jump to navigation

Pria Mushola May 13, 2010

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Sebelum kenal dengan Sukiman, Joko, Jupri, Kojrat dan makhluk-makhluk sebangsanya, bisa dibilang saya adalah seorang penganut agama yang taat. Bersama Atang, Otong, Tikno, Kipli, Toing dan Juned, saya sering keluar masuk mushola di kampung.

Primus, pria mushola. Begitulah sebutannya.

Tiap malam Jumat jatah kami adalah baca Surat Yasin di mushola. Malam Sabtu, pengajian rutin pemuda tiap minggu. Senin malam kebagian latihan hadroh alias pukul-pukul rebana di mushola. Seperti itulah rutinitas tiap minggu saya sebelum kenal dengan para kaum gabrut.

Urusan kuliah memang kadang menyita waktu. Jangankan kuliah, waktu duduk di SMA saja susah untuk membagi jadwal. Apalagi dengan jatah SMA yang disunat setahun tanpa penyunatan tugas dan PR, jadilah hidup saya bagai kuda. Dicambuk dan didera.

Setelah sibuk dengan urusan sekolah, rutinitas saya sebagai pria mushola mulai terganggu. Dari yang tadinya rutinitas seminggu sekali, kemudian jadi dua minggu sekali, tiga minggu sekali dan akhirnya sebulan sekali.

Namun jika Bulan Ramadhan tiba, rutinitas itu kembali dijalankan dengan sepenuh hati. Tidak cukup tiap senin, kamis dan jumat saja saya menyambangi mushola. Bisa tiap hari eksis di mushola. Pengen kecipratan pahala juga. Masih juga dengan orang-orang yang sama, Atang-Otong, Tikno, Kipli, Toing dan Juned.

Untuk kasus Bulan Ramadhan rutinitasnya bukan tiap minggu lagi, tapi rutinitas tiap hari.

Mulai dari Subuh di mushola, kemudian lanjut ngetem di seputaran ring road utara kota. Sekadar liat-liat gadis lewat atau sesekali jika sedang berlimpah harta turut meramaikan pagi dengan membunyikan petasan. Disambung sore hari mengaji di mushola dengan maksud minta takjil. Sholat Magrib dan Isya berjamaah yang berujung pada tadarus di mushola masih dengan niat terselubung mencari jatah takjil tersisa.

Bahkan jika sedang malas pulang, biasanya kami menginap di mushola hingga waktu saur tiba.

Suatu ketika selepas sholat tarawih, saya, Atang-Otong, Tikno, Kipli, Toing dan Juned berencana menginap di mushola. Di samping ingin menambah pahala dengan bertadarus ria, takjil buka puasa tadi cukup menggiurkan. Nasi padang berlauk ayam menggetarkan iman kami. Namanya juga bulan puasa, kadang kalo malam anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan seperti kami suka kalap.

Berhubung esoknya bukan hari libur, anak-anak yang belum cukup umur seperti Kipli dan Toing dijemput ibunya satu per satu.

“Besok susah bangunnya, jadi ndak usah tidur mushola. Lagipula besok masih harus sekolah. Kalau besok libur ndak apa-apa, kalau sampai bolos sekolah tidak boleh.”

Begitu alasan ibu-ibu Kipli dan Toing yang membuat mereka tidak berkutik. Terpaksa menurut daripada tidak dapat uang jajan gara-gara bolos sekolah.

Akhirnya malam itu hanya saya, Atang-Otong, Tikno dan Juned yang menginap.

Kalau sedang tadarus, biasanya anak-anak di bawah umur dapat jatah pertama, baru lanjut ke anak yang lebih dewasa dan begitu seterusnya berdasarkan umur. Bapak-bapak kadang menyelip di antara mereka.

Kebetulan malam itu bapak-bapak yang ikut tadarus sedikit, jadi baru jam setengah 11 malam tinggal tersisa pria-pria mushola.

“Tang, ni ada duit. Nanti buat beli makan apa minum kalau takjil tadi sore ndak nyisa,” kata Ustad Mur, takmir mushola.

Mendapat rejeki macam itu kami hanya tertawa dalam hati. Jatah takjil yang kelihatan memang tidak cukup untuk kami berlima, tapi yang telah disembunyikan jumlahnya sudah lebih dari cukup.

Maklum, anak muda macam kami tidak rela kalau bapak-bapak yang cuma tadarus satu lembar dapat nasi kotak. Kami yang kadang tadarus sampai lima lembar cuma kebagian kerupuknya saja.

“Ni duit diapain enaknya, kalau buat beli makan mubazir kayaknya. Wong satu nasi kotak saja sudah bikin kenyang,” kata Atang.
“Beli gorengan ae Tang, di angkringan Pak Cokro,” saya mengusulkan.
“Oh oke, sip. Yang lain nitip apa?” tanya Atang.
“Sudah, kami percaya padamu,” lanjut Juned.

Bersama Otong, sang adik, Atang segera ke angkringan.

Agak lama baru dia kembali.

“Huehe, maap, saya kalap. Tadi makan dulu di sana. Tapi santai, gorengannya masih ada. Plus ini…”

Atang mengeluarkan sebuah bola plastik.

“Buat apa Tang?” Tikno bertanya.
“Ya buat main bola, pas giliran Otong tadarus kita main bola, nanti ganti-gantian,” usul Atang.
“Kalau ketauan Ustad Mur gimana?” Juned ragu.
“Mainnya di serambi saja, tapi jangan berisik,” saya memberi saran.
“Tepat sekali, bagaimana rekan-rekan sekalian?” tanya Atang.

Tanpa dikomando kami mulai membuat jadwal. Urutannya Atang-Tikno-saya-Otong-Juned kemudian berulang lagi. Tiap orang dapat jatah dua lembar. Bagi yang sudah lancar tadarus, dua lembar tidak membutuhkan waktu yang lama. Tapi bagi pemula? Itu derita mereka.

Godaan bermain bola plastik di serambi mushola membuat bacaan kami acakadul. Belum lagi suara pantulan bola di tembok masuk ke microphone yang digunakan saat tadarus membuat Ustad Mur melakukan sidak.

Kami kalang kabut. Tikno yang kebetulan sedang dapat jatah tadarus pura-pura tidak tau.

“Dasar anak-anak! Sini bolanya!” Ustad Mur melotot.
“Ampun Pak Ustad, bolanya jangan diambil. Buat maen besok sore Pak Ustad,” saya memelas mengharap iba. Begitu juga yang lain.
“Tidak bisa, saya sita bolanya. Besok kalau mau main baru ambil!” Ustad Mur masih teguh pada pendiriannya.
“Yakinlah sumpah Pak Ustad, kami janji ndak bakalan main-main lagi. Kalau bolanya dibawa bapak trus buat mainan Dek Rosyid nanti susah mintanya,” Atang mulai berdiplomasi.

Rosyid putra Ustad Mur yang masih balita. Namanya balita kalau sudah dapat mainan susah dipisahkan.

Setelah melalui diplomasi panjang dan lobi-lobi handal, sang bola tidak jadi disita.

“Kalau nanti sampai main bola lagi, jangan salahkan saya ya. Apalagi kalau sampai…” sebelum Ustad Mur melanjutkan perkataanya, kami sudah mengambil bola dan duduk manis. Menunggu jadwal tadarus.

Ustad Mur pulang.

“Mari main lagi,” kata Tikno.
“Kamu tadi diam saja, sekarang malah mengusulkan. Kalau ketauan bagaimana?” Otong takut.
“Pakai strategi, microphone dikecilkan suaranya. Main bolanya di dalam saja, nanti kita tempatkan seorang buat jaga-jaga di pintu depan. Kalau-kalau Ustad Mur datang lagi,” usul Tikno.
“Oh, betul juga,” kata Atang.

Yang lain setuju.

Jadwal diatur lagi, yang penting semua senang.

Lewat tengah malam, kami makin berkeringat bermain bola. Strategi Tikno sukses. Ustad Mur tidak nampak sampai sejauh ini.

Kemudian bola yang saya tendang keluar mushola sampai di kebon Mbah Darmo yang gelap. Karena saya yang menendang, maka saya yang mengambil. Saya cari bola dalam keremangan malam. Tiba-tiba saya mencium bau wangi, saya segera lari masuk mushola.

“Ada apa?” tanya Atang.
“Saya ndak berani nyari bolanya. Serem, tadi ada bau wangi melati,” saya menjelaskan.
“Dasar penakut,” Atang menghina.
“Tadi memang sekilas saya lihat bayangan putih di kebon itu Tang,” kata Tikno sambil ketakutan.
“Mental tempe,” kata Atang.
“Waktu ke kamar mandi tadi juga ada suara-suara aneh. Makannya tadi saya ndak sempet cebok,” lanjut Otong sambil mengaku dosa.
“Sama begituan aja takut! Ni Atang ndak takut apa-apa.”

Atang membanggakan diri.

“Sudah, saya haus. Mau ambil minum dulu di dapur,” kata Atang.

Dapur terletak di samping mushola, bersebelahan dengan kamar mandi tempat Otong tidak sempat cebok tadi.

Sementara Atang ke dapur, saya merapikan microphone dan meja tadarus. Urusan bola diurus berok pagi. Otong, Tikno, Juned mulai bersiap tidur karena ketakutan.

“Huaaa..” Atang berteriak dan segera lari keluar dapur. Atang langsung terbirit-birit pulang sampai tidak sempat memakai sandalnya.

Saya, Otong, Juned, Tikno hanya bengong. Kemudian berebutan keluar mushola kembali ke rumah masing-masing meskipun meja dan microphone tadarus belum beres. Lampu belum dimatikan dan masih berantakan.

Esoknya selepas sholat subuh, Otong bilang kalau Atang sedang tidak mau sholat di mushola.

Baru tiga malam berikutnya Atang hadir di mushola saat sholat tarawih.

“Mas Atang, besok kan minggu. Nanti malam nginep di mushola yuk,” ajak Udin, adik Siti. Siti sendiri adalah gebetan Atang.
Nehi!! Mending tidur di rumah!”

Entah apa yang dilihat Atang, hingga kini dia tidak pernah cerita. Bahkan kepada Otong, adiknya.

Advertisements

Comments»

1. hans - May 15, 2010

HAHAHHAAAAAA…….

šŸ˜†

2. nurulaneh - May 16, 2010

haha.. dudulz amat. Nakal juga iki. Primus.. pria kumus-kumus.
Dia lihat apa yaaa.. mbah kunti, tante pocong, atau yang lainnyaa. PARAH wes!!

Hanya Tuhan yang tahu dan si pelaku tentunya.

3. sangprabo - May 17, 2010

Pasti kerjaannya Ustad Mur itu, pasti itu…

Entahlah.. Semoga saja seperti itu šŸ˜†


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: