jump to navigation

Sabar June 6, 2010

Posted by superwid in Bukan Saya.
trackback

Sabar dan ikhlas merupakan modal penting untuk ziarah ke tanah Arab di samping duit bergepok-gepok yang wajib dilunasi beberapa bulan sebelum keberangkatan. Toh sebenarnya duit itu juga bukan syarat mutlak, bisa saja tiba-tiba antum dapat hadiah dari bank buat naik haji atau ada yang khilaf iseng ngajak antum sekalian sowan ke tanah suci. Masalah materi memang tidak bisa diduga.

Lain halnya dengan modal sabar dan ikhlas tadi. Ini semua berkaitan dengan pribadi masing-masing. Semuanya bermuara pada satu hal, niat. Niat tidak bisa diharapkan turun dari langit seperti halnya hadiah dari bank atau ada yang iseng memberikannya. Niat itu dari hati dan niat yang dari hati itu harus ikhlas. Ikhlas berkaitan dengan sabar dan tawakal dalam menjalani kehidupan.

Masalah sabar ini sangat penting bagi orang-orang yang hendak bepergian ke tanah suci. Kalau tidak sabar ya jangan ke tanah suci. Di sana kita harus menerima semua yang ada dan diberikan. Konon kabarnya, itu adalah balasan atas segala tindakan yang dilakukan di Indonesia. Jadi pasrah saja lah, ikhlas. Sabar dan tawakal atas apa yang didapatkan di sana. Begitulah kiranya doktrin yang ditanamkan pada orang-orang Indonesia yang hendak ziarah.

Sekali waktu saya pernah diajak oleh Kyai Ipul, ketua rombongan, mengantarkan Mbah Naim untuk melihat masjid yang paling suci di dunia. Katanya, Mbah Naim belum pernah melihat kotak hitam di tengah masjid. Padahal simbah ini pernah muter tujuh kali, namun berhubung muternya di lantai dua jadi tidak berasa. Katanya cuma seperti di foto saja.

Si Mbah Naim penasaran.

Berhubung tidak mungkin mengantarkan Mbah Naim dengan menggunakan bus yang disediakan oleh pemerintah Indonesia, maka Kyai Ipul berinisiatif menyewa mobil. Semacam menyewa taksi tapi ini bukan taksi. Mobil yang disewa adalah milik mukimin yang bekerja untuk salah satu keluarga Arab. Sebenarnya mobil itu milik keluarga Arab yang digunakan untuk antar jemput anaknya. Jadinya mobil itu hanya digunakan tiap pagi dan siang saja, selebihnya terserah sang mukimin mau digunakan untuk apa.

Mukimin yang disewa mobilnya itu bernama Pak Supendi. Dia teman Kyai Ipul. Memang dasar Kyai Ipul sering main ke Arab jadi kenalannya banyak. Bahasa Arabnya juga jempolan. Apalagi dengan bisnis Kyai Ipul jual-beli perlengkapan ibadah, sudah pasti beliau akrab dengan seluk beluk Arab.

Sudah hampir 10 tahun Pak Supendi menetap di Arab. Almarhum orangtuanya malah sudah lebih lama menetap di Arab.

Kembali lagi ke rencana mengantarkan Mbah Naim nonton kotak hitam.

Saya yang masih muda kebagian jatah tukang angkut kursi roda. Kebetulan fisik Mbah Naim memang kurang sehat, jadi untuk aktivitas sehari-hari harus dibantu orang lain. Kyai Ipul bertugas membimbing Mbah Naim berdoa sedang Pak Supendi yang sudah hapal seluk beluk kota tentunya bertugas menjadi sopir.

“Sudah siap Pak?” tanya Pak Supendi.
“Sudah, ini tinggal nunggu Mbah Naim dan asistennya,” kata Kyai Ipul sembari secara sepihak menunjuk saya sebagai asisten Mbah Naim.

Setelah semuanya beres dan masuk ke mobil, termasuk kursi rodanya, berangkatlah kami ke masjid.

Sepanjang perjalanan diisi dengan obrolan antara Kyai Ipul dan Pak Supendi. Saya yang beda generasi seperti biasa menjadi pendengar yang baik sedang Mbah Naim menikmati pemandangan sekitar.

“Wah Pak Kyai, ndak capek apa dapet penginapan di pucuk gunung gini,” Pak Supendi bertanya.
“Ya bagaimana Pak, dapatnya di sini. Kalau boleh milih ya pasti milih yang dekat masjid. Tapi ya semuanya harus disyukuri. Alhamdulillah kondisi fisik saya sehat wal afiat jadi ndak masalah dapat dimana saja. Yang kasian ya orang-orang seperti Mbah Naim ini. Jadi ndak bisa ngapa-ngapain. Mau kemana-mana susah, mau ibadah jauh. Padahal mereka bayar mahal-mahal tapi dapatnya ya seperti ini. Kalau bisa milih penyelenggaranya gitu. Lha ini dimonopoli pemerintah. Kalau penyelenggaraannya bagus sih ndak masalah. Tapi kenyataannya Pak Supendi kan lebih tau,” jelas Kyai Ipul.

Pak Supendi menghela napas. Sebagai mukimin yang telah lama menetap di Arab pastinya Pak Supendi lebih tau duduk permasalahannya.

“Ya memang begitulah keadaannya Pak Kyai. Memang susah. Apalagi kalau dari pemerintahnya sudah ndak beres ngurusi lahan basah kayak begini. Urusan uang bisa bikin orang kalap,” kata Pak Supendi.
“Kita ini kan orang kecil bisanya apa Pak? Mau ngubah macem-macem kalau ndak ada pangkat ya susah. Bisanya cuma nurut,” Kyai Ipul menimpali.
“Iya, betul kata Pak Kyai. Kemaren saya sudah coba mau membenahi sistem yang ada. Tapi memang susah,” sambung Pak Supendi.
“Susah gimana Pak?” tanya Kyai Ipul.
“Gini Pak Kyai. Sejujurnya saya ini kasian sama jamaah asal Indonesia. Mestinya dengan jumlah jamaah yang paling besar kan sudah selayaknya Indonesia mendapatkan fasilitas yang lebih baik. Tapi kenyataannya apa? Dapat pemondokan jauh, di pucuk gunung. Akses angkutan umum juga susah. Jatah makan ndak jelas. Dibandingkan dengan jamaah lain, misal dari Turki, sangat jauh lah kualitas fasilitasnya. Saya heran apa pemerintah benar-benar serius mengurusi urusan agama gini? Mestinya Indonesia punya posisi tawar yang tinggi di mata pemerintah Arab,” jelas Pak Supendi panjang lebar.

Sebagai informasi saja, pemondokan yang saya tempati memang berada di puncak gunung. Bukan puncak dalam arti sebenarnya, tapi memang kenyataannya pondokannya berada di penghabisan jalan yang menanjak curam. Dari pondokan ke akses jalan raya paling tidak berjarak satu kilometer dengan jalan yang terjal. Mirip-mirip jalan ke basecamp Merapi di Selo.

“Katanya kan memang susah diurusnya. Masalah jatah makan itu konon katanya cuma kurang koordinasi. Masalah angkutan katanya memang jumlahnya terbatas. Kalau masalah pemondokan kan katanya ada perluasan masjid yang bikin pemondokan jadi makin jauh. Lagipula tiap jamaah kan dapat uang ganti rugi yang besanya disesuaikan dengan jarak antara pondokan dan masjid. Tapi saya pikir jamaah asal Indonesia pasti memilih ndak dapat uang ganti rugi asal dapat pemondokan yang dekat dengan masjid,” Kyai Ipul mengatakan apa yang diketahuinya.
“Lha Pak Kyai dibilangin begitu nurut-nurut saja? Percaya apa kata pemerintah?” tanya Pak Supendi.
“Saya nurut, percaya saja. Meskipun di hati dongkol tapi kan bagaimana caranya kita menjelaskan sama jamaah. Ya jangan sampai hal ini mengurangi kekhusyuan mereka dalam beribadah. Jangan sampai mereka bayar mahal-mahal tapi gara-gara ada kasus seperti ini ibadahnya jadi muspro. Makannya saya suruh mereka sabar dan ikhlas saja. Kalau ada masalah biar kita yang mengurusi,” jawab Kyai Ipul.

Pak Supendi mengeluarkan sebuah foto dari dalam laci dashboard mobilnya dan menunjukkannya pada Kyai Ipul. Foto pondokan yang nampak mewah.

“Kalau Pak Kyai mau tau, urusan penyelenggaraan ibadah ini memang agak ndak beres. Apalagi urusan pemondokan. Kemaren saya sempat menawarkan pondokan buat jamaah ke badan penyelenggaranya di sini. Tempatnya memang tidak begitu dekat dengan masjid, tapi lumayan terjangkau. Masih di dalam Ring 1. Tidak di pucuk gunung seperti pemondokan Pak Kyai. Fasilitasnya pun lengkap dan berfungsi semua dengan baik. Tapi badan penyelenggaranya ndak mau sedikitpun memperhatikan tawaran saya. Katanya semuanya harus lewat tender yang jelas dan terpercaya. Apa mungkin pas itu saya minta bayaran ya? Kan wajar kalau makelar minta bayaran,” Pak Supendi bercerita sambil berusaha mencari pembenaran.
“Lalu?” tanya Kyai Ipul.
“Ya sudah memang saya pikir begitulah prosedurnya. Ndak apa-apa lah, niat saya kan baik. Kalau ditolak ya ndak masalah. Akhirnya saya tawarkan penginapan itu pada pemerintah Turki dan alhamdulillah saya dapat bayaran yang jauh lebih memuaskan. Namun begitu saya tau pemondokan Indonesia ndak beres ya saya mempertanyakan kebijakan mereka juga. Begini-begini kan saya orang Indonesia. Ndak terima kalau orang Indonesia dapat kualitas rendahan. Asal Pak Kyai tau saja, daripada pemondokan Indonesia yang aksesnya jauh, liftnya sering macet, air ndak lancar, pemondokan yang saya tawarkan jauh lebih baik. Biaya sewa juga lebih rendah. Saya ndak habis pikir saja, pemondokan yang saya tawarkan justru ditolak dan pemerintah Indonesia lebih memilih pemondokan yang belum layak huni,” lanjut Pak Supendi.

Saya masih menjadi asisten Mbah Naim yang sedang sibuk melihat pemandangan sekitar.

“Wah susah juga kalau begitu ya?” tanya Kyai Ipul yang tidak paham masalah beginian.
“Ya begitulah. Yang sabar saja Pak Kyai kalau ngurusin masalah ini. Atau ndak usah diurusi saja. biar nanti Tuhan yang membalas,” kata Pak Supendi.

Sabar dan ikhlas saja.

Dan sampailah mobil kami di pelataran masjid. Saatnya berdoa. Yang penting harus sabar.

Advertisements

Comments»

1. Asop - June 7, 2010

Sabar… 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: