jump to navigation

Warisan Kambing May 26, 2010

Posted by superwid in Bukan Saya.
trackback

Kang Tarjo adalah tetangga saya sekampung, se-RT malah. Rumahnya di belakang rumah saya. Rumahnya tidak begitu luas tapi halamannya cukup luas. Di dalam rumah yang tidak begitu luas itu Kang Tarjo pernah tinggal bersama delapan saudara sekandungnya. Cuma sekarang yang tinggal di sana tinggal tujuh orang. Dua adik Kang Tarjo sudah merantau ikut suaminya.

Kalau ditelusuri nenek moyangnya, saya dan Kang Tarjo masih ada hubungan darah. Tidak perlu menelusuri hingga Mbah Adam, cukup sampai simbahnya simbah saya saja kami sudah satu darah. Dibilang saudara jauh kok nyatanya kami masih satu simbah, dibilang saudara dekat kok ya kami tidak kenal siapa simbah itu.

Bingung? Sudah, tidak usah dipikirkan. Tidak bakal keluar dalam ujian. Toh saya tidak akan membahas mengenai simbahnya simbah saya itu. Kenal saja tidak.

Sedangkan Lik Pur adalah paman saya, adik dari ibu. Saudara sepersusuan. Kebetulan Kang Tarjo dan Lik Pur adalah teman dekat, konco kentel begitu kata Joko. Sejak kecil sudah sering main bareng. Sama-sama hobi mbongkar mesin, jadi sudah sehati. Sudah biasa pinjam-meminjam kunci, busi dan oli, tapi semoga jangan sampai tukaran istri.

Naudubilah.

Kemaren-kemaren, Lik Pur beserta Kang Tarjo menyambangi rumah sakit. Menjenguk bapak saya. Sebagai tuan rumah sakit yang baik, saya pun menemani mereka berdua ngobrol sementara simbok sedang menunggui bapak saya di ruangannya.

Obrolan Kang Tarjo dan Lik Pur bervariasi, mulai dari urusan dapur, urusan sumur dan sesekali menyerempet ke ururan tempat tidur. Mau tidak mau, saya sebagai tuan rumah sakit ya musti turut berpartisipasi dalam obrolan ini meskipun cukup sebagai penonton setia dan sesekali menjawab jika ditanyai saja.

Saya kan tidak mungkin ikut berpartisipasi dalam obrolan mereka kalau yang dibicarakan urusan yang nyrempet-nyrempet tempat tidur tadi. Saya tidak berpengalaman sama sekali dalam urusan “tempat tidur.”

Selayaknya konco kentel, obrolan Kang Tarjo dan Lik pur sungguh blak-blakan. Tiada yang ditutupi.

“Urusan kambing yang sembilan itu gimana Jo? Sudah dapat solusinya?” tanya Lik Pur.
“Yo belum lah Pur. Namanya juga kambing sembilan, kandangnya cuma satu. Ngaplingnya susah. Ada yang minta jatah kapling besar, ada yang minta jatah kapling dekat pintu. Susah Pur kalau ngikut pengennya kambing-kambing itu. Ndak bakalan nemu solusi sampai matahari terbit dari barat,” jelas Kang Tarjo.
“Sudah Jo, dipotas saja kambingnya. biar ndak ribet-ribet banget urusannya. Kalau jumlah kambingnya dikit kan gampang bagi-bagi kaplingnya,” saran Lik Pur.
“Dipotas gundulmu,” maki Kang Tarjo.

Sampai tahapan ini saya masih belum menangkap arah pembicaraan Kang Tarjo dan Lik Pur. Setau saya Kang Tarjo tidak memelihara kambing. Bahkan tidak ada warga kampung saya yang memelihara kambing. Kalau sapi atau bebek ada. Itu Ustad Mur, sapinya ada dua. Di belakang rumah Kang Tarjo memang ada kandang. Tapi itu kandang ayam. Bukan kandang kambing.

“Lha gimana to Pur, semuanya itu sebenernya sudah dibagi rata. Masing-masing dapat bagian sama besar. Lumayan Pur, tiap kambing dapat 90 meter persegi. Tapi Pak Ju, kambing yang nomer dua itu tetep ndak mau. Katanya menurut ajaran agama di KTP saya, jatah pejantan mesti dua kali jatah betina. Ya saya tau apa to tentang agama. Wong itu di KTP saya yang ngisi kolom agamanya dulu tu bapak saya. Kalau kata Pak Ju aturannya begitu ya saya nurut saja. Apalagi kalau sudah pakai bawa-bawa ayat. Wis, yang lain cuma bisa mak klakep,” terang Kang Tarjo.
“Ada aturan gitu po?” Lik Pur bertanya pada saya. Melibatkan saya dalam urusan kambing.
“Ini ngomong apa Pak Lik?” saya bertanya.
“Urusan waris. Bener memang kalau laki-laki dapat jatah dua kali lebih banyak daripada perempuan?” tanya Kang Tarjo.
“Konon kabarnya begitu Lik. karena katanya tanggung jawab laki-laki lebih besar daripada perempuan maka dapat jatah warisnya lebih besar. Kalau laki-laki nantinya harus menanggung nafkah anak istri. Itulah alasan kenapa laki-laki mendapat jatah lebih banyak daripada perempuan,” saya coba menjelaskan. Sepengetahuan saya saja.

Wong saya bukan ahli hukum waris. Ketimbang saya jelaskan panjang lebar tanpa dasar yang jelas nanti jadinya malah bid’ah. Bid’ah itu sesat dan kesesatan identik dengan temannya setan. Berteman dengan Joko dan kawan kawan saja sudah merepotkan dan menyusahkan, hanya menghasilkan lapar dan dahaga. Nah ini kalau berteman dengan setan mau jadi apa?

“Wah kok repot ya Jo,” Lik Pur bingung juga.
“Sebenarnya yang perempuan-perempuan sudah setuju jika pembagiannya kayak tadi. Dua banding satu. Cuma yang perempuan mintanya dapat jatah yang pinggir jalan. Nah pas yang perempuan sudah setuju kalo cuma dapet jatah satu bagian, eh si Pak Ju tetep ndak setuju. Alesannya ndak adil. Maklum Pur, tanah pinggir jalan kan aksesnya lebih gampang. Harganya lebih mahal.

Coba dulu bapak selepas ditinggal ibu meninggal sudah bagi-bagi kaplingan jatah warisan. Mungkin urusannya ndak bakal berkepanjangan kayak gini. Kalau orangtua yang ngomong kan anak-anaknya pasti nurut. Yo meskipun ada yang nggrundel neng ati, tapi kan ndak mungkin pada protes. Ndak ada yang mau dicap anak durhaka. Nah sekarang, dua-duanya sudah pada almarhum gini yo sudah, bagi-bagi warisan tinggal ikut gimana persetujuan anak-anake,” lanjut Kang Tarjo.

“Wis Jo, saya ada solusi. Pakai sistem kopyokan saja. Model main cliwik gitu. Sopo sik bejo entuk milih ndisik. Yang ndak setuju ya itu tadi, tinggal dipotas,” saran Lik Pur.

Sudah jaman racun arsenik, eh Pak Lik masih setia dengan racun potas. Sudah jaman judi ala Las vegas, eh Pak Lik masih nguri-uri judi kampung.

“Lha, Lik. Urusan waris kok pakai kopyokan apalagi pake potas-potasan,” saya protes.
“Ketimbang bingung mbaginya. Wong ini saja warisan diurus anak-anaknya saja ndak beres-beres, gimana kalo nanti sudah sampe cucu-cucunya?” kata Lik Pur.

Benar juga kata Lik Pur.

Urusan waris kadang memang ribet. Apalagi kalau ada yang memaksakan kehendak dengan menggunakan agama sebagai alatnya. Memang yang namanya harta dunia itu pasti menggoda.

Advertisements

Comments»

1. Asop - May 30, 2010

Harta dunia….
Godaannya sungguh menawan… 😦

2. hans - May 31, 2010

kalo wanita?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: