jump to navigation

Kasus June 9, 2010

Posted by superwid in Konfrensi Pers.
trackback

Dibandingkan teman-teman sepermainan semacam Sukiman, Joko dan Paijo, saya bukanlah teman yang baik. Saat Sukiman rela skripsinya dikerjakan belakangan sembari memberikan dukungan pada teman-temannya agar lulus duluan, ketika Joko yang notabene angkatan 2000-an masih hobi mentraktir adik-adik perguruan dan waktu Paijo lebih memilih dijadikan bahan hinaan dan ejekan ketimbang dikucilkan (untunglah sekarang dia telah hidup tenang di kota metropolitan), eh saya malah sering kelayapan sendirian. Ya saya mengakui dari lubuk hati yang terdalam memang saya bukan contoh teman teladan.

Tapi entah kenapa sekalinya saya eksis, masih banyak saja orang-orang yang mencari saya. Padahal sepengetahuan saya, utang-utang sudah saya selesaikan pembayarannya sebelum jatuh tempo. Janji-janji pun sudah saya tepati. Nampaknya tiada lagi tanggungan yang harus saya lunasi.

Selidik punya selidik, ternyata saya mau dijadikan tempat sampah. Dicurhati. Haduh..

Dan entah kenapa kebanyakan yang sering memanfaatkan saya sebagai tempat sampah itu jenis manusia yang berbibir tiga yang lebih populer dengan sebutan wanita. Meskipun tidak menutup kemungkinan, manusia yang berbulu dada juga sering bercerita.

Dipikir saya selalu ada untuk menjadi tempat sampah apa? Lama-lama saya malas juga.

Pada tau atau tidak, dengan mendengarkan curhatan seorang wanita, kita bakalan melakukan satu kesalahan besar. Menutup kemungkinan saya untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Lagipula saya pun harus menjaga mulut saya yang nista dan berbisa ini. Jangan sampai salah bicara yang bisa berakibat sengsara dunia akhirat karena wanita.

Coba tanyakan Ratna Sumirah yang pernah tersakiti hatinya gara-gara ucapan saya.

Beda saat dicurhati model manusia berbulu dada. Curhatannya bisa dijadikan bahan lelucon dan ejekan hingga akhir jaman. Dikasih solusi pun bakalan dicermati dan dilaksanakan meskipun itu menyesatkan.

Saya heran apa orang-orang itu pada tidak kasian sama kuping saya yang cuma dua ini. Tiap hari sudah capek buat mendengarkan radio dan mp3, sepasang mata saya juga lelah dipakai buat mengintip gadis-gadis manis dari bilik-bilik perpus, dan satu mulut saya yang tak berhenti makan. Oh, masih ada dua bahu saya yang menganggur. Tapi bahu ini spesial buat si Neng seorang :p

Dan yang paling bikin miris, apalagi memangnya yang sering dicurhatkan oleh anak remaja? Tentu saja cinta. Padahal saya ini murni 100%, 24 karat anak eksakta. Scientika. Tidak ada bakat sama sekali sama bidang-bidang ilmu psikologi. Yang lebih bikin menderita, saya ini punya pengalaman buruk dengan cinta.

Alhasil, dicurhati jenis manusia yang berbibir tiga dan topiknya tentang cinta, saya lebih sering mengelus dada. Ini contohnya.

Kasus pertama.

Sebut saja namanya Bunga, 22 tahun. Orangnya cantik, manis dan menarik. Kalau ada om-om yang mengorbitkan, saya yakin bunga bakal jadi bintang sinetron. Top markotoplah. Untuk orang yang baru kenal sepintas, saya yakin banyak yang terpesona akan kecantikannya. Untungnya karena saya sudah kenal lama dengan Bunga jadi jelek-jeleknya Bunga sudah terpatri di otak saya. Jadi insaoloh, sekali lagi insaoloh, saya tidak bakalan jatuh hati padanya. Amen.

Ceritanya Bunga ini, karena kecantikannya, dikejar-kejar banyak lelaki. Yang pertama, rekan kampusnya. Orangnya tajir, sebut dia Kumbang. Yang kedua, teman SMA yang masih tidak bisa melupakan Bunga. Sebut dia Lebah. Yang ketiga, teman sepermainannya. Kita panggil dia Capung.

“Saya ini bingung, harus memilih yang mana. Tiga-tiganya sama-sama PDKT. Jadi tidak tega,” Bunga memulai.
“Ya sudah tinggal pilih satu saja. Sisanya tinggal ditolak. Prinsipnya kan begitu, wong lanang menang milih , wong wadon menang nolak,” kata saya.
“Tapi saya bingung. Kumbang itu baik banget. Tiap hari nawarin nganterin kemana-mana. Saya pengen beli apa dibayarin, makan ditraktir. Kemaren aja pas ulang taun dia ngasih cincin emas,” lanjut Bunga.
“Ya sudah tetapkan hatimu padanya,” saya mencoba memberi solusi.

Sungguh saya tak memihak salah satu calon dalam kasus ini. Tidak ada money politic.

“Tapi Kumbang nggak romantis. Beda sama Lebah. Tau nggak tiap malam dia kirim sms yang bikin saya terbang melayang. Kadang pagi-pagi suka datang ke kos bawain bubur ayam sama setangkai bunga. So sweet banget,” kali ini Bunga berorasi tentang Lebah. Berapi-api.
“Oh gitu, Lebah romantis sekali ya? Sudah sama dia saja. Tiap hari pasti kamu bahagia,” saran saya selanjutnya.

Saya hanya menerapkan prinsip aksi-reaksi.

“Tapi si Lebah itu agak gimana gitu. Posesif. Protektif,” sambung Bunga.
“Kan tandanya sayang,” saya jawab ngasal.
“Saya nggak mau sama orang protektif. Kaya’ dikekang gitu,” Bunga menolak.
“Ya ya. Santai, masih ada Capung,” saya menyebutkan nama calon ketiga dan terakhir.

Semoga pada Capung hati Bunga tertambat.

“Ah boro-boro Capung. Mending saya malam minggu sendiri. Capung, ganteng juga nggak. Bisanya ngerayu saja. Tidak ada lebih-lebihnya sama sekali. Beda jauh sama mantanku. Udah baik, romantis, perhatian. Perfect lah. Nggak ada yang ngalahin sedunia. Eh tau nggak, dia itu pernah loh pas ulang tahun, malem-malem gitu dateng ke depan kos…” Bunga bercerita dengan semangat 45.
“Iijin mau ke kamar mandi,” saya mengacungkan tangan, minta ijin.

Kalau saya tidak memotong minta ijin untuk kabur ke kamar mandi, cerita Bunga tentang mantannya tidak ada habisnya. Saya sudah sering dengar Bunga curhat tentang mantannya. Dan saya sudah hapal cerita itu di luar kepala. Seperti halnya balita yang hapal di luar kepala cerita kancil nyolong timun.

Naga-naganya si Bunga memang tidak bakalan menambatkan hatinya pada Kumbang, Lebah ataupun Capung karena cintanya masih tertinggal pada mantannya.

Jadi, apa maksud dia cerita tiga lelakinya itu coba?

Kasus kedua.

Agar sinkron dengan kasus pertama, mari kita namai pelaku kedua ini Mawar, 22 tahun. Gadis ini bodinya semok, yahud, aduhai. Bohai bin semlohai. Model gitar spanyol. Idola remaja, idaman lelaki, dambaan bujangan. Jika Bunga berbakat jadi pemain sinetron, maka saya pikir Mawar punya garis nasib menjadi penyanyi dangdut. Tapi alhamdulillah sampai saat ini dia belum ingin merintis karir di dunia perdangdutan.

Kalau Mawar dibiarkan berkeliaran bebas di kawasan Pasar Kembang saya tidak menjamin keutuhan segelnya. Dari ujung rambut sampai ujung jari kaki, bodi Mawar memang menggoda untuk dijadikan bahan fantasi.

“Sungguh saya tidak tahu bagaimana harus menghadapi dia. Katanya dia suka, tapi kok dia suka bikin emosi gitu ya?” tanya Mawar.
“Memangnya kamu diapakan? Sudah diutik-utik?” saya balik tanya.
“Sudah satu bulan dia tidak ada kabar. Terus terakhir saya sms dia, saya tanya, apakah dia sedang sibuk sampai tidak sempat memberikan kabar pada saya. Begitu. Dia bilang memang dia sedang sibuk. Sekarang bayangkan dalam 30 hari apa iya tidak ada waktu barang lima menit untuk sms memberi tahu kabarnya?” Mawar protes pada saya.

Saya heran kenapa Mawar protes pada saya. Pacar bukan, orangtua apalagi.

“Ya mungkin dia sudah punya gebetan baru,” saya jawab sekenanya saja.
“Mungkin juga. Saya juga merasa seperti itu. Soalnya dia memang suka TTM-an. Padahal tau nggak, bulan kemaren dia protes karena saya tidak memberi kabar. Tuh bagaimana? Dia bilang sama saya kalau dia sayang sama saya, serius sama saya. Tapi apa kenyataannya?” Mawar mencari jawaban atas permasalahannya.

Gelagatnya Mawar yang merasa digantungkan nasibnya berusaha mendapatkan kepastian dari lelaki itu. Mau dibawa kemana hubungan mereka.

Saya bilang padanya, lelaki itu makhluk paling tidak bisa dipercaya sedunia. Mulutnya berbisa, mengandung racun. Apalagi kalau sudah mengeluarkan rayuan gombal dan kata-kata manis. Kalau tidak kuat iman dan imron, bisa bikin klepek-klepek. Saya jelaskan pula semua lelaki itu jahat. Lebih jahat daripada mirasantika-nya Bung Oma.

Lelaki itu buaya dan wahai para wanita, jangan sampai lubangnya kemasukan buaya.

Dengan mengatakan seperti itu kok nampaknya saya menjelek-jelekkan kaum lelaki ya. Kalau begitu saya mau sekalian minta maaf kepada Solidaritas Lelaki Sedunia ataupun perkumpulan yang mewakilinya ๐Ÿ˜†

“Kalau begitu maunya apa coba? Dia itu orangnya susah ditebak. Kalau pas suka sms, sms terus. Berhubungan intim. He.. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Maksudnya frekuensinya sering. Pokoknya kalau dia ada maunya, ada butuhnya saja jadi baik sekali sama saya. Tapi kalau pas saya yang butuh dia, cueknya minta ampun,” Mawar masih berkoar-koar.
“Maumu bagaimana?” saya bertanya. Mencoba mencari akar permasalahannya.
“Saya jadi malas. Kalau memang dia serius ya jangan bertingkah seperti itu. Kalau iya ya bilang iya, kalau tidak ya sudah bilang tidak. Bikin saya kepikiran saja. Saya sungguh tidak suka sikapnya yang seenaknya seperti itu,” jelas Mawar.
“Bilang saja apa yang mengganjal di hatimu padanya,” saya berikan solusi pada Mawar.
“Orangnya itu keras kepala!” Mawar menjawab.

Haduh, saya makin bingung saja.

“Kalau saya harus mengerti dia, saya sudah berusaha memahami sikap dan kebutuhannya. Kalau disuruh memperhatikan, masih bisa saya lakukan sewajarnya. Dan kalau saya mau saya bisa saja mencari yang lain. Masih banyak yang antri,” kata Mawar.
“Ya sudah. Gampang. Cari saja yang lain,” saya persilakan Mawar untuk mencari lelaki lain.
“Tapi saya lagi malas cari yang lain!”

Haiya ampun, kalau akhirnya cuma begini kenapa saya harus memberi solusi? Kenapa Mawar tidak konsultasi saja pada rumput yang berdisko. Buang-buang waktu bobok siang saya saja.

Ah, saya baru ingat, kebanyakan dari manusia berbuah dada ini tidak mengharapkan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Mereka hanya butuh didengarkan.

Cuma kalau lain kali saya sudah bosan menjadi tempat sampah, saya bakalan minta tolong sama Sukiman, Joko atau Paijo untuk menjalankan jurus pamungkas ala Sang Dewa jika ada yang mencari saya.

“Maap mbak, orang yang Anda cari sedang masuk pesantren.”

Advertisements

Comments»

1. -ivy wae- - June 10, 2010

Kapan mau masuk pesantren, bung ? ๐Ÿ˜†

2. Nurul - June 11, 2010

Kapok! Hehe…
Iku wis nasibmu mas. Tabahlah!

Ndak mau terima nasib saja, kayaknya mau dikomersialkan.

3. wib - June 13, 2010

untung saya ndak ikutan jadi tempat sampah…
huahahaha…:D

Kalau situ mau nanti bisa saya alokasikan ke Anda.

4. himakomugm - June 22, 2010

orang gila, pantes kamu tengik pak hhaha

Oknum mana ini?

5. joesatch yang legendaris - June 22, 2010

heihei, memang betul, jgn pernah mencoba ngasih solusi buat cewek. mereka cuma butuh didengarkan bukan dikasih solusi. pun kalo mereka maksa minta dikasih solusi, jawab saja, “kalo seandainya saya jadi kamu dan kamu jadi saya lalu kasusnya sama, solusi apa yang kira2 bakal kamu berikan ke saya?”

maka kalo dia menjawab sebuah solusi, kita tinggal ngomong, “persis (tanpa solo)! seperti itulah pendapat dan solusi dari saya untuk masalahmu.”

intinya: biarkan masalahnya tetap jadi masalahnya ๐Ÿ˜€

Wah guru, engkau memang selalu memberi pencerahan. Mohon bimbingannya guru!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: