jump to navigation

Keping 2 July 31, 2010

Posted by superwid in Jalan.
trackback

Kupikir aku semakin menyukai stasiun. Aku memang semakin menyukainya seperti aku semakin menyukai hujan tiap purnama ke sepuluh tiba dan semakin menyukaimu saat senyummu menyapa. Setelah suatu malam di penghabisan hari pada bulan ke tujuh duaribusepuluh, saat kamu mengantarkanku di stasiun besar di tengah kota yang dikelilingi gunung.

Ya, dari dulu memang aku menyukai stasiun lengkap dengan konstruksi bangunan lengkung, barisan rel yang terhampar seakan tanpa ujung, jam bulat besar yang menandakan kapan kereta tiba atau harus meninggalkan tempat peraduannya. Membawa sebongkah cita dan cinta ke berbagai tujuannya. Aku menyukai saat dimana bunyi klakson kereta – semboyan 35 – bersahutan dengan peluit aman Pengawas Perjalanan Kereta Api dan lantas tongkat yang dilengkapi bulatan hijau mengisyaratkan lokomotif untuk segera memacu mesinnya, membawa rangkaian gerbong asa dan harapan mengalun manja meninggalkan seberkas rindu yang selalu terjaga.

Aku menikmati setiap sudutnya bahkan tiap interaksi di dalamnya. Mengamati tiap pertemuan yang menjanjikan kebahagiaan maupun perpisahan yang menyisakan kesedihan.

Rasanya aku tak salah begitu menyukai stasiun dan keretanya. Tentang kereta, penyair sekelas Chairil Anwar pun melukiskan rasa kehilangan dan romantisme dalam sajaknya dan komponis sebesar Ismail Marzuki menggambarkan romantisme perjuangan dalam gubahannya.

+709; Begitu tulisan kecil yang terpampang di pojok kanan bawah papan nama. Menunjukkan ketinggian, semestinya.

Entah kenapa aku begitu menyukai stasiun ini, sebagaimana aku menyukai stasiun di kotaku. Hanya dua stasiun itu yang menarik buatku. Padahal tidak ada kesamaan di antara keduanya. Mungkin arsitekurnya saja yang sama-sama tua gaya Art-Deco khas bangunan Belanda atau mungkin konstruksi eksotis viaduct di sebelah timurnya. Selebihnya semuanya berbeda. Peron stasiun kotaku diapit dua jalur kereta di sebelah utara dan selatannya, sementara di stasiun ini justru kebalikannya.

Aku menyukainya jauh sebelum berjumpa denganmu dua bulan lalu di stasiun yang berbeda dan semakin menyukainya setelah mengenalmu. Di suatu malam setelah lima hari kita menghabiskan waktu bersama. Menyusuri jejalanan kota di barat Jawa. Bertukar kisah dan senyum. Ah, begitu cepat lima hari itu berlalu hingga malam itu kamu harus melepas kepergianku di stasiun. Kembali ke pelukan Aira katamu.

Setelah berulang kali aku melepas kepergian sahabat-sahabat senja dari kotaku, kini aku harus menjadi objeknya. Ternyata tidak menyenangkan ya? Aku benci saat jarum pendek jam bundar mulai bergerak ke angka delapan. Aku tidak suka saat kereta itu tiba dan petugasnya mengharuskan setiap penumpang untuk masuk ke dalam gerbong-gerbong besinya. Aku tak ingin menghiraukannya.

Sebenarnya aku hanya ingin tetap tinggal di peron stasiun kota, menghabiskan malam. Bersandar di bahu kecilmu, tempat paling nyaman dalam hidupku.

Menikmati setiap detik dengan menatap pipimu yang merona merah setiap mata kita saling bertatapan, mendengar celotehanmu yang tak henti menceritakan kisah kecilmu yang nakal, mencuri-curi fotomu untuk kemudian kamu tertawa melihat tingkah bodohmu yang terekam dalam kameraku. Bersamamu – aku tak pernah bosan saat bersamamu.

Menjadi diri sendiri dan sesekali berpikir untuk berubah menjadi lebih baik tanpa merubah karakter kita masing-masing. Merasa apa adanya dan aku yakin kamu tak akan keberatan, begitu pula aku. Mengatakan segala apa adanya, membagi setiap jengkal cerita lama kita dan mulai menggoreskan jejak langkah yang akan kita jalani bersama. Karena begitulah seharusnya, ini tentang harmoni (seperti kamu menamai judul album fotomu): selaras.

Dan aku mulai menyadari bahwa relativitas itu benar-benar ada dan nyata. Saat lima hari yang terasa menyenangkan itu begitu cepatnya terlewatkan. Sungguh, lima hari itu tidak lebih lama daripada sepuluh jam saat aku harus duduk menunggu bus-ku tiba di kota ini. Haha.. Ukuran yang sangat relatif, tergantung bagaimana kita memberikan standarnya.

Saat kamu memintaku segera menaiki kereta, aku baru sadar bahwa aku memang harus segera kembali ke kotaku. Merajut mimpi-mimpiku. Meninggalkanmu, yang cukup berat bagiku. Aku tidak tahu kenapa kamu begitu antusias menyuruh untuk segera melepas genggaman tanganku.

Tadinya aku berharap ada setitik air mata di sudut matamu hingga aku harus menyekanya dengan jariku. Memegang tanganmu dengan lebih erat. Mengatakan kepadamu bahwa ini semua hanya likuan hidup yang memang harus terjadi dan semua akan baik-baik saja. Menjanjikan bahwa aku akan segera kembali untukmu memenuhi segala impian-impian manismu. Kemudian aku bisa mendekapmu agar kamu merasa lebih hangat dan mengecup keningmu, memberikan kedamaian walau sejenak padamu.

Tapi yang kulihat hanyalah sebuah lengkungan senyum di wajahmu. Bagaikan pelangi selepas hujan membasahi bumi. Senyum yang begitu indah (dan memang begitu seharusnya) namun nampak tertahan tak seperti biasanya. Aku tak berani menebak apa yang ada di balik senyummu itu. Rasa kehilangan yang membuncah ataukah kerinduan yang segera tumbuh. Terus berpura-pura tertawa ketika sedih seperti yang dulu sering kamu lakukan. Sayang, firasatku sering salah. Jadi aku tak akan berandai-andai. Apa yang ada di balik senyummu itu biarlah kamu dan Tuhan yang tahu.

Saat jarum panjang menunjuk ke angka 12, barulah kulambaikan tangan kepadamu. Masih menjejak tanah di kota yang sama, menghirup udara malamnya yang dingin; hanya terpisah besi dan kaca yang akan mengantarku kembali ke kotaku: di dalam Kereta Kelas 2, kereta 1 nomor 13D.

Senyummu melepasku. Seandainya bisa kuhentikan waktu.

Kereta yang bergerak dengan kecepatan rendah entah kenapa menjadi eksotis dan dengan melankolis melambangkan sebuah jarak perpisahan atau pertemuan yang akan terjadi.

Aku sedih, entah denganmu. Kupikir kamu merasakan hal yang sama, bahkan mungkin senyummu itu hanya sekilas untuk meredakan renjana dalam dadamu.

Saat roda-roda kereta mulai menapaki dinginnya besi yang akan membawaku ke timur. Kuputar sebuah lagu dari pemutar musik pemberian seorang teman. Dan mulai terlintas rasa kerinduanku padamu, meskipun baru sekejap lalu aku kehilangan lesung pipimu.

Suara bising roda kereta yang bersinggungan dengan patahan sambungan rel tersamarkan lagu yang tersalurkan melalui sepasang earphone yang terperangkap di daun telingaku.

Karena kutahu pasti aku merindukanmu, seumur hidupku. Selama-lamanya.

Kubungkus sepotong rinduku padamu, kusimpan di tempat yang paling istimewa dalam hatiku. Beberapa sisanya kunikmati di setiap mentari menyambut pagi dan potongan terakhirnya kunikmati tiap bulan berpendar menghiasi malam: sebelum aku memejamkan mata.

Delapan jam lagi aku sampai di kotaku: YK +113.

Advertisements

Comments»

1. neng - July 31, 2010

Absen
Mira Hamzah Hadir di sini

Absen harap bayar satu juta milyar trilyun.

Neng - August 2, 2010

anda yang mau bayar saya?

sini saya minta dibayar pake coklat monggo saja :p

Sudah kemaren, dikasih tiga kan?

2. nurul - August 3, 2010

Nona Mira, lelakimu ini romantis yakk…
rokok makan gratisssss πŸ˜€

Memang saya ganteng dan romantis, maka beruntunglah gadis yang mendapatkan saya :p

Neng - August 3, 2010

romantis
rorongkong maju otomatis :))

Ihiw ihiw..

Neng - August 4, 2010

kalo saya beruntung kenapa saya disumpahi kelilipan gunung yak @_@
Heh Mr.W anda tahu tidak arti rorongkong maju otomatis?
tau rorongkong?

Rorongkong berarti kerongkongan apa tenggorokan ya, lupa. Sering diidentikkan untuk mengatai “orang-orang yang kurus”. Hahay.. Apa sih yang beta ndak tau?

Ga dikatain “bebegig sawah” sekalian? πŸ˜†

Neng - August 5, 2010

:))
ya rorongkong itu tulang kerangka manusia
saking kurusnya maka di bilang rorongkong maju otomatis :))

tau dari mana tuh bebegig sawah?
bukan kamu kaya orong-orong sawah ajah πŸ˜›

Orong-orong yang ganteng nan tampan? Ah emoh, saya tetaplah manusia yang ganteng nan tampan.

3. septo - August 5, 2010

jancooooook bianganeeee
ampuh tenaaaann
ngeri gereeehh πŸ˜†

Terima kasih, saya memang ganteng tenan.

Neng - August 10, 2010

dia memang pintar merayu

tapi saya sudah punya anti perayu dan pelet sesuai syariah ga bakal mempan pada saya :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: