jump to navigation

Kua(nt/l)itas April 30, 2010

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Saya jadi teringat beberapa hari yang lalu bersama Jupri, Juleha dan Kak Ibo pernah berdiskusi tentang teori kuantitas dan kualitas dalam pertemanan.

“Jadi prinsip dasar pertemanan itu tidaklah rumit. Kita tinggal membuat suatu lingkaran kecil, kemudian lingkaran yang mengelilinginya dan lingkaran-lingkaran lain yang mengelilinginya. Tidak lupa sebuah ruang tak terbatas yang menjadi himpunan semestanya. Masing-masing lingkaran akan menunjukkan kasta hubungan pertemanan kita,” Jupri mulai menjelaskan sambil membuat gambar.

Gambarnya bisa dilihat di bawah ini.

“Lingkaran berwarna merah yang ada di tengah itu, anggap sebagai ruang untuk diri kita sendiri. Kita bisa mengatur jari-jarinya sesuka kita. Semakin besar jari-jari yang kita buat maka kita akan semakin egois dan semakin kecil jari-jarinya maka kita akan semakin sosialis.

Kemudian lingkaran berwarna kuning adalah teman-teman terdekat kita. Katakanlah sahabat. Sama seperti lingkaran warna merah, kita bisa mengaturnya sedemikian rupa hingga sesuai dengan konsep persahabatan yang kita miliki.

Lingkaran selanjutnya yang berwarna hijau adalah teman-teman biasa. Dan kembali lagi seperti konsep lingkaran berwarna kuning, kita bisa mengaturnya sedemikian rupa hingga ukurannya sesuai yang kita inginkan.

Sedangkan ruang tak terbatas berwarna biru adalah pergaulan kita. Luasnya tidak terbatas, tergantung sejauh mana kita akan menjelajahinya.

Dengan adanya batasan-batasan itu tentunya dalam tiap lingkaran yang kita buat ada luas yang dimiliki dan luasan itu hanya bisa diisi oleh sejumlah orang tertentu.

Saat kita mempunyai teman baru maka otomatis lingkaran hijau akan kita buat semakin luas untuk menampung semakin banyaknya teman kita. Begitu pula saat kita ingin menambah sahabat, maka otomatis kita pun harus menambah luas lingkaran kuning kita. Untuk menambah luas lingkaran itu, mau tidak mau kita harus memperbesar jari-jari masing-masing lingkaran kan?

Nah, kualitas pertemanan dinilai dari jarak antara pusat lingkaran dengan himpunan pertemanan yang kita miliki. Semakin jauh batas luar lingkaran kuning, semakin rendah pula kualitas persahabatan kita. Itulah mengapa saya tempatkan lingkaran hijau yang notabene menunjukkan hubungan pertemanan di luar lingkaran kuning yang menunjukkan hubungan persahabatan.

Atau bisa saja kita mempertahankan luas masing-masing lingkaran. Namun dengan catatan, jika kita mempertahankan luas yang ada, maka saat kita berusaha memasukkan orang baru dalam lingkaran itu akan ada orang lama yang terlempar dari lingkaran itu.,” jelas Jupri.

“Nah jadi tidak menutup kemungkinan untuk kita menambah jumlah sahabat atau teman kita sampai sebanyak apapun kan? Wong kita punya kekuatan untuk mengatur ukuran masing-masing lingkaran,” Juleha mencoba berargumen.

“Begini Dek Juleha, jadi kita bisa saja memperbesar luasan lingkaran kuning dan lingkaran hijau. Tapi ada konsekuensi yang harus ditanggung saat kita berusaha memperluas masing-masing bidang lingkaran itu. Saat kita memperbesar lingkaran kuning, lingkaran sahabat kita, maka pada sisi-sisi terluar lingkaran kuning akan semakin jauh dari pusat lingkaran berwarna merah yang artinya kualitas persahabatan kita akan berkurang.

Perluasan lingkaran kuning ini tentunya juga akan berakibat langsung pada semakin jauhnya jarak lingkaran hijau dari pusat lingkaran yang berarti teman-teman kita pun akan semakin jauh,” jelas Jupri.

“Tapi nyatanya saya bisa kok Mas Jupri,” Juleha masih berargumen.

Juleha memang orang yang jiwa sosialisasinya tinggi sedangkan Jupri termasuk orang yang selektif dalam memilih teman.

“Nah tapi ya itu tadi, saya bisa saja menambah teman saya sebanyak-banyaknya. Tapi dengan semakin banyaknya teman yang saya miliki, kualitas saya dalam berhubungan dengan mereka akan berkurang juga. Anggap saja kualitas itu sama dengan waktu bersama. Misal dalam satu hari saya ada waktu empat jam untuk sahabat saya. Jika sahabat saya ada empat orang maka tiap orang akan mendapat waktu masing-masing satu jam. Nah jika saya menambah jumlah sahabat saya menjadi delapan orang, maka masing-masing nantinya akan mendapat setengah jam. Kuantitas bertambah tetapi kualitas berkurang,” Jupri menjelaskan konsepnya lagi.

“Nah kan waktunya bisa diambil dari yang lain. Misal waktu untuk diri sendiri ataupun waktu untuk teman,” Juleha masih saja membantah teori Jupri.

“Ya itu bisa saja, tapi kan dengan kita mengambil jatah waktu untuk diri sendiri maka konsekuensi yang harus kita tanggung adalah kita kekurangan waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Itu tidak akan menjadi masalah untuk orang-orang yang jiwa sosialnya tinggi. Tapi untuk saya itu akan menjadi masalah. Memberikan banyak waktu untuk orang lain itu kadang hanya bikin sakit hati,” Jupri berkoar-koar.

“Berarti tidak ada salahnya kita punya banyak teman ataupun teman dekat kan?” Juleha bertanya.

“Dari tadi memang tidak ada yang menyalahkan kalau kita punya banyak atau sedikit teman. Yang saya bahas di sini adalah kuantitas lawan kualitas. Semakin banyak teman yang kita miliki tidak akan menjamin kualitas pertemanan kita kan?” Jupri balik bertanya.

“Tapi nyatanya semakin banyak teman saya, hubungan saya dengan teman baru ataupun teman lama baik-baik saja. Tidak ada masalah,” terang Juleha.

“Nah kalau buat saya itu menjadi masalah. Jika ada teman baru pasti ada teman lama yang sengaja atau tidak akan terlupakan,” kata Jupri.

Perdebatan sengit ini terpaksa dihentikan oleh perkataan Kak Ibo.

“Saya pikir ini hanya perbedaan pandangan antara kalian berdua saja. Perbedaan pandangan mengenai kualitas pertemanan. Jupri mungkin berpikiran seorang teman bisa dikatakan sebagai sahabatnya bukan hanya karena Jupri mempunyai nomer hape si sahabat kemudian tiap lebaran mengirimkan sms lebaran.

Konsep sahabat bagi Jupri mungkin lebih detail daripada konsep sahabat yang dianut Juleha.

Jadi seorang teman bisa dianggap sebagai sahabat oleh Jupri apabila Jupri tau di ketek si sahabat ada tompelnya apa tidak. Jupri bisa buang air besar dengan nyaman di toilet si sahabat.

Mungkin konsep Juleha tidak sampai sejauh itu. Sekadar sms-an tiap minggu bisa dianggap sahabat oleh Juleha. Bisa saja kan? Itu tergantung dari masing-masing orang mengukur persahabatan dan pertemanan itu seperti apa,” kata Kak Ibo.

Konsep pertemanan yang nampaknya bisa diaplikasikan pada kondisi saya sekarang ini. Tapi saya masih bingung menetapkan batasan masing-masing lingkaran.

Advertisements

Comments»

1. septoadhi - May 2, 2010

sudah sudah…
nanti berkelahi…

Ndak pa pa mereka berkelahi, nanti tak bantuin nyoraki.

2. setanmipaselatan - May 2, 2010

itu sapa yang pipis di kamar mandi saya dengan pintu tidak ditutup? ayo ngaku!

Ucup.

3. Asop - May 5, 2010

Waduh, segala sesuatu harus dipikirkan secara filosofis ya? 😦
Jalani aja. 🙂

Ah ndak juga, itu si Jupri lagi kerasukan jin Plato jadi ngomongnya rada belibet.

4. hans - May 9, 2010

membingungkan… kalo persahabatan seluas monitor gimana mas? perlu berapa account untuk memperbanyak monitor-monitior itu..

Makannya gunakanlah Pidgin yang bisa multiple tab, jadi ndak usah bukak banyak windows. Tapi banyak tab :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: