan hukum.

Dalam semua kasus, apakah seorang PSK bekerja sendiri atau dalam kelompok, dilarang oleh hukum Belanda untuk memaksa PSK menerima klien yang tidak diinginkannya. Selain itu PSK memiliki hak untuk menolak suatu tindakan seksual. Tak seorang pun dapat dipaksa untuk menggunakan alkohol dan obat-obatan.

Bahkan pada tahun 2010 ini, pemerintah Belanda sedang mempertimbangkan untuk melarang orang-orang berusia di bawah 21 tahun terlibat dalam bisnis prostitusi. Seorang pekerja seks komersial (PSK) harus terdaftar dan klien diminta untuk memeriksa apakah seorang PSK terdaftar secara resmi. Perusahaan (termasuk pelaku bisnis prostitusi dan agen pendamping) juga harus memiliki lisensi. Sebuah iklan dari PSK individu harus berisi nomor registrasi-nya dan iklan yang dikeluarkan sebuah perusahaan yang melakukan bisnis prostitusi harus berisi nomor lisensinya. Tempat untuk akses publik dari perusahaan pelaku bisnis prostitusi harus memiliki tanda di luar bangunan yang menunjukkan bahwa perusahaan berlisensi, sementara di dalam bangunan salinan lisensi ini harus ditampilkan.

Dengan kata lain, polisi, pegawai negeri, dan kantor pajak dapat meminta PSK untuk menunjukkan nomor registrasi untuk memeriksa usia mereka dan untuk mengetahui apakah seseorang memiliki dasar hukum untuk melakukan pekerjaan ini. Begitu pula terhadap pelaku bisnis prostitusi, pegawai pemerintah berhak untuk meminta mereka menunjukkan lisensi yang dimiliki terkait dengan bisnis yang dijalankan. Ini dilakukan untuk mengurangi adanya tindak kriminal yang sangat mungkin terjadi dalam bisnis ini.

Keterbukaan dalam pengelolaan bisnis prostitusi bisa memudahkan pemerintah dalam mengawasinya.

Bandingkan dengan negara-negara lain yang menganggap prostitusi sebagai bisnis tabu dan ilegal. Tidak adanya campur tangan dari pemerintah mengakibatkan adanya tindak kriminal yang terjadi dalam bisnis prostitusi tidak bisa diselesaikan lewat jalur hukum formal. Tidak adanya perlindungan hukum terhadap para pekerja bisnis prostitusi akan memberikan kerugian pada pihak korban (yang dalam kasus ini adalah PSK) dan keuntungan dari pihak pelaku bisnis (yang dalam kasus ini adalah germo). Pandangan yang negatif terhadap PSK seringkali didasarkan pada standar ganda, karena umumnya para pelanggannya tidak dikenai stigma demikian.

Sebuah LSM di Belanda, The Red Thread, yang didirikan tahun 1985 oleh para mantan PSK mempunyai tujuan untuk memperjuangkan hak-hak PSK yang bekerja di Belanda. The Red Thread teratur mengunjungi PSK di Red Light District untuk menginformasikan sebanyak mungkin tentang kondisi kerja, perpajakan, hak dan peraturan privasi kepada mereka.

Memang, industri prostitusi adalah bisnis yang legal, tapi pengucilan sosial, diskriminasi dan kondisi kerja eksploitatif masih sering terjadi.

Prostitusi di Belanda adalah pekerjaan yang dilindungi hukum dan telah dianggap sebagai hal yang lumrah. Pada tahun 1997, sebuah survei yang dilakukan di Belanda menunjukkan bahwa 73% masyarakat Belanda menolerir adanya rumah bordil dan 74% warganya menyatakan bahwa prostitusi merupakan “pekerjaan yang bisa diterima” sementara pada tahun 1999, 78% masyarakat Belanda menyatakan bahwa prostitusi sama halnya seperti pekerjaan lain (polling diambil dari Weitzer 2000, p. 178). Terutama semenjak pemerintah menetapkan prostitusi sebagai bentuk bisnis yang bisa ditolerir, legal dan terlisensi pada 1 Oktober 2000, stigma miring masyarakat Belanda terhadap kegiatan prostitusi semakin berkurang.

Dari penjelasan di atas, paling tidak pengakuan Belanda sebagai salah satu negara yang selalu berada di urutan terdepan dalam penegakan kebebasan sipil, hak asasi manusia dan politik internasional bisa dibuktikan.

Tidak peduli masyarakat biasa atau pelaku bisnis prostitusi selama mereka masih manusia, semuanya berhak mendapat perlakuan yang manusiawi sebagai seorang manusia dengan harkat dan derajat yang sama. Begitu pula masyarakatnya yang mempunyai toleransi yang tinggi terhadap para pelaku bisnis prostitusi. Tidak ada diskriminasi maupun stigma negatif terhadap mereka.

Prinsip-prinsip humanisme yang berkembang di Belanda telah memberikan satu pandangan baru mengenai penegakan hak asasi manusia di dunia ini.

Advertisements

Comments»

1. septoadhi - April 23, 2010

sundul gan!

buat pembaca yg lain, jgn lupa:
tolong kesampingkan apa latar belakang agama Anda dan baca tulisan ini dengan pemahaman logika dan rasionalitas saja

Wah ini kayaknya topik yang saya tulis terlalu berat πŸ˜€

2. lembahmenoreh.sby - April 27, 2010

temanya apik jane…
tpi kenapa subtemanya kok njupuk “prostitusi” ahay ahay

soal humanisme kan sebenernya banyak..semua yg terkait hak asasi manusia bisa menjadi issu soal humanisme (karena ini emang terkait erat)….
tpi memang sih…issu “pelegalan prostitusi” selalu menjadi perbincangan “hot”
tpi sejatinya ada yg lebih hot dari subtema “prostitusi”
mau tau..??
PM ane gan…

Karena prostitusi adalah sesuatu yang unik dan kontroversial. Menimbulkan perdebatan namun tidak pernah ada penyelesaian. Hahay.. Memangnya apa yang lebih hot dari porstitusi? Sepertinya saya tau πŸ˜†

3. pritha - April 27, 2010

begini nih, kalo mau ngomong hak asasi yang se-asasi-asasi-nya ya bacalah blog ini maka anda akan mengerti..

tapi disisi lain buat yang gak siap mental, sempit akal dan masih abu-abu.. mending jangan baca ya, soalnya bakalan dongkol sendiri..
trus komen ‘kok, bisa ya ‘selangkangan’ dilegalkan..

btw, lanjutkan..!

Lanjutkan apa? Kita dukung pelegalan prostitusi?

setanmipaselatan - May 2, 2010

kenapa tidak? 😈

Nice post, menggambarkan realita yang ada sebenarnya di masyarakat.

Tapi kebanyakan orang pada ndak mau peduli, pokoke kalo ndak sesuai dengan apa yang ada di buku ya itu salah. Kalo banyak yang bilang salah, ikut-ikutan bilang salah. Pokoknya ikut yang banyak lah. Ndak peduli bagaimana latar belakang para pelaku hingga mereka sampai pada pilihan itu.

Solusi, butuh solusi. Tapi kayaknya kalau yang kayak di Belanda dilaksanakan di Endonesa, bakalan banyak yang protes. Butuh orang-orang yang bisa mikir pakai otak, ndak cuma pakai otot.

BTW, cerita itu sudah 3 tahun yang lalu kan? Jangan-jangan antum sudah kenalan dengan Karin dan Dewi kemudian berlanjut ke hal-hal yang iya-iya πŸ˜†

setanmipaselatan - May 3, 2010

kamu kan tau cinta saya cuma buat gadis yang teman sekelas anda itu. jadi tiada mungkin saya bakal mengkhianati dia, meskipun itu cuma sekedar lewat sentuhan fisik tanpa hati.

btw, itu pas saya diceritain, karin sama dewi sudah dalam keadaan nggak di babarsari lagi, kok :mrgreen:

4. pritha - April 28, 2010

loh, kok..
kan udah dibilang, kesampingkan segala latar belakang agama..
jadi netralkan dulu ini pikiran sehingga tidak bermuatan apa-apa, maka hati anda tidak akan menjadi dongkol..
meskipun, pada akhirnya ujung2nya kata ‘pelegalan’ itu nyata adanya..
mau gimana lagi, kan katanya.. ‘prinsip-prinsip humanisme yang berkembang di Belanda telah memberikan satu pandangan baru mengenai penegakan hak asasi manusia ‘

>.<"..

Ya itu nanti kan urusan pemegang kekuasaan untuk mengakomodirnya juga. Kalo eike sih cuma manusia biasa, bisanya ya cuma memprovokasi πŸ˜€

5. hans - April 29, 2010

dengan mengesampingkan unsur agama…

aku setuju dengan selokan yang digunakan untuk mengalirkan air yang busuk demi menjaga kesehatan warganya… masuk akal.
bisnis portitusi ini mungkin salah satu bisnis terkuno yang masih eksis sampe sekarang ini, baik itu dinegara yang melarang maupun yang melegalkan… ada nilai postifnya dinegara yang melegalkan dan juga sebaliknya…. Di Indonesia tidak melegalkan.. sering didenger “grebekan” satpol PP… tapi ko ya ada lokalisasi, padahal ilegal…

salam dari tetangga Dollywood

Ya itulah negara Anda. Kalau kata Om Dedy Mizwar kan “Alangkah lucunya.”

6. Nunug - April 29, 2010

tulisan cerdas, ning yo rodo abot..!

Terima kasih. Kalau berat nanti saya suruh diet saja :mrgreen:

7. Abah Yoyok - April 29, 2010

Humanisme, intinya adalah dilarang melarang kesenangan orang. Namun harus juga dipikirkan juga jangan sampai kesenangan (yang dilarang) itu mengganggu kesenangan (orang yang melarang).
Baik yang melarang maupun yang dilarang akan jadi ‘masalah’ jika dipertemukan atau saling berhadapan. Yang satu berpegang pada aturan, norma, ajaran, dsb. sedang yang satunya lagi berpegang pada kebebasan yang hakiki untuk memperlakukan dirinya sesuai dengan haknya yang paling asasi.
Karena Tuhan sendiri telah menyerahkan pada manusia untuk memperlakukan dirinya mau jadi apa (dengan tak lupa meninggalkan tuntunan hidup yang positip), maka memang sudah selayaknya, baik kelompok ‘yang melarang’ dan ‘yang dilarang’ tidak perlu saling berhadapan atau bersinggungan. masing-masing urus saja dirinya sendiri-sendiri dengan catatan saling menghormati dan menjaga prinsip hidup masing-masing. Karena itu memang dibutuhkan fasilitator (pemerinttah) yang canggih untuk tidak mencampur baurkan mereka (yang taat pada aturan, norma dan agama) dengan mereka yang mendambakan kebebasan atas nama hak asasi manusia (humanisme).
Caranya ? Ayo rundingkan rame-rame.

Abah Yoyok, Cisauk 29.04.10

Yang merundingkan seharusnya pemerintah. Rakyat mau bilang apa kalau pemerintah ndak ngasih lampu hijau ya ndak bakalan terencana. Apalagi kalau sudah ada kepentingan-kepentingan lain (baca : kepentingan politik) yang terlibat. Jadi keputusan yang dihasilkan ndak bakalan objektif dan ndak bisa memuaskan semua pihak. Pasti ada yang memaksa dan dipaksa. Yang memaksa biasanya golongan mayoritas yang ndak punya dasar-dasar pemikiran objektif berdasarkan logika dan rasionalitas. Hanya karena mayoritas maka dianggaplah itu benar dan harus ditaati.

Tapi gimana pemerintah mau membahas, wong pemerintah kan sedang sibuk mengurus Kasus Priuk, Bank Century, Mafia Pajak, Markus Kepolisian yang ketoke ndak bakalan kelar-kelar. Kita berdoa saja sembari melaksanakan ajaran humanisme itu.

Tapi katanya humanisme ajaran sesat di negeri ini. Ah entahlah πŸ˜†

8. elka - April 29, 2010

waah masnya open minded sekali ya..
dapat link dari ipeh, ^__^
analisa yang bagus!

Terima kasih. Adiknya juga manis sekali ya..

9. lembahmenoreh.sby - April 30, 2010

humanisme…liberalisme,sekulerisme dan isme2 yg lain….
ajaran yang seolah2 mendekati kebenaran kemanusiaan tpi sesungguhnya malah memasung dn mempermainkan kemanusiaan itu sendiri…apalagi dengan dalih hak asasi manusia..yang seolah-olah paling asasi….padahal klo merenung..tidak ada hak yang paling asasi di dunia…..kebanyakn kita telah dipermainkan oleh teori2 kosong pemikir barat…

yg tidak setuju..??monggo….

Seperti halnya dengan agama?

10. hera - May 2, 2010

keren tulisannya,, πŸ˜€

Makasih, mbaknya juga iya πŸ™‚

11. setanmipaselatan - May 2, 2010

klub vandersexxx!!!
all hail…

Situ mau ke sana? Eike sih ogah, mending ke Amsterdam Arena.

*cari alamat vandersex

12. andika hendra mustaqim - May 2, 2010

mantep …humanisme…

Wogh, ini masnya jurnalis. Hebat.. Saya juga pengen jadi wartawan, cuma dasar pendidikan saya ndak ada nyrempet-nyrempetnya sama sekali sama jurnalistik.

13. Tikus Minthi - May 3, 2010

Menurut saya itu bukan humanisme dan bukan hak asasi. Humanisme itu mejaga nilai2 kemanusiaan, baik itu nilai2 yg berdasarkan norma di masyarakat maupun norma yg berdasarkan agama.

Dari tulisan itu tergambar kebebasan yg kebablasan. Kenapa kebablasan? Karena letak kebebasan yg sesungguhnya adalah ketidakbebasan itu sendiri. Kenapa demikian? Karena setiap individu, setiap kelompok mempunyai keinginan dan tujuan yg berbeda2 ttp keinginan dan tujuan itu tdk boleh menyinggung orang/pihak lain. Nah klo spt itu maka kebebasan itu hrs dilakukan dg mempertimbangkan org lain. Dus dg demikian kebebasan itu sesungguhnya ketidakbebasan itu sendiri.

Benar kata penulis, sementara kita kesampingkan dulu unsur agama dalam menanggapi ini dan hanya berpegangan pada rasio/akal. Dan saya yakin siapun jg kalau akalnya sehat bin waras tdk akan menerima itu sbg sebuah humanisme ttp justru sebaliknya: penghancuran manusia dan kemanusiaan.

Kalau Anda anggap humanisme adalah menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang berdasarkan norma di masyarakat maupun norma agama, mari dijelaskan dulu satu per satu.

Norma sosial yang berlaku dalam masyarakat dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
a) Norma Agama
Norma Agama adalah suatu norma yang bersumber dari ajaran atau akidah suatu agama.
b) Norma Kesusilaan
Norma Kesusilaan adalah norma yang bersumber dari hati nurani atau akal manusia.
c) Norma Kesopanan
Norma Kesopanan adalah norma yang bersumber dari aturan tingkah laku yang berlaku di masyarakat, seperti cara berpakaian, cara bersikap dalam pergaulan, dan berbicara.
d) Norma Kebiasaan / Adat istiadat
Norma Kebiasaan merupakan hasil perbuatan manusia yang dilakukan berulang – ulang.
e) Norma Hukum
Norma Hukum adalah himpunan petunjuk hidup atau perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat atau Negara.

Untuk masalah norma agama seperti sudah saya bilang di awal, kalau saya ndak bakalan membahas apapun yang nyerempet-nyerempet agama. Pamali..

Untuk empat norma berikutnya, tergantung dari tiap masyarakatnya. Jadi tidak bisa disamakan antara norma kesopanan di masyarakat dan masyarakat lain. Begitu pula dengan norma kesusilaan, norma kebiasaan dan norma hukum. Setiap masyarakat punya normanya sendiri dan tidak bisa disamaratakan. Dengan demikian apa yang dilakukan di Belanda belum tentu bisa dilakukan di negara lain tanpa adanya penyesuaian-penyesuaian dengan norma yang berlaku di negara lain itu.

Kasus-kasus seperti ini apakah kita juga harus mendiskreditkan mereka tanpa adanya solusi yang terbaik. Toh solusi yang terbaik di mata kita pun belum tentu terbaik di mata mereka. Lagipula seperti Anda katakan, kebebasan itu harus dilakukan tanpa mengganggu kebebasan orang lain. Jadi selama mereka tidak mengganggu kita apakah kita harus mengganggu mereka?

Nah seperti kata Abah Yoyok di atas, “dibutuhkan fasilitator (pemerinttah) yang canggih untuk tidak mencampur baurkan mereka (yang taat pada aturan, norma dan agama) dengan mereka yang mendambakan kebebasan atas nama hak asasi manusia (humanisme).” Di Belanda hal ini sudah bisa diakomodir mekipun masih banyak kontroversi.

14. Coro dan Penyuka Sesama Jenis | The Satrianto Show: Beraksi Kembali! - May 3, 2010

[…] jadi makin merasa bersalah sama korban-korbanku itu setelah kemarin mbaca tulisannya Wiwid Tengik Tukang Tipu Gadis-gadis yang tentang humanisme. Dalam skala yang lebih kecil, seperti homo sapiens, coro itu toh sama-sama makhluk Tuhan, kan? […]

15. kafirliberal - May 5, 2010

Nderek share rembug ya, Gan,.

Yang dimaksud humanisme adalah suatu paham yang mengedepankan prinsip2, nilai2, dalih, doktrin, maupun segala ke”faham”an tetek bengek tentang hakekat kemanusiaan serta intinya selalu mengatasnamakan hak-hak manusia(nek e). Ini dalam perngertian umum yang saya tangkap yang kadangkala tidak sedikit mengandung salah kaprah yang kemudian menjadi konvensi sosial dari maksud yang dituju sehingga mengaburkan makna epistemologis suatu tanda (baca: kata, ungkapan). Sebelum menfatwa lebih jauh masalah humanisme, ada baiknya menfatwa dulu pelaku dari humanisme itu sendiri yang tidak lain adalah manusia (ya iyalah masa wayang?!). Manusia itu makhluk dinamis, relatif, basisnya kemungkinan. Manusia bisa berjalan ke arah kecenderungan Malaikat, bisa juga mendekati perilaku dan moralitas Setan. Setan dan Malaikat itu makhluk statis, dimanapun Malikat berada di tempat pelacuran, prostitusi, perjudian, tempat minum2, tetap saja baik yang dia lakukan, sebaiknya Setan, di masjid di gereja di pura di kuil tetap saja buruk yang dia lakukan. Dan manusia berada ditengah2, manusia punya pilihan, manusia punya pilihan 2 kemungkinan, untuk menuju kebaikan atau menuju kebrengsekan.

Dalam hal ini setiap manusia mempunyai cara pandang, sudut pandang, dan jarak pandang yang berbeda-beda dalam perspektif ke-humanisme-annya masing2. Humanisme menurut saya yang menyebutkan bahwa individu sudah pantas disebut sebagai manusia dapat dilihat dari pakian. Pakian adalah akhlak. Pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan bianatang. Kalau tidak percaya, berdirilah di kerumunan pasar, lalu berjalanlah dengan copot pakianmu, maka kamu akan kehilangan segala harkatmu sebagai manusia. Pakainlah yang membuat manusia bernama manusia, pakiaan adalah pegangan nilai landasan moral dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yg harus kita cuci dengan pedoman masing2 aturan pakai eh cuci.

Suatu pendapat menyebutkan, Kemanusiaan (baca: humanisme) adalah ketika seorang manusia menanggalkan pakaian keakuan dan egosentrisme, maka ia membuka lebar sifat keterbukaan di dalam dirinya terhadap lingkungannya sehingga segala detail tingkah polah, karya dan segala eksistensi segala keidupannya sebagai ” “, tidak lagi merupakan hasil kejeniusan dirinya sendiri melainkan sebuah hasil dari proses kontemplasi, saling pemahaman dan interaksi dengan masyarakat dan spiritualitasnya[AS]. Silakan dimaknai sesuai cara, sudut, dan jarak pandang masing2 sesuai kapasitas ilmu pengetahuan, kemampuan pikiran, dan input dari masing masing yang kita miliki. “lana akmaluna walakum akmalukum”.


Wah mbak, kasihan lho kalo Anda bilang “Humanisme menurut saya yang menyebutkan bahwa individu sudah pantas disebut sebagai manusia dapat dilihat dari pakian.” Trus kalo suku-suku pedalaman yang masih pada telanjang berarti mereka bukan manusia ya?

Eh tapi mbaknya bilang juga “Silakan dimaknai sesuai cara, sudut, dan jarak pandang masing2 sesuai kapasitas ilmu pengetahuan, kemampuan pikiran, dan input dari masing masing yang kita miliki. ”

Jadi kalau pandangan kita beda ya ndak masalah kan? Yang penting kita hidup tidak saling mengganggu. Satu guru satu ilmu jangan ganggu πŸ˜†

16. -ivy wae- - May 5, 2010

wah-wah tulisannya masnya ganteng….
sampai2 saya ndak tau musti komen apa ini,..bingung,.
bahasanya tinggi amat, amat aja ndak tinggi je…
saya duduk2 saja di sini, numpang curi2 ilmu, hahay..

sudah-sudah ya, nanti berkelahi.. :mrgreen:

Memang, antum membingungkan 😈

17. Tikus Minthi - May 5, 2010

Bukankah di akhir komentarku sdh kutulis :”Benar kata penulis, sementara kita kesampingkan dulu unsur agama dalam menanggapi ini dan hanya berpegangan pada rasio/akal.”

Lalu saya lanjutkan dengn : “Dan saya yakin siapun jg kalau akalnya sehat bin waras tdk akan menerima itu sbg sebuah humanisme ttp justru sebaliknya: penghancuran manusia dan kemanusiaan.”

Nah ini jumbuh dg pendapat mas/mbakkafir liberal bahwa: “Humanisme menurut saya yang menyebutkan bahwa individu sudah pantas disebut sebagai manusia dapat dilihat dari pakian. Pakian adalah akhlak. Pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan bianatang. Kalau tidak percaya, berdirilah di kerumunan pasar, lalu berjalanlah dengan copot pakianmu, maka kamu akan kehilangan segala harkatmu sebagai manusia.”

Oke, memang bener bahwa “yang namanya norma itu tergantung dari tiap masyarakatnya.” Lain tempat akan lain pula norma yg berlaku. Di suatu tempat suatu pakaian dikatakan sopan belum tentu di tempat lain jg dibilang sopan. Tetapi apapun norma itu pasti tetep ada satu kesatuan pendapat umum (dimanapun itu) satu nilai yg sama yg dipegang secara bersamaan, katakanlah yg bersifat universal gitu. Dan yg namanya prostitusi, telanjang dll itu dalam masyarakat apapun dimanapun, bahkan seprimitif atau semaju apapun tetap bukan sesuatu yg dianggap baik dan berlawanan dg nilai2 yg berlaku di masyarakat tsb.

Dengan demikian, saya tetap berpendapat bahwa pelegalan prostitusi dll diatas itu bukan suatu bentuk humanisme ttp justru sebaliknya, atau dg kata lain itu adalah suatu gerakan dehumanisasi.

Kalau dikatakan itu bentuk kebebasan sipil atau hak asasi okelah gak masalah. Tetapi spt yg saya katakan diatas bukankah sebuah kebebasan seseorang/suatu kelompok jg hrs mempertimbangkan seeorang/kelompok lain? Dan jlupa kita bahwa kita sebagai manusia selain mempunyai HAK AZASI jg mempunyai WAJIB AZASI

Kebodohan dan ketidak-jangkepan cara berfikir manusia sekarang adalah melulu memikirkan hak azasinya tanpa peduli dg wajib azasinya. Manusia sekarang terlalu menuntut hak tanpa pernah berusaha memenuhi wajib azasinya. Itu egois namanya. Itu cara berfikir “endas kroak” alias tdk jangkep. itu bukan humanisme tetapi aku-isme. Dan segala sesuatu kalau sdh bersifat akuisme berarti sdh mendekat ke kadar binatang.

Dimana letak humanismenya?

Oke, saya terima pendapatnya kalau “prostitusi dll diatas itu bukan suatu bentuk humanisme ttp justru sebaliknya, atau dg kata lain itu adalah suatu gerakan dehumanisasi.”

Tapi saya bukan menyoroti kalau pelegalan prostitusi adalah bentuk humanisme. Itu hanyalah garis besar yang dibaca oleh orang-orang yang kurang teliti membaca tulisan di atas.

Yang saya soroti adalah di balik pelegalan itu ada beberapa poin penting yang bisa digarisbawahi dan menggambarkan humanisme. Diantaranya setiap pelaku prostitusi nantinya mempunyai hak dan kewajiban yang musti dipenuhi sebagai seorang pekerja di Belanda sehingga mereka mendapatkan posisi yang sama di mata masyarakat. Di samping itu dengan adanya payung hukumnya, perlakuan masyarakat terhadap para pelaku prostitusi yang menyalahi prinsip dasar kemanusiaan tidak bisa dibenarkan dan bisa dibawa ke ranah hukum yang berlaku di Belanda.

18. Asop - May 5, 2010

Ya, saya tahu dari film “Euro Trip”, di belanda emang ada kawasan legal untuk prostitusi. πŸ˜€

Vandersexx?

septoadhi - May 15, 2010

bukan, itu istilah daerahnya “Red Light District”

Semacam flower market road.

joesatch yang legendaris - May 17, 2010

bawa2 leica di situ, bisa dapat sepongbob gratis 😈

Kalau pengen yang sepong-sepong lain bisa cari di Jakarta πŸ‘Ώ


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: